Lipsus

Mencoba Mempertahankan Rumah, Warga Sempat Dipukul dan Dipaksa Keluar

By  | 

Yogyakarta – Informasi pengosongan lahan dengan agenda perobohan rumah warga yang masih menolak pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport ( NYIA) sudah didengar oleh warga sehari sebelum eksekusi dilakukan pada Kamis, (19/07/2018). Mereka sempat berujar rela mati demi tanah yang mereka cintai.

Warga masih menyakini tanah yang ia tempati tidak pernah dijual untuk kepentingan pembangunan bandara. Mereka hanya ingin lahan warisan turun-temurun itu dapat digunakan untuk menghidupi anak-cucu mereka. Dari prinsip itu, mereka bersepakat tidak pernah mengikuti serangkaian kegiatan transaksi jual beli lahan kepada PT. Angkasa Pura I (PT AP I ) sebagai pemrakarsa proyek.

Di pagi yang cerah itu sekitar pukul 08.00 WIB, warga Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) melihat ratusan aparat kepolisian berdatangan di kampung mereka. Mereka berkumpul di kantor PT. Pembangunan Perumahan (PP) untuk menggelar apel eksekusi lahan. Kehadiran aparat kepolisian menjadi penanda pengosongan akan dilakukan.

Kapolres Kulonprogo, AKBP Anggara Nasution mengatakan pada kegiatan pengosongan lahan tersebut menurunkan 700 personel gabungan untuk mengamankan kegiatan pengosongan. Terdiri dari kepolisian, tentara, Sat Pol PP. Ada pula 80 orang relawan yang membantu dalam memindahkan barang-barang milik warga.

“Personil gabungan ini sebanyak 700 dan bertindak secara persuasif, mengutamakan negosiasi. Sehingga warga penolak bisa terwadahi,’’ kata Anggara.

Ia menjelaskan kegiatan ini akan dilakukan selama tiga hari, dengan catatan tetap melihat kondisi lapangan. Namun baginya jika memungkinkan dilakukan satu hari, maka akan dilakukan satu hari.

“Saya rencanakan tiga hari lihat situasi dan kondisi. Kalau bisa satu hari, kalau gak bisa besok,’’ kata Anggara.

Dalam mempertahankan rumah terakhir setelah sebelumnya lahan pertanian mereka dirusak oleh PT. AP I, warga terlihat masih tetap berusaha mencegah rumah satu-satunya dihancurkan. Warga kemudian memposisikan diri berada di dalam rumah masing-masing dengan berdoa dan mengaji.

Ika Rochyanti menjelaskan, rumah yang ditempatinya digedor aparat kepolisian yang didampingi oleh 80 relawan PT. AP I. Mereka mencoba memaksa Ika untuk keluar dari rumahnya sendiri. Saat itu ia sedang sholat dan mengaji. Akan tetapi kepolisian tetap memintanya keluar. Ika bukan tanpa perlawanan, ia tetap ingin berada di rumah, menyelesaikan bacaan ayat suci.

Namun apa daya, warga penolak bandara tersebut dipaksa keluar rumah dengan cara-cara kekerasan. Al-qur’an Ika diambil lalu dia didorong kaluar rumah dengan digotong. Merasa perlakuan tidak adil yang ia terima, ia membentak aparat, kemudian mengingatkan dengan sekencang-kencangnya bahwa tanah mereka tidak di jual. Pernyataan Ika membuat Polisi Wanita yang berada di sebelahnya sedikit geram. Setelah penyampaian itu, tonjokan tangan polisi wanita itu menghantam hidung Ika.

Salah satu rumah warga penolak bandara di desa Palihan dirobohkan menggunakan dua alat berat. Foto :Selbum

Kejadian itu membuat hidung Ika mengeluarkan darah, lalu ia usap menggunakan mukenah yang masih digunakan. Hidungnya terus mengeluarkan darah. Rasa sakit ia tahan demi tanah dan rumahnya.

“Saya gak terima, awalnya saya ngaji, Al-qur’an saya diambil saya diarak keluar, satu kali dipukul, kena hidung,’’ cerita Ika saat peristiwa itu terjadi.

Saat mengisahkan apa yang dialaminya, Ika masih saja merasa kesakitan, sesekali ia pegang hidungnya. Kemudian Ika menceritakan kembali jika rumah yang kini ditempatinya sudah rata dengan tanah. Barang-barang yang ada di dalam rumah dikeluarkan paksa oleh relawan PT AP I dan petugas satpol PP. Namun Ika sendiri tidak mengetahui barang miliknya akan dibawa ke mana.

“Rumah saya sudah di abrukkan, barang saya gak tahu barangnya di bawa ke mana” ujar Ika.

Ia menjelaskan sebelumnya tidak ada pemberitahuan yang ia terima dari PT. AP I ketika akan merobohkan rumahnya. Ia baru mendengar langsung saat eksekusi dilakukan. Bahkan tempelan stiker pemberitahuan-pun tidak ia lihat menempel di rumahnya sendiri.

“Gak sempat ada pemberitahuan, saat eksekusi itu dikasi tahu, setelah itu rumah saya didongkel, saya di dalam rumah dua orang, saya dan suaminya,’’ kata Ika sembari memperlihatkan darah yang membekas di mukenahnya.

Hal sama juga dirasakan oleh Wagirah. Saat proses perobohan rumah, ia bersama keluarganya berada di dalam rumah sedang beribadah. Tiba-tiba ratusan aparat kepolisain bersama dengan PT. AP I mengarahkan alat berat ke rumah Wagirah. Pintu mulai diketuk dengan keras sampai Wagirah dan keluarganya keluar.

Saat berhadapan dengan aparat kepolisian, Wagirah menunjukan perlawananya dengan menaburkan garam. Hal itu dilakukan untuk mengusir aparat kepolisian. Namun tindakan Wagirah membuat polisi geram. Alhasil dia dipaksa keluar bersama keluarganya. Wagirah sendiri menolak dikeluarkan paksa. Namun polisi masih terus memaksa sampai akhirnya Wagirah sempat terlempar keluar.

Wagirah dalam kondisi terdesak, ia masih terus mencoba mempertahankan rumahnya, pasir ia hamburkan ke hadapan polisi yang berjaga. Tindakan Wagirah justru membuat kepolisian makin geram, tiba-tiba ada sekelompok lelaki berpakaian preman dengan muka tertutup mendekati Wagirah memengang tangannya dan membantingnya.

Rasa sakit pada tangan Wagirah masih dirasakannya, Ia kemudian dibawa untuk menjauh dari rumahnya sendiri. Setelah itu Polisi Wanita membentuk pagar, mencoba menghalangi Wagirah mendekati rumahnya sendiri.

“Setiap manusia berkewajiban mempertahankan lahannya,” pekik Wagirah kepada polisi yang menghalanginya.

Dalam hitungan detik, rumah Wagirah dihancurkan oleh dua backhoe. Ia menangis melihat hasil jerih payahnya dihancurkan di dapan matanya. Air mata itu jatuh di tanah kelahirannya sendiri.

Ustadz Sofyan yang kala itu juga mempertahankan rumahnya juga mengalami hal yang serupa, walaupun dirinya tidak mengalami kekerasan seperti Wagirah dan Ika. Sofyan menceritakan berulang kali ia jelaskan kepada PT. AP I untuk tidak merobohkan rumahnya karena dasar hukum yang tidak jelas serta cacat hukum. Namun tetap saja mereka tidak menggubrisnya.

“Rumah saya sudah dirobohkan. Kami berusaha mencengah agar rumah kami tidak dirobohkan, mereka gak gubris, mereka tetap eksekusi,’’ kata Sofyan yang saat eksekusi berlangsung sedang menggendong anak perempuannya.

Ia sangat menyayangkan tindakan berlebihan PT. AP I dalam mengosongkan lahan warga. Menurutnya, sepatutnya perusahaan negara hendaklah melindungi warganya sendiri.

“Yang jelas kami menyayangkan sekali apa yang dilakukan oleh PT AP I karena telah merboohkan rumah warga yang masih dihuni,’’ ujar Sofyan.

Sofyan menjelaskan saat eksekusi dilakukan, warga masih menempati rumahnya, bahkan warganya sendiri masih tidak memindahkan barang-barang yang ada di dalam rumah warga PWPP-KP masing-masing.

“Warga masih di dalam rumah, tidak ada rumah yang kosong,” ungkap Sofyan.

AP I melalui konferensi persnya disela-sela kegiatan pengosongan lahan mengungkapkan agenda pengosongan lahan ini bagian dari percepatan pembangunan bandara NYIA yang ditargetkan akan beroperasi pada bulan April 2019. PT. AP I juga mengklaim tidak melakukan pengosongan rumah bagi warga yang masih menempati rumahnya

“Dari pagi sampai sekarang yang kita robohkan itu rumah yang benar-benar kosong.,’’ kata Sujiastono selaku manajer proyek pembangunan bandara NYIA.

Sujiastono masih tetap meyakini bahwa April 2019 bandara NYIA bisa beroperasi, namun bukan berarti proses pembangunan akan selesai sepenuhnya.

“Karena percepatan, saya yakin 2019 bisa beroperasi. Belum selesai setelah beroperasi masih dilakukan pembangunan. Secara operasional sudah bisa ditempati,’’ kata Sujiastono.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.