Solidaritas

Kronologi Penghadangan Alat Berat oleh Warga Penolak Bandara

By  | 

Senin, 18 September 2017 sekitar pukul 13:15 alat berat masuk ke lahan pertanian warga penolak bandara. Melihat hal tersebut warga berkumpul di lokasi dan menghadang alat berat karena sebelumnya alat berat tersebut telah merusak lahan pertanian warga. Di lokasi yang sama, terlihat pihak Angkasa Pura I (AP I) dan perusahaan jasa konstruksi PT. Pembangunan Perumahan (PP) berjumlah sekitar 20 orang.

Pukul 13:30 WIB Angkasa Pura I menceramahi seluruh warga yang berada di lokasi kejadian. Warga tetap menolak berkomunikasi dengan Angkasa Pura I.

Pukul 13:45 Pihak Angkasa Pura I ngotot meminta warga penolak bandara untuk menemukan titik temu penyelesaian.

Pukul 13:50 Akhirnya terjadi dialog, pihak Angkasa Pura I mengatakan jika tanah yang diklaim PAG sudah selesai dibayar. Namun warga menganggap bahwa tanah tersebut adalah tanah negara. Wargapun bertanya kepada pihak AP I terkait kepemilikan lahan, “Buktinya apa ini tanah PAG?” mendengar hal tersebut pihak angkasa pura diam sejenak kemudian menjawab, “Yang tahu jawabannya Pemda dan BPN”. Merasa tidak puas dengan jawaban pihak AP I warga menyatakan,“kan disini tanah terlantar dan sudah dikelola warga secara turun temurun, jadi sesuai dengan Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) 1960 bisa dikatakan tanah ini milik warga. Mendengar ungkapan warga, pihak angkasa pura membenarkan pernyataan warga dengan menyatakan, “ benar itu ada di UU PA 1960 ayat 1 bahwa tanah terlantar itu dikuasai negara”

Pukul 14:00, pihak Angkasa Pura I kembali menyatakan jika tanah tersebut sudah dikonsinyasi semua dan itu seolah-olah menjadi milik Angkasa Pura I. Dengan lantang warga serentak menolak hal itu dengan alasan tanah itu adalah hak warga. Kemudian warga kembali bertanya, “Apakah menolak pembangunan bandara itu salah?” mendengar hal tersebut pihak AP I diam saja.

Pukul 14:15, pihak Angkasa Pura I kembali menjelaskan kepada warga bahwa semua itu sudah dikonsinyasi dan uangnya dititipkan di pengadilan serta sertifikat dianggap sudah tidak berlaku lagi (menjadi milik Angkasa Pura I)

Pukul 14:20, setelah menjelaskan hal tersebut, Angkasa pura mengancam warga dengan mengatakan jika pihak Angkasa Pura I akan memadamkan listrik di pemukiman warga dan menyatakan jika hal tersebut bisa saja terjadi pemaksaan. Mendengar hal itu warga geram dan spontan menyatakan, “Kalau seperti itu bunuh saja kami sekalian, tembaki saja kami, atau bom saja kami biar kami mati sekalian, agar proyek kalian lancar”

Pukul 14:30, merasa tidak mendapatkan titik temu penyelesaian, pihak Angkasa Pura I memutuskan untuk pulang, alat beratpun berhenti beroperasi.

Catatan : 

Kronologi ini dibuat sendiri oleh warga penolak bandara NYIA

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *