feature

Menjaga Bumi  Mantari Bondar

By  | 

Sumatera Utara – Marancar adalah salah satu nama Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Di Kecamatan ini, panorama alamnya masih asri, dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat kita seakan dimanjakan. Tak heran, sebab letaknya  di lereng yang berada tepat di tengah dua gunung, yaitu Gunung Lubuk Raya dan Gunung Sibual-buali.

Sebagaimana daerah yang terletak di pegunungan, di mana  masyarakatnya bermata pencarian sebagai petani, kehidupan warga Marancar masih sangat kental dengan adat istiadat dan keramatamahannya. Mereka menyambut dengan hangat siapapun yang berkunjung ke desa-desa di wilayah Kecamatan Marancar, kian menimbulkan kesan mendalam padanya.

Di Kecamatan Marancar terdapat beberapa desa antara lain Desa Haunatas, Desa Tanjung Dolok yang merupakan penggabungan dua desa sebelumnya, yaitu Desa Tanjung Rompa dan Desa Bonan Dolok-, dan Desa (Dusun) Siranap yang kini menjadi bagian dari Desa Aek Sabaon. Satu hal yang menarik adalah, bahwa masyarakat Kecamatan Marancar memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap lingkungan hidup mereka. Dengan kesadaran yang telah sejak lama tertanam dan terawat secara turun-temurun, mereka menjaga hutan, tanah, dan daerah aliran sungai tempat mereka hidup hingga kini. Mereka memiliki pengetahuan dan kearifannya sendiri bagaimana memaknai hubungan antara manusia dan alamnya.

Untuk mencapai Kecamatan Marancar, kita hanya perlu berkendara sekitar 45 menit dari Kota Padang Sidempuan. Meskipun terletak di lereng gunung, akses jalan beraspal yang menuju ke Marancar setidaknya tidak menjadikan desa-desa yang terletak di dalamnya mendapat predikat “terpencil”. Layaknya masyarakat petani, siang hari di wilayah Marancar akan terasa sepi, karena hampir seluruh warga berada di ladang atau sawah-sawah mereka. Namun, pada akhir pekan, atau mereka biasa menyebutnya poken, baru akan tampak keramaian warga. Poken ini dimanfaatkan warga untuk menjual hasil kebun mereka untuk kemudian hasil penjualannya digunakan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan -yang tidak mereka produksi sendiri- selama sepekan ke depan. Atau, sekadar melancong atau bersilaturahmi saling mengunjungi sanak keluarga mereka.

Hatabosi dan Mantari Bondar

Hatabosi merupakan kependekan dari nama-nama desa, yaitu Haunatas, Tanjung Rompa, Bonan, dan Siranap. Hatabosi tak dapat dilepaskan dari sejarah lahirnya Kampung Simaretong (Desa Haunatas) sekitar tahun 1909. Leluhurnya adalah empat orang laki-laki bersaudara Marga Pasaribu, yang berasal dari daerah Utara Tapanuli, keempatnya mendatangi Luat Marancar yang saat itu ditempati Marga Siregar.

Pada awal kedatangan mereka, daerah itu belum memiliki sumber air. Kesulitan air inilah yang menyebabkan kampung tersebut ditinggalkan oleh marga Siregar, lalu digantikan keempat orang marga Pasaribu tersebut. Mereka memutuskan untuk mencari sumber air ke dalam hutan. Sesampainya mereka di kawasan hutan Gunung Sibual-buali, mereka menemukan sumber air yang mengalir deras, yang sampai sekarang disebut Aek Sirabun. Akan tetapi, saat itu air dari Aek Sirabun tidak bisa mengalir ke kampung yang mereka tempati disebabkan adanya sebuah batu besar yang menghalangi.

Untuk mengatasinya, dengan dibantu warga lainnya, mereka kemudian melubangi batu tersebut dengan cara dipahat. Selama lebih dari setahun. lubang sepanjang 41 meter berhasil terbentuk sebagai jalan, agar air dari Aek Sirabun dapat mencapai ke pemukiman mereka. Dari situlah mereka memenuhi kebutuhan air untuk konsumsi sehari-hari, juga untuk mengairi sawah dan ladang mereka.

Dari sinilah, kemudian Pasaribu bersaudara menamakan empat kampung yang kini menjadi desa dengan sebutan Simaretong sebagai wujud mengenang sejarah. Arti dari Simaretong sendiri adalah semua urusan antar keempat desa harus melibatkan dan diselesaikan oleh keempat desa, termasuk dalam hal menjaga hutan dan pengelolaan sumber airnya.

Setelah berhasil mendapatkan sumber air, Pasaribu bersaudara diizinkan Marga Siregar untuk tinggal di bekas kampungnya. Kemudian mereka membangun desa dekat Haunatas, yaitu Desa Bonan Dolok. Kemudian Desa Tanjung Rompa dan yang seorang lagi berada agak jauh, yaitu Desa Siranap.

Sejak saat itulah, masyarakat dari Desa Haunatas, Desa Tanjung Dolok yang merupakan penggabungan dari dua desa; Desa Tanjung Rompa dan Bonan Dolok, dan Desa Siranap yang sekarang berstatus dusun, bagian dari Desa Aek Sabaon disebut dengan Hatabosi, menyepakati membuat Mantari Bondar.

Mantari dalam bahasa Indonesia adalah “Menteri”, sementara arti Bondar adalah saluran atau aliran air. Mantari Bondar sebenarnya adalah petugas yang menjaga saluran atau sumber air dan hutan, aturan adat warisan leluhur ini sudah seabad lebih disepakati dan dijalankan oleh warga.

Mantari Bondar membawahi delapan Penjago Bondar, semuanya dipilih oleh masyarakat. Penjago Bondar tugasnya menjaga hutan dan mengawasi mata air dari kerusakan, serta mengurus aliran air agar tidak tersumbat. Sementara Mantari Bondar, lebih banyak mengurusi sengketa air yang timbul dengan mekanisme sanksi adat. Kesembilannya mendapat “gaji” dari menyisihkan sebagian hasil pertanian warga dengan jumlah tertentu. Semua ini sudah berlangsung lama. Mantari Bondar ini berasal dari Desa Haunatas, sementara Panjago Bondar merupakan perwakilan dari Desa Haunatas, Desa Tanjung Dolok , dan Desa Siranap (Desa Aek Sabaon).

Mantari Bondar dan Penjaga Bondar. Sumber Foto: Hendra Hasibuan

Untuk Kabupaten Tapanuli Selatan, kawasan hutan Batang Toru seluas 29.507 ha atau sekitar 22,2 persen masuk di dalamnya. Dari jumlah itu, sekitar 3.000 hektare dilestarikan oleh masyarakat yang memiliki tradisi menjaga hutan sejak leluhurnya hingga saat ini untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari dan mengairi 300 ha lahan pertanian.

Mantari Bondar mengatur sistem pengelolaan dan pembagian saluran air tersebut berdasarkan kesepakatan masyarakat keempat desa; syaratnya, memiliki areal persawahan dan telah diadati dalam pernikahan. Jika kemudian ada yang keluar dari kampung, maka haknya dalam penggunaan saluran air akan hilang. Tapi hak tersebut dapat dipulihkan jika dia kembali lagi ke desa.

Selanjutya, apabila terjadi kerusakan pada saluran air, misalnya salah satu jaringan bondar rusak, maka yang bertanggungjawab memperbaiki adalah Panjago Bondar. Namun jika di hulu Aek Sirabun terjadi longsor maka Mantari Bondar akan turun tangan untuk menutup saluran dan meminta masyarakat bergotong royong memperbaikinya.

Sementara , sumber dana untuk peralatan, perawatan, dan pengawasan bondar berasal dari masyarakat keempat desa tersebut, di mana setiap orang yang menggunakan air diwajibkan membayar dua tabung padi atau sekitar 24 kg setiap tahun. Bagi warga baru dari luar keturunan keempat desa diwajibkan membayar 12 kg getah karet dan tiga tabung padi. Mantari Bondar akan menjualnya dan uangnya digunakan untuk membeli peralatan seperti cangkul, parang, dan alat-alat yang biasa digunakan untuk memperbaiki irigasi. Sisanya, disisihkan untuk upah Mantari Bondar. Sementara upah Panjago Bondar diatur Mantari Bondar berdasarkan hari kerja yang dilakukan Panjago Bondar dalam setahun.

Semua diatur dalam suatu kesepakatan warga masyarakat, paling penting adalah larangan untuk masyarakat empat desa dan masyarakat luar desa agar tidak merusak hutan khususnya di hulu Aek Sirabun dan daerah sepanjang saluran air. Jika terjadi pelanggaran, akan diadili oleh masyarakat sendiri sesuai aturan yang sudah disepakati, lalu dilanjutkan ke proses hukum negara.

Menjadi Mantari Bondar sejak desa ini berada tentu tugasnya tidaklah ringan. Mantari Bondar harus berlaku adil dalam setiap penyelesaian masalah pencurian kayu dan air di empat desa yang dipimpinnya. Mantari Bondar bekerja berdasarkan Deklarasi Kesepakatan yang tertulis tanggal 8 April 1994 ditandatangani seluruh tokoh adat (Hatobangon dan Harajaon), alim ulama, dan aparat Desa.

Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi datangnya perambah-perambah hutan baik dari dalam maupun luar desa, serta sebagai pesan dan ikatan moral bagi generasi muda untuk selalu mempertahankan dan menjaga hutan serta sumber air Empat Desa.

Meskipun sudah dibuat kesepakatan, bukan berarti pencurian kayu di sekitar hulu Aek Sirabun berhenti. Pada tahun 1995, pernah terjadi pencurian kayu yang dilakukan seorang warga desa akibat janji harga tinggi dan bujukan seorang cukong kayu. Masyarakat akhirnya menangkap pelaku pencurian. Tak senang dengan apa yang diterimanya, pelaku lalu membuat pengaduan ke polisi.

Saat itu, Mantari Bondar sedang berada di Jakarta untuk urusan keluarga. Sekembalinya ke desa langsung menerima surat panggilan dari polisi untuk dimintai keterangan. Dia memenuhi panggilan polisi, ternyata setelah diinterogasi, Mantari Bondar diancam akan dipenjara jika tidak memberi biaya pengobatan kepada pencuri itu. Alasan polisi, Mantari Bondarlah yang paling bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa si pelaku pencurian tersebut.

Tidak kalah cerdik, Mantari Bondar mengatakan pada polisi, “Suruh dulu si pencuri membayar kerusakan hutan sumber air kami. Baru kami kasih biaya pengobatannya.” Akhirnya sampai saat ini, kasus itu dianggap selesai, karena polisi akhirnya dipahamkan jika si pencuri kayulah yang bersalah.

Ini sejarah dan warisan leluhur yang harus dijaga sampai ke anak cucu nanti. Menjaga hutan dan air. Tidak ada air yang dibuang percuma, semua dipergunakan. Sisa buangan rumah tangga dialirkan kembali ke sawah, makanya setiap rumah tangga memiliki tali air di belakang rumah yang langsung menuju sawah.

Tradisi pengelolaan hutan dan sumber air yang dilakukan masyarakat ini bisa menjadi contoh untuk desa-desa lain yang berada di dalam dan luar kawasan hutan di seluruh Indonesia. Hal ini membuktikan jika pengetahuan dan kearifan lokal yang hidup dalam sendi-sendi masyarakat  merupakan benteng terdepan untuk melawan upaya-upaya penggerusan dan penghancuran ruang-ruang hidup masyarakat, baik secara ekologis maupun sosial, yang perlu dijaga, dirawat, dan ditumbuhkembangkan demi kelangsungan alam dan manusia.

Penulis: Hendra Hasiboean (Padang Sidempuan)

Editor: Anto TAB

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *