Lipsus

Hasto: Tidak Harus Dibawa ke Ranah-ranah Kekerasan

By  | 

Setelah mendengar kabar kekerasan dari lokasi solidaritas untuk warga penolak New Yogyakarta International Airport (NYIA), selamatkanbumi.com mencari pernyataan resmi dari Pemerintah Daerah Kulonprogo. Di bawah ini adalah percakapan kami dengan Bupati Kulonprogo, dr. H. Hasto Wardoyo Sp.OG pada Selasa, 5 Desember 2017.

Dalam pernyataanya ia berulang kali mengatakan jika semua yang terjadi di lokasi pembangunan bandara NYIA ada di tangan PT. Angkasa Pura I, “Kalau komando, ada di Angkasa Pura langsung,” Kata Hasto

Apakah Bapak sudah menerima kabar mengenai kekerasan yang terjadi di lokasi rencana pembangunan bandara?

Ya, saya sudah mendengar. Pada prinsipnya begini, saya sejak tiga tahun yang lalu mengampu pembebasan lahan ini tidak mengenal kekerasan. Sejak tiga tahun yang lalu, saya didemo, didatangi ke kantor, tidur di rumah sayapun, saya tidak pernah menyentuh, tidak pernah mengusir dia (warga terdampak -red).

Saya terangkan pada Angkasa Pura untuk menjadi komando yang baik di lapangan. Maka dihindarilah, penggunaan kekerasan. Kalau mereka masih marah itu dibiarkan saja. Karena mereka panas itu tidak akan lama.

Tetapi mohon maaf, ini komandonya ada di Angkasa Pura I. Kemarin sore, itu pimpinan Angkasa Pura saya undang, untuk memberi masukan-masukan, yakni jangan melakukan kekerasan. Saya minta agar persuasif. Bukan sombong, tapi kami memiliki pengalaman persuasif selama tiga tahun ini, tidak pernah ada konflik dengan mereka.

Informasi mengenai kejadian siang ini Bapak peroleh dari siapa?

Dari Komandan Satpol PP dan saya bilang pada Komandan Satpol PP, “Jangan ikut melakukan kekerasan. Awasi dari jauh saja, melaporkan, memonitor, dan melaporkan pada saya.”

Apakah ada jalur komunikasi langsung antara Pemda dengan Angkasa Pura?

Kalau komando, ada di Angkasa Pura langsung.

Apakah kejadian seperti ini mengagetkan untuk Bapak dan Pemda?

Kalau kaget, tidak. Saya dengar ini ada sikap-sikapnya pendatang, yang kemudian mereka dengan gayanya mereka, gaya demonstrasinya mereka. Memang kalau pendatang dan membela itu ‘kan gayanya seperti itu. Yang saya pesankan pada Angkasa Pura I ‘kan, ‘Ana catur mungkur’. Artinya, seandainya ada perlawanan, kita tidak harus meladeni, tapi harus kita alihkan perhatiannya. Jangan memanas-manasi kubu lawan karena kita bisa terbakar sendiri.

Jadi ada situasi di mana Pemda tidak berkoordinasi dengan Polres, sedangkan Polres menerima instruksi langsung dari Angkasa Pura?

Oh iya, karena ini bukan ranahnya Pemda. Pemda masuk saat sosialisasi, kemudian konsultasi publik. Komando saat ini ada di Angkasa Pura I.

Apakah bisa dikatakan bahwa Kepolisian Resort Kulonprogo sedang bekerja disewa oleh perusahaan?

Ya nggak begitulah. Itu ada dalam satu tim koordinasi. Saya tahu persis teman-teman di Kepolisian tidak begitu. Hanya menurut saya, Angkasa Pura itu perlu membuat suatu policy. Kita semua ini kan di bawah koordinasi Angkasa Pura I. Tidak berarti itu disewa dan sebagainya.

Saya bertugas juga. Kalau misalnya ada warga yang mau pindah, bahkan belum punya rumah, maka kami yang datang. Kami pindahkan dulu, di manalah sementara. Kemudian kita buatkan hunian yang gratis, yang pakai tanah Pakualaman.

Tadi malam juga saya pengajian akbar di lokasi. Tujuannya ‘kan untuk ikut meredam, supaya masyarakat tidak panas. Tapi ketika berita itu digaungkan di media dan banyak orang luar datang ‘kan, yang banyak ikut panas orang luar yang datang.

Ketika tidak terprovokasi dari pihak luar, kan bisa persuasif saja. Yang belum punya tempat tinggal saya identifikasi, kemudian saya mintakan tanah pada Paku Alam, kemudian saya mintakan rumah ke PU, supaya warganya dapat gratis kemudian punya hak pakai.

Jadi kalau menurut saya, Angkasa Pura ini harus duduk bersama, dan nanti kita tentukan langkah-langkahnya. Kalau ada yang marah, entah itu warga atau pendatang, tidak perlu kita tanggapi. Mungkin kita bisa mengerjakan titik lain dahulu.

Kalau di titik sini, backhoe nya dihadang, ya sudahlah kita pindah ke titik lain. Kerjakan luasan yang lain. Toh, luasannya 580 hektar dan bisa dikerjakan dari berbagai macam titik. Jadi hanya butuh kesabaran, tidak terpancing emosi.

Kalau saat ini memang terjadi kekerasan, apakah ada antisipasi untuk menghentikan konflik?

Ya, antisipasi saya menghubungi secepatnya. Saya sudah menyampaikan pada Angkasa Pura. Kalau sekarang ini ada yang diamankan, ya, harus segera diselesaikan. Sehingga justru tidak menimbulkan reaksi keras yang berikutnya.

Semua ini tujuannya baik, tidak harus dibawa ke ranah-ranah kekerasan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *