“Menilik Kembali Gagasan Murray Bookchin”

 Oleh: Muhammad Afandi

 

“Tak hanya sekedar memberikan perangkat analisis tajam terhadap krisis sosial-ekologis yang terjadi, ekologi sosial juga memberikan perangkat analisis ampuh untuk melakukan penyembuhan terhadap krisis tersebut”

Sekilas Tentang Murray Bookchin

Murray Bookchin adalah seorang teoretisi terkemuka yang tekun dalam membangun batang tubuh ide, gagasan, teori dan praktik ekologi sosial. Salah satu tulisannya di tahun 1964 yang berjudul Ecology and Revolutionary Thought bahkan sempat di daulat sebagai manifesto pertama ekologi radikal dan cukup mempengaruhi tumbuhnya gerakan-gerakan ekologi pada masa selanjutnya. Malah menurut Biehl, jika melihat jauh lebih ke belakang lagi, sebelum banyak orang di Amerika Serikat mengingatkan tentang bahaya kimia dalam makanan dan dampak penyakit yang ditimbulkannya, ia sudah menuliskannya dalam esai “The Problem of Chemical in Food”, pada tahun 1952, dengan nama samaran Lewis Herber.*1* Dan dibawah pengaruh marxis, seperti yang telah dijelaskan oleh Bookchin sendiri dalam pengantar awal buku The Ecology Of Freedom, bahwa artikel yang ditulisnya pada tahun 1952 tersebut, tidak hanya memeriksa terkait krisis lingkungan, akan tetapi juga mencoba melacak asal usul persoalan sosial secara mendalam (Bookchin, 1982: 1).

Dengan ekologi sosial, ia menyerukan untuk mendorong terciptanya masyarakat ekologis yang terbangun dengan prinsip-prinsip libertarian, desentralisasi, bebas, dan mutual.

Belakangan ini ide-idenya terus menginspirasi lahirnya gerakan sosial di beberapa tempat, baik yang mengusung secara khusus isu ekologi, ataupun yang berjuang dengan isu sosial radikal. Salah satu diantaranya adalah perjuangan masyarakat Kurdi di Turki, yang semula berjuang dengan pengaruh marxis-leninis, dibawah pimpinan Abdullah Ocalan dalam organisasi Partai Pekerja Kurdistan (PKK).*2* Dalam perenungannya yang cukup panjang, dan dibawah pengaruh Bookchin, Ocalan menggagas perjuangan confederalisme demokratik; desentralisasi sistem politik berdasarkan ideologi sosialis libertarian. Hal ini berdampak pada pergeseran perjuangan marxis-leninis PKK menjadi lebih otonomis (Leverink, 2015).*3*

Dalam perjalanan intelektualnya, Ocalan menyimpulkan, khususnya saat ia menjalani hukuman penjara yang dilakukan oleh pemerintah Turki, bahwa konsep negara-bangsa yang ia cita-citakan bersama komunitasnya dengan pengaruh marxis-leninis, hanya akan menciptakan penindasan baru terhadap semua sisi kehidupan ekonomi dan sosial. Atas dasar itulah kemudian garis perjuangan PKK berubah menjadi lebih otonomis, dan menolak konsep negara. Menurut Leverink, Ocalan benar-benar sadar bahwa untuk mencapai kebebasan sejati dan keluar dari segala bentuk penindasan dan eksploitasi yang bersumber dari kapitalisme, patriarki, dan kekuasaan negara terpusat, adalah dengan cara membangun gerakan yang memisahkan semua ikatan dan bentuk-bentuk yang dilembagakan (Leverink, 2015).

Bookchin memiliki sejarah intelektual yang cukup panjang, yang terentang dalam beberapa periode. Ia lahir di New York pada tanggal 14 Januari 1921 dari keluarga imigran Yahudi-Rusia. Di usia belasan tahun, saat Amerika Serikat dilanda depresi ekonomi (krisis), ia sudah mulai terlibat secara aktif dalam kegiatan politik, dengan menjadi anggota Liga Komunis Muda. Dalam perjalanannya sebagai anggota komunis muda, ia mulai kecewa terhadap ide-ide Stalinisme, mengingat cita-cita revolusi perjuangan kelas yang berkembang di Uni Soviet menunjukkan kebalikkannya; bangkitnya kediktatoran, pembunuhan terhadap pergerakan revolusioner, dan menguatnya kapitalisme negara. Atas kekecewaan tersebut ia berpaling menjadi pengagum Trotsky. Namun, pasca perang sipil Spanyol 1936-1939, ia secara perlahan lebih cenderung untuk menjadi seorang anarkis. Ide-ide anarkis ini sebenarnya sudah cukup populer di dalam dirinya dari sejak ia muda, karena nenek dari pihak ibunya, adalah anggota revolusioner Sosialis Rusia.*4* Tapi dalam perjalanannya, tepatnya di saat umurnya memasuki 70-an tahun, ia menyatakan telah berpisah dengan anarkis (Biehl, 2007: 1).*5*

Selama kurun waktu 1940-an, Bookchin sangat aktif dalam organisasi buruh. Saat itu, ia mempercayai kekuatan serikat buruh merupakan kekuatan yang paling ampuh untuk menumbangkan kapitalisme, dengan membangun gerakan dalam payung internasionale. Namun, ia kembali menghadapi beberapa kenyataan, yang membuatnya kembali kecewa.

Beberapa alasannya, menurut Biehl diantaranya adalah: Pertama, kaum proletar (kelas buruh) di Barat semakin meninggalkan revolusi perjuangan kelas dalam bendera internasionalisme, dan hanyut dalam perang di bawah bendera nasionalisme. Bahkan, kelas buruh Jerman meninggalkan kesadaran kelas yang dibangun dalam tradisi sosialis, dan berjuang atas nama Hitler sampai akhir. Atas peristiwa ini, menurutnya, gagasan awal tentang perjuangan menuju revolusi di bawah internasionalisme telah runtuh di bawah bendera nasionalisme.

Kedua, menjauhnya kesadaran buruh industri Amerika, dari perjuangan melawan sistem kapitalis. Malah saat peristiwa pemogokan tahun 1946 di perusahaan General Motors, di mana Bookchin terlibat aktif di dalamnya, ia melihat banyak anggota serikat buruh dan rekan-rekannya menerima program pensiun perusahaan dan tunjangan pengangguran dengan santai.

Menurut Biehl, ketidakrevolusioneran ini mengantarkan Bookchin untuk mempertanyakan kembali proletariat sebagai kekuatan perubahan sosial. Tidak mau mundur dari semangat revolusi, Bookchin akhirnya menggali lebih jauh beberapa kemungkinan baru untuk mewujudkan sosialisme non otoritarian. Ia berpendapat bahwa orang bisa mengelola urusan mereka sendiri tanpa negara, dan revolusi tidak harus melakukan perebutan kekuasaan negara, malah sebaliknya melakukan pembubarannya.

Pada tahun 1974, untuk mewujudkan ide dan gagasannya, ia mendirikan Institut Ekologi Sosial (ISE) di Vermont, sebuah institusi pendidikan tinggi independen yang dedikasikan untuk studi ekologi sosial yang mencakup bidang teori filsafat, politik, sosial, antropologi, sejarah, ekonomi, ilmu pengetahuan alam, dan feminisme. Selain itu ia juga mengajar di Ramapo College of New Jersey. Saat ini, 13 tahun pasca meninggalnya (2006), puluhan karyanya kembali diminati oleh banyak kalangan, seiring dengan terbuktinya beberapa ide dan pemikirannya terkait krisis sosial-ekologis yang terus meluas.

Walaupun sebagian besar, menganggap karya termasyhurnya ada di dalam buku The Ecology of Freedom, tapi Biehl mengingatkan bahwa Bookchin mengatakan karya terpentingnya berada di dalam buku The Philosophy of Social Ecology, khususnya edisi revisi (1995).

Beberapa Gagasan Bookchin dalam The Ecology of Freedom

Dalam pandangannya, sejak berkembanganya teknologi pertanian dan praktik urban, manusia telah dihadapkan dengan berbagai persoalan kerusakan lingkungan dan sosial. Namun, kerusakan tersebut jauh lebih bertambah parah dan berdampak secara menyeluruh terhadap kehidupan saat zaman revolusi industri dimulai, dan terus semakin parah pasca perang dunia kedua. Kerusakan tersebut tentunya selain dipengaruhi oleh sistem kapitalisme, juga dikarenakan seiring berkembangnya kemajuan teknologi. Lalu, apakah dalam hal ini, untuk mengurangi kerusakan tersebut, kita harus meninggalkan teknologi dan menuju kehidupan bergaya primitif, dan kembali pada penggunaan teknologi tradisional, ungkapnya?

Ekologi sosial mencoba menawarkan beberapa jawaban atas pertanyaan tersebut. Diantaranya tawaran yang paling umum adalah kita tentunya tidak perlu untuk membuang pencapaian teknologi yang sudah ada di masa sekarang ini, dan juga tidak perlu membuang keuntungan teori ilmiah-sosial yang sudah ada. Namun, kita perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dengan sudut pandang kritis mengapa kemajuan teknologi tersebut malah memperparah krisis, dan mengapa dominasi manusia terhadap alam terus semakin menjadi-jadi (1982: 21).*6* Sehingga krisis sosial-ekologis yang dihadapkan kepada kita sekarang seolah-olah memberikan gambaran, bahwa kiamat segera datang.

Lalu, apa yang dimaksud dengan ekologi sosial, dan bagaimana posisinya terhadap krisis sosial-ekologis yang berlangsung hari ini? Untuk menjawab pertanyaan ini,  “The Ecology of Freedom” karya Murray Bookchin akan mengantarkan kita pada suatu pembacaan yang cukup menarik.

Pertama: Menurutnya, krisis sosial yang terjadi hari ini harus dipandang sebagai akibat langsung dari krisis yang disebabkan oleh adanya eksploitasi manusia terhadap planet ini (Bookchin, 1982: 19).

Untuk mencapai pemahaman ekologi sosial yang ditawarkan oleh Bookchin ini, saya akan memulainya dengan menerangkan beberapa istilah umum yang sering kita dengar, dan cukup populer di era belakangan ini, yakni: ekologi dan environmentalisme. Pengertian istilah ini tentunya merujuk kepada apa yang telah ditawarkan oleh Bookchin dalam buku ini. Selanjutnya saya akan mengenalkan dua konsep penting dalam kerja politik Bookchin, yakni: hirarki dan dominasi.

Kedua: Dalam menjabarkan pengertian tentang ekologi, Bookchin merujuk kepada pengertian yang telah ditawarkan oleh Ernst Haeckel, yakni hubungan timbal balik antara hewan, tumbuhan dan lingkungan anorganik. Ekologi menurutnya berhubungan dengan keseimbangan alam yang dinamis, yang didalamnya terdapat saling ketergantungan akan hal-hal yang hidup dan yang tidak hidup. Untuk itu, karena keduanya saling berinteraksi melalui fase evolusi yang sangat kompleks, ia menyarankan sangat penting kiranya saat membicarakan ekologi sosial, juga harus membicarakan ekologi alam (Bookchin, 1982: 21).

Dengan demikian, untuk memahami ini secara holistik, artinya, dalam hal saling ketergantungan timbal-balik, ekologi sosial berusaha untuk mengungkap bentuk dan pola keterkaitan yang memberi kejelasan terhadap sebuah komunitas, baik itu alam atau sosial. Bagi Bookchin, untuk memahami secara holistik, di sini harus dipahami sebagai hasil usaha sadar untuk membedakan bagaimana ciri khas suatu komunitas disusun dan bagaimana “geometri”-nya. Oleh karena itu, “keutuhan” tidak disalahartikan sebagai “kesatuan” spektral yang menghasilkan pembubaran kosmik dalam nirwana yang tidak terstruktur; ini adalah struktur yang diartikulasikan dengan baik dengan sejarah dan logika internalnya sendiri (Bookchin, 1982: 23).

Selanjutnya, untuk membedakannya dengan pengertian enviromentalisme, yang menurutnya seringkali digunakan secara acak oleh banyak orang dengan istilah ekologi secara bersamaan, ia menawarkan cara pandang yang berbeda.

Baginya, enviromentalisme adalah pandangan yang mekanis dan intrumental yang melihat alam sebagai habitat pasif yang terdiri dari hewan, tumbuhan, mineral, dan sejenisnya yang hanya dianggap lebih bermanfaat untuk kepentingan manusia. Dengan pengertian ini, maka seringkali orang-orang yang tergabung dalam aliran enviromentalisme, cenderung memposisikan alam sebagai tempat penyimpanan sumber daya alam ataupun bahan mentah lainnya. Dengan pengertian yang semacam inilah, ia mengambil posisi untuk tidak mau disebut sebagai bagian dari kubu enviromentalisme. Karena ia menganggapnya pendekatan yang ditawarkan oleh kubu enviromentalisme sangat reformis dan tidak revolusioner. Dan hanya berkutat pada penyelesaian lingkungan melalui penggunaan teknologi, tanpa pernah menyasar pada akar persoalan utamanya yang berpusat pada dominasi dan hirarki dalam masyarakat (Bookchin, 1982: 21-22).*7*

Dengan cara pandang ini, istilah dan pengertian ekologi yang ia tawarkan dalam ekologi sosial menemukan posisinya sebagai bagian dari konsep yang menjadi lebih radikal. Tak salah jika Biehl mengatakan: Meskipun beberapa sejarah gerakan ekologi dan lingkungan sekarang menegaskan bahwa filsuf Norwegia Arne Naess adalah orang pertama yang membedakan antara lingkungan hidup dan ekologi (dalam makalah tentang ekologi, disajikan sebagai kuliah di 1972), Bookchin sebenarnya membuat perbedaan ini pada bulan November 1971, di artikelnya yang berjudul “Spontanitas dan Organisasi”.*8*

 Bookchin, dalam pengantar buku ini telah menegaskan bahwa akar krisis sosial-ekologis yang terjadi saat ini adalah berasal dari: adanya dominasi manusia terhadap alam yang disebabkan oleh adanya dominasi manusia terhadap manusia lainnya. Dominasi ini di dorong oleh adanya kelas-kelas ekonomi dan hirarki sosial yang salah satunya diciptakan oleh kapitalisme. Singkatnya, menurutnya ketidakseimbangan manusia yang diproduksi di alam disebabkan oleh ketidakseimbangan yang telah ia produksi di dunia sosial. Inilah yang menjadi pilar utama gagasan ekologi sosial. Dengan demikian, salah satu cara pemulihan yang ia tawarkan adalah memutus rantai dominasi, eksploitasi dan hirarki yang terjadi di dalam struktur masyarakat saat ini.

Terkait hirarki, terdapat suatu penegasan yang menarik, yang ia jelaskan dalam pengantar buku ini. Bahwa hirarki janganlah dipahami hanya sekedar kepatuhan yang dibentuk dalam sistem ekonomi politik. Melainkan juga termasuk sistem kepatuhan, ketaatan, perintah, baik secara tradisonal ataupun psikologis. Sehingga bisa saja, menurutnya, dominasi dan hirarki akan tetap muncul dalam masyarakat tanpa kelas ataupun tanpa negara. Oleh karenanya, kita dituntut untuk terus merefleksikan sejauh mungkin bentuk-bentuk dominasi tersebut, sekaligus menghilangkannya dalam masyarakat.

Ketiga, Tentang “keutuhan” dalam Ekologi Sosial. Dalam ekologi sosial, Bookchin menekankan sebuah prinsip penting, yakni keutuhan ekologi. Namun keutuhan yang ia maksud bukanlah universalitas ataupun homogenitas yang tidak berubah, namun justru sebaliknya merupakan kesatuan keanekaragaman yang dinamis. Artinya, untuk menjaga alam tetap seimbang, selain mendorong pemusnahan dominasi manusia terhadap manusia yang lain, juga harus disokong dengan kapasitas ekosistem yang mampu mempertahankan integritasnya yang bergantung pada keragaman, bukan pada keseragaman. Karena menurutnya, keragaman dan kompleksitas tersebut merupakan jantung utama keseimbangan ekologi, yang secara keseluruhan baik yang material yang hidup ataupun mati saling bergantung. Ringkasnya, keutuhan adalah kelengkapan (Bookchin, 1982: 24).

Ia mencontohkan hal ini pada bagaimana pertanian monokultur menemui kegagalannya karena telah memutus mata rantai kehidupan di sekitarnya; tingginya penggunaan racun telah mengurangi kesuburan tanah, hilangnya binatang pengurai, melenyapnya tanaman pendukung, dsb, yang sejatinya sebenarnya memiliki hubungan dan kontrol alami yang tak terpisahkan untuk menjaga keseimbangan.

Selanjutnya ia juga menambahkan bahwa kesatuan dalam keragaman di alam bukanlah sekedar metafora ekologis. Karena keutuhan dan kelengkapan merupakan sebuah proses dialektika yang imanen. Hal ini secara tegas dapat dilihat bahwa ekosistem alam dan komunitas manusia pada dasarnya adalah saling berinteraksi satu sama lain dengan cara yang sangat eksistensial. Sehingga sifat hewani pada manusia tidak pernah begitu jauh dari sifat sosialnya (Bookchin, 1982: 32-33).

Menurutnya, kita memasuki masyarakat sebagai individu dengan cara yang sama melalui proses bertahap keluar dari alam, dan masuk ke dalam dirinya sendiri. Bila keutuhan dan kelengkapan dipandang sebagai hasil dialektika imanen, kita tidak lagi melakukan kekerasan terhadap keunikan fenomena ini (Bookchin, 1982: 32). Dengan demikian, ia mengkritik keras para ilmuwan ataupun kelompok yang sering disebut sebagai penjaga masyarakat, yang dengan pengetahuannya sendiri merasa cukup tahu tentang faktor kompleks ini. Padahal pembangunan sosial yang ia bangun tak lain sekedar hanya melayani dirinya sendiri dan kerap berujung pada kegagalan yang berdampak pada peningkatan laju kerusakan krisis sosial ekologis (Bookchin, 1982: 35).

Keempat, Naturalisme Dialektis. Lahirnya jaman pencerahan atau yang dikenal sebagai renaisans, manusia semakin menuju pada dunianya sendiri, yakni dunia manusia. Dengan rasionalitasnya sebagai jantung pengetahuan modern, ia malah menjadikan keterkaitan antara manusia dan alam menjadi terpisah-anti natruralistik. Dari sudut pandang ini, menurut Bookchin, proses mental manusia tidak menjalani kehidupan mereka sendiri secara otonom. Ia menegaskan perkembangan dunia manusia pasca menguatnya jaman pencerahan ini tidak lain adalah perkembangan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari cara mereka dibangun oleh dunia pengaruh pencerahan. Pandangan ini bukan berarti mengantarkan kita untuk kembali pada hal-hal yang mistis, justru sebaliknya untuk membongkar lebih jauh keragaman kompleksitas yang rasional antara manusia dan alam. Agar tidak terpeleset jauh ke dalam lubang mistis tersebut, ia mengingatkan kita: saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa alam “mengetahui” hal-hal yang tidak kita ketahui, namun kita adalah “pengetahuan” alam, perwujudan evolusi alam ke dalam intelektual, pikiran dan refleksivitas diri (Bookchin, 1982: 38).

Untuk itu ia mengingatkan kita kembali, seperti yang telah ditegaskannya dalam penutup bab 1 buku ini, agar kita memeriksa kembali pembelahan-pembelahan yang memisahkan manusia dari alam, dan perpecahan di dalam komunitas manusia yang semula menghasilkan pembelahan ini. Dan jika konsep keutuhan menjadi dapat dipahami dengan cara baru, yakni dalam kaca mata ekologi sosial maka gambaran baru tentang kebebasan kemungkinan akan datang.

Cara berpikir ini tentunya menuntut kita untuk tidak berpikir linier, harus dialektis, dan jangan intrumentalis. Dan menurutnya agar kita memandang dunia alam sebagai proses perkembangan, dan bukan sekedar pemandangan indah yang kita lihat dari titik tertentu ataupun yang tertempel dalam berbagai hiasan (Bookchin, 2006: 23-24).

Keduanya, harus saling melengkapi, yakni tidak memisahkan apa yang disebut alam pertama (biotik), dan alam kedua (sosial).

Dominasi dan Hirarki

Seperti yang telah dijelaskan diatas, 2 kata kunci utama kerja politik ekologi sosial adalah: dominasi dan hiraki. Lalu, bagaimana melacak kembali munculnya dominasi dan hirarki? Apakah ia memang telah tercipta dari sejak jaman pra sejarah? Bookchin mengatakan bahwa pandangan tentang manusia selalu mendominasi alam bukanlah ciri universal budaya manusia (Bookchin, 1982: 43).

Menurutnya dalam budaya komunitas primitif ditemukan sejumlah data yang berlimpah, bahwa kebudayaan masyarakat organik benar-benar ada. Dalam masyarakat tradisonal Hopi misalnya, solidaritas kelompok merupakan jantung utama dalam kehidupan mereka. Hampir semua tugas pokok masyarakat, dari penanaman hingga persiapan makanan, dilakukan secara kooperatif, baik antara orang dewasa, dan anak-anak. Semua dituntut untuk bertanggung jawab secara penuh untuk komunitas mereka. Solidaritas ini, dibangun dari sejak masa kanak-kanak mereka, melalui proses menyusui, yang menekankan saling ketergantungan antara individu Hopi (Bookchin, 1982: 45).

Dan dari sejak dini pula, makanan yang dikunyah oleh anak-anak Hopi, berasal dari makanan yang dikunyah terlebih dahulu oleh anggota komunitas mereka. Hal itu membuat mereka terikat secara batin cukup kuat dalam perkembangannya. Dengan demikian, mereka tak perlu jauh-jauh untuk mencari kepuasan yang mereka butuhkan-bandingkan dengan anak-anak di era kapitalisme saat ini (Bookchin, 1982: 46).

Secara psikologis, mereka percaya akan besarnya kekuatan alam, daripada teknologi sederhana yang mereka punyai. Sehingga rasa ketergantungan terhadap alam, tidak akan pernah lenyap dari kehidupan mereka. Kepercayaan itu dibangun melalui ritual dan berbagai macam prosedur magis. Bagi komunitas Hopi, menurut Bookchin, upacara lebih memainkan perannya sebagai fungsi partisipatif, dan bukan untuk memanipulasi kesadaran. Hal ini menggambarkan perputaran siklus alami, dimana mereka terlibat di dalamnya sebagai bagian dari siklus tersebut. Bagi mereka, upacara merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang kompleks dimana kehidupan dimulai, dari tumbuhnya benih tanaman hingga kedatangan titik balik matahari (Bookchin, 1982: 46).

Mengutip pengamatan Dorothy Lee (dalam Bookchin, 1982):

“Setiap aspek alam, tanaman dan batu dan binatang, warna dan arah mata angin dan jumlah dan perbedaan jenis kelamin, yang mati dan yang hidup, semua memiliki andil dalam kerja sama dalam pemeliharaan tatanan universal. Akhirnya, upaya masing-masing individu, manusia atau tidak, masuk ke dalam keseluruhan besar ini……..”.

 Seringkali, menurut Bookchin, retorika ekologis kontemporer cenderung mengaburkan integrasi individu, komunitas, dan lingkungan ke dalam “tatanan universal, seperti yang telah tergambarkan dalam masyarakat Hopi.

Ia menambahkan, untuk dapat berbicara dalam bahasa masyarakat organik, yang melihat bagaimana darah yang mengalir antara komunitas dan alam menyatu menjadi kerabat, yang disirkulasikan oleh tindakan-tindakan berbeda dari komunitas, kita harus melihatnya dalam berbagai bentuk upacara, tarian, drama, lagu, dekorasi, dan simbol. Baginya, para penari yang meniru binatang dalam gerakan mereka bukanlah sekadar mimesis; akan tetapi bentuk dari kesatuan komunal dan paduan suara dengan alam. Oleh karena itu, menurutnya ekologi sosial memiliki asal-usul dalam kesadaran awal manusia tentang dunia sosialnya sendiri – tidak hanya sebagai dimensi kognitif epistemologi, tetapi juga sebagai hubungan ontologis dengan dunia alam (Bookchin, 1982: 48).

Lebih jauh lagi, Bookchin mengatakan garis keturunan atau ikatan darah pada jaman pra sejarah memang telah membentuk dasar secara organik apa yang kita sebut sebagai keluarga. Selanjutnya ia berkembang menjadi apa yang kita sebut sebagai klan ataupun suku. Laki-laki, perempuan dan anak-anak dalam keluarga dalam era tersebut memiliki kewajiban bersama yang seringkali disucikan lewat berbagai ritual upacara ataupun sumpah perkawinan. Dan untuk menciptakan apa yang disebut sebagai sistem dan nilai moral, yang tertuang dalam bentuk aturan dibentuk melalui serangkaian penguatan supernatural, ataupun upacara mistis yang khusus (Bookchin, 2006: 31-32).

Dalam komunitas masyarakat pra sejarah, menurutnya, berbagai fakta dan sifat biologis menjadi sosial. Setidaknya hal itu dapat dicontohkan dalam beberapa hal: Pertama, dalam urusan perbedaan usia. Tidak adanya bahasa tertulis, telah membuat posisi kaum lansia memiliki posisi yang tinggi. Karena mereka diangap memiliki pengalaman yang berlimpah seperti; teknik bertahan hidup, garis kekerabatan, dan nilai kearifan lainnya. Kedua, perbedaan gender yang terwujud menjadi persaudaraan yang saling melengkapi. Misalnya pembagian peran: “perempuan membentuk kelompok pengumpulan makanan dan perawatan mereka sendiri dengan kebiasaan, sistem kepercayaan, dan nilai-nilai mereka sendiri, sementara laki-laki membentuk kelompok berburu dan prajurit sendiri dengan karakteristik perilaku, adat istiadat, dan ideologi mereka sendiri” (Bookchin, 2006: 33-34).

Dalam konteks yang demikian, menurutnya cenderung tidak ada dominasi satu kelompok terhadap kelompok lainnya, ataupun yang mencoba mengistimewakan dirinya. Namun, saat fakta biologis seperti garis keturunan keluarga, perbedaan gender, dan perbedaan usia perlahan-lahan dilembagakan, dimensi sosial mereka yang unik pada awalnya cukup egaliter, kemudian berkembang menjadi bentuk kelas hierarki yang menindas dan kemudian eksploitatif. Salah satu contohnya adalah menguatnya dominasi laki-laki Bookchin ( 2006: 33-34).

Misalnya, pasca lahirnya praktik pertanian yang menggunakan hewan (sapi) dengan metode bajak, dalam pertanian menetap. Akibatnya, perempuan yang sebelunya memliki peran khusus sebagai pembudidaya dan pengumpul makanan menjadi terbuang. Dan peran laki-laki sebelumnya yang cukup dekat dengan “dunia binatang” menjadi semakin menguat. Namun dalam berbagi kasus, menurutnya munculnya dominasi dan hirarki ini bisa dipicu oleh berbagai hal: usia, meningkatnya jumlah penduduk, bencana alam, perubahan teknologi yang mengutamakan kegiatan perburuan dan peternakan di atas tanggung jawab hortikultura, pertumbuhan masyarakat sipil, dan penyebaran peperangan. Tapi yang menarik, Bookchin mengatakan bahwa dominasi yang hirakis jangan semua dianggap sebagai eksploitasi kelas ataupun hubungan ekonomi semata, yang berdasarkan eksploitasi tenaga kerja. Melainkan juga harus dilihat sebagai hubungan yang dilembagakan. Karena, menurutnya, banyak dari sebagian dari mereka, yang dianggap sebagai pemimpin yang melakukan praktik dominasi tersebut, juga melakukannya dengan cara mengobral berbagai hadiah ataupun merelakan barang-barang mereka diberikan kepada orang lain, untuk mendapatkan pengakuan penghormatan. Dalam konteks ini, penghormatan yang didapatkannya, bukan dengan cara menimbun surplus sebagai sumber kekuatan, akan tetapi dengan membuangnya sebagai bukti kedermawanannya (Bookchin, 2006: 35-36).

Dalam perkembangannya, kebudayaan manusia semakin kompleks, dan mulai menanggalkan fakta biologis (ikatan darah, kekerabatan) sebagai basis organisasi sosial. Ia mulai menerima dan mengakui orang yang berasal diluar fakta biologis ke dalam komunitasnya, yang terus berkembang hingga menjadi komunitas bersama dalam payung organisasi yang beragam. Hal itu juga ditandai dengan terjadinya pergeseran “moralitas”, dan etika, serta kekuasaan, dan yang paling menonjol adalah lahirnya ide-ide yang disebut sebagai rasionalitas, perkotaan, warga negara, dlsb.

Begitu juga dengan bentuk dominasi dan hirarki dalam berbagai wajah hingga hari ini. Ekologi sosial terus ditantang untuk menjawab dan memecahkan persoalan keduanya, dengan membongkar secara keseluruhan dan secara hati-hati, melalui penyelidikan mendalam relasi antara manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan alam.

Ekologi Sosial dan Komunalisme

Dalam sebuah konferensi internasional, di Vermont, tahun 1999, Bookchin menyatakan dirinya telah berpisah dengan anarkisme. Lalu bagaimana nasib dan masa depan ekologi sosial yang ia kembangkan? Ia menegaskan bahwa teori ekologi sosial yang ia kembangkan akan diwujudkan dalam bentuk ideologi komunalisme.*9*

Menurut catatan Eirik Eiglad (2006), Bookchin mengambil sikap tersebut bukan berarti ingin mengatakan bahwa dalam tradisi anarkis tidak menyediakan serangkaian konsep mengenai federalisme dan manajemen, ataupun gagasan menarik lainnya. Akan tetapi menurutnya, para anarkis telah gagal membangun kerangka teori yang koheren untuk aksi sosial radikal dalam perjalanan waktunya.

Baginya, dalam gerakan anarkis yang telah diikutinya selama puluhan tahun, ia menemukan banyak anarkis yang lebih mengutamakan nilai-nilai individualis dengan penekanan pada konsep otonomi yang liberal, daripada berkomitmen terhadap kebebasan dan organisasi sosial, yang kerap kali berujung pada tindakan-tindakan heroik. Bahkan menurutnya, yang paling parah adalah banyak anarkis yang menganggap aksi massa sebagai tindakan yang sia-sia (Bookchin, 2006: 91).

Begitu juga dengan gerakan sindikalisme revolusioner, yang mengusung semangat libertarian (nilai-nilai yang di asosiakan cukup dekat dengan tradisi anarkis). Gerakan sindikalisme revolusioner yang terikat dalam kerja-kerja pengorganisasian yang ketat dan semangat kebebasan sosial ini, menurutnya juga kerap tidak memiliki nafas panjang, karena minimnya strategi perubahan sosial di luar urusan pemogokan, seperti yang ia contohkan pada pada kasus pemogokan di Rusia pada tahun 1905. Dan contoh lainnya adalah dalam kasus kemenangan sindikalis dan anarkis Spanyol pada tahun 1936 melawan Franco. Minimnya ketersediaan perangkat analisis dan strategi jangka panjang, telah membuat kemenangan tersebut hanya bertahan 3 tahun, dan selanjutnya ditikung oleh kelompok kiri dan liberal Spanyol (Bookchin, 2006: 92-95). Hal ini tidak bermaksud untuk membuang pengalaman dan nilai penting yang telah dicapai dalam pemberontakan sosial tersebut. Akan tetapi lebih menekankan pada kritik bagaimana kemenangan tersebut seharusnya dapat menjadi pintu masuk untuk mengelola kehidupan dalam dunia yang lebih adil menjadi lebih nyata dan bertahan lama.

Baginya para kaum anarkis kerap kali keliru dalam memahami politik. Pemusatan kontrol sosial (dalam sindikalisme revolusioner), pada komite-komite pekerja, tanpa melibatkan dan menciptakan lembaga-lembaga di luar isu ekonomi (pertahanan, tata kelola pemerintahan, dlsb) telah membuat perlawanan dan kemenangan yang dicapai menjadi bernafas pendek. Dan yang paling menyedihkan, menurutnya, sebagian besar para anarkis seringkali beranggapan bahwa setiap pemerintahan adalah sebuah bentuk negara, pandangan yang menurutnya menjadi resep ampuh untuk menghilangkan kehidupan sosial yang terorganisir (Bookchin, 2006: 94-95).

Begitu juga dengan Marxisme. Menurutnya para marxis hanya berkutat pada ranah politik yang berpusat pada dunia ekonomi dan kepentingan kelas proletariat, dan membuang isu ekologis (Bookchin, 2006: 89).

Terkait ranah politik tersebut, ia menyarankan agar para marxis dan anarkis untuk mengubah cara pandang tentang politik secara revolusioner. Yakni politik harus dikembangkan sebagai arena sipil dan lembaga-lembaga dimana orang dapat mengelelola urusan komunitas mereka secara langsung dan demokratis. Bookchin merujuk pengertian politik tersebut dari sejarah sosial-politik “polis-kota” dalam Athena klasik. Dalam praktiknya, politik di Athena tersebut dimaknai sebagai pengelolaan pemerintahan secara langsung oleh warga (Bookchin, 2006: 93-94).

Namun terlepas dari pernyataannya diatas, dalam membangun komunalisme, ia tetap merasa berhutang banyak kepada marxisme dan anarkisme. Baginya marxisme telah berhasil merumuskan secara sistematis pengeintegrasian filsafat, sejarah, ekonomi dan politik. Dan secara dialektis, berhasil memadukan teori dan praktik secara radikal untuk tujuan pembebasan umat manusia. Begitu juga dengan anarkisme, yang menekankan dan menyumbang gagasan berharga berupa pada penekanan antistatisme, konfederalisme, dan pengakuan bahwa hirarki adalah masalah mendasar yang hanya dapat diatasi oleh masyarakat sosial libertarian (Bookchin, 2006: 98).

Ia mendesak para libertarian untuk melampaui anarkisme, marxisme dan ideologi radikal lainnya, untuk menciptakan batang tubuh pemikiran baru berdasarkan pendekatan sosial yang koheren dan revolusioner.

Bagi Bookchin, masa depan kehidupan manusia akan sejalan dengan masa depan dunia bukan manusia. Dan kita tidak boleh sekalipun mengabaikan fakta bahaya yang ditimbulkan oleh masyarakat kelas dan hirarkis terhadap dampak kerusakan yang telah ditimbulkannya (Bookchin, 2006: 40).

Ia juga mengingatkan kita, bahwa harus terus waspada terhadap propaganda-propaganda yang dilancarkan oleh banyak ahli teori ekologi, yang hanya menampakkan krisis ekologis menjadi sekedar krisis budaya, dan melenyapkan krisis sosialnya. Karena menurutnya, seberapa baik seorang pelaku usaha dari kalangan korporasi, yang dalam banyak hal mungkin memiliki niat baik ekologis, tetap saja ia berputar dalam hukum pasar yang brutal untuk dapat melangsungkan kehidupannya. Dengan mengaburkan fakta “krisis sosial” dalam konteks kehidupan yang kita jalani hari ini, korporasi tentunya akan sangat cukup lihai dalam memanipulasi hasrat populer dalam “budaya” yang sering kita sebut sebagai praktik ramah lingkungan (Bookchin, 2006: 43).

Tak sedikit contoh untuk menunjukkan situasi demikian di tengah zaman yang kita hadapi saat ini. Telah tampak banyak di depan kita, para korporasi perusak hutan, dan penebar polusi, dengan tanpa rasa malu, menggunakan slogan ramah lingkungan terhadap komoditas yang ia produksi. Bahkan di saat sebagian besar diantara kita mengetahuinya dengan cukup sadar, kita masih saja terjebak untuk memecahkan persoalannya dengan sekedar “perubahan prilaku-krisis budaya”, dan terus menerus menyembunyikan “krisis sosialnya”.

Untuk menyembuhkan krisis sosial-ekologis yang telah membusuk ini, kita harus meruntuhkan seluruh sistem dominasi, hirarki, dan kelas. Selanjutnya tidak memisahkan apa yang disebut alam pertama (biotik), dan alam kedua (sosial). Keduanya, menurut Bookchin harus saling melengkapi. Untuk mewujudkannya dalam bentuk gerakan politik, ia harus dicapai dengan melakukan desentralisasi, yang termanifestasikan di dalam komunitas-komunitas otonom, sesuai dengan karakter wilayah-alam tiap-tiap komunitas, yang selanjutnya disebut sebagai komune (Bookchin, 2006: 46-47).

Komune dalam ideologi komunalisme ini, menurutnya tidak disusun dengan sembarangan, dan telah memiliki landasan filosofis, historis, politik, dan organisasional dengan semangat sosialisme. Dan diilihami dari semangat komune Paris 1871, gerakan yang dianggapnya mampu menggantikan kekuasaan negara dan struktur administratifnya dengan pembangunan konfederasi antar gerakan rakyat (Bookchin, 2006: 98).

Baginya, politik dalam ekologi sosial, adalah yang terwujud dalam bentuk demokrasi langsung, yang dikelola oleh majelis-majelis atau komune yang secara administratif dapat diganti kembali jika ia gagal menjalankan mandat yang telah diberikan oleh komunitas. Tapi ia mengingatkan, agar tiap-tiap komunitas tidak mengelola komunitasnya secara tertutup, karena dapat mendorong parokial dan rasis. Ia juga menyarankan untuk memperluas gerakan politik yang dibangun dengan semangat demokrasi langsung tersebut, menjadi konfederasi untuk menumbuhkan ketergantungan yang sehat, dan saling melengkapi (Bookchin, 2006: 49).

Dalam programnya, Bookchin secara tegas mengatakan bahwa komunalisme mempunyai visi “Menghilangkan struktur kota yang statis dan menggantinya dengan lembaga-lembaga pemerintahan libertarian. Ini berusaha untuk secara radikal merestrukturisasi lembaga pemerintahan menjadi majelis demokrasi populer berdasarkan pada lingkungan, kota, dan desa”, konsep ini dikenal dengan nama Libertarian Municipalism-LM (Bookchin, 2006: 101).

 Ia menggaribawahi bahwa tanpa desentralisasi yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing dan terbebas dari struktur kekuasaan negara maka krisis sosial-ekologis tak akan bisa disembuhkan, dan alam yang membebaskan tidak akan tercapai. Dengan demikian komunalisme merupakan kritik terhadap masyarakat hirarkis dan kapitalis secara keseluruhan. Komunalisme menurut Bookchin tidak hanya berusaha mengubah kehidupan politik masyarakat, tetapi juga kehidupan ekonominya. Dengan demikan menurutnya gerakan ini tidak akan menyarankan untuk menasionalisasi aset-aset ekonomi, yang selama ini sering dilakukan oleh banyak negara (beraliran kiri). Ataupun mempertahankan kepemilikan swasta atas alat-alat produksi, tetapi justru melakukan perpindahan, perombakan, ataupun urbanisasi ekonomi (Bookchin, 2006: 101-102).

Secara tegas, keseluruhan alat-alat produksi akan dikelola dalam keputusan-keputusan majelis populer, yang akan difungsikan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Menurutnya pemisahan antara kehidupan dan pekerjaan, sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan ekonomi kapitalis, juga harus diubah sehingga penciptaan yang kreatif dalam produksi dan peran produksi menemukan jati dirinya dalam pengertian yang membebaskan. Ringkasnya, komunalisme, akan bertumpu pada etika kepedulian kebutuhan manusia dan kehidupan yang lebih baik, menggantikan ekonomi konvesional yang kerap berpijak pada harga dan kelangkaan sumberdaya (Bookchin, 2006: 103-104).

Seluruh proses produksi ini, juga harus didukung oleh pusat-pusat energi terbarukan dan teknologi yang membebaskan. Produksi yang dihasilkan oleh komunitas ini, sepenuhnya untuk digunakan, bukan untuk keuntungan, dan distribusi barang akan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan manusia berdasarkan norma-norma yang ditetapkan oleh majelis warga (komune), yang diselenggarakan dengan demokrasi langsung-tatap muka (Bookchin, 2006: 51).

Sekali lagi, ekologi sosial menurutnya, bukan berarti akan menjadi tragedi kelaparan dan kekurangan materi, ataupun yang menekankan pada primitivisme dan pengehematan. Akan tetapi berorientasi pada terciptanya masyarakat yang rasional, di mana pemborosan, bahkan kelebihan, akan dikendalikan oleh sistem nilai baru; dan ketika atau jika kekurangan muncul sebagai akibat perilaku irasional, majelis rakyat akan menetapkan standar konsumsi yang rasional melalui proses demokrasi langsung-tatap muka (Bookchin, 2006:97-98).

Menuju Masyarakat Ekologis: Sebuah Tawaran Proposal

Sebagian besar orang mempercayai bahwa kapitalisme akan segera runtuh karena adanya kontradiksi internal di dalam dirinya sendiri, yang terwujud dalam bentuk “krisis”.

Akan tetapi, dalam berbagai babak sejarah ia justru menampakkan dirinya terus selamat dari berbagai krisis yang ia ciptakan sendiri. Dan sebaliknya, perlawanan terhadapnya juga tak pernah padam.

Menguatnya kapitalisme swasta dan negara yang difasilitasi oleh berbagai bentuk perjanjian dagang (internasional, nasional, lokal, dll) dan aturan regulasi pendukungnya saat ini, telah mendorong transformasi perampokan, penjarahan dan perampasan ruang hidup rakyat-alam, serta penghisapan nilai lebih menjadi semakin brutal. Dari bentuk lamanya berupa ekstraktivisme lama (buruh murah untuk produktivitas), kini terus berkembang menjadi ekstraktivisme terbaru, yakni dalam bentuk bisnis lingkungan (salah satunya; perdagangan karbon).

Konsekuensinya, warga planet bumi, baik yang tinggal di pedesaan, perkotaan, pesisir dan pulau-pulau kecil, serta pinggiran hutan, semakin kian terancam.

Namun, apabila melihat perkembangan 20 tahun belakangan di berbagai sudut kampung (khususnya pasca 1998), perlawanan terhadap perampasan ruang hidup terus menemukan momennya kembali, dalam berbagai bentuk dan istilah. Misalnya: gerakan keadilan agraria, gerakan penyelamatan kampung, dlsb.

Yang paling menarik, dalam berbagai percakapan antar subjek perlawanan di tengah dinamika perlawanan yang beragam tersebut, terekam kuat adanya kesamaan untuk memulihkan kembali kampung dalam semangat yang ekologis.

Lalu, apakah yang menjadi agenda penting untuk mewujudkan “masyarakat ekologis”, dari sebuah perjuangan agraria yang banyak tersebar di berbagai kampung saat ini? Apakah mungkin perjuangan yang bermula dari sekedar mengusir perampasan tanah yang dilakukan oleh korporasi perkebunan ataupun pertambangan, dapat membuka ruang refleksi mendalam bagi anggota komunitas kampung untuk mengubah berbagai hal penting lainnya, dan menjadi kekuatan prasyarat terwujudnya masyarakat ekologis?

Setidaknya, menurut penulis, terdapat beberapa pekerjaan rumah terbesar pasca berhasil mengusir korporasi (pertambangan, perkebunan, dll) dari kampung, yang harus dilakukan, yakni:

Pertama; Perombakan ketimpangan agraria di komunitas. Dengan kata lain mendorong kelas tak bertanah (baik yang telah turut berjuang bersama ataupun tidak), mempunyai ikatan dengan tanah secara cukup kuat, melalui agenda perombakan kelas.

Karena sejatinya, masyarakat ekologis bukanlah sekedar masyarakat yang menanam tanaman ramah lingkungan, tidak menggunakan pestisida, ataupun telah menggunakan energi “bersih-terbarukan”. Akan tetapi juga masyarakat yang terbebas dari sistem kelas sosial. Lebih jauh dapat dikatakan, salah satu cara yang tepat untuk memutus dominasi manusia terhadap alam, adalah dengan memutus dominasi manusia terhadap manusia lainnya.

Kedua; Pemulihan Infrastruktur Ekologi. Artinya adalah gerakan untuk melakukan perbaikan dan pemulihan seluruh infrastruktur ekologi kampung, seperti; mata air, sungai, gua, bukit, gunung, dlsb.

Ketiga; Menghentikan penggunaan bibit rekayasa genetika, dan mendorong kembali pertanian subsisten dan organik berbasis kebutuhan komunitas. Dan patut yang ditambahkan adalah, menjauhkan sistem pertanian monokultur.

Keempat; Mendorong penggunaan energi bersih-terbarukan sesuai dengan karakter dan keunikan masing-masing wilayah. Energi bersih yang dimaksud bukanlah sekedar menggunakan energi terbarukan (mis: tenaga surya, angin, dlsb). Akan tetapi juga harus bersih (bebas) dari hubungan yang kapitalistik. Artinya, pengelolaan dan hak milik atas sumber energi bersih tersebut bukanlah berada di tangan korporasi (swasta ataupun negara), melainkan di tangan komunitas.

Kelima; Demokrasi langsung dan desentralisasi. Gerakan yang mendorong praktik demokrasi tatap muka, dalam komunitas-komunitas yang otonom, dan tidak lagi mendelegasikannya ke dalam sebuah institusi yang kita sebut sebagai lembaga perwakilan, yang dikelola oleh negara.

Keenam; Koperasi kolektif. Selain memutus mata rantai terhadap institusi perbankan dan lembaga rente lainnya, penting kiranya mendorong terbentuknya lembaga ekonomi (bukan sekedar uang) berbasis komunitas, untuk menjamin kelangsungan hidup tiap-tiap anggota komunitas. Pembangunan koperasi ini juga sekaligus membuka ruang dukungan solidaritas bagi komunitas lain, yang dalam hal ini membutuhkan dukungan secara langsung.

 

Panjang umur kewarasan dan perlawanan!

Surabaya, 17 Agustus 2019

 

(Sebagian besar isi artikel ini pernah disajikan sebagai tugas Filsafat Ekologi dalam kelas belajar ekologi-WALHI Jatim, 20 Mei 2017. Penulis merupakan staf departemen advokasi WALHI Jatim)

 

Sumber:

Buku

  1. Murray Bookchin, The Ecology of Freedom. (Palo Alto, California: Chesire Books, 1982).
  2. ———————, Social Ecology and Communalism. (AK Press, 2006).

 

Artikel

  1. Janet Biehl, The Murray Bookchin Reader: Introduction. (Tanpa Tahun).http://social-ecology.org/wp/1997/10/introduction-the-murray-bookchin-reader/.
  2. ————–,Bookchin Breaks With Anarchism. (2007). https://theanarchistlibrary.org/library/janet-biehl-bookchin-breaks-with-anarchism.
  3. Joris Leverink, Murray Bookchin and Kurdish Resistance.(2015). https://roarmag.org/essays/bookchin-kurdish-struggle-ocalan-rojava/.

 

Catatan kaki

*1* Janet Biehl, The Murray Bookchin Reader: Introduction.  http://social-ecology.org/wp/1997/10/introduction-the-murray-bookchin-reader/. Diakses pada: 15 April 2017.

*2* Wilayah dan pemukiman masyarakat Kurdi tersebar di beberapa tempat. Namun, pasca perjanjian Sykes-Picot tahun 1916, dibawah pengaruh kolonial Perancis dan Inggris, wilayah dan ruang hidup mereka dipecah-pecah saat terjadi penetapan tapal batas antara Irak, Iran, Suriah dan Turki. Kemudian dengan perjanjian itu komunitas masyarakat Kurdi terjebak dan terpecah dalam batas yang dibuat oleh kolonial tersebut. Mereka menginginkan kemerdekaan dengan mendirikan negara kurdi bersatu, dan memulai perjuangannya dengan mendirikan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), dibawah pimpinan Abdullah Ocalan. Sejak tahun 1984, mereka mulai angkat senjata, khususnya terhadap negara Turki hingga sekarang ini.

*3* Joris Leverink , 2015 “ Murray Bookchin and Kurdish Resistancehttps://roarmag.org/essays/bookchin-kurdish-struggle-ocalan-rojava/. Diakses pada: 7 Januari 2017. Untuk memperdalam pandangan yang ditawarkan oleh Abdullah Ocalan, saya menyarankan untuk membaca secara langsung tulisannya yang berjudul: Democratic Confederalism. London: International Initiative, 2008.

*4* Diadopsi dari tulisan Janet Biehl, The Murray Bookchin Reader: IntroductionLihat: http://social-ecology.org/wp/1997/10/introduction-the-murray-bookchin-reader/. Diakses pada: 15 April 2017.

*5* Di pihak yang sama, yakni Janet Biehl (mitra Bookchin selama 2 dekade), juga menyatakan telah berpisah dengan Ekologi Sosial. Untuk lebih jauh memahami mengapa Biehl berpisah dengan Ekologi Sosial, saya menyarankan membaca pernyataannya di: http://social-ecology.org/wp/2011/04/biehl-breaks-with-social-ecology/.

*6* Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terkait ini saya menyarankan untuk membaca tulisan Bookchin yang berjudul: Towards a Liberatory Technology dalam buku Post-Scarcity Anarchism. (1986).

*7* Lihat karyanya dalam artikel Toward an Ecological Society (khususnya hal 74-75).

*8* Janet Biehl, The Murray Bookchin Reader: Introduction. Lihat: http://social-ecology.org/wp/1997/10/introduction-the-murray-bookchin-reader/Diakses pada: 15 April 2017.  Terkait artikel “Spontanitas dan Organisasi” yang ditulis Bookchin, Biehl menyarankan untuk membaca buku Bookchin yang berjudul: Toward an Ecological Society (Montreal: Black Rose Books, 1980).

*9* Lihat tulisan Eirik Eiglad dalam pengantar buku, Social Ecology and Communalism, hal 13. (AK Press, 2006).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.