Berita

Patok terpasang, warga pesisir Parangkusumo kembali terancam

By  | 

Yogyakarta – Pasca diresmikannya Parangtritis Geomaritime Science Park oleh Sri Sultan HB X pada 12 September 2015 lalu, warga pesisir Parangkusumo, Dukuh X, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten  Bantul, yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Menolak Penggusuran (ARMP) kembali gelisah. Mereka merasa, dengan penetapan tersebut justru memberikan legitimasi baru untuk menggusur mereka.

Sebelumnya, kawasan ini dikenal dengan nama Laboratoium Geospasial Parangtritis. Didirikan pada tahun 2006 oleh Badan Informasi Geospasial (BIG), bekerjasama dengan Fakultas Geografi UGM, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Pemerintah Kabupaten Bantul, yang pada peresmiannya dihadiri oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir, Rektor UGM, Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Priyadi Jardono, serta pejabat perwakilan Pemerintah Kabupaten Bantul.

Dalam pelaksanaannya, Parangtritis Geomaritime Science Park ini akan dibagi menjadi tiga zona. Zona pertama adalah kawasan inti, seluas 141 hektar, zona kedua adalah kawasan terbatas dengan luas 95 hektar, dan zona ketiga adalah kawasan penyangga seluas 111 hektar. Dalam acara peresmian tersebut, Sultan menegaskan bahwa penetapan batas zona inti akan diikuti oleh pembersihan pemukiman dan pepohonan serta aktivitas lain yang dianggap dapat mengganggu pelestarian zona inti gumuk pasir.

Terkait dengan pernyataan Sultan tersebut, Kawit, pengurus organisasi ARMP, pada Jumat (25/3) menyatakan, “jika akan terjadi penggusuran karena adanya kawasan Geomaritime tersebut, kami tidak akan mundur selangkah pun”. Ia menyebutkan bahwa sejak peresmian kawasan tersebut, memang muncul isu bahwa akan ada 34 rumah yang akan digusur, khususnya yang berada di zona inti. Menurutnya, 34 rumah yang dimaksud adalah rumah-rumah anggota ARMP.

Kini, di sepanjang jalan menuju pemukiman warga ARMP terpasang beberapa patok berwarna kuning sebagai penanda kawasan Parangtritis Geomaritime Science Park. Patok-patok yang terpasang sejak September 2015 ini jelas memberi dampak teror psikologis bagi warga, karena bagi mereka patok tersebut merupakan penanda penggusuran akan datang dalam waktu dekat.

foto patok

Foto Patok Zona Inti. Sumber: selbum

Jauh sebelum ada isu penggusuran terkait hadirnya Parangtritis Geomaritime Science Park, warga yang tergabung dalam ARMP sebenarnya sudah beberapa kali menerima ancaman penggusuran serupa dari Pemerintah Kabupaten Bantul. Menurut Watin, anggota pengurus ARMP, sebelumnya ada tiga isu yang dijadikan alat untuk menggusur mereka, yaitu tuduhan sebagai penduduk liar, kawasan prostitusi, dan menempati lahan Sultan Ground (SG). Tapi menurutnya, isu yang paling kuat dihembuskan untuk melapangkan jalan penggusuran tersebut adalah bahwa mereka menempati lahan SG. Terkait dengan hal ini ia mengatakan jika SG dan PAG sudah dihapuskan, merujuk pada UUPA Diktum IV, Keppres Nomor 33 tahun 1984, dan Perda DIY Nomor 3 Tahun 1984. “Jadi tidak ada dasar yang kuat untuk menggusur kami”, tegasnya. (Fandi)

Editor: Anto

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.