Berita

Dipukul, Dicekik sampai Diborgol Karena Mempertahankan Rumah

By  | 

Yatno, Miyo dan Minem adalah tiga petani Kulonprogo yang terancam ruang hidupnya. Mereka bercerita terkait kekerasan yang dilakukan oleh Angkasa Pura dan aparat Kepolisian untuk mempercepat pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Yogyakarta (3/12)-Sepanjang Jalan Daendels dari Desa Glagah sampai dengan Desa Palihan rumah tak lagi berbentuk. Terlihat bangunan tak beratap, jendela rumah berlubang, bahkan banyak yang rata dengan tanah. Pohon-pohon yang awalnya rimbun, menyaring tiupan kencang angin selatan kini sudah tak lagi nampak. Tak ayal, butiran pasir dan badai rawan menerjang siapapun yang melalui ruas jalan tersebut pasca pengosongan lahan oleh Angkasa Pura I.

Yatno (45) masih bersemangat saat menjamu kami di rumah. Rumah satu-satunya yang menaungi hidupnya, istri, dan anaknya masih ditinggali walaupun di kanan kiri bangunan sudah banyak bagian yang hilang. Pada tanggal 27 November 2017 pukul 10.30 pagi, Angkasa Pura I dan puluhan aparat datang ke rumahnya. Saat itu para perwakilan BUMN di bisnis bandara di Indonesia tersebut hendak mencabut listrik yang masih digunakan oleh Yatno, dan menempelkan stiker berisi maklumat agar warga mengosongkan rumahnya paling lambar 4 Desember 2017.

Sontak hal tersebut mendapat penghadangan dari Yatno. Ia tak ingin listrik di rumahnya diputus. Ia memperingatkan Angkasa Pura untuk pergi. Pihak Angkasa Pura tak menggubris. Bagi mereka semua warga yang berada di zonasi dalam pagar bandara termasuk Yatno sudah diputus hak atas tanah dan bangunanya. Sehingga bagi Angkasa Pura, Yatno adalah penghalang bagi kelancaran proyek mereka.

Yatno yang tidak pernah menjual lahannya untuk kepentingan bandara terus beradu argumen dengan Angkasa Pura dan aparat. Tak berselang lama, Yatno mendapatkan perlakuan yang tidak pantas. Aparat yang mengawal Angkasa Pura bersikap sewenang-wenang kepada Yatno. namun Yatno masih terus menghadangnya, ia tak mau ada pembicaraan soal ganti rugi apalagi konsinyasi.

Karena tak mau mengosongkan rumahnya, aparat kemudian mengeluarkan borgol untuk mengamankan tangan Yatno. Yatno dituduh melakukan perlawaan dan membawa senjata tajam. Padahal saat kejadian ia tidak pernah membawa senjata tajam. Ia hanya ingin mempertahankan haknya atas tanah dan rumahnya. Yatno tak tinggal diam, ia terus berusaha melepaskan diri untuk kembali menghadang. Terdengar komando aparat untuk segera membawanya ke truk polisi, namun hal tersebut tak membuatnya gentar. Ia terus mempertahankan diri.

Waktu saya diseret petugas, banyak betul, saya gak bisa lihat satu persatu. Saya sudah dikepung sama petugas. Saya tidak bisa apa-apa,” tutur Yatno tanpa sedikitpun memancarkan gentar.

Mengenai pemukulan yang menimpanya, Yatno tidak bisa mengingat rinci. Bagi Yatno kejadian pemukulan itu terlalu cepat, sehingga ia tak sempat melihat jelas. Pada saat itu beruntung ia menggunakan helm sebagai pelindung kepala. Akibat pukulan yang cukup keras, helm yang dipakainya pecah.

Saya dipukul dari belakang dan dari depan. Helm saya sampai pecah,” ujar Yatno sembari menunjukkan rasa sakit yang masih ia derita akibat pukulan aparat, “Saya juga merasa sakit. Saya minta pertolongan kepada Allah. Tidak ada jalan lain,” lanjutnya.

Ia mencoba mengingat apa yang sedang terjadi saat itu. Bibirnya gemetar menahan amarah. Ia mengungkapkan bahwa Kapolsek berkata tak pantas di hadapannya. Yatno mengingat saat kejadian tersebut Kapolsek mengatakan kalau bisa memukul dirinya lebih keras jika masih membelot. “Saya juga bisa keras lagi, seperti batu mukulin kamu,” kata Yatno menirukan gertak Kapolsek Temon, Kulonprogo.

Dua hari setelah kejadian pemukulan, lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai petani, dan tidak mau berubah profesi karena sudah sejahtera ini masih merasakan sakit, di antaranya luka di tangan akibat pemborgolan dan nyeri di punggung.

Malamnya terasa sakit. Saya masih merasa sakitnya dipukuli,” ujar Yatno sendu.

Tidak hanya Yatno yang mengalami hal serupa, Miyo warga Glagah juga mendapatkan perlakuan yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Saat itu ia mencoba untuk mempertahankan rumahnya dari pemutusan listrik oleh PLN. Ia berhadapan dengan puluhan aparat dan Angkasa Pura.

Ia tidak ingin ada pemutusan listrik dan tidak ingin ada pengrusakan rumah, karena anaknya sebentar lagi akan melaksanakan Ujian Akhir Semester. Baginya sang anak membutuhkan listrik untuk belajar.

Kalau diputus itu gimana, berarti dia mematikan keluarga saya. Saya punya anak kecil baru mau ujian semester,” tutur Miyo yang juga ketua RT di dusunnya.

Ia tidak gentar meski harus berhadapan dengan ratusan aparat. Dorong-mendorongan pun tak terhindarkan. Ia didesak mundur, badannya dipegangi kemudian kepalanya dipiting oleh aparat. Saat itu ia tidak mengetahui nama anggota Polsek Temon yang membuatnya demikian.

Miyo merasa marah dengan perlakuan aparat. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Namun apapaun yang ia alami saat ini, tekad tetap bulat. Ia menolak rencana pembangunan bandara di desanya, dulu dan sekarang. Bahkan, ia rela mati demi membela tanah dan keluarga yang sangat ia cintai.

Saya sampai sekarang siap bertahan, sampai matipun saya tetap bertahan. Wong (tanah dan bangunan -red) itu hak saya. Katanya polisi melindungi masyarakat. Sekarang polisi kok melindungi penjahat. Apa itu (perbuatan yang -red) benar?” ucap Miyo sembari menunjukan rumah-rumah yang sudah rata dengan tanah di wilayah dusunnya.

Sang Istripun Menjadi Korban Kekerasan

Melihat cara aparat memperlakukan Yatno, sang istri Minem, spontan bergerak untuk menyelamatkan suaminya yang sudah diborgol. Ia tidak ingin suaminya dibawa ke truk lalu ke kantor PT. Pembangunan Perumahan untuk diamankan. Karena situasi yang mendesak, Minem meraih apapun di dekatnya yang bisa dijadikan senjata. Ia mengambil lading.

Minem maju dan mencoba melepaskan suaminya dari pemitingan aparat. Ia menjerit, ngotot menyelamatkan suaminya. Tiba-tiba polisi mencekik leher Minem sampai tak berdaya. Perlahan Minem lemas karena sulit bernafas. Seluruh tubuhnya tak bisa ia gerakkan.

Saya bawa lading tapi saya kan gak mau gunain. Suami saya dipukulin macam gitu saya gak terima mas, otomatis mau bantu suami saya,” tutur Minem saat ditemui di rumahnya.

Ia meyakini suaminya tidak bersalah. Mereka hanya mempertahankan hak milik sendiri. “Kenapa petugas bisanya memukuli suami saya. (Ini -red) kan rumah sendiri tanah sendiri, kenapa polisi mukulin suami saya?” tutur Minem terbata-bata.

Minem istri Yatno Menunjukan luka memar di leher karena cekikan polisi (3/12).

Minem dan Yatno adalah pasangan petani. Sebelum adanya rencana bandara mereka belum pernah menyaksikan, apalagi mengalami pemukulan seperti yang baru saja menyakiti mereka. Hatinya sangat pedih melihat sang suami dipukul, diseret, sampai diborgol. Ia terus menjelaskan bahwa semua itu bukan untuk melawan polisi, sebagaimana tuduhan yang diberikan padanya. Minem melakukan semua karena ingin melindungi suaminya dari pemukulan. “Dipukulin, ditarik pakai borgol, ya sakitlah! Suami saya gak mukulin cuma menghadang, karena rumah gak boleh diambil dan nggak boleh ditempeli stiker,” ujar Minem.

Sesekali ia mengusap-usap memar di lehernya akibat karena cekikan polisi. Ia masih merasakan sakit sampai saat ini. Bahkan di hari pertama kejadian, ia tidak bisa menelan makanan. Karena efek perlakuan kasar aparat, Minem harus ke dokter untuk mengobati luka-luka dalamnya. Saat ke dokter, lehernya merah karena bengkak.

Luka saya (tutup -red) pakai hansaplast, Ini (leher -red) merah bengkak karena polisi. Saya sampai gak bisa makan satu hari. Setelah ke dokter saya bisa nelen air minum,” tuturnya pilu.

Ibu yang pernah bekerja di luar negeri ini juga mengaku tidak berselera makan beberapa hari belakangan. Pikiran akibat luka sang suami dan dirinya membuatnya kurang bisa menikmati makanan, “Setelah melihat (pemukulan terhadap Suami -red) itu, makan juga gak selera. Gimana mau makan, kan nelen obat saja susah,” ucap Minem yang juga menjelaskan bahwa biaya pengobatan mereka tanggung sendiri, “Saya ke dokter bayar itu 30rb. Demi perjuangan gak papa,” lanjutnya lirih.

Ia menjelaskan kondisinya saat ini sudah membaik, namun ia tetap merasa diperlakukan tidak adil. Baginya, Angkasa Pura telah melanggar hukum karena tidak memperlakukan perempuan dengan layak. Padahal jaminan tersebut wajib untuk suatu proyek. Apalagi proyek yang mengatasnamakan kepentingan umum dan menjadi salah satu proyek strategis nasional. Kekerasan, apalagi terhadap perempuan, bagi Minem adalah tindakan yang tidak manusiawi.

Saya seorang wanita. Yang cekek dua orang, kemudian pegang tangan dua, sini (kanan) sama sini (kiri). Pencuri saja gak dipukul kayak gitu. Siapa yang rela suaminya dihajar padahal gak bersalah, nyuri gak, suami saya kan mempertahankan hak milik doang?” tuturnya seraya menunjukan luka-luka di tangan dan leher yang masih memunculkan goresan bekas cekikan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *