Birokrat dan kapitalis dengan fantasinya tentang pembangunan-kemajuan, memaksakan kegiatan industri semen (penambangan kapur dan manufaktur semen) pada masyrakat petani. Dan tentunya mereka juga memaksakan kebenaran fantasinya, secara struktural dan sistematis dengan pengerahan kekuatan finansial, kekerasan dan non kekerasan—fasisme pembangunan, dengan narasi besar Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)pada masyarakat petani yang akan tergusur akibat kegiatan-kegiatan tersebut.

Pertama, pemaksaan fantasi tersebut adalah tipikal fasisme pembangunan dengan pendekatan top-down. Pembangunan dipaksakan sebagai suatu kebenaran, doktrin yang yang penolakannya akan menghadapi kekerasan Negara dengan dukungan kapital (atau sebaliknya). Kedua, mereka memaksakan perubahan dramatis pada ekosistem pertanian1, dengan konsekuensi perusakan sistematis pada lingkungan dan kehidupan manusia secara fisik, biologis dan psikologis.

Pertanian adalah suatu ekosistem yang telah dimapankan, terbangun dalam periode ratusan tahun. Proses dinamis pembangunan ratusan tahun tersebut, dari sisi subyek manusia petani sebagai bagian ekosistem, telah menghasilkan beragam ketrampilan, pengetahuan, sistem pengelolaan, yang menunjang pemapanan sistem yang berkesinambungan—ekosistem. Perubahan yang dipaksakan, dalam kasus industrialisasi pada lingkungan alami akan menyebabkan perubahan-perubahan signifikan pada lanskap-lanskap utama yang menopang berbagai komponen ekosistem, menyebabkan disrupsi signifikan pada ekuilibrium (keseimbangan) ekosistem—dan pada akhirnya kesinambungan ekosistem.

Ekosistem pertanian merupakan sistem yang relatif berada dalam siklus material dan energi dengan sedikit intervensi manusia. Petani telah beradaptasi dengan mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dll. untuk menempati suatu relung dalam ekosistem tersebut. Revolusi hijau telah menyebabkan gangguan pada keseimbangan tersebut, di mana kemudian ekosistem beradaptasi untuk menemukan keseimbangan baru—meskipun memerlukan peningkatan intervensi manusia dalam siklus-siklus material dan energinya (pupuk kimia sintetis, pestisida, dll). Peningkatan intervensi manusia tersebut menyebabkan penurunan kualitas lingkungan biofisik (misal, residu pestisida yang tidak terasimilasi oleh alam).

Aspek-aspek fisik dan psikologis pada subyek manusia adalah indikator-indikator relasi manusia-lingkungan yang berkesinambungan. Indikator kesinambungan hubungan manusia-lingkungan secara umum diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok: sumberdaya, limbah, polusi, kebutuhan lokal, kebutuhan dasar, kesehatan, akses, hidup bebas dari ketakutan, pemberdayaan, budaya, dan estetika (Bossel, 1999).

Kesinambungan ekosistem pertanian dapat ditunjukkan oleh kehebatan pertanian di Tiongkok yang berkesinambungan selama 700 tahun, yang hanya dalam 30 tahun terakhir mengaplikasikan kimia-kimia sintetis dalam pertaniannya. Eksosistem pertanian berkesinambungan karena kesinambungan siklus material (air, tanah, input pertanian, output pertanian, kayubakar,dll) dan energi tidak mengalami interupsi hebat—dimana penggunaan sumberdaya tidak mengancam lanskap, dan biodiversitas, dan kegiatan-kegiatan pertanian menghasilkan limbah dan pencemaran dalam kuantitas yang masih dapat diasimilasi eksosistem. Ekosistem pertanian dapat memenuhi kebutuhan lokal dan kebutuhan dasar petani seperti ditunjukkan pada peradaban berbasis pertanian yang bertahan hampir seribu tahun; meskipun faktor sosial-ekonomi (misal, kepemilikan lahan) dan faktor-faktor lain telah menyebabkan kegagalan-kegagalan temporer dalam pemenuhan kebutuhan dasar.

Perkembangan budaya dan tatanan masyarakat pertanian juga memungkinkan kesinambungan psikologis, fisik dan biologis: kerja yang memuaskan, kesehatan fisik-biologis, dan kehidupan yang relatif bebas dari ketakutan, eksistensi yang memberdayakan (dengan kemampuan menyelesaikan masalah-masalah dengan keterampilan dan pengetahuan yang , dimiliki).

Pengembangan manusia merupakan bagian dari kesinambungan. Masyarakat pun harus menentukan sendiri arah pengembangannya.

Fantasi pembangunankemajuan birokrat dan kapital, dan pemaksaan doktrin tersebut kepada masyarakat petani akan menyebabkan dampak-dampak negatif dengan perusakan-perusakan pada ekosistem pertanian. Berbagai kerusakan yang divaluasi menunjukkan potensi kerugian total 5,2 trilyun termasuk kerugian: 1) jasa eko sistem lingkungan (sebagai penyedia sumberdaya kayu dan non-kayu, pengelolaan air, regulasi iklim, asimilasi pencemar, stabilitas tanah, dll); 2) sumber daya air; 3) biaya menghindari kematian di daerah tercemar; 4) pendapatan sektor pertanian. Kerugian tersebut belum termasuk kerugian yang tidak dapat dikuantifikasi: 1) hilangnya keberdayaan dimana relevansi keterampilan dan pengetahuan masyarakat berkurang signifikan ; 2) kehilangan rasa aman dengan adanya ancaman-ancaman negara dan kapital. Kerugian material dan psikologis tersebut jelas akan mengurangi kesejahteraan dan kualitas manusia dalam masyarakat petani, sekarang dan untuk generasi-generasi mendatang.

Ekosistem pertanian telah ditunjukkan sebagai ekosistem superior dari indikator-indikator hubungan manusia-lingkungan yang berkesinambungan. Di sisi lain, pertanian sebagai suatu displin keilmuan harus mengakomodir perkembangan ilmu-ilmu yang relevan (teknis dan manajemen). Ekosistem pertanian juga harus merespon tantangan-tantangan lain, untuk meningkatkan: 1) kesejahteraan petani; 2) kualitas lingkungan biofisik, misal, rehabilitasi lahan kritis, kualitas air dan tanah, rehabilitasi keanekaragaman hayati, efisiensi dan konservasi sumberdaya; 3) kualitas produk pertanian.

P.s.1. Industri manufaktur semen memenuhi kebutuhan bahan bangunan tapi juga merupakan faktor yang mendorong pemaksaan fantasi pembangunan-kemajuan.Ekonomi Hijau

Penolakan-penolakan perambahan industri semen juga adalah upaya-upaya untuk mendorong inovasi: 1) material konstruksi bangunan yang ramah sosial dan lingkungan; 2) teknik konstruksi yang efisien material; 3) teknik penambangan (di wilayah yang tepatyang merupakan tanggung jawab peneliti-peneliti pertambangan, material, dan konstruksi).

P.s.2. Ekonomi Hijau

——————————————

Endnote:

1 Ekosistem merujuk pada suatu komunitas kehidupan beserta komponen bukan kehidupan di suatu lingkungan yang telah mencapai suatu kesinambungan. Komponen-komponen tersebut membentuk suatu ekosistem dalam hubungan-hubungan siklus material (air, karbon, nitrogen, fosfor, dll) dan energi (yg berasal dari matahari).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.