Prev4 of 6Next
Gunakan ← → (tanda panah) untuk melanjutkan

Berikutnya Watin dari ARMP yang berbagi cerita. Ia merupakan salah satu pendiri ARMP dan orang yang paling giat melakukan penolakan penggusuran di Parang Kusumo. Sehari-harinya ia menjadi pedagang angkringan di Parang Kusumo dan ia juga aktif di bidang seni, yaitu menjadi dalang. Ia menjelaskan bahwa perkembangan terakhir adalah pemerintah kabupaten Bantul semakin giat untuk terus menghancurkan usaha perekonomian warga Parang Kusumo. Sebagian besar anggota ARMP mencukupi kehidupan sehari-harinya dengan cara mendirikan usaha hiburan karaoke dalam skala kecil. Namun menurutnya usaha ini terus digebuk dengan alasan tidak memiliki ijin. Bagi mereka dengan tetap mengusahai lahan lewat berdagang ataupun mendirikan usaha hiburan adalah bagian dari bentuk perlawanan mempertahankan tanah. Menghadapi situasi seperti ini, perlawanan tetap mereka jalankan dengan berbagai cara. Beberapa waktu yang lalu, warga dan anggota ARMP sudah berusaha untuk bertemu dengan pemerintah setempat, namun tetap saja usaha tersebut tidak membuahkan hasil apapun.

Setelah Watin, kini Bambang dari Blora yang meneruskan sesi. Ia merupakan perwakilan Serikat Petani Blora Selatan (SPBS), sebuah organisasi yang kini gencar melakukan perlawanan terhadap privatisasi air di Blora. Ia tinggal di sebuah kawasan yang disebut sebagai cekungan Randu Blatung purba. Di kawasan tersebut terdapat sumber air dalam jumlah yang berlimpah dan menopang kehidupan puluhan ribu petani. Namun menurutnya, kini petani merasa resah setelah kehadiran Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) yang hendak merampas air tersebut untuk proses produksi pertambangan minyak dan gas bumi di wilayah mereka. Hal inilah yang selanjutnya memunculkan perlawanan secara massif terhadap proyek tersebut. Dalam perjalanan perjuangan SPBS, ia menuturkan bahwa banyak tantangan baru yang mereka hadapi. Salah satunya adalah menurunnya semangat generasi muda untuk bertani. Bahkan sebagian dari generasi muda di kampungnya kini sudah mulai mau bekerja di perusahaan yang pada awalnya telah disebut sebagai musuh bersama. Menghadapi hal yang demikian, ia dan rekan-rekannya di SPBS mendirikan sebuah sanggar “anak petani”. Sanggar tersebut diharapkan dapat menjadi ruang belajar dan refleksi bagi masa depan pertanian di kampungnya.

Terakhir, Linggo dari Sumedang yang giliran bercerita. Ia berasal dari Kelompok Tani Berdikari, sebuah organisasi yang bermarkas di Sumedang, Jawa Barat. Konflik di tempatnya ia ceritakan bermula dari perampasan tanah warga oleh Perhutani. Namun jika dilacak kebelakang, tanah yang dikuasai Perhutani tersebut merupakan hasil pengalihan dari perampasan tanah yang sebelumnya dilakukan oleh pemerintah kolonial. Dan seperti dalam kasus-kasus yang lain, perlawanan di daerahnya baru menguat setelah jatuhnya rejim otoritarian Orde Baru. Ia mengatakan bahwa Kelompok Tani Berdikari baru berhasil merebut kembali tanah dari Perhutani setelah Soeharto tumbang, dan kini jumlah lahan yang dikuasai adalah seluas 400 hektar. Dari jumlah luas tersebut, yang baru dikelola secara maksimal masih seluas 170 hektar. Mereka mengusahainya dengan menanam kopi di atasnya. Ia menambahkan, keterbatasan dana dalam pengadaan bibit menjadi pokok persoalan mengapa sebagian lahan masih tidak di kelola untuk ditanami kopi. Menghadapi situasi ini, mereka mencari jalan keluar lewat pendirian koperasi. Harapannya adalah, koperasi yang mereka bangun dapat mempercepat proses pengadaan bibit untuk lahan yang tersisa.

Prev4 of 6Next
Gunakan ← → (tanda panah) untuk melanjutkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.