Berita

Among Bandara, Gusur Warga

By  | 

Sumardi (52), adalah salah satu warga terdampak pembangunan bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) yang kami temui selasa sore (29/08). Ia dikenal di lingkungannya sebagai warga dari keturunan yang pertama kali berhasil mengubah lahan pesisir pantai menjadi kawasan pertanian di wilayah selatan Kulon progo.

Saya datang ke rumahnya untuk mengetahui lebih lanjut terkait bagaimana proses pembukaan lahan itu dirintis oleh leluhurnya dan bagaimana kondisinya terkini. Ia pun dengan senang hati ingin menceritakannya.

Ia menjelaskan bahwa jauh sebelum Pakualaman berdiri, mbah buyutnya (lelehurnya) sudah mengolah lahan pantai selatan Kulon Progo menjadi kawasan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. “Mbah saya sama Pakualaman, umurnya lebih tua mbah saya. ” tuturnya dengan senyum yang ceria.

Dalam proses itu, mbah buyutnya tidak menyangka jikalau pertanian bisa dikembangkan di atas lahan berpasir. Namun, saat dicobanya terus menerus ternyata usaha itu berhasil dan mampu berkembang hingga cukup luas.

Menurut informasi yang ia dapatkan, luas lahan pertanian yang dirintis oleh leluhurnya itu mampu mencapai luasan dusun Glagah. Tanaman yang coba dibudidayakan pertama kali adalah ketela. Atas keberhasilan itu, leluhurnya selanjutnya membagikan kawasan pertanian itu kepada beberapa orang warga lainnya untuk dikembangkan sendiri.

Selanjutnya, Sumardi dan ayahnya mencoba melakukan eksperimen di lahan yang lain untuk mengembangkan beberapa jenis tanaman lainnya dengan semangat yang mereka teladani dari leluhurnya. Namun, untuk dapat melakukan eksperimen ini, mereka harus bersusah payah membabad alas dengan menyingkirkan tanaman pandan dan semak belukar yang menjalar. Mendapatkan hal ini, mereka menjadi teringat bagaimana besarnya perjuangan leluhurnya saat merintis pertanian di masa awal.

“Begitu rapat, tak ada celah untuk menjadikan lahan pertanian, rasanya satu bulan tidak cukup karena tanaman pandannya itu rapat sekali.  Saya harus kerja keras untuk membukanya” ungkapnya.

Kini setelah  melewati berbagai rintangan apa yang mereka kerjakan menuai hasilnya dengan cukup gemilang. Semua jenis tanaman yang dikembangkan telah mampu mendongkrak perekonomian rumah tangga menjadi lebih baik.

Hadirnya Bandara dan Hilangnya Ruang Hidup

Di sela-sela diskusi kami itu, raut wajah Sumardi mendadak berubah saat kami mencoba bertanya tentang penggusuran lahan yang terus marak terjadi di daerahnya, seiring ditetapkannya kawasan lingkungan mereka menjadi tempat berdirinya Bandara New Yogyakarta Internasonal Aiport (NYIA).

Lelaki yang keseharianya bekerja sebagai petani ini, kemudian perlahan menceritakan apa yang sedang menimpanya. Ia sangat khawatir pembangunan bandara NYIA akan menyebabkan hilangnya ruang hidup mereka.

Tanpa terduga, ternyata senin siang (28/08) pukul 14.00 WIB, kekhawatiranya benar-benar terjadi. Sebuah alat berat mengobrak-abrik lahan satu-satunya peninggalan Mbahnya.

Pada mulanya kabar itu sempat tak ia percayai, karena kabar itu datang dari tetangganya. Namun saat ia tiba di lahan miliknya, yang luasnya kira-kira 6000 M2, ia menyaksikan sendiri alat berat meluluhlantakkan pertaniannya. Tidak ada satupun tanaman tersisa, semua habis digusur alat berat, rata dengan tanah.

“Peristiwa itu terjadi saat saya baru saja pulang dari lahan. Saat itu saya sedang mandi, dan hendak mau makan. Namun, saya mendapatkan telepon dari tetangga yang mengatakan bahwa lahan saya sudah ditraktor. Saya menyaksikan semuanya telah rusak; pohon kelapa, ketela, pagar, semuanya telah tumbang di hajar 6 alat berat”, tuturnya menjelaskan kronologi penggusuran.

Merasa dirugikan dengan kejadian itu, ia mencoba mendatangi pemimpin proyek lapangan untuk mendapatkan keterangan dan informasi yang dibutuhkan. Akan tetapi ia malah mendapatkan jawaban yang tidak jelas, dan alat berat terus bekerja meratakan tanah.

Saat kami coba bertanya, apakah sudah ada pemberitahuan sebelumnya dari pihak pemerintah atau pihak lainnya jika akan terjadi eksekusi lahan, Sumardi menjawab tidak ada sama sekali. Bahkan ia juga mendapat informasi bahwa lahannya yang digusur itu tidak mendapatkan ganti rugi.

Sumardi cukup kaget menyaksikan lahannya tergusur, padahal lahan tersebut menjadi satu-satunya sumbu ekonomi keluarga. Dan dari lahan tersebut juga ia menceritakan bisa menyekolahkan anak-anaknya secara layak.

Patut dicatat, di lahan yang ia kelola, ia menanam beberapa jenis tanaman komoditas, yakni cabai, semangka dan terong. Menurutnya, penghasilan yang didapatkan dari semangka dan terong mampu mencukupi kebutuhan pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Sementara hasil dari cabai akan disimpan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya dan kebutuhan lainnya yang tak terduga.

Ia menyadari betul bahwa lahan itu adalah bagian terpenting dari kehidupannnya. Tetapi, kini satu-satunya lahan yang menjadi peninggalan Mbahnya itu lenyap dirampas pembangunan.

Ia bersama keluarganya kini tidak memiliki lahan pertanian secuilpun. “Bingung saya, gak punya apa-apa lagi, istri punya sawah punya tegal kena bandara semua”, ujarnya dengan putus asa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *