Lipsus

Menyusun Narasi Perlawanan yang Tidak Biasa

By  | 
Prev2 of 6Next
Gunakan ← → (tanda panah) untuk melanjutkan

Kelas Belajar Pertama

Pukul 9 pagi, sesaat setelah seluruh peserta menyantap sarapan pagi dan mandi, semuanya sudah kembali bersiap untuk memulai kegiatan pertama. Dari jadwal yang telah ditentukan, sesi kegiatan pertama adalah tukar informasi dan perkembangan dari tiap-tiap komunitas. Untuk memulai acara, Mbah Watin ARMP selaku anggota panitia memberikan ucapan kalimat selamat datang kepada seluruh peserta kegiatan dan sekaligus menjadi penanda dibukanya acara sekolah tani. Selanjutnya acara dipandu oleh moderator yang terlebih dahulu memberikan beberapa pengantar dan pemanasan. Diantaranya berisikan tentang latar belakang terselengaranya sekolah tani FKMA, hasil keputusan kongres kedua FKMA dan beberapa hal teknis penyelenggaran sekolah tani FKMA. Perlu diketahui bahwa penyelenggaran sekolah tani ini merujuk pada hasil keputusan kongres kedua FKMA, yang penyelenggaraanya ditujukan sebagai ruang berbagi pengetahuan antar komunitas dan sekaligus dalam rangka memperkuat solidaritas. Di dalam penyelenggaraannya, acara ini juga tidak seperti acara-acara yang diselenggarakan oleh NGO yang berbasis donor, melainkan berbasis donasi sukarela dan tidak terikat.

Moderator kembali mengingatkan tentang posisi gerakan FKMA dalam ranah gerakan sosial umumnya. Ia menegaskan bahwa FKMA terbentuk bukan untuk memilih kompromi dengan negara ataupun korporasi lewat win-sin solution atau skema lain yang pastinya berujung pada ketidakadilan. Seterusnya FKMA juga akan setia pada gerakan ekstraparlementer. Hal ini tentunya bukan keputusan sepihak yang hendak mengintervensi pola-pola gerakan tiap-tiap anggota forum, namun karena memang semangat itulah FKMA dulu dilahirkan.

Dalam sesi tukar informasi ini, komunitas warga Jepara yang mendahului untuk bercerita. Sugeng dari Forum Nelayan (Fornel Jepara), menceritakan bahwa saat ini mereka sedang disibukkan dengan agenda gugatan PTUN terhadap rencana pertambangan pasir besi PT. Alam Lestari yang dirasakan telah mengancam kehidupan mereka dan nelayan sekitarnya, terutama wilayah Kecamatan Bandung Harjo. Gugatan ini mereka lakukan selepas keluarnya putusan “bebas bersyarat” terhadap rekan-rekan mereka yang sebelumnya dikriminalisasi oleh PT Guci Mas (satu perusahaan dengan PT Alam Lestari). Di tengah himpitan tersebut, mereka juga dihadapkan dengan berbagai persoalan yang datang dari sumber masalah utama, yaitu perusahaan pertambangan pasir besi. Perusahaan terus menerus melakukan adu domba agar warga tidak selalu kompak untuk datang ke Semarang menghadiri persidangan gugatan PTUN. Selain itu, perusahaan juga saat ini gencar memberikan berbagai tawaran CSR kepada sekelompok warga di daerah mereka, ungkap Sugeng. Baginya walaupun warga cukup solid, tapi terkadang skema CSR tersebut bisa saja menjebak warga yang secara umum berpenghasilan sangat kecil. Kekhawatiran ini tentunya sangat beralasan, mengingat isu pertambangan pasir besi di wilayah mereka diisukan akan terus diperpanjang hingga tahun 2006.

Prev2 of 6Next
Gunakan ← → (tanda panah) untuk melanjutkan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.