Lipsus

Diprotes Warga, Alat Berat Terus Bergerak Mengosongkan Lahan

By  | 

Yogyakarta (8/7)-Pagi sekitar jam 08.30 WIB, Angkasa Pura I dengan ratusan aparat Kepolisian, TNI, dan Satpol PP berkumpul di kantor PT. Pembangunan Perumahan (PP). Saat mereka masih melakukan apel pagi, nampak pula tiga belas alat berat datang dari arah selatan kemudian berjejer di hadapan peserta apel. Kamis (27/6) adalah hari mulainya kembali pembersihan lahan (land clearing) di lokasi pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Warga yang melihat aktivitas tersebut panik, segera bersiap menghadang ancaman terhadap lahan mereka dan tanaman yang menjelang panen. Namun, peristiwa yang ditakutkan terjadi begitu cepat. Ketiga belas alat berat menyebar merambah lahan pertanian. Dalam sekejap para pengemudi backhoe merusak semua tanaman warga, menumbangkan pohon, serta mengobrak-abrik pekarangan rumah.

Wagirah, warga Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) buru-buru menuju alat berat yang bekerja dengan leluasa merusak lahannya. Ia menerobos aparat yang mengerumuni alat berat. Perasaannya campur aduk ketika mendapati tak ada yang tersisa. Ratusan tanaman cabai yang ia rawat berbulan-bulan rata dengan tanah. Wagirah tidak terima, lalu dengan sisa tenaganya ia menghalangi aksi alat berat. Tanpa pikir panjang, Wagirah duduk di dalam garuk (bucket) di ujung lengan alat berat. Namun sekeras apapun ia berteriak, misi Angkasa Pura I hari itu harus tercapai. Polisi pun membentuk lingkaran dengan saling bergandengan tangan, mengitari Wagirah agar tak lepas untuk kembali menghalangi backhoe. Wagirah terusir dari lahannya sendiri.

“Begho ngebrukke tanduran, aku disingkirke (Backhoe merubuhkan tanaman, aku disingkirkan -red),” ujar Wagirah, meraung tak kuasa keluar dari kepungan polisi.

Berulang kali Wagirah menyatakan pada aparat Kepolisian yang mengepungnya bahwa lahan pertanian yang jadi acak-acakan tersebut tak pernah ia jual.

“Aku nandur wes pitulas taun. Ket simbah-simbahku. Ora arep didol (aku menanam sudah tujuh belas tahun. Ini tanah warisan dari kakek nenekku. Tidak hendak kujual -red),” protes Wagirah sambil menangis.

Ia berusaha menyingkirkan polisi yang seolah abai pada rintihannya. Teriakan putus asa bahwa ia mempertahankan lahan untuk keturunannya tak kunjung melonggarkan pagar hidup polisi yang menjeratnya.

“Minggir salahku apa? Aku iki arep nandur nggo anak putu (aku menanam untuk anak cucu -red),” pekiknya.

Setelah pengemudi backhoe selesai menjalankan tugasnya mengobrak-abrik lahan pertaniannya, barulah Wagirah bisa bergerak. Apa daya, di hadapannya semua hancur berantakan. Cabai merah yang beberapa hari lalu telah nampak tumbuh segar dan gemuk, berceceran di atas tanah berpasir.

Menyaksikan hasil kerja alat berat, Wagirah lunglai. Ia terisak meratapi cabai yang menjadi sumber pencaharian utamanya. Wagirah sang petani yang membangun rumah dan mampu menyekolahkan anak dari hasil lahan yang begitu subur, terkulai tanpa daya.

Tak terlintas dalam benak Wagirah bahwa hari itu ia akan menghadapi kesedihan tak terperi. Menjelang masa panen justru Angkasa Pura I merusak tanamannya dengan jumawa.

“Semua mendadak, kita gak tahu kalau rencana mereka selanjutnya adalah merusak lahan,” tuturnya lirih.

Alat berat meratakan lahan di desa Sidorejo. Foto: Selbum/Somad.

Kini lokasi pembangunan bandara NYIA teramat gersang. Kamis (27/6) sampai dengan Sabtu (30/6) para pekerja melalui PT. Angkasa Pura I (Persero) menumbangkan semua pohon yang berdiri di dalam perimeter lokasi proyek. Mereka bergerak tanpa memedulikan warga yang masih tinggal dalam pagar pembatas besi tersebut.

Sebelum melalui portal yang membatasi akses publik, telah nampak dari kejauhan debu-debu menghempas dari selatan dalam tiap hembusan angin. Di Jalan Daendels yang sepi, udara menjadi pekat karena gencarnya pengrusakan lahan pertanian dan tanaman. Angin laut menderu kencang tanpa penghalang, menerbangkan butiran pasir yang tak tersaring pepohonan. Pekik kesedihan dan ratapan warga penolak bandara silih berganti mengisi sela-sela suara mesin alat berat.

Tuginah sang petani tak bisa berbuat banyak saat pembersihan lahan berlangsung. Benaknya terus memutar ulang peristiwa yang mengenyahkan tanaman cabainya persis sebelum panen.

“Saya mesti bagaimana? Cabe mau panen malah dirusak semua,” tuturnya sedih.

Tuginah bingung karena dalam beberapa pekan ke depan, anaknya mulai bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA). Bayang-bayang harus menyiapkan uang masuk dan membeli perlengkapan sekolah terus menghantuinya.

“Anak-anak saya butuh makan. Ada yang mulai masuk sekolah. Mesti beli buku, bayar awal masuk,” tutur Tuginah sendu.

Jika biasanya Tuginah melalui sore sambil bersenda gurau, waktu itu ia bercerita dengan tubuh bergetar, menahan amarah. Setelah alat berat menggilas tanpa ampun, ia memungut satu persatu cabai yang gugur. Meski tak mungkin lagi menjualnya, ia mengumpulkan cabai yang masih layak makan.

Kekhawatiran Tuginah saat ini adalah bagaimana anaknya bisa menempuh jenjang pendidikan formal. Selain membutuhkan hasil penjualan panen untuk membelikan buku pelajaran, Tuginah ingin memperbaiki sepeda kayuh yang merupakan sarana transportasi utama keluarganya.

“Hasil panen yang harusnya dipakai untuk perawatan sepeda sudah nggak ada.” pungkasnya.

Setelah Lahan Rata, Mereka Tak Ragu Menggilas Makam

Selain lahan pertanian dan rumah tinggal, kawasan pembangunan NYIA juga meliputi beberapa lokasi makam warga setempat. Sabtu (30/6) pagi, rombongan alat berat dan aparat mendatangi makam di Dusun Sidorejo yang saat itu masih rimbun dengan pepohonan. Warga yang berjaga nampak siaga, namun tak lama banyak di antara mereka mulai menangis. Seperti mimpi buruk, warga menyaksikan bagaimana alat berat menebang pohon dan menimbunnya di atas deretan batu nisan. Tak ada sedikitpun penghargaan terhadap tempat peristirahatan terakhir tersebut.

“Ya Allah, anakku yang perempuan di kuburan masih gak? digaruk gak?,” ujar Ponirah berharap makam anaknya tak dirusak.

Melihat operasi alat berat yang tak mau pergi sebelum semuanya hancur, warga berdatangan untuk berdoa. Mereka bertahan di sekitar makam karena tak mampu menghalau alat berat yang menghancurkannya. Setelah alat berat pindah lokasi kerja, beberapa warga mengumpulkan apa yang tersisa dari nisan-nisan keluarga dan kerabat mereka.

Warga menangisi makam keluarganya yang masih tersisa diantara puing-puing bangunan. Foto: Selbum/Somad

Teguh Purnomo, kuasa hukum PWPP-KP saat dihubungi melalui telepon mengatakan bahwa Kepolisian telah mengulangi kesalahan dalam proses pengosongan lahan, karena bersikap memihak pada pemrakarsa proyek.

“Saya kira Polisi mengulangi kesalahan. Seharusnya Polisi bersikap netral,” ujarnya.

Teguh melanjutkan bahwa PT. Angkasa Pura I telah membohongi publik ketika menyatakan akan mengajak Komnas HAM menyaksikan proses pengosongan lahan, sebagai sistem kendali agar prosesnya tidak melanggar HAM.

“Pengosongan katanya mau libatkan Komnas HAM? Ternyata gak ada. Itu pembohonan publik, pelintiran Angkasa Pura,” kata Teguh.

Sementara itu Sri Sultan Hamengkubuwono X selaku Gubernur Provinsi Yogyakarta menyatakan bahwa tanah lokasi proyek NYIA bukan lagi hak milik warga. Ia meminta warga segera pindah karena waktu pembangunan semakin mendesak.

“Hak atas tanahnya sudah lepas, harus pindah. Wong mau dibangun, kok. Sudah tidak ada waktu lagi,” kata Sri Sultan saat menghadiri acara Syawalan bersama Walikota Yogyakarta (28/6).

Pernyataan senada muncul dari Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dalam kunjungan kerja ke Universitas Gajah Mada (UGM). Ia menyatakan bahwa pembangunan harus mulai dalam waktu dekat ini karena target penyelesaiannya adalah akhir 2019 atau 2020.

“Bulan Juli paling lambat Agustus mulai. Kalau target saya pikir gak boleh memaksakan tetap 2019, tapi (mundur menjadi -red) akhir 2019 atau 2020. Kita tidak bisa memaksakan dalam kondisi tertentu. Tantangan (pembangunan -red) di antaranya (pembebasan -red) lahan,” kata Budi Karya Sumadi dalam wawancara di Magister Manajemen FEB UGM (29/6).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.