Sepuluh tahun yang lalu, Sudaryo dan Saryati membangun rumah di ladang mereka. Berbeda dengan kondisi hari ini, kawasan tempat tinggal mereka saat itu bisa dikatakan sebagai kawasan pertanian lahan pasir. Berangsur-angsur, kawasan itu berubah menjadi kawasan wisata pasca upaya pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarta dan swadaya masyarakat yang membuka warung maupun lahan parkir. Nuansa kawasan wisata kian menguat seiring maraknya penjualan tanah untuk pengusaha penginapan dan karaoke yang berasal dari luar Glagah, bahkan dari luar Kulon Progo dan DIY. Sudaryo dan Saryati bertahan tidak menjual tanahnya, sebagaimana mereka memutuskan tetap bercocok tanam. Mereka menerima tetangga baru di kanan kiri yang mengandalkan pemasukan tetap dari pengunjung kawasan wisata.

Namun, sejak maraknya isu pembangunan bandara yang diletakkan di atas kawasan Glagah, Sudaryo dan Saryati mengalami perginya tetangga baru secara hampir serempak. Masih bisa kita temui bangunan tidak terawat yang pada temboknya tertulis dengan cat semprot, “KOSONG”. Rumput liar dan tanaman rambat menambah kesan suram bagi siapapun yang memasuki kawasan wisata Glagah. Jika masuk dari timur, kita akan melewati gerbang pungutan retribusi. Sepanjang jalan menuju pantai, kita bisa melihat bekas pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarta yang gagal memindahkan volume pasir ke sisi timur, pengerukannya malah menimbulkan hempasan air laut sampai sekitar 200 meter ke daratan. Kemudian kita akan memasuki kawasan wisata yang kini tampak senyap, bahkan di akhir pekan. Pengelola lahan parkir, Muhamdi, menyebutkan terjadi penurunan kunjungan yang drastis sejak 2012. Dari pendapatan tiap akhir pekan yang mencapai 2 jutaan, hari ini ia hanya bisa memperoleh beberapa ratus ribu saja.

Ladang Sudaryo dan Saryati digarap sendiri. Mereka menanaminya dengan tanaman sayur dan buah untuk dimakan sendiri dan sisanya dijual ke pasar. Ketika kami datang, mereka baru saja memetik oyong dan pepaya. Salah satu sisi ladang mereka siap ditanami sawi  dan setelah panen, akan ditanami cabai rawit merah. “Pertanian yang utama sayur-sayuran, kalau yang besar ya cabai (dan) semangka,” ujarnya.

Pasangan yang telah dikaruniai satu anak ini tinggal di bangunan sederhana, bahkan masih beralaskan pasir. Bagian dalam rumah mereka terbuka, sehingga jika kita masuk ke dalam, kita akan melihat satu ruangan yang diisi tempat tidur sekaligus berfungsi sebagai dapur dan ruang tamu. Untuk melindungi dari terpaan angin malam, mereka melapisi dindingnya dengan papan yang disangga kayu jati. Saryati yang masih berusia 33 tahun sedang hamil tua. Meski nampak kelelahan, Saryati menunjukkan pada kami hasil panennya siang tadi. Lebih dari 5 kg oyong berhasil ia petik. “Kalau oyong, satu bulan langsung metik.Setelah metik itu, misalnya sekarang metik, besok nggak, besoknya lagi metik.Jadi, cuma berselang satu hari.Kalau pepaya 5 hari sekali atau 4 hari sekali.”

Setelah menikmati hidangan yang disajikan, Sudaryo kemudian mengajak kami berkeliling lahan yang telah ia tempati dan kelola selama 10 tahun lebih. Dia menunjukkan sistem pengairan dan rendaman pupuk kandang yang menjadi nutrisi utama untuk tanaman. Pupuk kandang itu ia campur dengan larutan garam yang disiram berkala. “Organik ini..,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa penanaman harus dilakukan bergantian. Baginya, menanami seluruh lahan sekaligus lebih mahal. Maka ia menanam beberapa jenis tanaman bergiliran. Dengan demikian ia akan mendapatkan hasil yang lebih banyak dan bisa menyesuaikan dengan harga pasar yang berubah hampir setiap hari.

“Urutan (banyak jenis) itu biar ada pemasukan tiap hari, karena biar mencukupi keluarga.Kan tiap hari harus ada pemasukan,” ujarnya.

Dalam proses pengairan, Sudaryo menggunakan selang dan membuat saluran di setiap sela jenis tanaman. Air diperolehnya dari sumur yang digali dan digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan air keluarga mereka.

“Ada yang pakai infus, ada yang pakai selang,” jelas Sudaryo seraya menunjukkan pipa pengairan yang ia buat sendiri.

Stiker yang dipasang oleh PT Angkasa Pura pada bangunan-bangunan yang sudah dibeli (Foto: Pitra Hutomo)

Penginapan, karaoke, dan bekas kebun buah naga di dusun Macanan, Glagah, Temon, Kulon Progo memang telah ditinggalkan sebagian besar warga sejak Januari 2017 lalu. Bangunan-bangunan kosong tersebut terpasang stiker bertuliskan “Dilarang Tanpa Hak atau Melawan Hukum Mengambil, Merusak, Memasuki, Memindahkan Semua Barang atau Batas Milik PT. Angkasa Pura I (Persero) di Lokasi Pembangunan Bandara.Melanggar Pasal 362, 363, 406, 170, 167 (1), 389, 551 KUHP.Himbauan Hukum Polres Kulon Progo dan PT. Angkasa Pura I (Persero).” Maknanya, bangunan-bangunan yang telah kosong ini tidak bisa lagi dimasuki  bahkan oleh pemilik sebelumnya, karena hak kepemilikan seutuhnya menjadi kuasa PT. Angkasa Pura I (Persero).

Ada pula bangunan yang sudah dihancurkan hingga tersisa puing-puingnya saja. Agaknya tidak lama lagi bangunan lainpun akan mengalami nasib serupa. Sudaryo hanya tersenyum kecut ketika kami menanyakan apa yang terjadi dengan aset para pengusaha penginapan dan karaoke tersebut. “Sudah terima uang ganti rugi tanah, bangunan, dan segala isinya, masih ada kok yang kembali lagi (untuk) ambil tempat tidur.” Padahal, jika mengacu pada stiker tertanda Polres Kulon Progo dan PT. Angkasa Pura I (Persero) itu, pengusaha penginapan dan karaoke itu tidak  lagi diperbolehkan menginjakkan kaki di atas tanah yang mereka miliki

Namun, siapakah yang bisa menjamin penegakan hukum di sana jika sehari-hari hak warga prasejahtera seperti Sudaryo dan Saryati saja tidak dipenuhi. Menurut pengakuan keduanya, bantuan sosial dari pemerintah pusat yang melalui Kantor Desa Glagah telah bertahun-tahun timpang antara yang disalurkan dengan yang diterima warga.“Ada bantuan untuk membeli kambing yang dipotong separuhnya, lalu dipotong lagi untuk kas Desa, sampai hanya sampai pada kami sejumlah 900 ribu rupiah saja.Sejumlah itu hanya bisa untuk beli cempe (anak kambing)”.

Sudaryo adalah salah satu dari tiga ratusan KK yang bergabung dalam organisasi Wahana Tri Tunggal (WTT). Organisasi ini pada mulanya berdiri untuk merespon dan melawan segala bentuk ancaman perampasan ruang hidup yang terus gencar melanda kawasan mereka, baik yang berasal dari rencana pembangunan bandara, ataupun berbagai proyek pembangunan lainnya.

Selain menolak rencana pembangunan bandara, sejak berkeluarga dan pindah ke lahan tersebut, Sudaryo dan Saryati juga tidak pernah tergiur untuk melepaskan tanah mereka pada pengusaha karaoke atau penginapan.“Saya menolak, karena prinsip saya penginapan isinya ndak baik bagi saya. Itu tadi, karena pekerjaan saya petani, dari hasil tani sudah cukup untuk kehidupan saya,” ungkap bapak yang sedang menunggu anak keduanya lahir.

Sang istri, Saryati datang pada kami. Ia berbicara panjang dan agak kesal melihat rencana pembangunan bandara yang tampak sangat jelas dipaksakan tanpa memperhitungkan nasibnya dan para warga yang menolak. Sama seperti Sudaryo, dia pun ragu dengan janji serapan tenaga kerja dari PT. Angkasa Pura I (Persero).

“Saya kan orangnya nggak pandai, gitu lho, mau cari kerja apa bingung. Tapi kalau di sini kan sayuran, apa, bisa dipenuhi dari lahan sini. Misalnya sayur kates (pepaya), sayur oyong sayur apa gitu. Kalau misalnya mau menyembelih ayam, kan, sudah memelihara juga” ucapnya sambil melap air matanya yang menetes.

Prinsip Sudaryo dan Saryati mempertahankan lahan dibuktikan dengan tekad mereka untuk tetap bertani di kawasan wisata Glagah.Menjelang senja, suasana lingkungan tempat tinggal mereka semakin senyap. Diiringi hujan rintik-rintik, kami menyusuri jalan akses wisata yang akan segera (kembali) gelap gulita karena sebelumnya, penerangan hanya berasal dari lampu-lampu penginapan dan karaoke.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.