Kronik

Kronologi singkat konflik agraria petani Pagar Dewa dan Sumber Mulya, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan

By  | 

Pertama; Sejak dari tahun 1974, petani yang tinggal di Desa Pagar Dewa dan Sumber Mulya telah mengelola lahan seluas 1.414 hektar untuk ditanami padi dan jenis tanaman palawija. Di atas tanah tersebut juga terdapat pemakaman umum warga, yang membuktikan bahwa leluhur mereka telah bermukim lama dan secara turun temurun menetap di atas lahan tersebut.

Kedua; Pada tahun 1983, PTPN VII memaksa petani menyerahkan lahan seluas 1.414 hektar yang telah dikelola tersebut. Peristiwa ini telah memunculkan konflik agraria yang berkepanjangan dan berdampak secara langsung terhadap kehidupan ekonomi, sosial, ekologi dan budaya masyarakat yang tinggal di 2 desa tersebut. Jumlahnya kira-kira 700 Kepala Keluarga (KK).

Ketiga; Pasca kejadian tersebut, warga 2 desa yang terdampak melakukan perjuangan dengan beragam cara. Seperti mengadukannya kepada pemerintah kabupaten, propinsi dan pemerintah pusat. Namun cara-cara yang ditempuh tetap tidak membuahkan hasil yang baik, dan hingga saat ini lahan tersebut tetap dikuasai oleh PTPN VII.

Keempat; Mengingat tidak adanya penyelesaian atas kasus perampasan tanah itu, pada bulan Desember tahun 2012, warga mereklaiming lahan tersebut. Namun tindakan reklaiming yang dilakukan mengakibatkan 2 orang warga (petani) dikriminalisasi oleh Negara dengan tuduhan telah merusak perkebunan PTPN VII, dan selanjutnya dipenjara selama 2 tahun.

Kelima; Tahun 2014, 2 orang warga (petani) yang dikriminalisasi tersebut telah bebas. Namun lahan tetap dikuasai oleh PTPN VII. Atas dasar tidak adanya itikad yang baik dari PTPN VII untuk menyelesaikan konflik agraria yang terjadi, selanjutnya pada tanggal 4 agustus 2015, warga kembali turun ke lahan untuk aksi reklaiming.

Keenam; Saat aksi reklaiming dilakukan, sekitar pukul 12.00 WIB, warga yang telah tiba dahulu di lahan dengan jumlah 30 orang dihadapkan dengan 40 preman bayaran PTPN VII. Terjadi perdebatan antara warga dan preman PTPN VII. Bunyi perdebatan tersebut adalah “apo gawe kamu disini, ini tanah perusahaan, mereka punyo hak dan ado izin, sementaro kamu dak katek surat(preman perusahaan) – dak usah nak bedebat, dak penting bedebat dengan kamu, kamu tu wong yg dibayar oleh perusahaan dan dak pacak nak ngambek keputusan. kamu begawe lah dan nerimo gaji, kami mengambil hak kami, jadi jangan halangi kami, kami nak ambek hak kami (petani)” “Buat apa kalian disini, ini tanah perusahaan, mereka punya hak dan izin, sementara kalian tidak punya surat (preman perusahaan) – Tidak usah berdebat, tidak penting berdebat dengan kalian, kalian orang yang dibayar perusahaan dan tidak bisa mengambil keputusan. Kalian kerja lah dan terima gaji, kami mau mengambil hak kami, jadi jangan halangi kami, kami mau mengambil hak kami (petani)”.

Ketujuh; Pukul 13.00 WIB, sebagian warga yang lain tiba dilahan. Selanjutnya warga bersama Rismaludin mendekati pohon karet yang akan direklaiming. Warga berencana memasang plang di sekitar lahan yang akan direklaiming

Kedelapan; Pada pukul 14.00, Asisten Manajer PTPN VII bersama para preman yang lainnya tiba dilahan konflik dan kemudian langsung memerintahkan untuk membubarkan aksi reklaiming dan menangkap Rismaludin. Selanjutnya terjadi bentrokan fisik antara preman PTPN VII dan warga. Rismaludin terkepung dan dipukuli secara membabi buta oleh pimpinan preman perusahaan yang bernama Ketut dan Gondrong dengan menggunakan pisau lipat dan benda tumpul. Akibat penganiayaan ini bagian kepala Rismaludin mengalami luka bocor.

Kesembilan; Pukul 14.30 WIB, Asisten Manajer PTPN VII membawa Rismaludin secara paksa ke dalam mobil yang di kawal puluhan preman. Di pihak lain, warga juga mengalami luka-luka akibat bentrokan yang terjadi. Selanjutnya warga kembali ke desa untuk menginformasikan kepada warga yang lainnya apa yang sudah terjadi di lahan.

Kesepuluh; Pukul 15.00 WIB, Rismanadi (kakak Rismaludin ) mendatangi camp PTPN VII yang terletak tidak jauh dari perkampungan. Dia ingin mencari tahu perkembangan atas peristiwa yang menimpa Rismaludin, adiknya.

Kesebelas; Manajer PTPN VII menginformasikan kepada Rismanadi bahwa Rismaludin telah dibawa ke POLRES Muara Enim, dengan tuduhan telah merusak barang milik PTPN VII.


Kronologi ini adalah latar sejarah singkat dan terjadinya kekerasan terhadap Petani Pagar Dewa dan Sumber Mulya oleh PTPN VII Beringin, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan pada 4 agustus 2015.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.