Berita

Laporan Bedah Buku: Menanam Adalah Melawan

By  | 

Diskusi Buku “Menanam adalah Melawan”

Oleh: LL-Reporter FKMA

Selasa 2 Juli 2013, pukul 09.00 WIB ruang teatrikal perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta sudah didatangi beberapa orang. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang belajar di UIN. Sebagian lainnya adalah warga Kulon Progo yang datang bersamaan dengan Widodo, penulis buku sekaligus pembicara di acara Bedah buku dan launching penerbit Tanah Air Beta.

Waktu berjalan, orang-orang pun berdatangan dan segera mengambil tempat duduk. Tak lama kemudian, mc membuka acara. Setelah hiburan musik akustik, Wahyu Minarno, direktur penerbit Tanah Air Beta, yang menyelenggarakan acara ini, memberikan sambutan dengan penuh gelora. Ditutup dengan ketukan tiga kali di podium, maka penerbit Tanah Air Beta dengan resmi diluncurkan ke publik.

Meski bukan satu-satunya buku yang diterbitkan, penerbit Tanah Air Beta sengaja menempatkan bedah buku “Menanam adalah Melawan” sebagai acara utama dalam peluncurannya. Sejak selesai dicetak dan mulai diedarkan, buku ini sudah dibedah sebanyak empat kali. Peluncuran kali ini ialah kali kelimanya. Empat pembicara pun dihadirkan dalam bedah buku ini. Pembicara pertama ialah Widodo. Widodo ini salah seorang warga Kulon Progo yang menolak rencana pertambangan. Sehari-harinya ia melakukan aktivitas pertanian, mulai dari menanam hingga menjual hasil panennya. Pembicara kedua ialah seorang dosen pertanian UGM, Dr. Ir. Djafar Sidieq, M. Sc., yang sejak dulu tidak setuju dengan rencana pertambangan yang akan dilakukan di wilayah pesisir Kulon Progo karena alasan yang ilmiah. Pembicara ketiga merupakan salah seorang kerabat Sultan, yang mendukung warga Kulon Progo untuk tetap mempertahankan tanahnya dan menolak rencana pertambangan, BSW. Adjikoesoemo. Sementara pembicara keempat ialah Kuswantoro, seorang aktivis lingkungan yang pernah melakukan penelitian di Kulon Progo.

Wahyu Minarno menjadi moderator dan membuka bedah buku. Widodo pun bercerita tentang latar belakang penulisan buku ini. Apa yang ia tulis dalam buku pun sedikit diceritakan di forum ini. Dengan bersemangat ia menunjukkan sikapnya menolak tambang. Penolakan dan perlawanannya tersebut ia wujudkan dengan laku keseharian bersama warga lainnya, yakni dengan bertanam, mencangkul dan melakukan aktivitas pertanian. Tak lupa ia juga menunjukkan betapa pertanian yang dihidupkan oleh warga Kulon Progo ini merupakan suatu prestasi di tengah gersangnya lahan pasir. Pencapaian warga Kulon Progo dalam menghidupkan lahan yang sebelumnya sangat tandus ini juga diakui oleh Djafar Sidiq. Secara ilmiah ia menguatkan apa yang ditulis oleh Widodo dalam bukunya. Ia mengatakan bahwa para petani berhasil mengolah tanah yang berstatus N2 hingga menjadi S2, sambil menerangkan bahwa yang dimaksud tanah N2 ialah tanah yang sudah sangat parah dan tidak bisa diolah.

Namun ternyata para petani bisa mengolahnya hingga menjadi lahan pertanian yang sangat produktif. Sebelumnya ia juga menceritakan apa yang ia jumpai 15 tahun lalu ketika menengok kondisi di Kulon Progo. Ia melihat kemiskinan dan kesengsaraan yang dialami warga, rumah beratap bambu dan beralaskan tanah. Sebagai seorang yang memiliki ikatan batin dengan warga dan tanah Kulon Progo, Djafar ikut senang dengan hasil pertanian yang dinikmati warga, ia juga mengakui kejeniusan warga dalam mengembangkan pola distribusi hasil panen dengan membuat pasar lelang. Selain terhindar dari permainan para tengkulak, dengan pasar lelang ini, warga juga terhindar dari kesejahteraan yang terpusat pada elit dari sistem koperasi. Tak hanya ikut merasakan senang, Djafar Sidieq pun juga ikut merasa seperti tersambar petir ketika mendengar rencana pertambangan di lahan pertanian di Kulon Progo. Baginya, pertanian dikatakan baik karena tiga hal; yakni ketika tidak merusak lingkungan, kedua jika bisa mensejahterakan para petani, yang ketiga jika masyarakat menerima lahan digunakan untuk pertanian. Baginya Kulon Progo memenuhi ketiga syarat tersebut untuk meneruskan aktivitas pertanian. Perlawanan terhadap rencana penambangan yang dilakukan oleh para petani pun ia komentari sebagai sesuatu yang positif. Ia pun tidak percaya dengan rencana reklamasi yang diwacanakan oleh investor.

Senada dengan apa yang diutarakan oleh Djafar Sidieq, Kuswantoro pun mengatakan bahwa aktivitas pertambangan di lahan pasir tersebut akan mengangkat mineral yang terkandung dalam pasir. Sementara mineral tersebut dibutuhkan untuk menyaring air laut menjadi air tawar, yang menjadi syarat utama aktivitas pertanian. Dengan kata lain, reklamasi terdengar tidak masuk akal disini.

Ketika Keseharian Menjadi Perlawanan
Kiranya cukup beralasan ketika salah satu bab dari buku ini dijadikan judul. Selain tegas, “Menanam adalah Melawan” cukup mengundang tanya. Bagaimana bisa menanam dimaknai sebagai aktivitas perlawanan? Bagi sebagian masyarakat yang tidak secara vulgar menghadapi situasi konflik, mungkin akan bertanya demikian. Makna “perlawanan” yang didapat penulis dari aktivitas kesehariannya ini tidak bisa kita lepaskan dari konteks sosial yang melahirkannya. Dengan gaya tulis yang kadang keluar dari struktur, penulis mencurahkan apa yang ia pikir dan rasakan di tengah konflik tanah yang ia hadapi bersama warga.

Hampir semua kalimat pembuka dalam tiap babnya berupa kesaksian rasa. Sehingga membaca buku ini serasa membaca buku harian seorang petani. Makna “perlawanan” yang didapat oleh penulis dari aktivitas sehari-harinya ini bisa jadi sangat personal, karena berasal dari apa yang ia rasakan. Namun tidak tertutup kemungkinan bisa menjadi sangat politis, karena besar kemungkinan tidak hanya Widodo yang merasakan demikian, namun juga banyak petani yang terancam kehilangan lahan bertani, lahan aktualisasi diri dan lahan kehidupan, karena rencana pertambangan di tempat yang sama. Dari sinilah pembaca bisa mendapat jawaban, bahwa perlawanan tidak mesti turun ke jalan, perlawanan ada di laku keseharian.

Tak hanya aktivitas pertanian yang terekam dalam buku setebal 160 halaman ini, ada juga aktivitas kesenian yang dilakukan oleh warga. Berangkat dari apa yang menjadi keresahan warga akan adanya tambang yang mengancam hidup mereka, naskah pun dibuat, teater pun dipentaskan. Tak hanya di daerah mereka tinggal, kelompok teater yang diberi nama Unduk Gurun ini juga menyambut undangan tampil di beberapa tempat termasuk Jakarta. Selain mengkampanyekan apa yang diperjuangkan warga, kelompok teater ini juga menjadi wadah bagi warga untuk bersolidaritas dengan siapa saja yang mendukung perjuangan warga ini.

Satu penanya terakhir dalam diskusi melontarkan pertanyaan yang sederhana namun cukup menarik, yakni kaitan antara penerbitan buku dengan masa depan perlawanan warga yang masih berlangsung. Sesuai dengan apa yang ditulis dalam bukunya, Widodo pun menjawab; “tentu saja menanam, mencangkul dan memberi makan banyak orang”.

Seperti halnya “menanam” yang memiliki banyak makna, buku Menanam adalah Melawan pun juga demikian. Salah satunya, ketika kita mengingat situasi yang melahirkannya, maka tak berlebihan kiranya jika kita katakan bahwa buku ini merupakan wujud dari suatu ketegasan sikap.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.