Berita

Mencari Belalang Demi Mempertahankan Ruang Hidup

By  | 

Yogyakarta – Bagi sebagian besar petani komoditas di Indonesia, ketersediaan dana awal ataupun yang sering disebut sebagai “modal tanam” adalah salah satu hal yang sering menjadi kendala utama untuk melakukan kegiatan produksi lanjutan. Biasanya, gagal panen, harga jual hasil produksi yang rendah, bencana alam, adalah sederetan faktor penyebabnya.

Tak jarang dengan kondisi yang demikian, untuk memulai kembali kegiatan produksi, petani dipaksa harus berhubungan dengan berbagai institusi keuangan seperti bank, pegadaian, koperasi, rentenir, dsb. Akibatnya, hubungan ini membawa mereka dalam jeratan hutang dan perekonomian yang menyulitkan.

Namun, tidak demikian dengan kondisi Tri Marsudi dan rekan-rekannya di Glagah dan desa-desa pesisir Kulon Progo sekitarnya. Mereka mempunyai cara yang unik untuk keluar dan tidak terjerat dengan institusi keuangan seperti yang telah dijelaskan di atas. Lalu, bagaimana strategi mereka melakukannya?

Belalang yang Membebaskan Petani dari Jeratan Hutang

Rintik hujan mulai berhenti. Langit pesisir Glagah, Temon, Kulon Progo, Yogyakarta, Selasa malam itu (25/4) pun mulai tampak cerah. Tri Marsudi, Sukas, Sodo, dan dua orang rekan lainnya kembali mempersiapkan peralatan perburuan; senter, jas hujan, dan sepatu.

Malam itu warga Glagah tersebut tengah bersiap melakukan perburuan belalang di sekitar desa mereka, tepatnya di kawasan pantai Congot, sebelah barat Glagah, Kulon Progo. Sebelumnya, rencana perburuan ini sempat terancam gagal, karena cuaca dianggap tidak memungkinkan.

Menurut Tri Marsudi (45), kegiatan berburu belalang ini telah dilakukan oleh sebagian besar warga Glagah sejak 25 tahun yang lalu. Dan, jumlah penduduk di kampungnya yang melakoni kegiatan berburu belalang ini menurutnya mendekati angka 200 orang.

Kegiatan ini, menurutnya, bukanlah profesi utama penduduk kampung, karena mereka lebih menggantungkan perekonomian pada sektor pertanian. Kegiatan ini mereka sebut sebagai kegiatan sampingan, walaupun jika dihitung secara cermat, hasil penjualannya tidak bisa dibilang sedikit. Tri Marsudi sendiri, sudah melakoni kegiatan ini selama 20 tahun.

Perburuan belalang kerap dilakukan oleh warga selepas aktivitas bertani, dan biasanya dimulai selepas waktu isya dan berakhir menjelang pukul 12 malam. Bagi Tri Marsudi, pendapatan dari perburuan ini sangat membantu dalam membiayai ongkos produksi pertanian yang ia kelola dan pendidikan dua orang anaknya.

“Dari proses tanam hingga panen, 1 pak bibit cabai yang saya tanam membutuhkan sekitar dana 2 juta rupiah. Saat ini, saya mampu menanam dan mengelola hingga 12 pak dengan bermodalkan sebagai pencari belalalang. Berarti bisa anda jumlahkan jumlah nilai keseluruhannya”, ungkap Tri.

 Perburuan ini tidak dapat dibilang gampang, karena membutuhkan kecermatan dan kesabaran tingkat tinggi. Apalagi saat musim hujan datang. Namun, bagi yang berpengalaman, yakni orang yang sudah memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun, beberapa kesulitan dapat teratasi dengan mudah, dan mampu membawa hasil tangkapan minimal 1 kilogram setiap malam.

“Biasanya, orang yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun menangkap belalang, ia akan disebut sebagai ‘master’. Dan pasti memiliki tingkat kecermatan yang tinggi. Salah satu cirinya adalah ia bisa melihat keberadaan belalang dari jarak 5 meter, yang posisinya tidak tampak seutuhnya karena tertutup daun”, sambungnya.

Menurut sebagian warga Glagah yang berhasil diwawancara oleh selamatkanbumi.com, perburuan ini semakin meningkat saat beberapa orang pengepul dari Kabupaten Gunung Kidul datang secara langsung untuk menampung hasil tangkapan belalang ke beberapa warga sekitar tahun 1980-an.

Namun, jauh sebelum para pengepul dari Gunung Kidul ini datang, perburuan belalang sebenarnya juga sudah dilakukan oleh segelintir warga Glagah. Tapi karena belum ada pengepul yang bermukim di sekitar desa ataupun yang datang dari Gunung Kidul, mereka menjualnya langsung ke Wonosari, ibukota Kabupaten Gunung Kidul.

Patut dicatat, sebelum belalang ini dianggap memiliki nilai ekonomi (uang) yang cukup tinggi di Glagah dan sekitarnya, binatang ini hanya dianggap sebagai hama penyerang tanaman jagung milik warga. Tak sedikit petani yang karena kondisi tersebut mengalihkan jenis tanaman pertaniannya ke tanaman kacang-kacangan. Tapi kini, binatang yang pada mulanya dianggap hama ini telah mendatangkan berkah yang luar biasa.

Untuk melakukan perburuan belalang, setiap harinya mereka mencari belalang di sekitar pesisir Glagah, Congot, dan Karangwuni. Namun dalam waktu tertentu, saat jumlah tangkapan mulai menurun, mereka akan melakukan perburuan hingga ke pesisir Mirit dan Ambal, Kebumen, Jawa Tengah. Dan tak jarang bila keberuntungan datang, perburuan ini bisa mendapatkan jumlah tangkapan mencapai 10 kilogram.

Pola penangkapan belalang yang mereka terapkan, biasanya menggunakan sistem gilir tempat, tidak terus menerus dilakukan di satu tempat yang sama. Mereka akan berpindah tempat (lokasi) penangkapan, jika jumlah belalang dianggap telah menurun.

“Saya punya suka duka terkait perburuan belalang ini. Sukanya kalau musim belalang datang dan harga jual tinggi. Saya pernah mendapatkankan beberapa kali hasil tangkapan sampai 10 kilogram. Coba, Mas kalikan sendiri jumlahnya. Tapi ya kadang-kadang ada dukanya juga. Tapi dukanya gak mesti saya ceritakan, nanti Mas bisa takut”, ungkapnya.

Dalam melakukan perburuan ini, kadang-kadang mereka melakukannya secara bergerombol dengan jumlah per kelompok mencapai 2-3 orang, tapi juga tak jarang ada banyak yang melakukannya sendiri. Bahkan tidak jarang juga mengajak istri atau anak.

Rata-rata, bagi kelompok yang dianggap “master”, jumlah tangkapan yang didapatkan bisa mencapai 1,5 kilogram. Dan, tiap 1 kilogramnya akan terdapat sekitar 150 ekor belalang. Jumlah ini akan dibayar oleh pengepul dengan harga 80 ribu rupiah per kilonya.

Menurut Sukas (58), rekan Tri Marsudi, yang telah melakoni kegiatan perburuan ini lebih dari 25 tahun, mengatakan bahwa seluruh hasil tangkapan belalang dari warga Glagah dan desa sekitarnya akan disetor ke pengepul yang bermukim di Glagah.

Adapun jenis belalang yang biasanya diburu oleh warga Glagah ini adalah belalang kayu, belalang daun, dan belalang dami. Menurutnya, belalang yang paling nikmat adalah belalang dami.

Setiap malamnya, menurut keterangan seorang pengepul asal Glagah yang berhasil diwawancarai oleh selamatkanbumi.com, diperoleh keterangan bahwa ia bisa menampung belalang mencapai 100 kilogram. Belalang tersebut, selanjutnya akan ia bawa ke salah satu pasar di Wonosari, untuk dijual ke pusat penampungan.

Seperti yang diketahui, belalang ini akan diolah menjadi kuliner ciri khas Gunung Kidul, yang selanjutnya dikenal dengan nama belalang goreng.

Ancaman Perampasan Ruang Hidup

Sejak menguatnya isu rencana pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo tahun 2011, di mana lokasi pendiriannya mencakup Desa Glagah, Tri Marsudi dan warga lainnya mulai tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pasalnya, ia dan warga lainnya menduga bahwa lahan pertanian, kampung, dan sejarah sosial yang mereka miliki akan segera lenyap diterjang rencana pembangunan bandara tersebut.

Karena merasa terancam, ia dan rekan-rekannya pun bergerak untuk memulai rencana penolakan. Salah satunya adalah dengan mendatangi kantor Desa Glagah pada tanggal 30 September 2014 untuk bertemu dengan Kepala Desa. Namun, usaha tersebut berujung gagal, karena Kepala Desa memilih untuk kabur.

Karena kesal, Tri Marsudi dan rekan-rekan mencoba melampiaskan emosi dengan melakukan penyegelan Balai Desa. Tapi usaha aksi tersebut segera mereka hentikan dan pada sorenya kembali memperbaiki dan mencopot penyegelan yang dilakukan.

Tak pernah terlintas sebelumnya, aksi tersebut berbuah kriminalisasi. Empat orang warga, termasuk Tri Marsudi ditetapkan menjadi tersangka dengan tuduhan perusakan (Pasal 170 KUHP) dan penghasutan (Pasal 160 KUHP). Selanjutnya, mereka divonis 4 bulan penjara pada Senin, 25/5/2015.

Pasca keluarnya Tri Marsudi dan 3 rekannya yang lain dari Rumah Tahanan Wates, rencana pembangunan NYIA tersebut tetap dipaksakan terus berjalan. Bahkan pada Jumat, 27/1/2017 lalu, Jokowi selaku Presiden Republik Indonesia telah melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking. Namun, bagi Tri Marsudi dan rekan-rekannya, hal tersebut tidak lantas menyurutkan perjuangan mereka.

Tri Marsudi dan rekan-rekannya kini tetap bersemangat untuk berjuang mempertahankan ruang hidup mereka. Baginya, bandara tidak bisa menggantikan seluruh kehidupan yang mereka miliki.

“Pertanian kami telah lebih dari cukup memberikan apa yang kami inginkan. Yang butuh bandara ini sebenarnya siapa? Bukan petani kan?”, tegasnya.

Keyakinan itu semakin kuat saat ia menjelaskan bahwa sudah banyak rencana proyek pembangunan yang dicoba di desanya namun tetap tidak berjalan. Hal itu terlihat dari pembangunan pelabuhan yang mangkrak dan pembangunan kawasan tambak udang yang gagal. Baginya kawasan pesisir Glagah dan sekitarnya, hanya cocok untuk menjadi kawasan pertanian, dan itu sudah digariskan oleh leluhur dari beberapa petunjuk yang diturunkan secara turun temurun.

“Semua nenek moyang kami dalam berbagai petunjuknya yang diturunkan kepada kami telah menegaskan bahwa daerah dan kawasan pesisir ini telah disimbolkan sebagai bibit. Itu artinya tiada lain bahwa pertanianlah yang menjadi prioritas utama”, tegasnya.

Begitu juga dengan Sukas, Sodo, dan Wiji, rekannya sesama pencari belalang malam itu, dengan tegas mengatakan bahwa rencana pembangunan bandara harus dibatalkan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *