Lipsus

Akar Rumput Menuju Kemandirian

By  | 
Prev2 of 4Next
Gunakan ← → (tanda panah) untuk melanjutkan

‘Membayangkan dunia tanpa petani/pertanian sama seperti membayangkan hidup tanpa pangan. Demikian pula, membayangkan negara yang abai pada rakyat sama seperti membayangkan negara tanpa kedaulatan. Saat ini, angan-angan (imajinasi) gelap itu justru hendak diwujudkan oleh penyelenggara negara, dengan cara menjadi budak/antek-antek korporasi.’

Demikian bunyi paragraf pertama dari ‘Pernyataan Sikap Kongres Petani Otonom II, Forum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA).’ Sekitar pukul 14.00 WIB, pernyataan sikap itu dibacakan oleh Sumanto, petani dari Kulon Progo, di salah satu ruang milik Pondok Pemuda Ambarbinangun, Yogyakarta.

Satu langkah di belakang Sumanto, berjajar 14 orang. Sumanto dan 14 orang lainnya itu adalah perwakilan masyarakat yang menjadi korban persekongkolan Negara dan Korporasi atas ruang hidup. Mereka berasal dari berbagai daerah: Sumedang, Kulon Progo, Lumajang, Jepara, Blora, Pati, Organ Ilir, Parangtritis, Sidoarjo, Tasikmalaya, dan Banten. Seharusnya, ada juga perwakilan dari Kebumen di sana. Tapi, beberapa jam sebelum pembacaan pernyataan sikap, mereka pamit pulang. Adanya intimidasi TNI atas aksi petani Kebumen, yang membuat mereka harus pergi sebelum kongres usai.

Pekikan ‘Hidup rakyat!’ sempat terdengar di ruang kongres tepat setelah pernyataan sikap dibacakan. Pembacaan pernyataan sikap itu jadi penutup kongres.

Prev2 of 4Next
Gunakan ← → (tanda panah) untuk melanjutkan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.