Berita

Menjalani Bulan Ramadan di Lokasi Konflik Bandara NYIA

By  | 

Yogyakarta (12/6)-Senja mulai menampakan dirinya di tepi Barat Temon, Kulon Progo. Kemilau cahayanya menembus tiga buah Dynamic Compaction atau alat pemadat pasir untuk kontruksi pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon. Sejatinya, senja merupakan momen yang paling tepat untuk menikmati hidup, tapi itu tak dapat dirasakan oleh warga penolak bandara di Temon. Malahan, saat senja datang, mereka justru khawatir karena tak ada yang menjaga lahannya menjelang malam karena harus kembali ke rumah.

Sore itu, Sabtu, (9/6) tiga alat Dynamic Compaction terlihat sedang menganggur, para pekerja tak ada satupun yang sedang melakukan aktivitas. Walaupun demikian alat itu sangat susah untuk pergi dari lahan warga. Ia adalah momok penghancur penghidupan para petani. Sekali bekerja saja, dentumannya begitu keras, kadang sampai membuat warga terkejut. Walaupun sudah terbiasa dihadapkan ancaman pengrusakan lahan selama hadirnya proyek pembangunan NYIA, rasa khawatir itu masih ada.

Ustadz Sofyan, warga Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) mengatakan ketidaktahuan akan kondisi lahannya membuat dirinya selalu was-was. Karena para pekerja terkadang menyerobot lahan, merusak pipa dan tanaman yang baru saja ditanami ketika tak ada warga yang berjaga. Menurutnya peristiwa itu tak hanya terjadi sekali-dua kali, tapi berkali-kali.

“Sekarang para pekerja proyek NYIA ngawur. Lahan ini kalau gak dikerjakan warga bisa dirusak, karyawan mereka ngawur, kok pipa-pipa dirusak,” kata Sofyan saat menemani berkeliling menuju lahannya, Sabtu, 9/6/2018.

Memang selama bulan ramadhan ini, menurutnya, tak ada tindakan yang mengarah pada pengrusakan rumah dan lahan warga. Ustadz Sofyan mengakui kondisi saat ini cukup tenang dibandingkan sebelum masuk bulan ramadan.

Padahal terhitung sejak bulan November 2017 sampai bulan Mei 2018 konflik terbuka terus berlangsung dengan pihak PT. Angkasa Pura I sebagai pemrakarsa proyek NYIA. Tindakannya bermacam-macam, mulai dari pencopotan listrik dari rumah warga, pemagaran lahan, sampai pada pemortalan atau penutupan akses penghidupan warga sehari-hari.

“Selama Ramadan ini alhamdulillah gak ada apa-apa, semuanya kondusif,” kata Sofyan sembari menunjukan tanaman semangkanya yang sebentar lagi akan masuk masa panen.

Namun, tak selamanya akan menjadi damai seperti bulan ramadan. Ia sendiri bercerita warga masih akan terus menghadapi ancaman selagi NYIA dengan status proyek strategis nasional ini terus berjalan. Sofyan menjelaskan, sebelum puasa tiba dirinya dan warga yang menolak bandara pernah mendapatkan teror, baik yang datang dari perangkat desa, pemerintah kabupaten sampai intelijen yang setiap hari mengintai aktivitas mereka. Mereka diancam dengan penggusuran paksa. Tak hanya itu, mereka juga diminta untuk segera melepaskan ruang hidup dan tempat kelahiran mereka sendiri.

“Teror lewat telepon WA pernah, isinya memberitahukan ada penggusuran sebelum ramadan sampai ada kecaman, mereka ngasi tahu sebelum ramadan akan selesai semua, sampai lurah juga menyampaikan,” tutur Sofyan.

Ustadz Sofyan menceritakan kembali kilas balik penciptaan ketakutan. Pertama, terkait aksi Mayday, 1 Mei 2018 di pertigaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang sempat ramai karena adanya penangkapan peserta aksi oleh Polisi Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY). Kedua, disusul dengan aksi terorisme di Surabaya pada Minggu, 13/5/2018. Kedua peristiwa itu menurutnya membuat pihak kepolisian menurunkan personilnya untuk melakukan penjagaan dan pengawasan di lokasi pembangunan bandara NYIA.

Ustadz Sofyan sendiri menceritakan kepolisian sampai menurunkan 30 personil dengan mengendarai sepeda motor anti huru-hara untuk melintasi jalan Deandels dengan dipacu suara yang kencang bak konvoi di malam harinya. Hal terebut sampai membuat warga kaget kemudian keluar untuk menyempatkan melihat sekilas tindakan tersebut.

“Pasca 1 Mei 2018, kemudian di lanjut dengan peristiwa bom Surabaya cukup berpengaruh, aparat sering keliling tiap malam. Ada sekitar 30 motor keliling. Kadang motor bikin ramai,” kata Ustadz Sofyan yang kemudian mengajak kembali ke Masjid Al-Hidayah untuk mengikuti kegiatan buka bersama warga penolak bandara.

Panen tiba Menjelang Hari Raya

Sore itu, Wagirah, perempuan yang juga penolak bandara NYIA asal Temon tampak bahagia. Raut wajahnya berseri-seri, karena bulan ramadan ini ia mendapatkan hasil panen cabe yang cukup melimpah. Ia menceritakan tak henti-hentinya memanen cabe. Bahkan dirinya sampai melibatkan lima orang pekerja untuk membantunya. Karena jika hanya dikerjakan dengan suami menurutnya tak akan mampu menyelesaikan keseluruhan panen dengan cepat.

Meski ia merasa agak kurus di bulan puasa ini karena kegiatannya yang begitu padat, terhitung harus di lahan mulai dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, ia tetap bersemangat untuk tetap bertani.

“Kerjanya ke sana-sini, sampai saya kurus ini, tidur lima menit ke ladang, siram cabe, pulang-pulang sudah buka, pokoknya seharian di ladang, kerja keras walaupun puasa,” kata Wagirah menjelaskan kegiatannya selama bulan ramadan.

Ia bersyukur walau di tengah konflik yang melandanya, ia masih bisa melakukan panen besar. Ia mengukur masa panen ini dapat membuat nilai kehidupannya sangat berkecukupan. Tak ada raut murung dari Ibu dua anak ini. Ia mengatakan dengan gembira, hasil panen cabenya kini berhasil panen 1,7 Kwintal dalam sekali panen, terhitung ia sudah memanen lima kali di lahannya.

“Panen se-kwintal 70 Kg, alhamdullah ini bagus lima hari sekali metik, kalau dikasi pupuk terus bisa berbulan-bulan,” tuturnya dengan senyum bahagia.

Soal ibadah, ia tak mau ketinggalan tentunya. Ia tidak pernah absen untuk berpuasa dan tetap terus mengikuti sholat terawih di Masjid. Tak berhenti di situ, dirinya juga ikut melakukan tadarus. Semua itu dilakukan demi cintanya kepada Tuhan yang menciptakan kehidupan di bumi ini.

Pengajian bersama yang dihadiri oleh KH Ahmad Sugeng Utomo. setelah itu dilanjutkan dengan buka bersama (Selbum/Somad)

“Saya terawih terus, alhamdulillah, puasa gak pernah bolong, terawih terus gak pernah kosong,” kata Wagirah dengan percaya diri sembari memberikan potongan semangka pada warga yang turut hadir di acara buka puasa bersama sore itu.

Ustadz Sofyan yang juga dikenal sebagai pemuka agama setempat menceritakan bahwa selama bulan ramadhan ini warga penolak bandara banyak melakukan kegiatan keagamaan. Salah satunya adalah buka puasa bersama.

Dalam kegiatan buka puasa bersama sore itu, tampak acara dilengkapi dengan pengajian yang dipimpin oleh Kyai Haji Ahmad Sugeng Utomo. Ia adalah pemimpin pondok pesanteren Darul Ulum Wal hikam yang berada di Umbulharjo, Jogjakarta. Menurut Ustadz Sofyan, isi pengajiannya bagus untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan.

“Isi pengajiannya umum, menyampaikan harus Qonaah serta bersabar menghadapi ujian, kemudian mencoba meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan,” kata Sofyan saat diminta keterangan di sela-sela buka bersama.

Selepas buka bersama dengan menyantap hasil bumi sendiri, Paguyuban Warga Penolak Penggsuran Kulon Progo (PWPP-KP) melakukan sholat terawih bersama. Suasanya syahdu begitu terasa di masjid Al-hidayah, ayat-ayat suci Al-Quran berkumandang dengan penuh ikhlas, walau ruang hidup mereka dibanyangi ancaman penggusuran.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.