Berita

Musisi dan Seniman Serukan Solidaritas Untuk Warga Penolak Bandara

By  | 

Yogyakarta-Malam itu (14/12) terasa berbeda, bintang-bintang menyala terang tak terhalang awan di langit Yogyakarta. Rembulan pun terlihat menampakan keindahannya.

Di waktu yang sama, juga terlihat antusias masyarakat kota Yogyakarta mendatangai Kedai Kebun Forum (KKF), lokasi acara “Gugur Bumi, Gugur Pertiwi,” sebuah acara solidaritas untuk warga Kulon Progo-penolak bandara NYIA (New Yogyakarta International Airport) yang kini nasibnya semakin terancam.

Rangkaian acara yang dikemas dengan simbol-simbol perlawanan tersebut mendatangkan musisi dan seniman yang bergiat untuk kepentingan rakyat. Mulai dari Fajar Merah, Iksan Skuter, Deugalih, JRX SID, Melanie Subono, Danto Sisir Tanah, Frau dan Gunawan Muryanto.

Saya mencoba untuk menjelajahinya lebih dalam, agar bisa menikmati suasana malam solidaritas tersebut. Namun agaknya jalan menuju panggung utama yang melewati tangga begitu padat, tak ada celah untuk masuk. Dari hal ini nampak masyarakat kota Yogyakarta begitu antusias untuk dapat menikmati lantunan musik dengan irama perjuangan.

Chek sound dan stem gitar mulai terdengar. MC mulai memanggil seseorang yang cukup dikenal di Bali. Tak ingin menunggu lama, pembukaan acara segera dimulai, lagu pertama dari JRX pun berkumandang. Dalam hitungan menit ia sempat membuat penonton yang berada di luar panggung penasaran. Penonton mulai berdesakan untuk melihatnya bermain. Lokasi acara semakin tidak terarahkan.

Setelah penampilannya, acara dilanjutkan dengan musik dari Deugalih dan Iksan Skuter yang juga tak kalah bersemangat, penonton semakin dibuat bersorak ria. Ruangan terus menggema mengikuti alur sang pemusik. Seruan solidaritas dan tolak bandara NYIA tak kalah keras.

Di sela-sela acara tersebut juga terdapat orasi dari relawan tolak bandara yang setiap hari membantu warga Kulon Progo mempertahankan ruang hidup mereka. Patut diketahui, aktivitas para relawan tersebut diantaranya adalah: membersihkan masjid, membenahi jalan yang dilubangi oleh pihak Angkasa Pura I dan kadang ikut bertani membantu warga penolak bandara NYIA di ladang mereka.

Haidar selaku perwakilan relawan menyampaikan situasi yang terjadi di lokasi pembangunan bandara NYIA. Baginya, setiap hari relawan melihat warga selalu cemas.

“Warga tidak berladang, tiap hari warga tidur larut malam bahkan tiap hari melihat tangisan,” Ucap Haidar dalam orasinya.

Ia juga mengungkapkan jika tindakan aparat kepolisian dan TNI bersama petugas Angkasa Pura I terus berupaya melakukan tindakan intimidasi. Hal tersebut dibuktikan dengan tingginya intensitas petugas Angkasa Pura I datang ke rumah warga untuk menyampaikan pentingnya membangun bandara.

“Tiap hari kita mendengar aparat TNI mengintimidasi. Mereka juga menggunakan preman untuk merebut tanah warga” tuturnya.

Haidar mengatakan jika sampai detik ini warga masih tetap bertahan, dan membutuhkan banyak solidaritas, maka dari itu ia menyerukan kepada seluruh masyarakat dan mahasiswa untuk mendukung sepenuhnya perjuangan warga.

“Kita dukung warga untuk ke ladang, mendukung warga beraktivitas, mendukung tolak bandara, kenapa? Karena mereka punya hak,” kata Haidar bersemangat.

Musisi: Tanah adalah Tanah

Sejak terjadinya kekerasan terhadap warga penolak bandara dan penangkapan 15 relawan pada tanggal 5 Desember 2017 di Kulon Progo, solidaritas terus bermunculan di tiap kota. Hampir seluruh daerah menyuarakan dukungan perjuangan kepada masyarakat Kulon Progo yang gigih berjuang tersebut. Pagelaran yang dibuat mulai dari panggung musik, orasi, hingga aksi demonstrasi di kota masing-masing.

Iksan Skuter musisi asal Malang yang dikenal dengan lagu-lagu bertemakan kerakyatan saat ditemui di sela-sela acara mengungkapkan bahwa kasus Kulon Progo telah memperlihatkan negara hanya mengejar uang tanpa memperhatikan dampak yang dimunculkan dari pembangunan bandara NYIA. Bagi Iksan, lokasi pembangunan bandara NYIA merupakan lahan pertanian produktif dan sumber mata pencaharian warga.

“Mereka sudah mapan sebagai petani, sudah sejahtera dengan bertani. Tapi malah dipaksa pindah untuk mengejar angka-angka (uang-red),” Ucap Iksan.

Karena menyadari akan pentingnya semangat perlawanan, ia menyerukan kepada semua masyarakat Indonesia untuk tetap meberikan dukungan moril dan material dalam bentuk apapun. “Saya sebagai seniman musik menyuarakan apa yang terjadi di Indonesia lewat karya saya. Saya masih konsisten dengan apa-apa yang layak disuarakan lewat lagu ini,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Fajar Merah anak Wiji Thukul, ia mengungkapkan jika dirinya juga ikut berjuang membela petani. Baginya pemerintah haruslah mementingkan petani. Dari petani muncul kehidupan pangan yang dapat membantu kita menikmati hasil bumi pertiwi.

Fajar juga menyatakan pada dasarnya tanah tidak bisa digantikan dengan apapun. Tanah tetaplah akan menjadi tanah. Ketika muncul bangunan hal tersebut baginya adalah musibah. Pada kasus Kulon Pogo ia menyadari jika petani sangat butuh tanah bukan bandara.

“Kita semua perlu tahu bahwa tanah tidak bisa diganti apa-apa. Angkasa Pura harus sadar jika tanah itu lebih dibutuhkan ketimbang bandara,”.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *