Opini

Nelayan Kehilangan Sampan

By  | 

“Sebuah Cerita dari Pesisir Surabaya”

Oleh: Muhammad Afandi

Kuasa Provinsi Geologi

Dalam sebuah dokumen U.S. Geological Survey (USGS), Open-File Report 97-470F, yang berjudul Maps Showing Geology, Oil and Gas Fields, and Geologic Provinces of The Asia Pasific Region, ditunjukkan secara terang benderang potensi sebaran ladang gas dan minyak yang berada di darat ataupun laut, yang terdapat di seluruh kawasan Asia Pasifik. Dalam peta tersebut, seluruh ladang minyak dan gas diberi nama dan batas-batas khusus, dan membentuk wilayah administratif yang disebut sebagai “provinsi geologi”. Provinsi geologi yang ada dalam peta itu tentunya berbeda dengan nama-nama provinsi yang selama ini kita kenal dalam peta wilayah administratif sebuah negara. Bahkan, dalam sebuah provinsi geologi, wilayahnya bisa mencakup 2 atau 3 provinsi yang tersusun dalam peta wilayah administrasi negara.

Jika melihat pulau Jawa dalam peta tersebut, kita akan menemukan bahwa lepas pantai dan daratan bagian utara sebelah timur, ataupun bagian barat pulau Jawa, dipenuhi oleh rerimbunan titik-titik berwarna merah (ladang gas) dan titik-titik berwarna hitam (minyak). Wilayah timur pulau Jawa ini disebut dengan nama East Java Basin; provinsi 3809. Sementara bagian barat pulau Jawa dinamai dengan Northwest Java Basin; provinsi 3824.

Dapat ditebak bahwa titik-titik merah dan hitam yang tersebar di wilayah tersebut merupakan kawasan komoditas yang bernilai ekonomi (uang) tinggi. Namun, di sisi lain juga menegaskan bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah yang paling rentan kerusakan sosial-ekologisnya, karena ratusan korporasi dari berbagai negara kini bercokol di sana. Di provinsi East Java Basin misalnya, yang beroperasi khusus di wilayah Madura Kepulauan, setidaknya kini tercatat ada 34 korporasi yang bercokol di 17 blok wilayah produksi.

Situasi ini mengakibatkan kawasan pesisir selat dan kepulauan Madura beserta penduduk yang tinggal di sekitarnya berada dalam ancaman yang pasti. Hal ini setidaknya dapat dilacak dalam kurun waktu enam tahun belakangan ini.

Pada tanggal 28 Agustus 2010, misalnya. Sebuah perusahaan tanker milik PT Kangean Energi Indonesia (KEI) meledak dan menumpahkan sedikitnya 80.000 barel minyak mentah di perairan laut Sepanjang, Sapeken, Sumenep. Perairan Madura pun berubah menjadi hitam pekat akibat peristiwa itu. Ledakan kapal tanker ini juga menyebabkan beberapa rumah warga ikut rusak.

Sekedar untuk diketahui, PT KEI adalah sebuah perusahaan yang dikelola secara bersama oleh Mitsubishi Corporation, Japan Petroleum Exploration (Japex), dan PT Energi Mega Persada Tbk (Bakrie Group). PT KEI merupakan perusahaan migas terbesar di Sumenep, yang wilayah operasinya mencakup Pagerrungan Besar, Pagerrungan Kecil, Pulau Sadulang, dan Pulau Sepanjang. Menurut keterangan warga yang tinggal di pulau Sepanjang, pasca perisitiwa itu, pulau yang mereka diami rusak parah, beberapa tanaman menjadi kering, dan kawasan tangkap nelayan tradisional menjadi tercemar.

Enam tahun kemudian (Agustus 2016), padatnya aktivitas pertambangan di wilayah Madura Kepulauan kembali memberikan petaka kepada masyarakat sekitarnya. Hal ini bermula saat kegiatan pemasangan pipa gas yang dilakukan oleh Perusahaan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) di Sampang, Madura, telah merusak rumpon (alat tangkap) milik nelayan pulau Mandangin.

Maps Showing Geology, Oil and Gas Fields,

and Geologic Provinces of The Asia Pasific Region

usgs

Sumber: USGS

Nasib serupa juga dialami oleh Nelayan pesisir selat Madura yang tinggal di Nambangan, dan Cumpat, Kelurahan Kedung Cowek, Surabaya. Menurut mereka, tingginya lalu lintas transportasi laut dan adanya kegiatan pertambangan pasir besi di Selat Madura, kawasan tangkap mereka terus menciut, serta tak sedikit alat-alat tangkap (jaring) yang mereka pasang rusak oleh kapal-kapal yang melintas baik disengaja maupun tidak.

Mereka menambahkan, meluasnya kegiatan pertambangan di Madura Kepulauan juga membawa dampak lain di darat, yakni menyebabkan datangnya banjir rob. Daratan yang mereka diami tiap tahun terus mengalami penyusutan. Lalu, bagaimana mereka menghadapi kerusakan dan penciutan ruang hidup yang dipicu oleh kejahatan korporasi ini? Dan bagaimana kuasa peta geologi ini mempertontonkan pelumatan dan penundukan negara dan batas-batas administratifnya yang dilakukan oleh rejim dagang migas?

Cerita warga pesisir Kedung Cowek, Surabaya, dibawah ini mencoba menjawabnya.

Kedung Cowek dalam Beberapa Arti

Suradianto, seorang warga, menuturkan bahwa terbentuknya Kedung Cowek memiliki sejarah yang cukup panjang. Cerita yang ia dapatkan dari sesepuh kampung mengatakan bahwa pada mulanya Kedung Cowek adalah sebuah kampung, yang letaknya berada di sebuah lokasi yang sekarang di sebut sebagai Benteng Kedung Cowek. Letak Benteng tersebut berada persis di tepi Selat Madura yang tak jauh dari sisi timur jembatan Suramadu. Dengan dibangunnya benteng tersebut, warga kampung Kedung Cowek menjadi tergusur, dan pindah ke bagian barat (kulon).

Benteng ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1900-an. Benteng ini digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai benteng pertahanan strategis dan gudang senjata saat menghadapi serbuan tentara Jepang dalam Perang Pasifik. Dari cerita yang beredar, benteng tersebut berhasil dikuasai Jepang, dan dikelola sebagai markas baru dalam menghalau serangan pasukan Inggris dan Sekutu.

Menurut sesepuh kampung yang ditelusuri oleh Suradianto, nama Kedung Cowek memiliki sejumlah arti. Kedung artinya tanah yang menurun dan memiliki fungsi sebagai tempat penampungan air. Istilah tersebut berasal dari letak kampung Kedung Cowek awal yang terletak pada ketinggian sangat rendah. Sementara owek menurutnya berasal dari kata cobek, alat dapur yang biasa berfungsi untuk menghaluskan bumbu. Istilah ini pada mulanya lahir saat peristiwa tenggelamnya sebuah perahu di sekitar kampung Kedung Cowek yang mengangkut cobek. Pasca peristiwa tersebut diabadikanlah nama Kedung Cowek untuk menyebut kampung Kedung.

Tak jauh dari kampung Kedung Cowek, terdapat sebuah kampung yang bernama Nambangan. Kata nambangan sendiri berasal dari penyebutan terhadap kebiasaan penduduknya yang sering ikut menumpang perahu. Nambangan, menurut penduduk setempat memiliki arti “numpang” perahu orang lain untuk ikut melaut. Karena kebiasaan tersebut, wilayah kampung tersebut selanjutnya dikenal dengan nama Nambangan dan sering menjadi tempat transit nelayan-nelayan lain di sekitar wilayah selat Madura. Berdekatan dengan kampung Nambangan, terdapat sebuah kampung yang disebut sebagai Cumpat. Kata Cumpat berasal dari kata cupet, artinya adalah sempit dan terbatas. Istilah ini digunakan untuk menyebut wilayah dan kondisi kampung Cumpat yang memang memiliki luas sangat kecil dan sangat padat.

Kini, kampung Kedung Cowek, Nambangan, dan Cumpat berada dalam wilayah kesatuan administrasi Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya. Jumlah penduduknya yang tercatat pada tahun 2016 mencapai 5781 jiwa.

Sebelumnya, Kedung Cowek dan ratusan kelurahan lainnya di Surabaya sebenarnya masih disebut dengan nama “desa”. Sebelum tahun 1978, di Surabaya terdapat 38 lingkungan (selanjutnya akan menjadi kelurahan) dan 103 desa. Namun, pasca lahirnya UU No.5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dan Keputusan Menteri Dalam Negeri No.140-502 tahun 1980 tentang Penetapan Desa Menjadi Kelurahan, Peraturan Daerah Kotamadya Surabaya No. 4 tahun 1982 tentang Pembentukan Lingkungan Dalam Kelurahan, 38 lingkungan dan 103 desa tersebut diubah statusnya seluruhnya menjadi Kelurahan.

Perubahan status desa menjadi kelurahan sempat menuai protes dari beberapa perangkat desa saat itu. Karena perubahan status tersebut membawa akibat berupa seluruh aset (tanah) desa, yang dalam hal ini disebut sebagai “tanah ganjaran”, diambil alih menjadi aset Pemerintah Kota Surabaya. Tak jarang aset-aset desa yang jumlahnya mencapai ribuan hektar tersebut kini banyak berpindah tangan dari milik Pemkot Surabaya menjadi milik korporasi-korporasi yang bergerak dalam bidang industri ataupun real estate.[1]

Tipe, Alat Produksi, Wilayah Tangkap, dan Kelas Sosial Nelayan

Nambangan adalah sebuah kampung yang terletak di pesisir Selat Madura, Surabaya. Kampung ini dulunya disebut sebagai Dusun Nambangan saat ia dipersatukan lewat satuan wilayah admisnistratif Desa Kedung Cowek. Namun saat Kedung Cowek diubah statusnya menjadi Kelurahan, Dusun Nambangan diubah menjadi RW III. Namun, hingga kini warga yang bermukim Nambangan masih sering menggunakan kata dusun atau kampung untuk menyebut wilayahnya.

Jumlah penduduknya saat ini (Oktober 2016) menurut catatan statistik yang tersimpan di Ketua RW mencapai 1245 jiwa (329 KK). Dari jumlah tersebut, terdapat 120-an orang yang memilih pekerjaan sebagai nelayan. Dalam angka ini, terdapat sedikitnya 5 persen yang dikategorikan sebagai buruh nelayan (10 orang). Kategorisasi tersebut berdasarkan pada faktor kepemilikan alat produksi (perahu) yang dipunyai.

Di kampung Nambangan terdapat 3 tipe nelayan berdasarkan jenis alat tangkapnya, yakni:

  1. Nelayan jaring
  2. Nelayan petorosan
  3. Nelayan selam

Menurut Syukron, pengurus Kesatuan Nelayan Tradional Indonesia (KNTI) asal Nambangan, jumlah nelayan jaring di Nambangan adalah sebanyak 100 orang, petorosan 15 orang, dan selam 5 orang.

Dalam menjalankan aktivitasnya, nelayan jaring Nambangan menggunakan jaring sebagai alat tangkap utama. Jaring yang digunakan terdiri dari berbagai macam jenis dan memiliki fungsi masing-masing, disesuaikan dengan jenis ikan ataupun udang yang akan ditangkap (lihat tabel di bawah).

Pada umumnya nelayan jaring Nambangan melakukan aktivitas melautnya di wilayah Selat Madura, yang terbentang di sebelah timur Jembatan Suramadu. Mereka setiap harinya akan mengendarai perahu mereka ke wilayah-wilayah tangkap yang berjarak minimal 1 mil dari pesisir Kenjeran (pulau Jawa) hingga mendekati 1 mil dari pulau Madura. Dalam melakukan kegiatan tangkapnya di lautan, nelayan jaring sangat bergantung dengan faktor angin dan arus. Menurut Syukron, jika musim angin timur tiba, maka dengan mesin bertenaga 9 paarden kracht (PK), perahu membutuhkan waktu 2 jam untuk tiba di wilayah tangkap. Namun jika saat musim angin barat, waktu yang dibutuhkan hanya berkisar 1 jam. Nelayan jaring biasanya akan menghabiskan 7 jam untuk sekali melaut, misalnya, berangkat pukul 5 pagi, pulang pukul 12 siang.

Oleh karena sangat bergantung dengan keadaan arus dan angin, maka waktu untuk memulai bekerja bagi nelayan jaring untuk pergi melaut terus berubah setiap harinya. Namun walaupun demikian, jumlah waktu kerja tetap sama. Biasanya pergeseran waktu untuk memulai bekerja tersebut tidak memiliki jarak waktu yang cukup jauh, pada umumnya hanya berjarak 1 jam.

Layaknya seperti daratan, di wilayah Selat Madura ini juga terdapat beberapa nama untuk menyebut atau menandai satu lokasi areal tangkapan bagi nelayan jaring. Penamaan areal tangkap ini tidak ada batasan ketat dengan ukuran pasti seperti layaknya penamaan satu batas wilayah yang umumnya terjadi di darat. Mereka membentuk semacam administrasi kewilayahan dan ruang sendiri atas laut, dan siapapun berhak untuk mendapatkan kelimpahan atas hasil laut yang ada. Dengan demikian, nelayan asal Nambangan, Cumpat atau wilayah lainnya diperbolehkan untuk mengambil hasil laut di wilayah-wilayah tangkap yang ada.

Mungkin penamaan atas satu wilayah ini bisa saja berubah saat kawasan tersebut telah rusak dan tidak bisa diharapkan lagi untuk menghasilkan tangkapan yang baik. Wilayah tangkapan nelayan jaring Nambangan ini tersebar di beberapa titik, yakni Nambangan, Jawan, Keputih, Cepot, Sukolilo, Kuanyar, dan Bacon. Setiap harinya, mereka akan pergi melaut ke titik-titik tersebut untuk mengais hasil tangkapan. Mereka akan memasang jaring, lalu membiarkannya selama 3-4 jam, dan selanjutnya jaring-jaring tersebut akan diangkat kembali ke perahu.

Selain alat tangkap jaring, alat produksi penting lainnya adalah perahu. Pada umumnya perahu yang dimiliki oleh nelayan jaring Nambangan memiliki ukuran: panjang 7,5 meter hingga 8 meter, dan lebar 1,5 meter. Perahu-perahu ini umumnya terbuat dari kayu jati. Perahu-perahu tersebut biasanya dibeli dalam keadaan setengah pakai, dengan harga berkisar 15 juta sampai dengan 20 juta rupiah dari nelayan asal Madura dan sekitar wilayah pesisir Surabaya. Menurut Syukron, harga baru dari kapal-kapal tersebut bisa mencapai 30 juta rupiah.

Menurut Syukron dan Gufron, sebelum tahun 1980-an, nelayan Nambangan masih membuat perahunya sendiri, dengan masa pengerjaan rata-rata mencapai 6 bulan. Saat itu perahu yang dibuat masih menggunakan layar, belum bertenaga mesin. Namun kebiasaan tersebut punah seiring memasuki tahun 1990-an. Menurut mereka tidak ada satu orangpun yang mewarisi keahlian untuk membuat kapal dari generasi sebelumnya. Seiring bergantinya perahu layar ke mesin, juga terdapat beberapa perubahan penting, seperti diungkapkan salah satunya, “Saat kapal masih bertenaga angin dan layar, pada umumnya pembuatan perahu masih dikerjakan secara gotong royong, termasuk dalam pembuatan rumah. Namun saat kapal sudah bertenaga mesin, gotong royong pun menghilang”.

Mesin-mesin yang dipakai umumnya bertenaga mesin diesel, dengan kekuatan antara 6,5-8,5 PK ataupun mesin tenaga bensin dengan kekuatan 8-9 PK. Mesin-mesin tersebut dibeli oleh nelayan Nambangan dalam keadaan setengah pakai, dengan kisaran harga mencapai 3-4 juta rupiah untuk mesin diesel, dan 1-2 juta rupiah untuk mesin tenaga bensin. Di kampung Nambangan sendiri, terdapat 1 orang nelayan yang memiliki teknik dan kemampuan reparasi mesin, sehingga jika terjadi kerusakan mesin, seluruh nelayan akan menggunakan jasanya untuk memperbaiki kerusakan pada mesin mereka.

Setiap nelayan di Nambangan, menurut Syukron, memiliki alat tangkap jaring berjumlah 12 set jaring. Harga untuk tiap jaringnya berkisar mencapai 400 ribu rupiah.

Sementara untuk buruh nelayan, mereka hanya memiliki jaring, tidak memiliki perahu. Dalam melakukan kegiatannya, mereka biasanya menumpang dengan nelayan yang memiliki perahu. Di Nambangan kelompok seperti ini biasanya tak lain merupakan anak ataupun saudara dari  nelayan yang mereka tumpangi.

Setiap nelayan jaring yang memiliki perahu, ongkos produksi yang dikeluarkan tiap harinya untuk sekali pergi melaut minimal mencapai 40 ribu rupiah. Pengeluaran tersebut untuk membiayai pembelian bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 3 liter, dan sebungkus rokok. Sementara bagi buruh nelayan, ongkos produksi yang dikeluarkan berupa memberikan 30 persen hasil tangkapnya kepada  pemilik perahu sebagaimana diungkapkan oleh Syukron.Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor hubungan kekerabatan. Baginya, angka 30 persen tersebut juga tidak terlalu ketat.

Lalu bagaimana dengan model praktik “penangkapan hasil laut” nelayan petorosan di Nambangan? Dalam melakukan aktivitasnya sebagai nelayan, alat produksi yang dibutuhkan oleh nelayan petorosan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan nelayan jaring, yakni perahu dan jaring. Namun yang sedikit membedakannya adalah jenis jaring yang dipakai oleh nelayan petorosan memiliki ukuran yang lebih halus. Sehingga beberapa jenis ikan ataupun udang yang ditangkap memiliki perbedaan dengan hasil tangkapan nelayan jaring (lihat tabel 1 di bawah). Selain itu, perbedaan lainnya adalah nelayan petorosan membutuhkan kayu yang berfungsi sebagai “cagak” untuk menempatkan tali pengikat jaring di wilayah tangkap mereka. Kayu-kayu tersebut berasal dari kayu pohon kelapa.

Di wilayah tangkap nelayan petorosan, akan terlihat secara jelas barisan rentangan kayu-kayu yang berdiri tegak, dan antara kayu yang satu dengan kayu lainnya saling terhubung dengan tali. Jarak antara kayu yang satu dengan kayu yang lainnya kira-kira mencapai 5-6 meter dan panjang rentangan kayu secara keseluruhan di satu kawasan areal tangkap tersebut bisa mencapai panjang hingga 500 meter. Kayu-kayu tersebut ditancapkan secara gotong royong oleh kelompok nelayan Nambangan. Dari beberapa informasi yang diberikan oleh nelayan Nambangan, kayu-kayu tersebut mampu bertahan hingga 5 tahun.

Foto Nelayan Petorosan 2

Sumber: Primer

Menurut Haridin, nelayan petorosan asal Nambangan, setiap nelayan petorosan di Nambangan biasanya akan memasang jaringnya pada 5 kayu. Setiap 1 jaring akan dipasang di setiap rentangan 1 kayu. Ia menambahkan banyak kayu cagak di wilayah tangkap nelayan petorosan kini diganti menjadi bambu. Hal ini disebabkan oleh faktor mulai sulitnya mencari kayu pohon kelapa. Wilayah tangkapan nelayan petorosan Nambangan juga terletak di wilayah yang sama dengan nelayan jaring (Selat Madura), namun berada di titik-titik yang berbeda dan juga memiliki nama-nama yang tidak sama dengan wilayah tangkap nelayan jaring. Adapun wilayah tangkap nelayan petorosan Nambangan tersebar di beberapa titik, yakni:  Kojoran, Jawan Pinggir, Jawan Tengah, Jawan Wetan, Wlingi, Karang Tengah.

Nelayan petorosan sangat bergantung penuh dengan faktor arus dalam memulai aktivitasnya untuk pergi melaut. Dengan demikian waktu yang tepat untuk pergi ke laut akan mengikuti pasang surutnya arus. Sehingga jam pergi melaut tiap harinya terus berubah, seperti nelayan jaring. Pada umumnya, setiap hari mereka akan pergi saat kondisi laut sedang mengalami arus surut, dan kembali saat arus pasang.

Jika nelayan jaring dalam mendapatkan hasil tangkapannya tetap menunggu di dekat jaring, maka tidak demikian dengan nelayan Petorosan. Nelayan petorosan akan meninggalkan jaringnya saat telah terpasang, kemudian ia akan kembali ke darat. Lalu, 3 jam kemudian, jaring tersebut akan kembali didatangi dan diangkat ke perahu.

Dalam menjalankan aktivitasnya sebagai nelayan petorosan, dibutuhkan beberapa peralatan produksi utama, yakniperahu dan beberapa set jaring. Menurut Haridin, setiap nelayan petorosan Nambangan memiliki 5 set jaring. Harga tiap set jaringnya mencapai 600 ribu rupiah. Setiap harinya, nelayan petorosan mengeluarkan ongkos produksi, minimal 50 ribu rupiah. Ongkos tersebut akan dibelanjakan untuk membeli 4-5 liter BBM dan sebungkus rokok.

Selanjutnya nelayan Selam. Nelayan tipe ini adalah nelayan yang secara khusus mencari hasil laut berupa kerang dengan beragam jenis (lihat tabel 1 di bawah). Dalam menjalankan aktivitasnya, nelayan selam membutuhkan beberapa alat produksi yang lebih banyak daripada nelayan tipe jaring dan petorosan. Peralatan tersebut adalah perahu, kompresor, selang udara, masker, sarung tangan, dan pemberat badan. Menurut Syukron, penggunaan alat kompresor bagi nelayan selam baru berkembang di awal tahun 2000. Jauh sebelumnya, nelayan selam tidak menggunakan kompresor dan selang pernafasan, melainkan dengan teknik manual. Mereka hanya mengandalkan bambu yang mereka tegakkan, lalu turun ke dasar laut untuk mengambil aneka jenis kerang. Dengan teknik tersebut, tak sedikit nelayan selam mengalami beberapa pendarahan di bagian mulut dan telinga.

Berbeda dengan nelayan jaring dan petorosan, nelayan selam memiliki waktu pergi melaut yang tetap. Pada umumnya nelayan selam akan berangkat pada pukul 7 pagi dan kembali ke darat pukul 2 siang. Menurut keterangan beberapa nelayan, arus memang mempengaruhi hasil tangkapan nelayan selam, misalnya arus tenang akan menyebabkan sedikit kesulitan dalam mencari kerang. Namun hal tersebut tidak mempengaruhi jadwal kerja nelayan selam, karena penyelaman bagi nelayan selam idealnya dilakukan saat hari telah terang.

Nelayan selam juga melakukan aktivitasnya di selat Madura, timur jembatan Suramadu. Mereka memiliki beberapa lokasi penyelaman di beberapa titik, yakni Ceret, Toren, Terusdok, Wlingi, karang Tanjung, Lampu Tower (lihat tabel di bawah). Lokasi-lokasi ini tersebar 1 mil dari daratan Nambangan hingga 1 mil dari daratan Madura. Jaraknya tidak berjauhan dari lokasi nelayan jaring dan petorosan. Lokasi penyelaman yang terdekat dari Nambangan, menurut nelayan selam, berkisar setengah jam, dan yang paling jauh sekitar 3 jam.

Rata-rata tiap perahu akan dimanfaatkan oleh 2 orang nelayan selam dalam mengais nafkah di lautan. Selepas mereka sampai di lokasi penyelaman, mereka akan melakukan penyelaman masing-masing dengan peralatan yang mereka punyai. Menurut keterangan yang dihimpun dari nelayan selam, ongkos produksi yang dikeluarkan setiap perahu berkisar 100 ribu rupiah. Ongkos tersebut meliputi pembelian BBM, makan, dan rokok untuk 2 orang.

Selanjutnya adalah Cumpat. Cumpat adalah sebuah kampung yang bersebelahan langsung dengan Nambangan. Secara administratif ia dimasukkan dalam RW II, Kelurahan Kedung Cowek. Penduduk kampung Cumpat yang memilih pekerjaan sebagai nelayan jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan nelayan Nambangan. Jumlahnya mencapai 250 nelayan. Angka ini salah satunya dipengaruhi oleh jumlah kerapatan penduduk di Cumpat memang cukup tinggi. Dalam jumlah angka tersebut, menurut Qomar, nelayan asal Cumpat, terdapat 10 persen di dalamnya yang dikategorikan sebagai buruh nelayan.

Jika di Nambangan hanya terdapat 3 tipe nelayan berdasarkan jenis alat tangkapnya, tidak demikian dengan Cumpat. Menurut Kambain, ketua RW Cumpat, di Cumpat terdapat 4 tipe nelayan berdasarkan jenis alat tangkapnya, yakni:

  1. Nelayan jaring
  2. Nelayan petorosan
  3. Nelayan selam
  4. Nelayan merangkak

Menurut Kambain, jumlah nelayan Selam di Cumpat mencapai 100-120 orang, jaring 100 orang, petorosan 23-30 orang orang, dan sisanya adalah nelayan merangkak. Kambain menegaskan bahwa jumlah tipe nelayan selam adalah yang tertinggi di Cumpat.

Nelayan merangkak adalah nelayan yang umumnya didominasi oleh perempuan. Nelayan tipe ini tidak menggunakan perahu, namun menggunakan tangan sebagai alat tangkapnya. Nelayan tipe ini berburu aneka jenis kerang saat pesisir dalam keadaan surut. Menurut keterangan nelayan Cumpat, umumnya kerang yang ditangkap adalah kerang gelatik dan kukuran.

Terkait dengan tipe 1-3 (jaring, petorosan, selam) di Cumpat, menurut Kambain dan nelayan lainnya, dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaaan yang mendasar terkait dengan wilayah tangkap, cara menangkap, alat produksi, dan ongkos produksi yang dikeluarkan dengan nelayan Nambangan. Nelayan Cumpat juga menggunakan jaring yang sama, wilayah tangkap yang sama, jenis perahu yang sama, dan ongkos produksi yang juga tidak berbeda dengan nelayan Nambangan.

Begitu juga dengan buruh nelayan di Cumpat. Menurut Qomar, hubungan antara nelayan dan buruh nelayan di Cumpat sama persis dengan hubungan yang terjadi di Nambangan. Mereka biasanya akan menyerahkan 30 persen hasil tangkapan mereka kepada  pemilik perahu ataupun menggantinya dengan ikut iuran uang BBM sebelum pergi melaut. Qomar menambahkan, hal tersebut tidak berlaku secara ketat apabila memiliki hubungan kekerabatan; anak ataupun saudara. Biasanya jika tidak memiliki hubungan kekerabatan, lebih sering memakai cara yang kedua; ikut iuran BBM. Situasi ini menurutnya sangat berbeda dengan daerah-daerah pesisir lainnya, misalnya nelayan Gresik. Ia mengatakan di wilayah lainnya, setiap buruh nelayan akan dikenakan biaya iuran BBM sebesar minimal 30 ribu rupiah. “Dapat atau tidak dapat ikan, buruh nelayan akan dikenakan iuran 30 ribu rupiah”, ungkapnya.

Tabel

Nelayan Alat Tangkap Jenis yang Dihasilkan Wilayah Tangkap
Jaring Jaring Gebangan, Jaring Teri

Jaring Banton

Jaring Gondrong, Jaring Udang

Ikan bulu ayam, Ikan bulu bebek

Ikan kakap

Udang, Gelomo, dan Kacangan

 

Nambangan, Jawan, Keputih, Cepot, Sukolilo, Kuanyar, Bacoan.
Petorosan Jaring Waring Udang, ikan teri, ikan kakap, kerapu, cumi-cumi, geraguh. Kojoran, Jawan Pinggir, Jawan Tengah, Jawan Wetan, Wlingi, Karang Tengah
Selam Kompresor, Selang, Sarung Tangan, Pemberat Badan Kerang Totok, Kerang Hijau, Kerang Kapak, Kerang Kijing, Kerang Sekelep, Ceret, Toren, Terusdok, Wlingi, karang Tanjung, Lampu Tower

Sumber: FGD, 7 Oktober 2016

Alih Profesi, Membaca Angin-Arus, dan Pendapatan

Dalam aktivitasnya sehari-hari sebagai nelayan, nelayan Nambangan dan Cumpat sangat bergantung dengan faktor angin dan arus. Dua faktor tersebut menjadi penentu dalam membaca laut secara keseluruhan.

Dalam membaca arus dan angin, nelayan Nambangan dan Cumpat memiliki pengetahuannya sendiri. Mereka menggunakan kalender musim dengan menggunakan perhitungan Jawa, dengan satuan per musimnya adalah 15 hari, atau yang dikenal dengan sebanyon. Istilah sebanyon ini juga diartikan dengan satu air, atau separuh purnama.

Cara memulai atau menghitung kapan jatuhnya tanggal 1 hingga tanggal 15 adalah:

  1. Tanggal 1 s.d. 5: Perhitungan 1 akan ditandai dengan mulai datangnya arus (arus jalan). Tanda ini juga harus dilengkapi dengan datangnya lintang (bintang). Tanggal tersebut adalah waktu yang tepat untuk melaut, karena ikan biasanya akan ada dalam jumlah banyak. Arus jalan ini akan bertahan selama 5 hari, sehingga nelayan akan mengenalnya dengan tanggal 1 sampai 5. Bagi nelayan petorosan, datangnya arus ini adalah hari-hari yang cukup ditunggu, karena hasil tangkapan akan datang dalam jumlah yang melimpah. Jaring petorosan yang mereka pasang di cagak-cagak kayu dan bambu biasanya akan terisi penuh oleh ikan. Namun, menurut Syukron dan Gufron, datangnya arus ini tidak terlalu menguntungkan bagi nelayan jaring. Menurut mereka arus deras biasanya tidak terlalu mendatangkan hasil yang banyak bagi nelayan jaring, karena ikan terus bergerak mengikuti arus.
  2. Tanggal 6-8: Setelah arus berjalan selama 5 hari, arus biasanya akan berubah menjadi tenang. Tanda ini oleh nelayan disebut sebagai arus mati. Dalam kondisi ini, biasanya yang lebih diuntungkan adalah nelayan jaring. Menurut mereka ikan akan mudah ditangkap oleh nelayan jaring saat dalam keadaan arus mati. Namun bagi nelayan petorosan arus mati akan menurunkan pendapatan mereka. Ikan akan sedikit masuk ke jaring-jaring petorosan, karena jaring petorosan sangat bergantung dengan datangnya arus.
  3. Tanggal 9-12: Memasuki tanggal 9, arus biasanya akan kembali deras. Situasi ini sama persis seperti yang telah dijelaskan dalam poin 1. Nelayan petorosan kembali mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah.
  4. Tanggal 13-15: Arus mati.

Dengan perubahan arus seperti yang telah di jelaskan di atas, sedikitnya terdapat beberapa perubahan dan adaptasi dari beberapa tipe nelayan. Misalnya saat arus deras, biasanya nelayan jaring akan menjadi nelayan petorosan, agar hasil tangkapan tetap banyak. Begitu juga sebaliknya, saat arus tenang, banyak nelayan petorosan menjadi nelayan jaring.

Selain faktor arus, juga terdapat faktor angin. Menurut Kambain, dalam satu tahun, terdapat bulan di mana ikan akan sedikit jumlahnya, yakni saat musim angin Selatan. Nelayan biasanya menyebutnya dengan musim geronggong, yang ditandai dengan datangnya ubur-ubur dalam jumlah banyak. Baik nelayan petorosan ataupun jaring biasanya saat musim geronggong datang, akan mengalami musim paceklik, karena hasil tangkapan yang didapatkan sangat sedikit. Bulan ini biasanya datang pada bulan Juni, Juli, Agustus atau September. Tiap tahunnya akan ada 1 bulan yang disebut sebagai bulan geronggong.

Di bulan tersebut, biasanya sebagian besar nelayan tetap ada yang pergi melaut, walaupun jumlah tangkapan yang didapat hanya sedikit. Selain musim geronggong, juga terdapat 1 bulan lain di mana para nelayan tidak akan pergi melaut, biasanya akan jatuh pada bulan Agustus. Pada bulan Agustus ombak dan angis besar akan datang dan tak satu orangpun akan berani pergi melaut. Menurut Kambain, pada musim yang demikian, sebagian besar nelayan akan banyak yang beralih profesi menjadi buruh-buruh bangunan.

Menurut Syukron dan Qomar, dalam 1 tahun, pendapatan tertinggi nelayan jaring akan jatuh pada bulan Januari hingga April. Pada bulan-bulan tersebut biasanya hasil tangkapan nelayan jaring, yakni ikan bulu ayam, bisa mencapai 2 kwintal. Sementara pada bulan Mei hingga September hasil tangkapan ikan bulu ayam akan menurun drastis, dan hanya mampu mencapai hasil maksimal 50 kg. Mereka mengatakan bahwa dalam bulan-bulan tersebut kadang hasil tangkapan bisa turun sampai 5 hingga 10 kg. Selanjutnya memasuki bulan Oktober hingga Desember, jumlah hasil tangkapan kembali meningkat, dan mampu mencapai 1 kwintal perharinya. Tiap  kilonya ikan bulu ayam tersebut dijual dengan harga 7 ribu rupiah.

Bagi nelayan petorosan, bulan di mana hasil tangkapan tertinggi akan jatuh pada bulan April hingga Agustus. Pada bulan-bulan tersebut, hasil tangkapan jenis ikan geraguh, udang besar, kakap, dll bisa menembus hingga 1 kwintal. Sementara pada bulan-bulan selanjutnya hanya bisa bertahan pada angka 30-50 kg.

Selanjutnya bagi nelayan selam, bulan di mana kerang akan didapatkan dalam jumlah melimpah adalah pada bulan Juni hingga September. Bulan-bulan tersebut hasil tangkapan kerang bisa mencapai 4 kwintal. Namun, menurut Pono, jumlah 4 kwintal tersebut tidak bisa didapatkan setiap harinya. Menurutnya dalam satu bulan hanya 1 atau 2 kali bisa menembus angka tersebut. Sementara, rata-rata tiap harinya hanya bisa mencapai jumlah hasil tangkapan 50-70 kg. Selanjutnya pada bulan Oktober hingga Desember, jumlah tangkapan nelayan selam akan terus menurun. Rata-rata hasil tangkapan tiap harinya sekitar 40 kg. Pada bulan Januari hingga April, hasil tangkapan akan kembali naik hingga angka tertinggi 3 kwintal, dan angka rata-rata 50 sd 60 kg.

Kerang-kerang yang didapatkan oleh nelayan selam tersebut, biasanya akan dikupas terlebih dahulu. Dagingnya dipisahkan dari cangkangnya. Pemisahan ini akan mengakibatkan menurunnya jumlah berat hasil tangkapan, misalnya 40 kg akan menurun hingga 7 kg setelah daging dipisahkan dari cangkangnya. Harga daging tersebut selanjutnya dijual dengan harga 30 ribu rupiah per kilogramnya. Menurut Pono, saat musim hujan datang, banyak nelayan selam, akan pergi melaut 2 kali. Karena saat musim hujan tiba, mereka juga akan menjadi nelayan penangkap kakap. Ia mengungkapkan, musim hujan adalah musim ikan kakap tiba. Dengan musim ini, Pono akan pergi menyelam dari pagi hingga sore, dan selanjutnya ia pergi kembali ke laut untuk menangkap ikan kakap pada malam harinya. Ikan-ikan kakap itu ia jual dengan harga 50 ribu rupiah per kilonya.

Peran Perempuan dan Pengeluaran Rumah Tangga

Setiap harinya, perempuan keluarga nelayan di Nambangan dan Cumpat memiliki aktivitas rutin memilah hasil tangkapan. Aktivitas itu dilakukan setelah suami pulang dari melaut. Menurut Hartining, aktivitas tersebut tidak mengenal waktu. “Apabila suami pulang tengah malam, para perempuan akan langsung memilah hasil ikan”, ungkapnya.

Bagi para istri nelayan jaring, proses pemilahan ikan ini akan dimulai dari mencabuti (mempreteli) ikan dari jaring, mencucinya, lalu menjual ke pengepul. Lamanya proses ini tergantung pada banyaknya hasil tangkapan. Biasanya untuk hasil tangkapan sebanyak 20 kg akan membutuhkan waktu 2 hingga 3 jam. Proses ini disebut sebagai “menjual ikan basah”. Kadangkala mereka juga menjual dalam keadaan kering, caranya adalah mencabuti ikan dari jaring, dibekukan, lalu dijemur. Proses ini memakan waktu kurang lebih 7 hingga 9 jam, tergantung dengan faktor panasnya matahari.

Foto Perempuan Keluarga Nelayan Nambangan dan Cumpat

3

Sumber: Primer

Sementara bagi para istri nelayan petorosan, akan memulainya dengan proses yang berbeda, yakni memilah hasil tangkapan (karena hasil tangkapan petorosan tidak lengket di jaring), mencucinya, lalu langsung di jual ke pengepul.

Dan untuk nelayan selam, proses ini akan dilakukan dengan memilah kerang, merebus, memisahkan daging dari cangkangnya, lalu menjualnya. Proses ini juga tergantung dengan hasil tangkapan yang didapatkan. Misalnya, jika tangkapan kerang mencapai 40 kg, proses tersebut akan memakan waktu selama 2,5 jam.

Hasil dari penjualan tersebut selanjutnya akan dikelola sepenuhnya oleh istri. Dalam mengelola keuangan rumah tangga, Hartining menceritakan bahwa istri adalah pengelola secara penuh keuangan rumah tangga. Uang-uang tersebut akan digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, ataupun renovasi rumah. “Istri akan menyimpan, menggunakan, dan mengelola secara teliti dan sebaik-baiknya, cukup atau tidak cukup”, ungkapnya. Ia menambahkan, para suami biasanya hanya akan meminta sejumlah uang dari hasil tangkapan tersebut untuk keperluan membeli rokok ataupun jajan di warung.

Secara sekilas menurutnya terkesan gampang, namun dalam praktiknya ia menyebutkan tanggung jawab dan peran kaum perempuan keluarga nelayan sangat besar. Karena selain memiliki tanggung jawab dalam urusan domestik, misalnya menyiapkan makan, melayani suami, mengurus anak, mencuci, juga harus bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.

Untuk mengatasi praktik rentenir, sejak tahun 2005, kelompok perempuan nelayan Nambangan dan Cumpat merintis sebuah lembaga simpan pinjam yang bernama Kelompok Ibu Mandiri (KIM). “Hal ini dilakukan agar kaum perempuan di Nambangan dan Cumpat tidak terjebak dengan praktik ijon yang dijalankan oleh berbagai institusi keuangan, baik yang mengatas namakan koperasi (padahal dalam praktiknya tidak jauh berbeda dengan praktik ijon), ataupun nama lain”, ungkap Hilma, salah seorang pengurus KIM.

Dalam praktik awalnya, anggota KIM hanya berjumlah 30 orang. Namun kini, menurut keterangan Hilma dan pengurus KIM lainnya, jumlah anggotanya telah mencapai lebih dari 40-an orang. Jika pada awal pembentukannya, peminjam hanya diperbolehkan untuk orang yang berstatus anggota KIM, kini kesempatan telah terbuka luas untuk orang yang bukan anggota KIM. Namun menurut Hilma, hal tersebut sangat tergantung dengan keadaan kas keuangan KIM. “Jika jumlah kas memungkinkan, maka tidak menutup kemungkinan KIM akan memberikan peluang kepada saja untuk melakukan pinjaman”, ungkapnya.

Tantangan: Perubahan Iklim, Perampasan Ruang dan Monopoli Harga

Pada tahun 1980 hingga 1990-an akhir, mayoritas nelayan di Nambangan adalah nelayan tipe petorosan. Saat itu, menurut Gufron, jumlahnya mencapai 120 orang. Namun karena meluasnya kegiatan pertambangan pasir di Selat Madura, yang dilakukan oleh berbagai korporasi, jumlah nelayan petorosan terus menyusut. Sejak adanya kegiatan pertambangan, beberapa wilayah tangkap nelayan petorosan menjadi rusak. Menurut Gufron, lalu lalang kapal yang melakukan penambangan pasir tak jarang menabrak jaring-jaring nelayan petorosan. Akibatnya banyak jaring-jaring yang dipasang hilang dan rusak.

Menurut Gufron, pertambangan pasir di Selat Madura sudah beroperasi sejak pertengahan tahun 1970-an. Pasir-pasir yang ditambang tersebut digunakan untuk perluasan pembangunan pelabuhan Tanjung Perak. Karena terus menuai protes dari nelayan, kegiatan penambangan tersebut sempat berhenti di awal tahun 200-an.

Namun, pada tahun 2006, dalam rangka menunjang pembangunan proyek reklamasi di Teluk Lamong Gresik, Jawa Timur, yang dilakukan oleh PT Pelindo, penambangan pasir di Selat Madura kembali menggeliat. Kawasan lepas pantai di Selat Madura yang ditambang itu bahkan memiliki luas hingga 540 hektar. Menurut catatan Kompas, kawasan Teluk Lamong sendiri oleh PT Pelindo III akan didesain sebagai pelabuhan multipurpose yang akan dioperasikan pada tahun 2014.[2]

Dalam memuluskan proyek tersebut, PT Pelindo III sebagai pemilik proyek menggunakan jasa PT Gora Gahana untuk melakukan penambangan pasir di Nambangan. Proyek pelabuhan senilai 3,29 triliun rupiah itu ditujukan untuk menampung ketidakmampuan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang diprediksi akan mengalami overload.

Penambangan pasir tersebut kembali mendapatkan protes dari Nelayan Nambangan, Cumpat, dan sekitarnya. PT Pelindo pun akhirnya menghentikan kegiatan pertambangannya. Namun, memasuki tahun 2012, kegiatan penambangan pasir di Selat Madura kembali diteruskan. Bahkan, karena melancarkan protes terhadap kegiatan pertambangan tersebut, 4 orang warga diancam dengan kriminalisasi. Menurut catatan Walhi Jawa Timur, keempatnya diperiksa sebagai saksi atas laporan PT. Gora Gahana, 25 Februari 2013. PT. Gora Gahana sebagai perusahaan penambang pasir laut menuduh perwakilan nelayan Cumpat dan Nambangan melakukan tindak pidana karena telah merintangi atau mengganggu kegiatan usaha pertambangan. Mereka dikenai Pasal 162 UU 4/2009 tentang Minerba.[3]

Menurut Gufron, masifnya kegiatan pertambangan pasir di Selat Madura tersebut telah berakibat secara langsung terhadap menurunnya jumlah nelayan petorosan di Nambangan dan Cumpat dalam 30 tahun belakangan ini. “Banyak cagak-cagak jaring petorosan yang rusak dan ambles, karena pasirnya dikeruk”, ungkapnya. Menurutnya, persoalan ini belum ditambahkan dengan hadirnya pembangunan Jembatan Suramadu, yang pembangunannya sudah dimulai sejak tahun 2003. Hadirnya pembangunan Jembatan Suramadu telah memicu kepadatan kapal-kapal besar di selat Madura, dan seringkali menabrak cagak-cagak jaring petorosan.

Peristiwa tersebut mendorong nelayan petorosan banyak beralih profesi ke tipe nelayan jaring. Menurut Syukron, kini jumlah nelayan petorosan di Nambangan jumlahnya terus merosot hingga 15 orang.

Pasca maraknya kegiatan pertambangan pasir di Selat Madura, ikan dan kerang mulai sulit untuk ditemukan di sekitar pinggir Selat Madura. Dengan situasi ini, para nelayan harus mengeluarkan ongkos produksi yang lebih tinggi dari biasanya, karena ia harus melaut hingga ke tengah. Gufron mengatakan sejak hadirnya pertambangan, tepatnya memasuki pertengahan tahun 2000-an, beberapa jenis ikan telah menghilang dari Selat Madura, diantaranya adalah ikan uliran, tengiri, talang, dan cempit.

Atas perubahan ini, beberapa nelayan di Nambangan dan Cumpat mengatakan bahwa mereka kini mengalami kesulitan untuk membaca musim seperti biasanya. Mat Raden, mengatakan bahwa 3 tahun belakangan ini kalender musim yang biasa dipakai oleh nelayan terkadang tidak terlalu tepat. “Saya menduga hal itu disebabkan oleh adanya perubahan iklim dan kerusakan selat Madura yang cukup parah”, tegasnya.

Sehingga menurutnya hal tersebut berpengaruh secara langsung dengan kalender musim nelayan. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Kambain, yang telah memiliki pengalaman melaut lebih dari 30 tahun. Menurutnya, kalender musim yang biasanya dipakai belakangan ini kerap meleset. “Saya yakin, rusaknya kawasan pesisir Selat Madura ini karena dipicu oleh pertambangan. Dan sekarang banjir rob pun sering datang”, tegasnya. Dari data yang dihimpun oleh penulis, sedikitnya dari tahun 1982 hingga 2016, telah terjadi 5 kali (1982, 1994, 1999, 2000, 2014) bencana badai angin kencang dan rob di Nambangan dan Cumpat. Bencana ini telah mengakibatkan puluhan perahu tenggelam dan rumah-rumah terendam banjir.

Selain persoalan di atas, menurut nelayan Nambangan, persoalan yang tak kalah penting saat ini adalah terkait dengan harga hasil produksi. Menurut mereka, seringkali harga tangkapan para nelayan tidak mendapatkan harga jual yang baik di pasaran. Hal ini disebabkan oleh adanya indikasi permainan dari para pengepul hasil laut, karena di Nambangan dan Cumpat hanya terdapat 2 pengepul.

Menurut mereka, nelayan tidak punya posisi tawar yang tinggi dalam memasarkan hasil laut, sehingga situasi tersebut mendorong lahirnya peluang para pengepul untuk mempermainkan harga. Bagi nelayan untuk menghadapi situasi ini, tidak lain jalan yang harus ditempuh adalah menguatkan organisasi nelayan sekaligus menggagas lahirnya koperasi hasil tangkap nelayan.

Dengan kondisi ini, terkadang nelayan harus merelakan dirinya berhubungan dengan para rentenir, atau yang dikenal dengan istilah tukang kredit ataupun mindring apabila mengalami masalah kesulitan modal produksi untuk membeli ataupun memperbaiki alat produksi. Biasanya uang pinjaman yang didapatkan dari para pemberi pinjaman (mindring) tersebut memiliki bunga yang cukup tinggi, mencapai 50 persen.

Mungkin dengan cerita di atas, kita bisa mengubah judul lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” yang sering kita nyanyikan dengan cukup semangat sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar dengan judul baru “Nenek Moyangku Terkapar di Laut”.

Lagu baru ini juga harus tetap dinyanyikan dengan semangat sambil bergandeng tangan dalam barisan massa yang solid menyerbu kantor-kantor negara yang kerap menjual isu “Poros Maritim”.

Catatan:

[1] Lihat kasus Waduk Sepat, di: http://walhijatim.or.id/2016/07/membangun-kota-manusiawi-dan-berperspektif-ekologi-tanpa-konsep-keadilan-ruang-sama-saja-delusi/

[2] http://nasional.kompas.com/read/2012/06/18/0746111/nelayan.protes.penambangan.pasir.di.selat.madura

[3] http://datakrisis.walhijatim.or.id/reports/view/32?l=ka_GE

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *