Anak-anak Parangtritis bertahan dari dampak penggusuran dan bisnis hiburan sarat mirasantika (minuman keras dan narkotika), ada yang putus sekolah karena kekerasan dan rasa malu, ada yang meneruskan hidup dengan trauma panjang dalam diam, ada yang aktif merokok dan mengonsumsi miras.

 

Catatan: para narasumber yang namanya dicetak tebal menghendaki identitasnya disamarkan namun informasinya disampaikan utuh, penerbitan artikel ini sudah melalui pemeriksaan dan persetujuan para narasumber tersebut.

 

Legenda pers Indonesia, Fuad Muhammad Syafruddin (Udin), pernah menulis Isak Tangis Warnai Pengosongan Parangtritis ketika Orde Baru berkuasa. Akibatnya, pada usia 32 tahun Udin diabadikan karena warta. Di Parangtritis, apa yang ditulis Udin menjadi sejarah penggusuran berulang-ulang, bertahun-tahun kemudian.

Parangtritis salah satu primadona wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tak hanya wisata pantai, namun juga ziarah yang terkadang dibumbui prostitusi. Seiring waktu, Parangtritis berkembang menjadi kawasan penginapan, bisnis hiburan malam, dan atraksi di gumuk pasir. Pengembangan fungsi kawasan itu disertai penggusuran yang mengorbankan penghidupan warga, tak terkecuali kaum perempuan dan anak.

“Pengosongan; penataan; penertiban atau penggusuran di Parangtritis sekurangnya sudah enam kali”, ujar Kawit (59) saat ditemui di sela-sela meracik daging untuk mie ayam (25 Februari 2020).

Sejauh yang ia ingat, gusuran pertama; kedua dan ketiga tahun 2007. Pertama, 7 rumah digusur di Karangbolong. Kedua, kurang lebih 100 rumah di timur sungai Parangkusumo yang saat ini jadi relokasi Mancingan XI. Ketiga, kurang lebih 117 keluarga di barat sungai Parangkusumo di sekitar Masjid Cepuri. Gusuran keempat tahun 2009 di selatan petilasan Cepuri yang kini ditempati lagi jadi warung-warung. Gusuran kelima tahun 2010, kurang lebih 150 KK di barat dan timur jalan menuju pantai Parangkusumo, tapi dihadang warga. Terakhir 2016, sekitar 63 KK di zona inti gumuk pasir.

Kawit tinggal di Parangtritis sejak 1999, saat itu Parangtritis masih sepi dari hunian, hanya ramai pada malam Selasa dan Jumat Kliwon, saat kegiatan ziarah disertai prostitusi berlangsung di sekitar Cepuri.

“Anak-anak menangis karena sepulang sekolah tiba-tiba tidak punya rumah. Orangtua mereka pingsan,” lanjut Kawit yang berdagang mie ayam dengan penghasilan rata-rata Rp. 500.000 per bulan ini. Tahun 2007, mereka bertahan di tenda-tenda karena relokasi belum ada.

“Desember 2016, saya kehilangan gubuk untuk tempat tinggal sekaligus sanggar belajar anak-anak yang sudah berjalan sejak Juli” lanjut pendiri dan pengasuh Sanggar Kuncup Melati Mandiri (SKMM) di Parangtritis ini.

Bagi Sarijan (51) yang ditemui seusai mencari rumput (25 Februari 2020), keberadaan SKMM penting karena anak-anaknya bisa terbantu saat kesulitan memahami pelajaran di sekolah maupun menghadapi situasi pascagusuran, lewat SKMM anak-anak juga terdidik akhlaknya di tengah kepungan bisnis hiburan malam yang mencemaskan.

Tahun 2007-2016 keluarga Sarijan langganan pindah paksa, meskipun mereka warga asli Grogol VII, Parangtritis, Kretek, Bantul.

Dampak Penggusuran

Bersama adik mereka Tampan (7), Nakula (14) dan Sadewa (14) menyaksikan penggusuran terhadap rumah berdinding bambu 4 x 6 m yang mereka huni di gumuk pasir pada 2016, saat sepasang kembar itu duduk di kelas 5 dan 6 SD, sementara adiknya belum TK.

“Kalo lihat bego (alat berat) jadi ingat gusuran yang dulu-dulu, jadi sedih, jadi malas ngapa-ngapain,” ungkap Nakula yang kini duduk kelas 8 SMPN 2 Kretek (26 Februari 2020).

Nakula aktif di SKMM 2016-2018, sebelum sanggar itu vakum karena kekurangan relawan pengajar. Menurut Nakula, kegiatan di SKMM berangsur-angsur membuatnya terhibur dan tidak teringat-ingat lagi kehilangan tempat berlindung. Ia tetap semangat belajar dan membantu orangtuanya membuat arang, memasak, dan merawat peliharaan. Nakula menyukai IPA dan ingin masuk SMK jurusan Ilmu Komputer. Ia tak ingin mengalami penggusuran lagi.

Seingat Kawit, selama aktif di SKMM, Sadewa tampak sebagai anak cerdas, prestasi akademiknya di atas rata-rata, gemar membaca dan jago matematika. Namun, penggusuran telah mengubah batin dan hidup Sadewa.

“Anak saya sekarang tidak mau bicara dengan sembarang orang, bicara cuma sama bapaknya, membatasi pergaulan, putus sekolah karena shock, minder, dan memperoleh perlakuan tidak menyenangkan di sekolah gara-gara penggusuran,” ungkap ayah Sadewa (25 Februari 2020).

Seharusnya Sadewa duduk di kelas 9. Meski putus sekolah, Sadewa tidak putus belajar, ia berlatih membuat arang dari kayu yang terdampar di pantai, bikin sumur pantek, menyambung kabel, dan pintu sederhana. Akibat penggusuran, Sadewa kini menutup diri dan menyepi. Ekonomi keluarganya terpuruk lebih dari 4 tahun, mereka harus bertahan dengan penghasilan maksimum 1 juta per bulan.

Ayah Nakula dan Sadewa tidak berniat memindahkan anak-anaknya ke luar daerah meski terancam penggusuran maupun dampak bisnis karaoke, “Parangtritis tanah kelahiran anak-anak saya. Kalau pindah, mereka bisa tidak mencintai tanah air.”

Menurut Kawit, bagi keluarga miskin korban penggusuran di Parangtritis, pindah bukan perkara mudah.

Dijumpai di rumahnya yang berdinding bambu (26 Februari 2020), Kunti (40) hidup bersama anak keduanya, Karna (16), yang ia rawat seorang diri karena ayah biologisnya tidak bertanggungjawab. Postur bongsor dan gestur tubuh anak itu menyamarkan usia sesungguhnya.

Kunti asli Solo, ia memulai hidup di Parangtritis sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) tahun 2001-2005 karena depresi; pedagang produk instan (2006); tukang pijat (2009-2018); dan laundry (2019). Penyebab depresi Kunti ialah anak pertamanya yang berusia 7 bulan diambil paksa keluarga suaminya untuk diasuh iparnya. Ia lalu memutuskan meninggalkan suami, meski memendam rindu pada anak pertamanya bertahun-tahun.

“Parangtritis itu tempat pelarian orang-orang bermasalah yang masih ingin hidup, di sini latar belakang orang tidak dipertanyakan. Status orang tidak jadi soal,” kata Kunti, tiga bulan terakhir ia menjalani pengobatan herbal untuk memerangi kista, usaha laundry terpaksa terhenti.

Kunti mengalami penggusuran Parangtritis pertama kali tahun 2007 di sekitar Cepuri, sedangkan Karna menyaksikan penggusuran 2010 dan 2016. “Tahun 2007 itu orang-orang teriak ‘garukan, garukan!’, kami ketakutan lari menyelamatkan diri dari garukan (razia), ternyata itu gusuran,” Kunti mengenang kacaunya situasi.

Menurut Kunti, Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bantul No 5 Tahun 2007 tentang  Larangan Pelacuran di Kabupaten Bantul menjadi momok bagi para PSK dan pemilik penginapan untuk prostitusi. “Penghasilan saya 2001-2004 ada 3 juta per bulan, 2007 jadi 70 ribu per hari apalagi setelah Perda antiprositusi hanya mengandalkan malam Selasa dan Jumat Kliwon, sejak 2019 jadi 200 per tiga hari,” pengakuan Kunti.

Penggusuran dan razia sangat berpengaruh bagi pendapatan Kunti. “Pelanggan pijat dan cucian saya ya mbak-mbak LC (Lady Companion atau pramuswara) itu, kalau karaoke sepi saya sulit cari duit padahal saya sudah kapok jadi PSK atau LC, anak saya makin besar, saya makin tua,” katanya, Kunti sebenarnya ingin pulang kampung namun Karna ingin tinggal di Parangtritis. “Di sini banyak teman dan bebas,” kata Karna yang berteman dengan orang-orang dewasa.

Di Parangtritis, bisnis hiburan malam berupa karaoke mulai beroperasi tahun 2009, sebagai peralihan usaha penyewaan kamar dan prostitusi. “Perda antimiras dan prostitusi membuat semua bisnis di Parangtritis sepi,” ujar Banowati (50), seorang pembakal bisnis karaoke saat ditemui di rumahnya (26 Februari 2020), sebelumnya ia membuka penginapan untuk PSK di Yogyakarta (1996) dan Parangtritis (1998).

“Dulu sebelum krisis moneter gampang cari duit, penghasilan saya di Jogja bisa 3 juta per malam, pindah sini masih bisa 4 juta, semakin lama semakin sulit” kata ibu dari Pembarep (25) dan Ragil (15) ini, “garukan ngaruh banget, setahun bisa 3 sampai 4 kali, alasannya macam-macam: bulan puasa, tahun baru, Agustusan (HUT RI), bahkan klithih (kekerasan remaja),” keluh pengusaha yang kini penghasilannya merosot jadi Rp. 1.500.000 per malam atau 50 % sejak penggusuran 2016, baik karena operasi aparat maupun kompetisi.

Meskipun digusur atau dirazia berkali-kali, bisnis karaoke tidak surut, hanya berpindah tempat. Pada 2016, jumlah kios karaoke di Grogol X (Parangkusumo), Parangtritis, Kretek, Bantul sebanyak 35 rumah. Setelah penggusuran Zona Inti Gumuk Pasir 2016, mereka sempat pindah ke Srigading (Samas), Sanden, Bantul,  kemudian razia aparat dilakukan setiap dua hari, akhirnya mereka kembali lagi ke Parangkusumo. “Tahun 2020 ada 50 kios,” kata Banowati. Berkat kebaikan hati pihak tertentu, razia terkadang bisa disiasati dengan cara menutup semua kios sebelum jadwal razia.

Ditemui di kantornya (2 Maret 2020), Hariadi, Staf Database Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN), mengungkapkan bahwa penggusuran tidak serta merta menyelesaikan masalah. “Bisnis karaoke di sekitar Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo kini marak, barangkali sebagian pelakunya pindahan dari Bantul.”

Menurut Banowati, penggusuran di Parangtritis akan membuat 700 orang di lingkungan bisnis karaoke menganggur, itu belum termasuk warga yang menggantungkan hidup dari bisnis karaoke seperti laundry, pijat, kos-kosan LC, jasa antar jemput, kurir, warung makan, dan pemulung. Meskipun belum pernah digusur, menurut Banowati penggusuran juga membuat anak-anaknya trauma karena hidup tidak pasti. “Pembarep ingin saya kembali ke desa di Grobogan, Jawa Tengah, Ragil ingin saya membeli aset tanah di Parangtritis. Usaha saya terkendala ijin karena tidak ada IMB, karena tanah tidak bersertipikat,” keluhnya.

Banowati bercerita, Ragil menyaksikan langsung gusuran di Bukit Duri Jakarta tahun 2016, “Ragil tidak mau jadi Satpol PP, dia sedang mempersiapkan diri jadi polisi, ikut paskibraka dan kegiatan bhayangkara di SMA.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.