Lipsus

Mbah Muhdi : HB X Itu Belum Pernah Ke Sini

By  | 

” Nggak, HB X nggak pernah. Kalau Mbah Marijan sudah pernah ke sini, satu kali di malam Suro kedua. Itu saya sendiri yang mengantarkan naik ke sini. Sama trahnya Sri Sultan HB IX,” Ungkap Mbah Muhdi

Ketika mendengar kata gunung, tentu yang terbayang dalam benak kita adalah sebuah gundukan yang menjulang tinggi ke langit dengan ketinggian ribuan meter dari permukaan laut. Namun, berbeda dengan Gunung Lanang yang terletak di Kecamatan Temon, Kulon Progo. Ketika kami mengunjungi gunung tersebut, yang terlihat hanya gundukan kecil yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki 15 menit bolak-balik. Gunung Lanang mungkin lebih tepat disebut bukit dengan area sekitar 100 meter persegi berupa candi di pucuknya.

Gunung Lanang adalah bagian suatu sistem peziarahan yang terdiri atas Gunung Putri dan Gunung Sinongko, kini bernama Tirta Kencana. Letaknya berdekatan satu sama lain dan masing-masing memiliki peranan tak terpisahkan. Sistem tersebut dilengkapi dengan keberadaan petilasan Ajisaka, sang pencipta aksara Jawa. Ketiga gunung tersebut adalah bukti peradaban khas yang perlu dilestarikan agar bisa senantiasa dipelajari generasi hari ini dan masa depan.

Namun, keberadaannya kini terancam akibat rencana pembangunan New Yogyakarta Airport (NYIA). Rencana pokok proyek bandara baru Yogyakarta yang membutuhkan luasan 634 hektar tersebut menunjukkan bahwa gunung-gunung tersebut harus dibedah atau diratakan hanya untuk menyiapkan landasan pacu.

Selamatkanbumi.com  mencoba menelusuri lebih lanjut situs sejarah yang sudah ada sejak masa Mataram Kuno tersebut. Menurut warga sekitar Pantai Congot dan Glagah, Kecamatan Temon, Gunung Lanang bukan sembarang gunung. Kisah Gunung Lanang adalah narasi-panjang tentang nilai kebudayaan-spiritualisme-relijius yang hingga saat ini mengakar di masyarakat Jawa.

Menurut beberapa catatan yang kami temukan , ketiga Gunung tersebut  menjadi sakral karena fungsinya sebagai tempat Sang Raja untuk merenung dan mencari keputusan terbaik. Seperti halnya yang dilakukan oleh Raden Mas Rahmat saat masih bergelar Adipati Anom, sebelum naik tahta menjadi Amangkurat II. Bertahan hingga abad ke-21, Gunung Lanang pernah juga dikunjungi Mbah Marijan dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk berrefleksi, bertirakat, dan menziarahi peninggalan leluhur.

Gunung Lanang dan kedua gunung lainnya dibuka untuk semua kalangan dan tidak pernah dibatasi untuk pejabat atau tokoh semata. Sayangnya, hampir tidak ada literatur akademis yang lebih dalam yang bisa kami temukan tentang area-area di calon lokasi pembangunan bandara internasional ini. Nilai-nilai historis dan kebudayaan yang tumbuh dan mengisi kehidupan sehari-hari warga Kecamatan Temon menyiratkan ikatan dan kesadaran bahwa merekalah anak cucu pewaris peradaban, penjaga Gunung Lanang.

Salah seorang dari warga telah ditunjuk sebagai perwakilan untuk menjelaskan perihal Gunung Lanang pada pengunjung. Warga  menyebutnya Juru Kunci, meskipun dengan rendah hati sosok tersebut menyebut dirinya hanya seorang tukang kebun yang bertugas membersihkan Gunung Lanang.

Mbah Muhdi, Sang Juru Kunci menjelaskan dengan seksama berbagai peristiwa yang pernah dialaminya selama menjaga Gunung Lanang. Bahkan, ia mendapatkan firasat akan adanya tsunami di Aceh dan peristiwa turunnya Soeharto di Gunung Lanang. Karena perannya, ia banyak berinteraksi dengan pengunjung, baik sebelum maupun sejak ada perencanaan bandara. Bagi Mbah Muhdi, Gunung Lanang selalu dijaga oleh pihak-pihak dari alam yang hanya bisa dirasakan orang-orang tertentu. Sehingga kemampuan menjaga Gunung Lanang tidak hanya bertumpu pada dirinya maupun warga Desa Palihan. Bahkan, karena hari ini ruang hidup warga Palihan, Sindutan, dan desa-desa lain di Kecamatan Temon terancam, Mbah Muhdi yakin pada kekuatan semesta yang selalu berada di pihak yang benar, karena kebenaran hanya dimiliki oleh Yang Kuasa.

Sehari-harinya Mbah Muhdi bertani seperti kedua orangtuanya dan leluhur mereka. Namun, keputusan Mbah Muh untuk terlibat dalam organisasi penolak bandara, Wahana Tri Tunggal (WTT)  menunjukkan keberdayaan individu dalam sistem pengorganisasian rakyat. Walaupun Mbah Muh telah pantas berada di masa menikmati jerih payah masa mudanya, Ia menolak menyerah pada nasib kawulo alit yang semakin ditindas penguasa.

Simak perbincangan santai kami dengan beliau. Obrolan ini dilakukan di rumah beliau, kemudian dilanjutkan dengan jalan keliling Gunung Lanang dan Gunung Putri. Naskah wawancara telah kami sunting tanpa penambahan isi dalam upaya menyusun tulisan.

Apa makna dari bentuk tugu di Gunung Lanang, Mbah?

Ini kalau yang nggak tahu, maksudnya itu nyembah di sini. Tapi tugunya simbol menyembah Tuhan, gini lho nyembahnya (sambil mengatupkan tangan ke atas kepala). Ini, nunjuk ke atas itu maksudnya itu do’a sama Allah SWT, yang di sini itu cuman lantaran (perantara) bisa dibilang ini tuh puser Tanah Pulau Jawa.

Kenapa dibilang puser?

Nah, karena tengah-tengah, yo nek ibarat orang, umur atau kesaktian, yang paling sakti di sini. Se-pulau Jawa.

Ini menghadap ke selatan?

Ke Selatan. Waktu itu ada mahasiswa dari Australia, bilang gini, (Gunung Lanang) dilihat dari Australia juga kelihatan. Ada yang dari wilayah timur juga bilang begitu, (nampak) seperti Gunung Merapi. Tapi ternyata kalau didatangi tahu sendiri. Ya biasa to?

Jadi terlihat dari jauh ini seperti gunung?

(Mengiyakan) Ini pernah ada yang kurang percaya. Dulu ada yang berkata mosok cuma segini gede pakai kuda nggak bisa kepung (mengitari Gunung Lanang), ya ternyata memang nggak bisa.

Ada yang pernah mencoba mengitarinya dan tidak bisa?

Muterin, ngelilingin ini ya, nggak bisa.

Lha terus sebelum Pageblug Suropati tahun (19)18, di sini ini ada nyala berpijar yang menandai Pageblug/Bencana Suropati. Bencana itu adalah ketika terjadi wabah penyakit yang kalau diistilahkan hari ini mirip dengan flu burung, mulai dari menyerang ayam. Seperti flu burung, orang pagi sakit sorenya meninggal, sakit sore paginya meninggal. Sampai populasi manusia hampir habis. Setelah sekian lama muncul gerobag jaran (gerobak kuda). Gerobag jaran ini berbeda dengan dokar, kalau dokar atapnya kan..(tangannya menunjukkan atap di atas kepala). Kalau ini seperti gerobak yang dinaiki makhluk halus.

HB X nggak pernah semedi di sini?

Nggak, HB X nggak pernah. Kalau Mbah Marijan sudah pernah ke sini, satu kali di malam Suro kedua. Itu saya sendiri yang mengantarkan naik ke sini. Sama trahnya Sri Sultan HB IX.

HB X belum pernah sama sekali?

Wah belum pernah. HB X itu belum pernah ke sini. Ya itu kalau pembesar yang datang malah Pak Try Sutrisno (mantan wapres RI) yang pernah ke sini untuk mujahadahan (doa bersama).

Kira-kira alasannya kenapa ya HB X belum pernah ke sini?

Yo kurang tahu, HB X belum pernah ke sini, seandainya pernah ke sini saya nggak tahu juga.

Kalau HB X ke sini lalu minta bapak mengantarkan ke sini, bapak mau?

Ya kalau memang didhawuhi/diperintahkan, ya sanggup. Tapi saya kira belum pernah ke sini.

Selama bapak menjadi juru kunci, ya?

Lha ini, saya itu bukan juru kunci. Tukang kebun kalau istilahnya. Kalau yang namanya juru kunci itu sudah mumpuni, sudah menguasai. Saya hanya diperintahkan jadi tukang kebun di sini, merawat, dan mengurusi Gunung Lanang.

Pernah mendapat kisah menarik apa, Pak selama menjadi penjaga Gunung Lanang?

Saya ini mudah-mudahan saja dikasih ilmu yang barokah manfaat dunia akhirat. Saya ini keparingan/diberikan ilmu bukan dari Guru atau Kyai. Entah dari mana saya punya ilmu, bisa cerita atau dimintai tolong sesama manusia, alhamdulillah sembuh.

Jadi saya keparingan ilmu itu nggak berguru bukan dari sekolah. Ya itu mudah-mudahan saja ilmu dari Allah, ilmu yang barokah, manfaat dunia akhirat. Maka saya punya ilmu itu kalau ada yang ingin tahu caranya, saya kasih tahu. Caranya, asal mulanya saya bisa begini ini karena ini (menunjuk) Tugu.

Bagaimana kejadian persisnya Bapak diparingi ilmu?

Saya itu cuma mendapatkan sinar. Sinar itu warnanya biru, itu seperti sinar matahari terbit masuk ke muka saya. Jadi (memperagakan sinar dengan kepalan tangan lalu seolah-olah masuk melalui dahinya) langsung masuk.

Dari arah?

Dari arah timur.

Di sini?

Iya, di sini dan di Sinongko. Itu sinar biru dan jelas betul, karena saya tidak tidur.

Bapak dalam keadaan sadar?

Sadar dan jelas itu. Itu mudah-mudahan wahyu dari Allah yang manfaat dunia akhirat. Makanya saya itu kalau dimintai tolong orang ya semampu saya. Alhamdulillah orang kadang-kadang di Sumatra saya kirimkan doa dari sini, Alhamdulillah tidak cuma sekali dua kali, Alhamdulillah dikabulkan terus oleh Allah SWT. Orang sakit, kadang-kadang orang gila, yo macem-macem.

Bangunan di atas Gunung Lanang ini namanya Astana Jingga ya? Maksudnya apa Pak?

Pak Warsono (juru kunci sebelumnya) yang ngasih tahu, itu mungkin istilah bahasa Kraton. Saya sendiri kurang tahu. Orang Islam itu menjelaskan ada lima perkara…

Kalau mau semedi di sini berarti ada aturannya, Pak?

Kalau orang Islam, wudhu dulu, lalu di sini tahlil tapi yang pertama diziarahi yang Sigit Permono, lalu yang Panji Reksokusumo, lalu yang Panunggul, dan yang Nawangwulan Nawangsih. Saya dulu waktu Aceh mau tsunami sudah ada firasat.

Sudah ada firasat? Dari siapa Pak?

Orang sini yang lihat. Yang lihat malah waktu siang. Ada burung garuda. Waktu Pak Harto mau turun juga di sini ada firasat.

Apa tandanya waktu Suharto mau turun?

Langitnya terang.

Ini sekarang terang, Pak, langitnya merah, pertanda apa?

Ya kurang tahu. Kalau orang Jawa itu tiap hari itu ada tempatnya sendiri-sendiri. Makanya kalau orang sakti, ilmu dari guru atau semedi atau bertapa. Ada hari-hari untuk mengosongkan diri.

Pernah ada firasat nggak Pak kalau akan dibangun bandara?

Nah itu, kalau firasat itu ya pernah tadi saya sampaikan. Waktu hari Senin Wage, malam Senin Wage, di sini kan (gunungnya) meletus. Meletus tapi orang lingkungan sini tidak dengar walaupun dekat, tapi yang dikasih tahu itu ya orang yang sering semedi, prihatin, puasa. Itu malam Senin Wage di aula, tiga orang merasakan ada bunyi dan goyang. Goyangnya naik turun naik turun. Seandainya gempa, di atas 6 SR. Lalu meletus. Meletus suaranya seperti rudal.

Tahun berapa dapat firasat?

Yang letusan itu tahun kemarin waktu Pak Sarijo dipenjara (Pak Sarijo adalah salah seorang dari empat petani anggota Wahana Tri Tunggal yang dikenakan tuduhan pidana pasca warga menolak sosialisasi bandara). Ditahan di penjara 4 bulan, kira-kira pertengahan saat masa tahanan Pak Sarijo, ada letusan. Lha yang laporan sama saya 2 orang Brosot, 1 orang Palihan. Lha itu tadi ngomong, “Mbah, tadi ada kejadian menakutkan”. Nah, orang ketakutan itu kalau diamati raut wajahnya kan sudah ketahuan. Lalu saya jawab, ” Ini kalau diamati dari pasaran, Minggu Pon, berlangsung di tempat angker, tempat yang menggunduk kena, tempat berdoa kena, tempat sakral kena, tempat suci kena, tempat bekas kena.” Nah kok dibilang bekas? Karena di sini juga pernah menjadi tempat pelarian Sri Amangkurat Ke-II (Raden Rahmat). Dalam pelarian tersebut dia diberikan wahyu. Wahyu diberikan pada orang jujur beserta keturunannya. Jujur, sabar, berhati-hati, tidak curang.

Apa ada hubungan antara situs Gunung Lanang dan situs Gunung Putri?

Dulu jaman penjajah, ada mess (tempat Tinggal) laki-laki, ada mess perempuan. Jadi tidak dijadikan satu. Kalau istilah orang muslim, kalau bukan suami istri kan nggak boleh to? Nah itu, diberi nama Gunung Lanang karena waktu itu salah satu (siapa entah) mendapat momongan, dinamai Gunung Lanang.

Gunung Putri itu pernah saya ditanyai orang saat semedi, apa lihat Ratu Kidul di sekitar. Saya tidak lihat tapi seketika bergidik, merinding, terasa dingin. Tidak nampak tapi bulu kuduk merinding. Rawa-rawa itu dinamai Rawa Pesing karena digunakan untuk mencuci pakaian orang habis melahirkan. Di sini dulu ada dukun bayi yang mengarahkan untuk semedi ke sini.

Ini saya juga tiba-tiba merinding.

Waktu itu ada yang semedi bilang pada juru kunci, “Mbah ini saya tidak bisa kasih apa-apa selain kunir/kunyit. Tapi jangan dilihat sampai berjalan tujuh langkah.” Lalu setelah jauh dari tempat semedi dilihat kunyit tadi berubah jadi berlian.

Tugu Gunung Lanang Diyakini Sebagai Tempat Untuk Berdoa, Semedi dan Tirakatan Untuk Memohon Petunjuk Dari Yang Kuasa

Pernah nggak Pak, menyampaikan pembacaan Bapak ke Paku Alam atau Kraton bahwa pembangunan bandara itu akan menimbulkan bencana?

Itu belum. Saya hanya pernah (menyampaikan) sebelum ada wacana bandara.

Berarti belum disampaikan?

Saya nggak berani karena saya orang pelosok. Orang kecil. Jadi terserah, saya percaya sama Yang Kuasa saja.

Firasat bapak tadi bagaimana?

Firasat saya itu saya tertidur di jalan dan terbangun di sebelah teken/tongkat. Ada tongkat doyong/tidak tegak. Saya pikir-pikir sendiri, aku ini sama saja disuruh bertani. Aku disuruh ikut berjuang, membela masyarakat. Jika bandara ada di sini, orang berpunya maupun tidak akan sama-sama kehilangan pekerjaan. Wilayah ini mayoritas warganya bekerja sebagai petani. Lha, kalau lahannya petani disingkirkan, apa yang bisa dikerjakan oleh petani? Karena itu saya bergabung dengan WTT. Mudah-mudahan juga dibantu oleh yang menjaga Gunung Lanang ini. Semoga imanku juga dijaga oleh Yang Kuasa.

Jadi firasat saya itu membuat saya bertekad untuk menegakkan tongkat ini. Diteror, diapakan saja, tidak goyah. Jadi saya berpegang teguh karena saya tergabung dalam organisasi. Jadi susah senang yang ikut memikirkan semua orang di organisasi. Semoga Yang Kuasa mengabulkan. Buktinya saja sejak jaman (rencana pertambangan) pasir besi di Karangwuni, akhirnya gagal. Lha lantas dermaga itu pelabuhan (Tanjung Adikarta), itu ya kok alam mau dilawan.

Jadi kalau mau melawan alam, orang sepintar apapun jika tidak diizinkan Yang Kuasa ya, tidak bisa terlaksana. Bandara pun, saya hanya pasrah pada Yang Kuasa. Jika tidak diizinkan ya tidak jadi. Karena itu saya percaya pada Yang Kuasa. Berdoa dan berusaha. Tidak seperti meminta pada Bapak atau Ibu, setelah meminta segera dipenuhi keinginannya. Berdoa itu bisa saja dikabulkannya ketika kita sudah lupa pernah meminta permohonan tersebut. Karena itu saya percaya dengan berdoa dan berusaha, akan ada jawaban dari permohonan manusia. Yang Kuasa itu hanya ada satu. Sepintar-pintarnya manusia, jika tidak diizinkan Yang Kuasa, tidak akan terlaksana.

Seperti kejadian Adikarta itu tadi, meskipun pakai insinyur dari manapun, ingin menjadikan pelabuhan itu sebagai pelabuhan umum, tidak tercapai. Karena melawan alam. Pasir yang dikeruk setiap hari itu kok nyatanya tidak kunjung habis. Pasir itu sejak saya kecil tidak bertambah tidak berkurang. Lha itu yang jelas begitu.

Saya berdoa pada Yang Kuasa bahwa bandara tidak diizinkan oleh Yang Kuasa.

Keyakinan apa yang membuat Bapak tetap berjuang?

Ya itu tadi, saya berjuang untuk masyarakat umum. Bukan untuk saya sendiri. Kalau bandara gagal kan masyarakat bisa kerja dengan tenang lagi. Bisa terus bertani. Kalau ada bandara, orang yang biasanya mencangkul dan bercocok tanam, bisa bekerja apa?

Prinsip Bapak bertahan di WTT itu karena sudah dapat keyakinan?

Ya karena itu tadi. Firasat itu tadi.

Memilih tetap bertahan di WTT?

Iya. Bertahan. Makanya seandainya ada terorpun saya tidak goyang.

Firasat itu pernah datang lagi?

Saya hanya percaya pada Yang Kuasa. Meskipun ada acuan waktu 2017 atau 2018 dimulai pembangunan, sejak dulu tahun 2013 juga dikatakan sudah beroperasi. Tapi ternyata sampai sekarang kan, pembebasan lahan saja susah.

Apapun yang terjadi di Glagah atau yang dilakukan WTT itu, selalu ada tanda-tanda di sini, ya?

Iya. Dulu Pak Sarijo, bulan apa ya lupa. Pokoknya sudah berganti tahun, 2014 atau 2015 dipenjara selama 4 bulan. Firasatnya bukan pada saya tapi pada orang yang sedang prihatin di sini.

Disampaikan pada Bapak?

Iya. Disampaikan lalu saya tafsirkan. Tapi ternyata ya ada buktinya. Masalah soal pembayaran yang tidak selesai, dan lain-lain. Kalau bagi saya, tetap tenang karena Yang Kuasa memang tidak mengizinkan. Sejak zaman nenek moyang, informasi tentang akan ada tsunami, waktu itu Gunung Lanang ada wayangan, gempa, dan lain-lain ya Alhamdulillah (tetap aman).

Katanya saat pengukuran tanah di sini, Angkasa Pura mendatangkan Kyai dan saat hendak masuk ke sini Kyainya melihat istana besar.

Ya, bisa. Pernah kok ada tamu, kalau nggak salah dari sebelah timur Semarang. Waktu itu lewat mimpi, dia disuruh ke Kraton pinggir laut, cari orang bernama Pak Muhdi. Itu hanya lewat mimpi. Waktu itu saya sudah menjaga di sini sekitar 5 bulan. Saya jawab tidak ada kalau Kraton pinggir laut, adanya Gunung Lanang pinggir laut. Lha, mungkin Kraton untuk makhluk gaib.

Gunung Lanang itu biasanya dipakai semedi dan berdoa. Nah kalau yang bernama Muhdi itu saya. Disebut juru kunci, ya bukan, tapi saya tukang kebun. Tapi waktu itu saya dimintai tolong mengantarkan. Kalau berdoa itu kan tidak langsung dapat seperti orang beli tempe atau beli rokok. Bisa saja yang berdoa yang sedang mengalami nasib buruk, yang mengantarkan, atau siapa saja. Tapi yang mengabulkan selalu Yang Kuasa.

Jadi mungkin di sini dulu ada istana besar?

Ya kalau saya itu belum pernah lihat. Tapi yang bisa lihat itu ada orang-orang yang bersemedi, tidak makan tidak minum tidak merokok 7 hari, bahkan sampai 40 hari. Kalau saya tidak kuat. Kalau saya berprihatin ya hanya 3 hari. Jadi misalnya Jumat Wage sampai hari Senin, dihitung pasarannya berjumlah 40, tidak makan nasi. Makan yang lain, singkong, sarimi, atau kue.

Kalau hubungannya Stupa Glagah dengan Gunung Lanang?

Kurang tahu. Tapi makhluk gaib itu ya seperti manusia, bekerja sama, tapi kita tidak tahu. Tidak tahu bahasanya. Yang gaib itu kalau digusur ya sama seperti kita, tidak mau. Lha itu di Glagah, makam yang sudah dipindahkan, kembali lagi. Sisi selatan Jalan (Daendels) itu sudah tidak tidak ada atapnya tapi makamnya kembali ke tempat semula.

Saya ini hanya tahu cerita dan pengalaman sendiri karena belum ada sejarah yang dituliskan tentang Gunung Lanang dan macam-macam situs di sini.

1 Comment

  1. aji asmuni

    Selasa Pebruari 21st, 2017 at 07:00

    informatif, inspiratif

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.