Mengapa Selamatkan Bumi?

Dari mana kami berasal?

Kami bermula dari imajinasi bersama saat berembug mengadu pikir dan tindakan dalam Forum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA) ke-2 (lihat Merawat nafas panjang dan Akar rumput menuju kemandirian). Seluruh komunitas pejuang dari akar rumput merefleksikan secara kritis bahwa informasi tersiar di masyarakat seringkali kesulitan ruang yang mengakomodasi perjuangan terhadap krisis hari ini. Meskipun ada informasi tapi tidak selalu berpihak, ala kadarnya dan bahkan terkesan menyudutkan para pejuang, melemahkan solidaritas masyarakat dan mendukung kekuasaan. Kerap pula jurnalis kritis tidak mendapat ruang publikasi dalam media mereka sendiri, meski sudah berusaha dengan menjalankan standar dan etika jurnalistik, malah tidak jarang mendapat tekanan dari pihak-pihak yang berkepentingan.

Komunitas pejuang yang sedang melawan krisis ruang hidup ini sadar bahwa sedang ada tarik-menarik kepentingan dalam nalar media massa. Di dalamnya bersanding kepentingan politik praktis dan modal yang menjadikan logika pasar dan transaksional bersama kepemilikan media massa, apalagi media besar. Kesadaran kritis bersama melihat ada ketimpangan relasi kuasa antara para pejuang (rakyat, warga, masyarakat) dengan para penguasa (pemerintah, pengusaha, pemilik media massa) sangat hirarkis dan menjalankan praktek dominatif. Akhirnya disepakati para relawan FKMA mendapatkan mandat mengelola sebuah ruang tutur tandingan yang dikerjakan secara jujur, lugas, kritis, inovatif dan harus berpihak pada para pejuang yang tidak mau dikorbankan pada situasi krisis ini. Dengan dasar imajinasi bersama ini lah kami para relawan FKMA mencoba memberanikan diri mengelola sebuah ruang tutur tandingan, saat itu semua bersepakat menggunakan sebuah alat bernama selamatkabumi.com.

Apa dan Bagaimana kami menuturkannya?

Kami menuturkan narasi kehidupan harian dari akar rumput yang menurut kami adalah politik harian  para pejuang dalam mempertahankan ruang hidup melawan krisis hari ini. Kami memproduksinya dalam ragam bentuk dan rubrikasi inovatif. Selain berbasis akses daring (online), kami juga berusaha memproduksi luring (offline). Ada poster grafis, video dan suara yang bisa dibagikan melalui perangkat telepon genggam. Dan beberapa tulisan pilihan diproduksi ulang dalam bentuk cetak untuk dibagikan ke warga.

Kami menjalankan rapat redaksi bersama warga para pejuang secara langsung sebelum setiap tajuk rencana akan dituliskan dan disiarkan. Kami menjalankan riset dan komunikasi  langsung bersama  warga pejuang terkait kebutuhan perjuangan. Ini kami lakukan agar kepemilikan ruang tutur ini sejatinya berasal dari kepentingan para pejuang dan menjadi pengetahuan kritis yang layak dibagikan melalui proses belajar bersama. Kami juga melaporkan apa yang dihasilkan dari produksi pengetahuan, perluasannya dan hasil jejaring lanjutannya.

Ruang tutur tandingan ini kami produksi dengan cara sukarela. Sampai saat ini, karena setiap orang dari kami adalah juga pekerja/buruh dan mahasiswa/calon pekerja yang memiliki tugas bertahan hidup maka kami hanya berusaha membagi waktu, uang operasional dan tenaga, keahlian dengan semampunya. Meski kerap tersendat, kami berusaha mengelola produksi ruang tutur ini dengan standar, operasi dan target minimal yang kami sepakati. Perlahan dalam proses eksperimentasi terus-menerus ini, para penutur selamatkanbumi.com akan memperbaiki sistem yang lebih baik dari pola belajar dan berjuang bersama ini nantinya.

Kami mempersilahkan menggunakan isi dari seluruh media ini untuk kepentingan solidaritas dan perjuangan memenangkan situasi krisis. Ruang berutur ini juga dipersilahkan disiarkan dan direproduksi ulang dengan ragam bentuk apapun. Dan semakin baik pula jika sumber penuturan dari sini tetap dicantumkan agar membuka kesempatan pembaca memperoleh tuturan lainnya. Setiap hasil reproduksi ulang (penambahan dan pengurangan atau perubahan dari isi dan bentuk semula) menjadi tanggungjawab yang melakukan perubahannya. Dan tentunya harapan kami, ruang tutur tandingan selamatkanbumi.com bukan hanya menjadi ruang tontonan fenomenal belaka. Setiap kalian bisa terlibat menjadi penutur dan pejuang. Mari kita merayakan perjuangkan bersama dengan menyemai akar ruang tutur tandingan. Kalian bukan budak, maka kalian tidak harus diperintah!

That a market economy based on dog-eat-dog as a law of survival and “progress” has penetrated every aspect of society has no centrality whatever in this self-indulgent literary collage of platitudes and pieties. At a time when the “self” is being rapidly dissolved by the mass media, we are urged to further this process by dissolving all the boundaries that define us — this, in the name of a cosmic“Self” that seems more Supernatural than natural ( Murray Bookchin, The Crisis in the Ecology Movement, 1988)

Menilik Ulang Krisis Gerakan Sosial-Ekologi

Ekploitasi lingkungan melalui ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan, yang dilakukan oleh korporasi pertambangan, perkebunan, pariwisata, infrasruktur dan lainnya, yang difasilitasi oleh negara dan badan-badan keuangan telah menyebabkan kerusakan dan krisis sosial-ekologis yang semakin parah di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari sejumlah fakta berupa terus meningkatnya angka konflik agraria dan bencana sosial-ekologis yang ditimbulkannya dari tahun ke tahun. Angka ini secara pasti telah menyebabkan jutaan penduduk Indonesia yang berada di pinggiran hutan, pedesaan dan perkotaan tergusur dan terusir dari tanah dan ruang hidupnya. Fenomena tersebut menandai bahwa ruang-ruang ekonomi, sosial dan ekologi milik rakyat dan komunitas terus diubah menjadi ruang-ruang padat modal tanpa sedikitpun menyisakan nyawa kehidupan yang berkelanjutan.

Melihat kenyataan ini, tidak bisa dipungkiri bahwa kapitalisme adalah penyebab terjadinya perluasan dan perusakan terhadap kontur alam dan lingkungan sosial yang ada. Krisis sosial-ekologis yang terjadi adalah hasil dari adanya bentuk organisasi kekuasaan yang hirarkis dan mentalitas otoriter yang mengakar dalam stuktur masyarakat. Bentuk kebudayaan yang demikian merupakan cerminan dari hasil kebudayaan kapitalisme yang melanggengkan stuktur hirarki dan kelas ekonomi. Hal inilah yang selanjutnya membawa pada situasi lahirnya dominasi manusia terhadap alam yang disebabkan oleh adanya dominasi manusia terhadap manusia yang lain.

Seringkali prinsip-prinsip ini berseberangan dengan pemahaman bagi sebagian besar para pegiat gerakan ekologi dan agraria saat ini, yang mencoba ingin mencari jalan keluar krisis sosial-ekologis yang terjadi. Pada umumnya mereka hanya berfokus pada pembacaan gejala masalah dan bukan menyasar pada akar penyebab. Sehingga dengan pembacaan tersebut, yang ditawarkan tidak lain hanya sekedar pola agro-teknologi atau teknik yang mengakali lingkungan. Praktek solusi pragmatis ini menyesatkan dalam bentuk ragam teknologi yang seolah-olah dapat mengatasi krisis sosial ekologis yang berlangsung. Padahal sesederhana apapun teknologi yang digunakan dan ditawarkan untuk menjawab krisis sosial-ekologis, tetap saja bisa mendatangkan krisis sosial-ekologis jika ideologi yang menggunakan teknologi tersebut tidak berubah.

Lalu, bagaimana alternatif yang ditawarkan terhadap bentuk kebudayaan yang demikian? Alternatifnya adalah masyarakat yang didasarkan pada prinsip-prinsip ekologi: kesatuan organik dalam keragaman, bebas dari hirarki dan kelas ekonomi, dan saling menghormati di semua aspek kehidupan. Hal ini hanya akan terwujud melalui penghancuran ideologi yang mendominasi alam dengan mendorong lahirnya masyarakat tanpa struktur hirarkis atau kelas ekonomi.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa untuk memutus mata rantai kapitalisme yang terus menerus melakukan perluasan produksi dalam rangka pengorganisasian dan pengakumulasian keuntungan bagi segelintir golongan, dan selanjutnya menimbulkan kerusakan sosial-ekologis maka perlu dipahami bahwa masalah ekologi yang timbul adalah berasal dari masalah sosial yang mendalam. Sehingga dengan demikian, masalah ekologi tidak dapat dipahami, apalagi diselesaikan, tanpa menghadapi isu-isu sosial.

Dengan sudut pandang itu, maka diperlukan suatu pendekatan baru dalam menjelaskan konflik agraria, dan krisis sosial-ekologis yang terjadi. Pertama, konflik agraria dan krisis sosial-ekologis harus dipandang sebagai buah pahit dari berlakunya sistem kapitalisme. Kedua, meluasnya dominasi manusia terhadap alam harus dipandang sebagai akibat yang bermula dari dominasi manusia terhadap manusia yang lainnya. Ketiga, perlunya meletakkan kembali pendekatan ekologi sosial dalam perjuangan ekologi kontemporer saat ini. Keempat, dibutuhkan penyebarluasan gagasan, informasi dan pengetahuan kritis tentang sebab musabab konflik agraria dan krisis sosial-ekologis yang terjadi sebagai ruang dialog antar individu ataupun organisasi komunitas.

Merintis Jurnalisme Agraria dan Gerakan Sosial-Ekologi

Terkait dengan itu, penting kiranya sebuah usaha dan kegiatan yang berfokus pada pengembangan informasi dan pengetahuan tentang ide-ide dan gagasan yang terkait dengan konflik agraria dan krisis sosial-ekologis dilakukan secara terorganisasi dan rapi. Tujuannya adalah sebagai sebuah langkah awal untuk:

a) Membangun jejaring komunikasi, informasi dan pengetahuan antar komunitas akar rumput, khususnya kelompok warga yang berada dalam wilayah konflik agraria secara langsung ataupun publik secara luas,

b) Penyebarluasan ide dan gagasan perjuangan otonom, dan

c) Sekaligus sebagai bentuk advokasi, publikasi dan kampanye perjuangan komunitas akar rumput.

Imajinasi: visi dan misi

    • Terbangunnya masyarakat yang terbebas dari dominasi kapitalisme.
    • Memposisikan ulang kedudukan manusia dan alam dalam hubungan yang tidak eksploitatif.
    • Anti kapitalisme, anti diskriminasi, anti hirarki, anti patriarki dan pro lingkungan.
    • Mendorong terwujudnya masyarakat ekologis dan demokrasi swa-kelola.
    • Mendorong terbukanya kesetaraan akses informasi atas perjuangan lingkungan.
    • Mengembangkan jurnalisme yang berfokus pada isu-isu agraria dan ekologi sosial.