Berita

Lahan Subur dalam Kungkungan Pagar Bandara

By  | 

Pagi itu sekitar pukul 07.45 WIB, ia bersiap berangkat ke sawah dengan tiga perempuan dan dua laki-laki. Mereka menggunakan pakaian serba panjang, tak lupa topi dan penutup muka. Bersama kawan-kawan perempuannya, ia menggendong sabit dan pengasah, sedangkan para lelaki berbagi tugas untuk membawa alat penggiling yang berbahan bakar solar. Tak lupa mereka membawa makanan dan minum untuk bekal bekerja. Pagi itu mereka hendak panen padi, hasil tanam warga penolak bandara yang berada di dusun Bapangan, Temon Kulon Progo.

Karena lahan sawah begitu luas, mereka membutuhkan tenaga cukup banyak. Telah menjadi kebiasaan petani Temon untuk menggunakan sistem gotong royong dalam mengelola hasil panen. Hasil panen selalu dibagi dalam bentuk gabah basah. Kegiatan tersebut terus dilakukan, walaupun enam tahun belakangan selalu dihantui konflik bandara. Mereka masih memanen karena tak pernah berhenti menanam.

Wagirah (60), orang akrab memanggilnya demikian, mengajak saya ikut memanen padi yang sudah berumur 3 bulan. Tiga perempuan yang ikut bersamanya bernama Susilah (49), Satini (58), dan Sumarsih (54). Saya diminta berganti pakaian seperti mereka, kaos lengan panjang dan penutup kepala, agar pengaruh terik matahari tak mengganggu pekerjaan.

Sepanjang perjalanan ke sawah, Wagirah berulangkali mengingatkan saya agar berhati-hati jalan di pematang sawah yang sempit dan becek. Sejajar dengan petak-petak sawah, pagar pembatas tapak pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) memanjang ke utara. Pagar terpancang sampai batas Jalan Nasional Wates-Purworejo. Wagirah menceritakan bahwa tanahnya berada di dalam pagar, namun ia tak pernah menjualnya pada Angkasa Pura I. Ia bergumam tak habis pikir bagaimana bisa lokasi tapak bandara ditetapkan dengan pagar, jika di dalamnya masih banyak tanah yang tetap sah milik para petani.

Di ujung batas sawah, tempat para petani melepas lelah, telah menunggu seorang penjual es dawet, minuman bersantan dengan isi bulir-bulir kenyal yang disirami gula merah. Susilah menuturkan bahwa penjual dawet tersebut tidak dibayar dengan uang, tetapi dengan gabah. Selama puluhan tahun penjual dawet melayani para petani sepanjang masa panen.

“Biasanya ya, ini barter mas, tukar dengan hasil panen. Sudah lama begini, hampir puluhan tahun,” tutur Jumadi yang berjualan dawet khususnya di masa panen.

Setelah menikmati es dawet dan mengasah sabit, Wagirah turun ke sawah.

“Arit diasah dulu biar tajam, biar enak motongnya,” tutur Wagirah sambil mencoba memotong seikat padi yang menunduk karena berat menahan bulir-bulirnya.

Dalam sekejap tim panen menyebar dengan tugas masing-masing. Para perempuan ngarit atau memotong padi lalu menumpuknya di sekitar. Para lelaki memanggul hasil potongan tersebut ke satu titik, di mana mereka mengoperasikan alat bertenaga mesin sederhana yang tugasnya memisahkan bulir padi dari batang.

Dari mesin tersebut, bulir-bulir padi berguguran dan ditampung di atas terpal. Bulir-bulir tersebut adalah gabah basah, yang masih perlu dibersihkan dari serpihan batang padi. Setelah bersih, gabah basah dimasukkan dalam karung untuk dikeringkan di pekarangan rumah masing-masing.

Tahap-tahap panen di atas berlangsung sepanjang hari, hingga matahari hampir terbenam. Bagi Wagirah dan kawan-kawannya, panen adalah masa kebahagiaan karena kebutuhan hidup keluarganya bergantung dari hasil panen sawah dan ladang. Pulang dengan ratusan kilogram gabah basah artinya mereka masih harus melakukan rangkaian kegiatan pengeringan. Karena itulah petani padi selalu membutuhkan pekarangan yang luas untuk menjemur gabah. Hasil panen padi tiap empat bulan sekali digunakan Wagirah untuk memenuhi pangan, sandang, dan membiayai sekolah anak. Setiap beberapa bulan sekali ia berhitung berapa banyak kebutuhan keluarga. Jika hasil panen dirasa melimpah, maka kelebihannya langsung dibagi ke tetangga-tetangganya.

Menanam kemudian panen adalah kerja profesional Wagirah sebagai petani. Seumur hidupnya ia bisa mengerjakan hal lain, namun ia dan ribuan warga di pesisir Kulon Progo adalah orang-orang yang bangga dengan kemampuan mereka hidup dari daya dukung lahan pertanian.

Lain lagi cerita Sumarsih. Beberapa orang tetangga desa yang sekarang rumahnya rata dengan tanah karena dijual ke Angkasa Pura I, terus-menerus dilanda kecemasan. Secara tertulis, mereka masih memiliki banyak uang di bank. Namun, sehari-harinya mereka cemas menggunakan uang tersebut, karena telah banyak contoh orang yang menghambur-hamburkan uang hasil penjualan tanah, kemudian bangkrut dan dililit hutang.

Ketika tak ada lagi lahan yang bisa ditanami, runtuhlah martabat manusia yang seumur hidupnya terbiasa bertani dan bercocok tanam. Wagirah, Sumarsih, dan tetangganya yang menolak bandara menyadari betapa tak terbelinya nilai tanah subur pesisir Kulon Progo. Mereka tidak pernah menyerahkan sertifikat tanah dan rumah. Angkasa Pura I pun bersiasat. Angkasa Pura I memanfaatkan celah dalam pelaksanaan Undang Undang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum untuk mempercepat tahap pengadaan tanah melalui penitipan uang di pengadilan, atau dikenal warga sebagai konsinyasi.

Tak habis-habisnya warga terdampak membicarakan bagaimana tahap pengadaan tanah telah merusak kedamaian hidup mereka. Warga, khususnya yang memanfaatkan lahan pesisir untuk pertanian, telah lama mendapat kekerasan melalui intimidasi, pemaksaan menjual lahan, bahkan mendapat ancaman penggusuran paksa jika menolak menjual tanah.

Bagi Sumarsih, Angkasa Pura I yang belakangan selalu datang dengan aparat keamanan seperti TNI dan Kepolisian telah memaksakan kehendak tanpa berlandaskan hukum. Gencarnya kedatangan pegawai Pengadilan Negeri Wates ke rumah-rumah membuat Sumarsih heran, dari mana Angkasa Pura I mendapatkan data untuk memenuhi persyaratan penitipan atau konsinyasi tersebut. Ia sendiri tidak pernah merasa perlu ada musyawarah menentukan nilai ganti rugi, karena tanahnya tidak dijual. Sehingga baik Sumarsih maupun para tetangganya yang menolak menjual tanah untuk bandara NYIA, enggan berdialog dengan pihak-pihak terkait upaya penetapan nilai ganti rugi.

Belakangan warga mengetahui melalui penyelidikan Ombudsman RI Perwakilan DIY (ORI DIY) bahwa Angkasa Pura I melakukan maladministrasi. ORI DIY mendapati bahwa berkas penolakan besaran ganti rugi oleh pemilik tanah tidak pernah ada. Satu-satunya berkas pendukung selain salinan sertifikat tanah, hanya berupa daftar hadir warga saat sosialisasi pembangunan bandara tertanggal hampir lima tahun yang lalu.

Namun, himbauan ORI DIY untuk menghentikan pembangunan sementara karena syarat pembebasan lahan belum lengkap tak digubris Angkasa Pura I. Pagar dan portal dibangun membelah lahan subur, mengusik kententraman warga.

Bandara Menghancurkan Buruh Tani

Wagirah dan Sumarsih mengayak bulir-bulir gabar yang telah dipisahkan dari batang padi. Sumber foto: Selbum.

Panen menjadi tanda melimpahnya sumber alam bagi petani. Tak heran jika Satini (58) selalu gembira jika diajak memanen. Dengan para tetangganya, ia bisa menyelesaikan panen beberapa bidang tanah dalam satu hari.

“Banyak pun sehari bisa selesai. Gotong royong cara melakukannya, Mas,” tutur Satini ringan sembari menunjukkan cara memotong padi.

Susilah yang berada di sebelah Satini menimpali, panen hari itu akan menghasilkan 12 kuintal. Hasil itu dalam setahun tak akan habis dimakan keluarganya.

“Setugel kulen, bisa satu setengah ton kalau bagus banget. 12 kuintal itu rata-rata,” ujar Susilah.

Ia juga bercerita bahwa dalam satu tahun ia bisa melakukan dua kali panen. Tidak berhenti di situ, tanaman yang bisa tumbuh di lahannya adalah komoditas populer di pasar, seperti semangka, melon dan sayuran. Dari ceritanya, ia ingin menunjukan betapa subur dan melimpahnya hasil bumi yang ditanam di tanah yang tak pernah jenuh menjamin kehidupan mereka.

“Selain panen dua kali setahun bisa buat nanam semangka, melon, gak hanya nanam padi tok. Sayur- mayur bisa,” tutur perempuan yang dua anaknya sudah dewasa ini.

Wagirah menyambung tuturan tetangganya, hasil panen pernah sampai membludak, tak bisa ditampung seluruhnya di rumah karena amat banyak. Dua tahun lalu, ia kebanjiran cabai merah, padi, dan sayuran. Karena takut rusak dan busuk, ia membagikannya pada saudara dan tetangga terdekat, bahkan sebelum dijual ke pengepul.

“Rumahnya itu sampai gak muat saat panen. Bertumpuk-tumpuk, sampai gak muat,” katanya kemudian tertawa.

Wagirah, Satini, Sumarsih, dan Susilah tak lupa mengisahkan pentingnya peran buruh tani. Puluhan ribu orang berdatangan dari perbukitan Menoreh dan Purworejo, bahkan Gunungkidul untuk membantu panen raya.

“Luar daerah ke sini, sepanjang panen gak pernah berhenti. Hampir tiap hari,” ucap Wagirah.

Menurutnya, buruh tani itu dapat pekerjaan dari lahan mereka. Kehidupan berbalik saat Angkasa Pura I mulai mengeksekusi lahan, meratakan dan memadatkan agar bisa ditanami beton. Buruh Tani tak lagi datang berduyun-duyun ke Temon.

Wagirah pernah bertemu salah seorang buruh tani yang kerap membantu panen. Ia bercerita pada Wagirah bahwa sekarang semakin sulit mencari lahan yang perlu dibantu panen, karena dampak bandara sangat luas dan berlangsung hampir serentak.

“Dulu setiap panen mereka ke sini. Mereka, buruh tani itu sedih gak bisa bawa pulang hasil panen,” ucap Wagirah.

Runtuhnya martabat petani dan hancurnya kehidupan buruh tani karena pembangunan infrastruktur bandara adalah dampak langsung proyek bandara NYIA. Lahan tak bisa bertambah jika sudah dibangun. Betapapun menggiurkannya jumlah uang yang masuk, kekayaan daerah tanpa kedaulatan pangan adalah isapan jempol.

“Presiden itu makan nasi dari ini lho, Mas. Presiden butuh petani, makanya petani itu jangan diabaikan,” pungkas Wagirah menutup pertemuan saat ia beristirahat sejenak.

Para petani tangguh ini kemudian menikmati makan siang berupa nasi dan sayur-mayur hasil panen lahan subur dalam kungkungan pagar bandara.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.