Hingga hari ini, warga Kecamatan Gunem, Rembang, Jawa Tengah masih tetap menolak keberadaan pabrik semen PT Semen Indonesia di daerahnya. Berbagai upaya mereka lakukan, mulai dari audiensi, gugatan ke PTUN hingga aksi blokir jalan. Kamis kemarin (27/11/2014), warga yang didominasi ibu-ibu memblokade jalan menuju tapak pabrik. Aksi itu pun direspon dengan keras oleh aparat. Pasukan keamanan perusahaan yang terdiri dari polisi, TNI, satpam pabrik dan preman sipil diturunkan untuk membubarkan aksi ibu-ibu. Berikut kronologi peristiwa yang disusun oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) Rembang:

Pkl 05.30 WIB
Mobil pengangkut alat-alat berat tiba di pertigaan jalan menuju tapak pabrik PT Semen Indonesia di Bulu, Rembang

Pkl 06.00 WIB
Ibu-ibu yang piket jaga, mulai datang ke tenda penolakan pendirian pabrik semen. Ketika melihat kendaraan berat berhenti di pertigaan jalan menuju tapak pabrik, ibu-ibu langsung memblokir jalan. Hampir mayoritas semua perempuan, dari muda hingga tua.

Pkl 07.00 WIB
Datang preman pabrik semen mendatangi ibu-ibu dan langsung mengangkat lesung. Tak terima, ibu-ibu marah dan beradu mulut dengan prema. Selang 5 menit kemudian preman pabrik semen, bernama Sakir asal Desa Timbrangan, meludahi ibu-ibu. Karena warga tidak terima akhirnya dibalas pula hal yang sama oleh ibu-ibu. Sontak Sakir langsung memukul Ibu Paedah dan mengenai kepala perempuan paruh baya tersebut hingga jatuh pingsan.

Pkl 07.15 WIB
Kapolsek bulu beserta preman dan satpam pabrik semen datang ke tenda warga dan bertanya:

Kapolsek bulu: “Ada apa ini kok rame-rame?”
Warga: “Blokir jalan karena mau ada truk masuk lokasi (pabrik semen–red)”

Pkl 09.35 WIB
Kapolres datang ke tenda bersama anggota TNI, preman, satpam, dan wartawan. Di sana, ia marah-marah:

Kapolres: “Jadi ini seperti kemarin tidak bisa di atur?”
Warga: “Njeh, pak!” (terj-Iya, pak!)
Kapolres: “Jadi kalo ibu-ibu tetap seperti kemarin, maka pihak keamanan akan melakukan langkah seperti kemarin juga (kekerasan)”
Warga: “Iya, pak, tidak apa-apa kita sudah biasa dikasari oleh pihak polisi. Ya dari tanggal 16 Juni sampai sekarang perlakuan yang sama tidak pernah berubah, yang dilakukan oleh pihak keamanan dimana seharusnya melindungi masyarakat tetapi kenyataanya terbalik, justru pihak keamanan malah melindungi pemodal, apakah kami salah kalo ingin menyelamatkan lingkungan, apakah kami salah kalo ingin menyelamatkan anak cucu kelak, apakah kami salah kalo ingin menyelamatkan bumi pertiwi?”

Pkl 09.40 WIB
Pasukan brimob dan satpam semen memeriksa warga yang tidak mempunyai identitas Tegaldowo (yang tidak mempunyai identitas Tegaldowo di suruh pergi dari lokasi tenda), dan melarang tim dokumentasi untuk mengambil gambar.

Pkl 09.45 WIB
Pasukan brimob dan TNI mulai menambah pasukannya untuk menggusur warga.

Pkl 10.00 WIB
Ibu-ibu memainkan lesung dan nembang Ibu Pertiwi sebagai bentuk perlawanan terhadap aparat.

Pkl 10.15 WIB
Pasukan brimob merampas lesung, bendera, poster, dan alat peraga lainya hingga terjadi bentrok antara Polisi, Preman, Satpam, TNI melawan ibu-ibu.

Pkl 10.21 Wib

Banyak ibu-ibu yang terkena pukulan aparat, hingga Ibu Murtini dipukul oleh anggota brimob bernama Mahmud ketika mau menyelamatkan lesung. Akibat bentrok dengan pasukan brimob kaki Bu Murtini diinjak hingga kuku kakinya terkelupas dan berdarah. Kemudian salah satu pemuda desa yang bernama Jedor dikeroyok aparat hingga terjatuh dan diinjak-injak aparat saat berusaha merebut lesung yang ditaruh di atas mobil polisi.

Pkl 11.30 WIB

Warga melantunkan tembang Ibu Pertiwi sambil berdoa.

Pkl 12.21 WIB
Pasukan brimob dan satpam pabrik semen mendirikan tenda di pertigaan dekat dengan tenda ibu-ibu dan menutup jalan masuk menuju tenda warga.

Pkl 17.00 WIB
Bapak-bapak yang hendak mengirim logistik untuk ibu-ibu di tenda, dilarang masuk oleh pihak brimob dan satpam semen.

Pkl 18.00 WIB
Salah satu warga yang ingin mengirim makanan untuk istrinya yang berada di tenda pun dilarang pihak brimob dan preman pabrik semen untuk masuk lokasi tenda.

Hingga kronologi ini dibuat Pkl 23.00 Wib (27 November 2014), situasi di tenda masih mencekam. Banyak ibu-ibu yang kelaparan karena bapak-bapak tidak diperbolehkan mengantar logistik ke tenda.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.