Berita

Hilangnya Petani, Munculnya Relokasi

By  | 

Yogyakarta-Tanah itu terlihat gersang, debu-debu pun berterbangan. Tidak ada satupun pohon tertanam di area tersebut, hanya ada rumput-rumput kecil yang bergoyang karena tiupan angin. Kami menelusuri sebuah tapak relokasi pembangunan Bandara New Yogyakarta Airport (NYIA). Kondisi jalan licin nan bergelombang, ditambah genangan air yang tak menentu posisinya, cukup banyak. Butuh hati-hati dalam mengendarai sepeda motor. Salah langkah bisa terpental jatuh.

Dari kejauhan nampak aktivitas beberapa manusia sedang sibuk mengendarai truk, kendaraan tersebut digunakan untuk membawa tanah urugan, sebagian lainya mengendarai buldoser, mereka sangat lihai memainkan tangan, mengoperasikan mesin alat berat untuk meratakan lahan bekas tanah kas desa. Mereka adalah para pekerja CV Irena Perkasa. Sebuah perusahaan yang yang berdomisili di jalan Samudra Rt 11/04 No. 31 Pelaihari, Kalimantan Selatan.

Perusahaan ini dipilih Pemerintah Daerah (Pemda) melalui proses lelang yang dianggap begitu ketat, sebab prosesnya harus melewati beberapa tahapan pelelangan, CV. Irena dianggap paling layak dan berkompeten dalam mengurusi pengurukan lahan relokasi di lima desa (Palihan, Glagah, Kebonrejo, Janten, Jangkaran). CV Irena mampu mengeluarkan anggaran sebesar Rp. 16.577.326.000 hanya untuk pengurukan. Adapun total Kepala Keluarga yang akan menempati relokasi berjumlah 278 KK.

Sebelum memasuki proyek lahan relokasi, kita disuguhkan kalimat-kalimat yang selalu ada disetiap proyek besar. Kalimat itu bernuansa pesan, tulisannya berwarna hitam, lalu dasar keseluruhan berwarna kuning mencolok yang ditopang bambu membentuk seperti papan pengumuman. Kata-kata tersebut bertuliskan,“Hati-hati jalan licin”. Sebuah papan yang satu-satunya menjadi petunjuk sekaligus penanda pintu masuk proyek relokasi. Bambu penyangga papan tersebut sudah menua dibagian kaki kanan papan. Agaknya sudah lama proyek ini berlangsung. Namun tak kunjung usai. Padahal pemerintah menargetkan akhir bulan Mei, proses pengurukan harus sudah selesai.

Tanpa basa-basi lagi, kami masuk di sebuah tempat relokasi warga Glagah, Temon, Kulon Progo. Dari semua tempat, relokasi daerah Glagah merupakan jumlah warga terdampak yang paling banyak. Adapun jumlah keseluruhan warga terdampak yang minta relokasi berjumlah 98 KK.

Saat Selamatkanbumi.com mencoba menelusuri proses relokasi, beberapa warga yang menjadi sumber informasi enggan bersuara, kami coba ajak ngobrol santai akan keluh-kesah yang dirasakan, namun tetap tidak bergumam. Mereka bungkam. Bahkan beberapa dari mereka menyatakan takut dengan Pemerintah, mereka memilih untuk pasrah, dan mengikuti perintah Dukuh sebagai sosok yang dianggap bertanggungjawab dalam mengurus masa depan tanah dan nasib mereka dikemudian hari.

Kisno salah satu warga terdampak di Dusun Ngepek berhasil kami temui, awalnya ia tidak mau bicara, bahkan menyuruh kami pergi ke tempat dusun kemudian bicara dengan bapak Dukuh. Tapi bagi kami, keterangan warga lebih dibutuhkan dari pada Dukuh, untuk itu kami berusaha ngobrol santai, apa adanya, akhirnya Kisno bersedia mengutarakan informasi tentang relokasi. Ia menceritakan jikalau ia dan keluarga yang lain se-dusun harus segera pindah pada akhir bulan Juni. Batas tersebut sudah ditentukan Pemerintah. Kepergian dari rumah sendiri baginya cukup berat, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah menjual tanah dan bangunannya kepada pihak Angkasa Pura sebagai pemrakarsa pembangunan bandara NYIA di Kulon Progo.

Ia menjelaskan, bahwa rumah-rumah yang sudah bertuliskan “ Relokasi” berukuran sekitar 20cm x 5cm adalah rumah warga yang sudah meminta direlokasi. Jika tidak tanpa ada tulisan tersebut namun rumah yang ditempati sudah kosong, itu berarti warga terdampak tidak minta relokasi.

“Yang ngambil relokasi lho mas itu kan ada tempelannya, kalau gak ada tempelannya gak dapat relokasi,” tuturnya sembari mendekatkan tubuhnya dipintu masuk rumahnya.

Bapak yang sehari-harinya bekerja sebagai petani ini menjelaskan bahwa waktu yang diberikan Pemerintah untuk mengosongkan rumah dan seluruh isinya sudah dekat, namun ia mengeluh karena tanah relokasi tak juga kunjung jadi. Menyadari hal tersebut ia memutuskan untuk tetap bertahan sebelum relokasi yang disiapkan benar-benar layak digunakan oleh warga.

“Kemaren itu dibatasi sampai akhir Juni, tapi kalau belum jadi ya tetap di sini,” ujarnya.

Dengan suara yang begitu pelan dan agak ragu-ragu, Kisno mencoba menceritakan bagaimana musyawarah untuk pengadaan tanah relokasi bagi warga berlangsung. Kisno menjelaskan dalam prosesnya terjadi perdebatan. Awalnya Pemerintah menawarkan tanah seluas 100 meter persegi untuk satu KK, namun warga menolak, karena lahan dengan luas tersebut dirasa tidak cukup bagi satu KK. Warga kemudian meminta 200 meter persegi untuk setiap KK. Proses musyawarah tersebut cukup lama, pada akhirnya Pemerintah-pun menyanggupi permintaan warga. Tanah 200 meter persegi akhirnya dilepas. Selain itu ada pula pembahasan terkait dengan sertifikat hak milik di tanah relokasi. Pemerintah menjanjikan status tanah kas desa akan menjadi tanah milik perseorangan. 

“Dari Kabupaten menyediakan kas desa itu, terus warga suruh ngambil satu KK dijatah 200 meter, dulu 100 meter terus diminta warga 200 meter,” ucapnya.

Hal senada juga dirasakan oleh Homsatun, warga Kebonrejo yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Biasanya setiap pagi ia pergi ke sawah untuk menengok padi. Semenjak tanah dan rumahnya ia jual, setiap pagi hari ia hanya bisa berdiam diri di rumah, menunggu kepastian relokasi selesai. Padahal ia sendiri sudah dihimbau untuk segera pindah.

“Walaupun belum jadi suruh pindah, misalnya sudah dikasi atap, biar tidak kehujanan, itu bisa pindah sana (relokasi-red), ya bulan April sama Juni akhir suruh pindah,” ucap ibu yang saat diwawancara sedang bersama cucunya.

Homsatun berdiam sejenak, wajahnya datar, tak mengerti harus berbuat apa, mau mengertak tak sempat. Ia menyadari apa yang hilang dengan dibangunnya Bandara NYIA. Dari bibir manisnya ia berujar kalau tanah dan sawah yang ditanami kini sudah habis.

“Tanah sama rumah, sawah yang ditanami padi sudah tidak ada,” ujarnya.

Keputusan untuk memilih relokasi karena ia tidak mau memikirkan yang lain, baginya melawan Pemerintah sangat susah, pada akhirnya ia memilih untuk pasrah, walaupun hati kecilnya bergejolak ingin tetap berada di tanah kelahiran sendiri, namun apa daya. Ia tak berdaya melawan kekuasaan. Rumah peninggalan orang tuanya-pun ia relakan untuk dijual.

“ Saya mau tetap tinggal di sini, tapi gak punya tanah lagi, saya mikir lagi mikir lagi ah cari relokasi saja, rumah saya sudah habis semua,” keluhnya.

Cerita di Balik Relokasi

Proses relokasi ternyata masih menyisakan cerita, tanda-tanda muncul kebahagiaan untuk warga memudar seiring dengan relokasi yang tak kunjung  usai. Pantauan kami di lapangan ternyata masih banyak lahan yang belum usai diuruk. Selain itu, warga juga diminta Pemda untuk membayar lahan relokasi dengan nominal Rp. 700.000 – Rp. 800.000/meter perseginya.

Dalam kalkulasi selamatkanbumi.com, jika tanah yang disediakan pemerintah 200 meter persegi per KK, maka total uang yang harus dikeluarkan warga terdampak untuk relokasi sebesar Rp. 140.000.000 – Rp. 160.000.000 itu pun hanya pada urusan tanah. Untuk membangun rumah warga harus mengeluarkan uang kembali, nominal yang dikeluarkan tidak sedikit berkisar 100- 200 juta perunit rumah. Nominal bisa semakin tinggi tergantung type rumah yang diinginkan. Pemerintah Daerah menawarkan bermacam type diantaranya type 36, 45, 60, 75 sampai 100.

“ Tanahnya beli, kan itu kas desa, cuma uruknya dari pak Bupati, uruknya dikasi cuma-cuma,” ucap Homsatun sembari menjelaskan dengan cukup serius.

Hal senada juga diungkapkan Kisno, suaranya agak meninggi saat menjelaskan relokasi ternyata tidak ada yang gratis, kalaupun dapat gratis itu akan ditempatkan di tanah Pakualaman (PA).

“ Itu kan beli (tanah-red), bangunannya kan bangun sendiri, kalau gratis itu PA, sama bangunannya ncen gratis, “ ucapnya.

Kisno sebagai petani yang belum memahami proses relokasi merasa urusannya mudah karena banyak dibantu Pemerintah, namun saat selamatkanbumi.com mengulik status tanah. Ia sempat terdiam sejenak, lalu perlahan menceritakan bahwa status tanah di tempat relokasi akan menjadi hak milik warga terdampak. Anggapannya karena ia sudah membayar tanah tersebut. Ia pun sangat optimis karena pemerintah sendiri juga telah menjanjikan akan membuatkan sertifikat tanah dengan status hak milik.

“ Sudah ada jaminan, besok atas nama sendiri hanya mengajukan saja, besok atas nama saya, ini tanpa dipungut biaya, “ tandasnya.

Bayang-bayang berada di tanah relokasi terus menghampiri Kisno dan Homsatun, mereka akan mulai sibuk mengemas barang dan membangun rumah jika tanah uruk sudah bisa ditempati. Mereka masih mencoba tegar menghadapi permasalahan, walaupun hati kecil memang tidak bisa dibohongi, janji Pemerintah dan pihak Angkasa Pura I untuk memberikan lapangan pekerjaan sangat ditunggu-tunggu oleh mereka. Karena hanya itu yang akan membuatnya bertahan hidup. Tanpa pekerjaan di tempat relokasi, bagi mereka hanya akan menambah penderitaan.

Seperti Kisno, lelaki tua yang merasa tergusur langung karena posisi rumahnya berada di landasan pacu. Ia ingin segera mencari kerja untuk menafkahi hidupnya. untuk itu Kisno hanya bisa berharap penuh dengan pihak Angkasa Pura yang telah menjanjikan pekerjaan, “Yang langsung tergusur diusahakan kerja di lokasi bandara angkasa pura, diutamakan yang tergusur langsung, bukan yang terdampak,” ujarnya.

Namun berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Homsatun, ia merasa kebingungan harus bekerja apa saat berada di rumah barunya nanti. Bayangan untuk bekerja tidak terlintas satu pun dalam benak pikirannya. relokasi baginya belum menjamin kehidupan. Menurutnya justru tidak akan ada jaminan. Ia melihat dirinya sendiri, menatap masa depan untuk memulai kehidupan baru dengan usianya sudah menginjak 50th tidak akan bisa berharap penuh dengan Pemerintah dan Angkasa Pura, ia pesimis bisa bekerja di bandara.

“Sudah tua bisa apa? Jaminan apa? Kalau bisa (pekerjaan-red) cari sendiri,” ujarnya resah menutup obrolan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *