Opini

Menguak Kegelapan dengan Energi Bersih Terbarukan

By  | 

“Bisa kita bayangkan, 58,3% kapasitas pembangkit listrik untuk perusahaan negara dan swasta (PLN dan IPP) berasal dari PLTU yang merupakan energi kotor. Bahkan Indonesia merencanakan pengembangan pembangkit di Jawa – Bali tahun 2018 – 2020 sebesar 20.980 MW atau meningkat jadi 54,93 % (Diolah dari RUPTL PLN 2016 – 2025). Kutipan Pengantar Pameran”

Agaknya sulit bagi banyak dari kita, menyadari bahwa listrik yang hanya mengalami jeda aliran saat giliran pemadaman atau gangguan teknis, berasal dari energi kotor. Istilah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbahan bakar batubara, telah menempatkan kita sebagai konsumen yang pasif. Batubara yang menimbulkan kerusakan sejak penambangan, pembakaran, hingga pengolahannya, terus kita konsumsi. Hal ini disebabkan sumber energi bersih terbarukan belum menjadi arus utama dalam segi teknologi maupun pola pikir.

Pameran “Energi” di ECOLAB Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta merefleksikan keinginan warga untuk coba-coba memahami bagaimana mengalirkan listrik dari sumber energi gratis ke piranti yang digunakan sehari-hari. Beberapa sumber energi gratis yang digunakan antara lain tenaga surya dan elektrolit. Sedangkan piranti yang dialiri listrik antara lain lampu, penyimpan daya (power bank), dan pengeras suara. Seluruh piranti hadir dalam tatanan artistik dan dipertemukan dengan obyek-obyek seni yang mengangkat profil warga hingga penjelajahan para perupa mengamati pemanfaatan listrik di kota.

Narasi kecil tentang kehidupan warga yang menghidupi lokasi rencana pembangunan bandara NYIA membuka pameran yang sekaligus menandai peresmian ECOLAB Walhi Yogyakarta. Suasana remang-remang yang segera menjadi gelap gulita sengaja dipilih menjadi simulasi sederhana tentang kehidupan sehari-hari warga yang telah hidup tanpa aliran listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) sejak 27 November 2017.

Halik Sandera, Direktur Walhi Yogyakarta yang menjadi kurator pameran bersama seniman media, Anang Saptoto, menyebutkan bahwa geliat warga mengupayakan sumber energi selain dari aliran listrik PLN, memerlukan dukungan berbagai pihak. Kenyataannya, ketika PLN mencabut aliran listrik di lima desa terdampak rencana pembangunan NYIA, warga perlu beradaptasi dengan membatasi penggunaan listrik harian dan memenuhi kebutuhannya dengan mengalirkan listrik dari generator berbahan bakar minyak (BBM).

Selanjutnya, Anang Saptoto menyebutkan bahwa pameran menyertakan kegiatan paralel yakni lokakarya merakit panel surya dan diskusi. “Energi” bermaksud menumbuhkan kesadaran atas potensi energi bersih terbarukan di sekitar kita, sekaligus memfungsikan pengetahuan dan kemampuan merakit panel surya sebagai bantuan penerangan bagi warga yang membutuhkan.

Lepas pembukaan, penonton pameran masuk ke ruang pamer yang penerangannya memanfaatkan aliran listrik dari panel surya. Jika biasanya pameran seni membutuhkan banyak elemen seperti lampu sorot, “Energi” berusaha realistis dengan kemampuan mengalirkan listrik dari rangkaian panel surya yang ada. Listrik yang dialirkan rupanya tidak memadai untuk menghidupkan perangkat elektronik lain seperti televisi dan digital frame yang memutar video.

Agaknya ECOLAB perlu mempersiapkan atmosfer pameran lebih matang, sehingga suasana yang telah terbangun tidak terhenti pada keprihatinan semata terhadap warga yang terdampak rencana pembangunan salah satu proyek strategis nasional di Kulon Progo.

Bagaimana-pun, pendekatan artistik yang hadir sebagai sentuhan final perlu diacungi jempol. Misalnya cara memajang benda-benda temuan yang mengkomunikasikan gagasan kemandirian warga melalui uji coba pembuatan penyimpan daya (power bank).

Kelompok Lifepatch yang bekerja sama dengan mitra Arsitek Komunitas (Arkom), Paguyuban Warga Kalijawi, bersama Kunci Cultural Studies Center sempat menyelenggarakan kegiatan merakit penyimpan daya bertenaga surya. Beberapa penggerak komunitas lokal yang terlibat dari Paguyuban Warga Kalijawi turut menampilkan hasil rakitan mereka. Tidak hanya penyimpan daya yang dipajang dalam kotak kaca, tetapi juga benda sehari-hari yang bisa berfungsi dengan penyimpan daya dari tenaga surya seperti kalkulator dan senter.

Di atas kotak kaca, para kurator memasang potret para perakit dan pemilik benda temuan. Sayangnya narasi mengenai siapa saja orang-orang tersebut dan interaksi mereka dengan penyimpan daya rakitan sendiri tidak turut ditampilkan. Begitupula untuk obyek-obyek pameran lain seperti video, lightbox, uji coba menghidupkan lampu led dengan energi yang dialirkan dari kandungan cairan penghantar listrik dalam buah, hingga mural berupa tahapan merakit panel surya.

Karena para kurator tidak menyiapkan bantuan informasi tertulis, keberadaan pemandu menjadi syarat mutlak memahami kisah di balik masing-masing obyek. Lebih jauh lagi, ECOLAB selayaknya memberikan stimulasi lebih melalui pameran, diskusi, dan lokakarya “Energi”.

Selain itu, hal yang tak bisa dipisahkan dari kegiatan ini bagaimana warga perlu meningkatkan keberdayaannya untuk memanfaatkan potensi sumber energi bersih dan terbarukan, sembari terus mendesak pemerintah agar berhenti menerima investasi demi membangun PLTU.

Pameran, Workshop, Diskusi: ENERGI berlangsung di ECOLAB Walhi Jogja 10 Juni hingga 10 Juli 2018. Jam Buka 09.00 – 16.00 WIB. CP Adi 082138234694.

Peserta Pameran:
Anang Saptoto
Angki Purbandono
Akiq AW
Deon Manunggal
Lifepatch
Tampan Destawan
Video Report Jogja

Kurator:
Tim ECOLAB Walhi Jogja

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *