Lipsus

Barasuara Penolak Bandara, Angkasa Pura Tak Kuasa

By  | 

Yogyakarta(17/12)- Sekitar pukul 09.12 mobil berplat merah diikuti beberapa mobil polisi dari arah timur tiba, mereka parkir di kantor PT. Pembangunan Perumahan (PP). Dari kejauhan nampak pihak Angkasa Pura I, Pemerintah Kulonprogo, dan aparat kepolisian turun dari kendaraan masing-masing.

Mereka berjalan ke arah barat menuju Masjid Al-Hidayah, Palihan, Temon. Terlihat tiga orang berada paling depan seolah-olah memimpin rombongan. Mereka adalah perwakilan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dan PT. Angkasa Pura I yang mengundang pers untuk hadir dalam silaturahmi dan sambung rasa dengan warga penolak rencana pembangunan Bandara Internasional Baru Yogyakarta (NYIA). Sesampainya di Masjid, mereka menghampiri warga yang duduk-duduk di pelataran. Salah seorang menemui mereka dan bertanya apa maksud kedatangan rombongan. Tak berapa lama, rombongan dan warga duduk bersama di depan Masjid.

Perwakilan pihak warga, Ustadz Sofyan membuka pertemuan dengan salam dan doa. Selanjutnya ia menanyakan sekali lagi di hadapan forum, apa maksud kedatangan rombongan.

“Kami selaku warga menanyakan pada bapak-bapak Pemda maupun dari Angkasa Pura, mengadakan kedatangan di warga ini dalam rangka apa? Mengingat setelah segala sesuatu yang terjadi pada kami,” tanya Ustadz Sofyan.

Mendengar pertanyaan tersebut, Triyono selaku Asisten Perekonomian, Pembangunan dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kulon Progo menjawab dengan sigap bahwa kedatangan mereka adalah upaya untuk mengajak warga berdialog.

“Kami ke sini untuk bersilaturahmi, terkait apa saja yang bisa kami sampaikan di sini. Pemrakarasa akan memberikan pengantar arahnya pagi ini seperti apa,” tutur Triyono.

Agus Pandu Purnama selaku General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta langsung menyambung pembukaan Triyono. Ia menyatakan diri galau karena Bandara Adisujipto dianggap tidak mampu lagi menampung penumpang. Karenanya, ia menekankan kepentingan PT Angkasa Pura I segera membangun bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon.

“Saya ingin menceritakan kegalauan saya, kami punya bandara sudah berdiri hampir 15 tahun dan perkembangannya cukup lumayan,” ujar Pandu.

Mendengar penyataan tersebut seorang warga langsung mengangkat setengah badannya, lalu meminta waktu menyela. Ia nampak geram mendengar pengantar Pandu.

“Maaf Pak, saya mau potong sebentar. Saya sebagai petani di sini tidak perlu itu bandara apapun. Pokoknya saya sebagai warga di sini menolak bandara,” ujar Wagirah, perempuan yang mengaku sudah lima tahunan menolak pembangunan bandara. Mendengarnya, Agus Pandu Purnama terdiam sejenak.

Wagirah kembali melanjutkan,”Saya petani tidak butuh bandara. Maaf ya, Pak, saya menolak tanpa syarat, ora adol lemah (tidak menjual tanah), ora butuh bandara (tidak butuh bandara), butuh lemah untuk bertani (butuh tanah untuk bertani).”

Pernyataan Wagirah hendak ditanggapi Pandu, namun warga lain ikut menyahut. Riuh rendah protes warga tak terelakkan.

“Ibu, saya dengar unek-unek Ibu dan saya akan diam, manakala saya diminta bicara, mohon Ibu-Ibu dengar, tapi kalau Ibu-Ibu mau bicara saya akan diam, saya akan mendengarkan seluruh keluhan Ibu,” kata Pandu.

Fajar Ahmadi, warga yang mengalami pencongkelan rumah dan jendela serta kekerasan fisik aparat yang menyertai pembongkaran kandang dan penumbangan pohon-pohon miliknya pada tanggal 5 Desember 2017, ikut bersuara. Ia menyatakan bahwa PT. Angkasa Pura I bekerja melakukan ketidakadilan terhadap warga. Paparannya menyoroti bagaimana BUMN tersebut baru datang menemui warga setelah melakukan kerjanya dengan kekerasan, “Sesudah kami mengalami pintu jendela dirusak, kami dianianya, kok baru sekarang dikaruhke (ditemui). Saya heran?” ucap Fajar dengan suara yang meninggi.

Suasana di Masjid Al-Hidayah semakin tak terbendung. Warga tetap menyatakan diri bulat menolak bandara. Anggota rombongan nampak gelisah, pers semakin dekat ingin mendapat gambaran situasi seutuhnya. Berulang kali terdengar ungkapan warga, “Tolak Bandara!”

“Kami gak butuh bandara, kami ingin tetap di sini, karena tanah kami tidak kami jual!” sorak warga.

“Saya boleh bicara sedikit lagi?” tanya Pandu.

“Kalau Bapak bicara soal bandara jangan di sini, jangan di sini!”

“Tapi saya di sini harus bicara apa?” tanya Pandu lagi.

“Dari awal kami sudah menolak, soal bandara kami tidak mau dengar,” kata Wagirah lantang.

Pandu tak bisa menahan amarah warga. Sekilas ia sempat luluh menyaksikan sikap warga. Ia masih berusaha melanjutkan dialog, “Saya mengerti sekali perasaan bapak-bapak ibu, mengerti sekali,” ujar Pandu.

“Kalau ngerti ya sudah,” sahut warga lain bernama Sumiyo.

“Kami mau bertani! Kenapa dirusak semua? Listrik sudah dicopot semua! Bagaimana bisa mengerti?” ujar warga terus bersahutan.

Seolah membaca suasana, Ustadz Sofyan mengambil alih pembicaraan. Seketika warga menahan diri. Para tamu dan rombongan di pelataran Masjid turut membisu.

“Saya menanyakan apakah pagi ini, Bapak-Bapak membawa surat tugas?” tanya Ustadz Sofyan yang tidak mendapat jawaban. Ia kemudian menyerahkan secarik kertas kepada para tamu.

“Kalau kita hendak melanjutkan pembicaraan pagi ini, karena Bapak-Bapak tidak membawa surat tugas Bapak-Bapak bisa mengisi formulir ini dulu,”

Pihak Angkasa Pura I kemudian mengambil surat lalu membacanya. Namun mereka tidak bersedia mengisi dan segera mengembalikan kertas tersebut pada Ustadz Sofyan.

Pertemuan pagi itu berhenti setelah para tamu beranjak dan menyatakan pamit pada warga. Tidak ada hasil dari pertemuan tersebut, namun setelahnya rombongan menyelenggarakan jumpa pers di kantor PT. Pembangunan Perumahan (PP).

Rombongan nampak bergegas meninggalkan Masjid Al- Hidayah, satu-satunya tempat ibadah yang tersisa dalam lokasi yang ditentukan dalam rencana pembangunan NYIA. Kepergian mereka dilepas dengan semangat warga yang menyala-nyala.

Nyanyian lantang yang direkam oleh seluruh pers, tim rombongan, dan aparat berbaju sipil mengalahkan deru truk-truk antar kota dan geliat alat berat di atas lahan-lahan yang sebelumnya desa guyub nan asri.

Tolak… tolak…. Tolak Bandara! Tolak bandara sekarang juga!”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.