Berita

Menjalin Persaudaraan dan Perlawanan Bersama dalam Menyelamatkan Karst

By  | 

Minggu (15/1/2017), rombongan warga penolak industri semen dari berbagai daerah tiba di Omah Kendeng, Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Rombongan ini berasal dari Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Selama empat hari, terhitung sejak Senin (16/1) hingga Kamis (19/1), seluruh peserta rombongan dari berbagai daerah ini akan saling belajar bersama dan mempertukarkan pengetahuan dan pengalaman mereka terkait dengan gerakan penolakan industri semen. Harapannya dengan saling belajar bersama, seluruh peserta rombongan akan membawa semangat dan strategi baru saat kembali ke daerah masing-masing. Kegiatan ini difasilitasi oleh Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), TKPT, dan Desantara.

Omah Kendeng,  tempat diselenggarakan kegiatan ini merupakan salah satu tempat yang cukup populer bagi kalangan pegiat lingkungan, gerakan agraria, dan gerakan perempuan di seluruh Indonesia saat ini, karena di tempat inilah biasanya para kaum perempuan, atau biasa dikenal ibu-ibu Kendeng, mendiskusikan perjuangan mereka dalam menghadapi kebrutalan industri semen yang akan merusak lingkungan Pegunungan Kendeng.

Pada hari pertama kegiatan ini, Senin (16/1), seluruh peserta akan diajak oleh panitia untuk melakukan pengamatan tentang kondisi bentang karst dan kampung-kampung di sekitar Omah Kendeng. Seluruh peserta diberi tugas pengamatan dengan melakukan pencatatan dan pemotretan terkait apa yang dilihat di sepanjang perjalanan. Di penghujung kegiatan, hasil pencatatan oleh masing-masing peserta akan didiskusikan secara bersama, ditambahkan dengan informasi tentang kondisi karst di daerah masing-masing asal peserta. Tujuannya tak lain menurut panitia adalah selain untuk memperkenalkan kondisi bentang karst Kendeng, juga untuk memperkaya pengetahuan antar peserta tentang pemahaman karst, di mana tiap-tiap daerah memiliki ciri dan keunikan masing-masing.

Panitia mengatakan bahwa dalam kegiatan pengamatan ini, seluruh peserta akan melewati jalur yang sama dan akan memakan waktu kurang lebih tiga jam untuk sampai di titik terakhir, yakni Omah Sonokeling.

Selepas sarapan pagi, sekitar pukul 08.30 WIB, kegiatan pengamatan ini pun mulai dilakukan. Di sepanjang jalan, seluruh peserta terlihat riang gembira, dan mulai melakukan pemotretan berbagai objek, seperti: bentangan karst, tumbuh-tumbuhan, batuan berlubang, tebing-tebing yang menjulang, aliran sungai, instalasi pipa-pipa air yang saling terhubung, dan lahan-lahan pertanian milik warga. Tampak pula sebagian peserta yang lain melakukan wawancara dengan sekelompok petani jagung yang sedang memanen hasil pertaniannya.

Salah seorang peserta kegiatan sedang melakukan wawancara dengan warga setempat. Sumber: Pribadi

Dalam perjalanan ini, Sobirin, selaku panitia sempat melontarkan sebuah pertanyaan kepada peserta, bahwa apakah layak jika pemerintah menyebut daerah Kendeng ini merupakan daerah yang gersang. Pernyataan ini disambut oleh seluruh peserta “tidak layak, ini hanya tipu-tipu pemerintah untuk mengubah kawasan Kendeng menjadi kawasan industri semen”, jawab mereka.

Di tengah perjalanan ini, panitia juga mengajak seluruh peserta untuk beristirahat sejenak di sebuah tempat yang biasa dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Pepunden Semar. Di lokasi pepunden ini juga terdapat sebuah lokasi yang bernama Batu Semar, konon dipercayai sebagai tempat Semar mengasah kukunya. Hingga kini, tempat ini sering diziarai dan difungsikan sebagai tempat tirakat oleh berbagai lapisan masyarakat dari berbagai daerah.

Sesudah beristirahat selama satu jam di Pepunden Semar, perjalanan dan pengamatan kembali dilanjutkan menuju Omah Sonokeling. Sesampainya di Sonokeling, seluruh peserta kembali berkumpul dan mendiskusikan hasil temuan. Dalam mendiskusikan hasil temuan ini, kegiatan dipandu oleh Eko Teguh, dosen Geologi, UPN, Yogyakarta.

Pasca mempresentasikan hasil temuannya masing-masing, Eko Teguh, mengajak seluruh peserta untuk mendefinisikan kembali apa yang disebut sebagai karst. Ia menyatakan bahwa semua yang dipaparkan oleh seluruh peserta memang benar ciri-ciri dan karakteristik yang disebut sebagai bentang karst.

Ia mengingatkan kepada seluruh peserta bahwa dalam rejim industri ekstraktif saat ini, biasanya para investor dan pembuat AMDAL akan melakukan penurunan nilai kawasan alam di kawasan karst, misalnya, dengan mengatakan bahwa kawasan karst merupakan kawasan yang gersang, tidak terdapat air yang cukup, dsb. Penurunan nilai kawasan ini menurutnya adalah untuk melegitimasi ekstraksi di kawasan karst tersebut. “Inilah yang terjadi untuk memudahkan perampokan karst di Kendeng, Gombong, Kalimantan Timur, dan beberapa tempat lainnya di Indonesia, sehingga memudahkan industri semen berkuasa dan melakukan ekspansi”, tegasnya.

Di penghujung presentasinya, Eko Teguh, mengajak seluruh peserta untuk menjadikan kawasan karst dan pulau yang kita diami sebagai rumah, bukan menempatkan diri sebagai penjarah atas pulau tersebut. Hal ini agar kawasan karst di daerah masing-masing peserta tetap terjaga dengan baik.

Selepas kegiatan ini, peserta kembali mempersiapkan diri untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya, yakni studi lapang. Panitia membagi seluruh peserta menjadi 3 kelompok, dan ditugaskan untuk melakukan studi lapang di 3 desa yang berbeda, salah satunya adalah desa Kedung Mulyo, Sukolilo. Peserta akan belajar dari 3 desa tersebut terkait bagaimana sejarah perjuangan dan perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Kendeng dalam melawan industri semen.

Seperti yang diketahui, Kecamatan Sukolilo dan Kayen adalah 2 kecamatan di Kabupaten Pati, yang pernah diincar oleh PT Semen Gresik pada tahun 2006 untuk dijadikan lokasi pertambangan karst-industri semen. Namun, berkat kegigihan dari warga 2 kecamatan tersebut, akhirnya PT Semen Gresik harus hengkang dan membatalkan rencana mereka pada tahun 2010, walaupun selanjutnya, PT Semen Gresik yang selanjutnya berubah nama menjadi PT Semen Indonesia (SI) menggeser tujuan mereka ke bumi Rembang, dan tetap menuai protes dari warga Rembang hingga kini.

Hari Kedua dan Ketiga

Memasuki hari kedua, Selasa (17/1), seluruh peserta kegiatan ini ikut bergabung dalam aksi solidaritas mendukung perjuangan warga JMPPK Rembang di kantor Gubernur Jawa Tengah. Aksi ini merupakan aksi lanjutan dari warga Rembang menuntut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, agar mencabut ijin pendirian pabrik semen PT SI di Rembang, dan sekaligus mendesak Ganjar Pranowo untuk mematuhi putusan Mahkamah Agung yang telah mengabulkan tuntutan warga. Aksi ini diiikuti oleh ribuan warga JMPPK Rembang dan Pati, dan ratusan mahasiswa dari berbagai kampus, serta organisasi masyarakat sipil dari berbagai daerah.

Aksi JMPPK, 17/1/2017 di depan kantor Gubernur Jawa Tengah. Sumber: Pribadi

Namun, tak diduga sebelumnya, di waktu yang sama, muncul aksi demonstrasi dari kelompok yang mengatasnamakan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah. Mereka juga melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, dengan tuntutan yang berbeda dari warga JMPPK.

Dalam aksinya ini, massa APTI sempat memancing kekisruhan dan melakukan provokasi agar terjadi bentrokan dengan kelompok warga JMPPK. Terkait dengan peristiwa ini, beberapa pihak menyebutkan bahwa “Aksi massa APTI ini merupakan aksi tandingan yang sengaja dimunculkan untuk menutupi aksi yang dilakukan oleh warga Rembang. Dan memang terkesan sengaja untuk memancing kerusuhan, sehingga nanti yang muncul di media bukannya isu penolakan semen, melainkan isu bentrokan”, Ungkap Koko, salah satu massa aksi dari Blora, yang turut mendukung perjuangan warga Rembang.

Bahkan ia menambahkan, dalam aksi tersebut, terdapat beberapa peserta aksi dalam kelompok APTI, terlihat mengenakan topi berlogo PT SI. “Saya melihat secara langsung, ada beberapa orang dalam barisan massa APTI mengunkan topi dan atribut PT SI”, tegasnya.

Hal ini semakin meyakinkan dirinya bahwa bisa saja aksi yang dilakukan oleh massa APTI Jateng tersebut, merupakan aksi yang diboncengi oleh PT SI.

Memasuki hari ketiga, Rabu (18/1), kegiatan belajar bersama antar warga penolak semen kembali dilanjutkan di Omah Kendeng. Kali ini, diisi oleh kegiatan diskusi dengan narasumber yang berasal dari LBH Semarang.

Diskusi ini ditujukan sebagai tukar pengetahuan dan pengalaman LBH Semarang terkait proses advokasi yang selama ini mereka lakukan terhadap perjuangan warga Rembang. Dalam paparannya, Zainal, perwakilan LBH Semarang, mengatakan bahwa setiap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi harus memiliki Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Namun dalam faktanya, provinsi Jawa Tengah dan seluruh kabupaten yang terdapat di dalamnya tidak satupun yang memiliki KLHS. Hal inilah yang menurutnya konsep tata kelola ruang wilayah Jawa Tengah sangat rawan disusupi dan diubah untuk menjadi kawasan pertambangan. Jikapun di dalam RTRW terdapat poin yang mengatur tentang kawasan peruntukan pertambangan, ia menyarankan kepada seluruh peserta untuk mengecek kembali fungsi kawasan tersebut dalam RTRW sebelumnya.

Gua Meledak, Durian Menghilang

Di hari terakhir, Kamis (19/1), Rayhal, salah seorang peserta dari Aceh yang hadir dalam kegiatan ini mengatakan bahwa industri semen di daerahnya, yakni Lhoknga, Aceh Besar, telah bercokol lebih dari 30 tahun. Perusahaan yang menguasainya bernama PT Lafarge Holcim, perusahaan yang juga beroperasi di lebih dari 90 negara.

Menurutnya, dampak yang telah ditimbulkan oleh industri semen di daerahnya adalah banyak lahan pertanian padi milik warga kini rusak parah dan berubah menjadi lahan yang tidak produktif. Selain itu banyak kawasan karst lain di daerahnya juga terus terancam rusak.

Dia menambahkan masuknya industri semen selain telah merusak kawasan karst dan pertanian  padi, juga telah melumpuhkan perkebunan warga. “Dulu selain menanam padi, petani juga menanam tanaman komoditas cengkeh. Harga jualnya cukup tinggi, menjanjikan dan cukup membantu jika harga padi sedang anjlok. Namun, kini berubah, banyak petani tidak bisa menanam cengkeh lagi, hanya bergantung pada padi, itupun dengan kondisi yang cukup memprihatinkan”, ungkapnya.

Bahkan petani padi ini kini harus menelan derita tambahan, yakni harus dipaksa berhenti beraktivitas di sawah saat peledakan karst yang dilakukan oleh pabrik semen di sekitar mereka tengah berlangsung. “Warga akan menerima tanda berupa bunyi sirine jika pabrik akan melakukan peledakan karst. Dan itu berarti petani harus berhenti beraktivitas di sawah”, tambahnya.

Penghancuran kawasan karst juga melenyapkan gua-gua yang ada. Sementara gua-gua tersebut merupakan kantung pupuk gratis bagi petani setempat. Pupuk-pupuk yang dimaksud berasal dari kotoran kelelawar yang terdapat di gua tersebut. Namun, sejak masuknya industri semen, sumber pupuk gratis tersebut rusak dan punah. Dari sinilah cerita petani setempat menggunakan pupuk kimia secara massal terjadi.

Selain itu, hilangnya kelelawar juga mempengaruhi produktivitas panen buah durian milik petani. “Kelelawar selain memberi pupuk bagi petani, juga membantu pembuahan pohon-pohon durian. Kini 2 hal yang menjadi sumber pendapatan warga menghilang dan tidak akan kembali selamanya akibat industri semen” tegas Rayhal.

Pemusnahan kaum tani ini kini terus meluas di kawasan sekitar pabrik semen yang berada di Lhoknga dan sekitarnya. Pasalnya, sumber-sumber air pertanian, yang berasal dari sungai bawah tanah yang terdapat di kawasan karst terus dihancurkan. Petani memastikan dalam waktu dekat, krisis air untuk kebutuhan pertanian dan rumah tangga akan terus meningkat.

Bagi Rayhal, selain telah berdampak pada penurunan pendapatan ekonomi rumah tangga, industri semen di daerahnya juga telah menyebabkan penurunan kualitas kesehatan manusia dan lingkungan. Salah satu yang paling terlihat jelas adalah tingkat polusi udara yang tinggi. Dia mengatakan warna langit di daerahnya jarang sekali terlihat biru, bahkan kerap tampak hitam sepanjang waktu.

Untuk mengelabui tingkat polusi ini, pabrik semen melancarkan strategi pembuangan debu sisa pembakaran pada pukul 03.00 WIB hingga 04.00 WIB, saat warga masih terlelap tidur. Namun terkadang, debu hitam yang disemburkan oleh cerobong pabrik semen tersebut masih dapat terlihat jelas pada pukul 06.00 pagi oleh seluruh warga sekitar.

Menurut Rayhal, cerita ini masih belum cukup, karena terdapat beberapa fakta kotor lain yang sangat tidak masuk akal. Pada tahun 2011, misalnya, saat stok batu bara milik PLTU yang mensuplai kebutuhan energi untuk pabrik semen terbakar, telah mengakibatkan sedikitnya 20 orang warga sekitar menjadi korban. Dan parahnya, untuk membersihkan sisa kebakaran tersebut, warga terdampak dipungut biaya oleh perusahaan.

Cerita ini tentunya mengundang tanya sebagian peserta yang hadir dalam kegiatan ini. “Apakah tidak ada perlawanan dari warga sekitar, walaupun perlawanan itu tergolong kecil?”, tanya salah seorang peserta. Pertanyaan ini sempat mengheningkan suasana tanya jawab antar peserta yang sedang berlangsung dalam kegiatan ini.

Rayhal menjawab “Perlawanan itu pasti ada. Namun yang patut dicatat, situasi di Aceh mungkin sedikit berbeda dengan daerah-daerah lainnya. Situasi politik masa lalu Aceh terkadang masih meninggalkan sedikit trauma bagi sekelompok warga untuk melakukan perlawanan terbuka saat ini, khususnya jika harus berhadapan dengan aparat keamanan. Apalagi, jika harus dihadapkan dengan situasi di mana perusahaan berhasil menghimpun kekuatan eks kombatan GAM untuk berpihak kepada pabrik semen, situasinya pasti akan tambah rumit” Tegasnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *