Berita

Bertutur Seni tentang Kaum Tani

By  | 

Yogyakarta- Setelah dibuka oleh Widodo yang mewakili warga Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP), satu persatu pengunjung memasuki ruang pamer. Para pengunjung berbaur sambil terkadang memotret karya yang dipajang di tembok dalam bingkai kayu berkaca. Gambar-gambar yang dicetak ke atas kertas dari cukilan kayu oleh Rangga Lawe memenuhi tembok Simple Plant, restoran dan ruang seni di salah satu lokasi padat wisatawan, Prawirotaman.

Rangga yang berasal dari Jakarta telah menetap di Jogja selama empat tahun. Sebelum “Born Premature”, Rangga pernah mengaplikasikan gambar-gambar yang dipamerkannya sebagai kaos dan tas. Bedanya di pameran kali ini dipajang pula karya-karya obyek. Sang pencerita yang bertutur dalam bahasa rupa menggeluti tema rezim pembangunan yang mendera pesisir Kulon Progo, khususnya setelah rencana pertambangan pasir besi diresmikan dengan Kontrak Karya untuk PT. Jogja Magasa Iron (JMI).

Ada 24 karya yang dipamerkan Rangga. Salah satu yang juga menjadi ikon untuk materi publikasi acara, dipajang pada kaca di atas teks pengantar pameran. Karya tersebut dibuat dari jalinan benang berwarna hijau, membentuk kantung-kantung yang menjuntai karena menampung beban. Sekilas empat kantung tersebut menyerupai jala. Jika dikaitkan dengan frasa yang dipilih menjadi judul pameran, kiranya kita akan menduga kantong-kantong tersebut serupa plasenta. Tiap kantung yang ukurannya bervariasi menampung mainan berbentuk alat-alat berat. Lambat laun mungkin tiap kantung akan jatuh atau sobek akibat gaya tarik bumi. Untung saja benda-benda di dalamnya tidak bergerak, sehingga gravitasi urung bekerja optimal.

Judul pameran yang dalam Bahasa Indonesia bermakna ‘lahir sebelum waktunya’ kiranya dipilih sebagai lapisan terluar dari pengalaman Rangga melihat dan bergaul dengan para petani lahan pantai Kulon Progo. Mengutip pernyataannya di buklet pameran, “Born Premature menjadi sebuah ilustrasi kondisi masyarakat pesisir. Penggunaan media teknik cukil kayu dan drawing semoga menjadi refleksi kita sebagai manusia yang selalu berhasrat untuk menguasai sebuah tatanan sosial dengan kearifan lokalnya.”

Proses Rangga bisa jadi telah jarang ditemukan dalam praktik berkarya perupa hari ini yang cenderung cepat dan terlokalisir di soal-soal sosial masyarakat urban. Meski citra yang dipilihnya segera menggiring siapapun mempersepsi kadar kerusakan yang disebabkan manusia dan mesin-mesinnya di atas permukaan bumi, Rangga tidak serta merta menjadikan karyanya sebagai pamflet. Penggabungan alat berat dengan bongkahan tanah atau batang pohon yang tumbang melintang di atas rel, adalah rangsangan visual yang kemudian dia tuangkan ke atas papan kayu. Rangga tidak berusaha mempercantik gambaran alam yang telah dirusak, karena begitulah keadaan yang ia temui.

“Konflik kepentingan elit dengan para penambang pasir menimbulkan masalah yang tak kunjung usai. Rusaknya lahan produktif petani berpengaruh pada kualitas lingkungan hidup, hasil pertanian dan kesejahteraan petani,” kata Rangga saat ditemui di pembukaan pameran (8/4).

Ia melanjutkan bahwa karyanya tidak lepas dari apa yang menjadi pergulatan di wilayah pesisir, baik itu tambang pasir besi maupun rencana bandara dan kota bandara. Semangat warga yang terus berjuang menginspirasi Rangga.

“Kok mereka bisa ya kayak gitu? Kalau aku yang ada di kota terkadang ‘kan tertutup dengan ego, ego modernitas dan kekotaan. Aku ingin merespon permasalahan yang mereka rasakan, mungkin aku balik (kenyataanku) ya,  kalau aku (hidup) di sana piye?” ucapnya.

Proses berkarya Rangga untuk pameran tunggal pertamanya ini berlangsung kurang lebih tiga tahun. Baginya, memindahkan pengalaman dengan teknik dan medium pilihannya harus senantiasa diimbangi komunikasi yang intens dengan warga terdampak.
“Aku ngobrol-ngobrol banyak. Aku nggak mau seolah-olah mereka aku eksploitasi, padahal mereka dalam posisi yang perlu dibantu. Mereka sedang ada masalah. Ini respon pesonalku untuk membantu mereka (masyarakat-red),” tambahnya.

Percakapan bergulir ke tanggapannya pada isu yang lebih makro di DIY dan Indonesia hari ini. Konflik tanah karena hasrat pembangunan baginya terkait satu sama lain. Rencana bandara dan tambang pasir besi di lahan-lahan yang selama ini menjadi penghidupan warga pesisir Kulon Progo adalah ancaman nyata bagi keseimbangan alam dan lingkungan sosial.

“Industri pariwisata dan kebudayaan bisa merusak alam, apalagi tambang. Dengan rencana bandara dan sebelumnya tambang pasir besi, warga nggak bisa mengolah tanah. Itu pasti mempengaruhi orang yang hidup di kota,” tandasnya.

Sebagai warga yang selama ini berjuang mempertahankan lahan produktif dari ancaman perampasan, Widodo yang mewakili PPLP-KP mengungkapkan bahwa, warga pesisir yang selama ini hidup di atas gundukan-gundukan pasir merasa kecewa bercampur luka mendengar lahan mereka akan diubah menjadi lahan pertambangan. Lahan mereka sudah seperti ibu yang menafkahi dengan hasil bumi selama puluhan tahun.

“Kami sudah sejahtera tanpa tambang. Lahan subur dan asri sudah kami anggap sebagai Ibu,” tulisnya sebagai salah satu pencerita.

Ia mengatakan, kedatangan alat berat memiliki dampak buruk bagi petani pesisir yang sehari-harinya menanam. Baginya hal tersebut mengakibatkan pencemaran lingkungan dan hilangnya ruang hidup. Dalam tulisannya, ia mengungkap kisah Wong Cubung, sebutan penduduk pesisir Kulon Progo yang pernah merasakan hidup serba kekurangan. Mereka makan hanya sekali dalam sehari dan tidur hanya beralaskan tikar. Keinginan yang kuat untuk meningkatkan taraf hidup keluarga dirintis dengan membuka lahan.

“Sesepuh dan orang tua kami dulu mencoba mengolah lahan pasir menjadi sumber penghidupan,” tutur Widodo.

Ia bersama PPLP-KP menegaskan bahwa mereka tidak membutuhkan tambang pasir besi yang dikelola oleh PT JMI. Hidup mereka adalah lahan pasir. Warga lebih membutuhkan makanan, sayur mayur dan buah-buahan yang ditanam di atas lahan yang diolah leluhur mereka.

“Karena Kehidupan harus berlanjut, sampai titik darah penghabisan, kami akan pertahankan lahan penghidupan kami!” tegas Widodo.

Widodo juga tak lupa mengapresiasi karya-karya Rangga. Selama ini ia menduga seniman tidak peduli dengan kondisi masyarakat yang terancam ruang hidupnya. Seakan-akan seniman berasal dari kasta lain, bahkan berbeda dunia. Ia mengutarakan bahwa apa dilakukan Rangga telah mampu membongkar batasan antara seni dan petani.

“Kolaborasi dan kerja sama ini harapannya akan berlanjut, sehingga kemenangan dan kemerdekaan menjadi hal yang nyata,” pungkasnya.

Pitra Hutomo selaku peneliti seni yang bekerja dengan arsip mencontohkan bagaimana seniman diharapkan berperan dalam pembangunan. Mantan wakil presiden Adam Malik dalam sambutannya saat membuka Pameran Besar Seni Lukis tahun 1980 menyatakan bahwa peran pelukis dan pembuat karya seni adalah membuat karya yang mampu menyatakan kebenaran yang dianutnya.

Bagi Pitra, jika kepercayaan yang dianut oleh seorang seniman hari ini berada pada kebenaran pasar dan industri, para seniman sesungguhnya punya amunisi untuk mengkritisi sistem ekonomi global dan rencana-rencana pembangunan.

“Seniman yang sudah punya nama di pasar atau industri biasanya didengarkan dan mampu membentuk opini publik. Tinggal posisi strategis ini hendak dimanfaatkan untuk berkarya sesuai nurani atau tidak” ujarnya.

Pitra kembali menuturkan bahwa kemampuan mencerna persoalan dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan melalui karya seni, baik itu rupa, pertunjukan, atau ekspresi apapun, tidak bisa digarap hanya berlandaskan teori atau rangsangan berita di koran. Baginya, akal sehat seniman sangat diperlukan di tengah situasi yang serba kalut.

“Kita tahu pernah ada praktik tiga sama: sama kerja, sama makan, sama tidur. Apakah harus begitu seniman berkarya? Ya, boleh saja tapi tidak mutlak. Menggunakan akal sehat untuk menilik rencana-rencana pembangunan dan berpikir di luar tantangan hidup berkeseniannya saja, itu yang penting. Akal sehat diperlukan Indonesia di zaman paranoia seperti sekarang ini, karena pastinya seniman lebih cerdik dari pada agamawan apalagi politisi,” paparnya saat dihubungi melalui media jejaring sosial.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *