Menjumpai YTH Bapak, Ibu dan saudara-saudari kami warga Rembang, yang dimuliakan semesta…

Apa kabar Bapak, Ibu, saudara-saudari kami para warga Rembang? Maaf karena menanyakan hal yang basa-basi. Jujur saja, perasaan shock kami belumlah hilang setelah mendengar berita kemarin. Kami membaca bahwa tanggal 16 Juni 2014 lalu, puluhan warga melakukan aksi damai menolak pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Aksi damai tersebut justru dibalas dengan represi yang kejam dan memalukan oleh tentara dan polisi, di bawah suruhan PT. Semen Indonesia dan pejabat-pejabat daerah.

Kami selalu membayangkan, bagaimana seandainya bila kami, bapak atau ibu kami yang diperlakukan seperti itu. Bagaimana seandainya bila wilayah dan alam kami yang akan hancurkan seperti di situ.

Bagaimana mungkin kami tidak geram, saat kalian diperlakukan dengan kejam oleh aparat, dipukuli, ditangkapi, dilecehkan, bahkan dibiarkan kelaparan dan tidur dalam tenda-tenda pendudukan yang gelap.

Kami tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa berlaku seperti itu. Seolah-olah aparat itu tidak memiliki bapak, ibu atau anak-anak, sehingga dengan entengnya bisa bertindak seperti itu.

Kami sulit percaya bagaimana pengusaha dan pejabat setempat mengerahkan tentara dan polisi bersenjata lengkap untuk berhadapan dengan bapak, ibu warga Rembang yang hanya bersenjatakan megaphone dan selebaran pernyataan sikap.

Kami tidak habis pikir, bagaimana para pejabat-pejabat di situ, para direksi perusahaan berusaha menutup-nutupi fakta dan kenyataan bagaimana dampak yang akan terjadi bila Pegunungan Kendeng ditambang. Tanpa persetujuan masyarakat, tanpa AMDAL, dan tanpa pertimbangan historis dan strategis akan fungsi kawasan karst tersebut.

Tapi kami dengan cepat ingat bahwa seperti itulah kenyataan yang kita hadapi. Takkan pernah ada perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial, takkan pernah ada polisi yang melindungi dan mengayomi rakyat. Sistem ekonomi ini tidak bisa direformasi hanya dengan memilih presiden seperti layaknya memilih idola remaja di stasiun televisi.

Tapi yang lebih membuat kami terkejut, adalah berita bahwa bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian dengan gagah berani dan penuh semangat menduduki lokasi rencana tapak pabrik dengan cara menghalau langsung operasi dan alat berat. Apalagi aksi ini dilakukan bertepatan dengan seremoni dimana para direksi dan pejabat merayakan dimulainya secara resmi eksploitasi alam dan penghancuran sosial masyarakat sekitar.

Aksi masyarakat dalam menghalau dan berusaha menggagalkan rencana jahat tersebut merupakan tindakan yang terhormat dan penuh keberanian. Kami terkejut karena cara-cara seperti ini ternyata masih diyakini dan dipegang oleh warga, di tengah cara-cara elitis lain yang menitipkan harapan ke politisi, LSM, partai-partai atau tokoh-tokoh elit.

Ada banyak aksi-aksi lain di tanah air, yang masih belum melihat kekuatan pada diri sendiri, malahan memberikan kuasa pada pihak lain, pada akhirnya berakhir dengan penghianatan dan kegagalan. Sementara di beberapa tempat, orang-orang yang memilih untuk bertumpu pada kekuatan sendiri secara mandiri, selalu menemukan kesimpulan bahwa perubahan tidak akan datang dari orang lain, melainkan diri kita sendiri. Soal berhasil atau tidak, itu masalah lain. Warga Rembang percaya dengan hal tersebut. Itulah yang membuat kami salut.

Di Makassar, kami juga mengalami hal yang kurang lebih serupa. Warga miskin mengalami ancaman kehilangan tempat tinggal, selain sehari-harinya tidak mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan secara layak. Buruh-buruh di kawasan industri dan pusat perbelanjaan, dipaksa bekerja di bawah standar upah yang layak dan perlakukan tidak wajar. Pantai dan kawasan hijau ditimbuni untuk dijadikan kawasan hotel dan perbelanjaan. Mahasiswa dan anak-anak muda dininabobokan agar lebih kreatif, supaya tidak rewel dan sering protes.

Kita hidup di bawah dominasi sistem ekonomi dimana kita adalah pihak yang dikorbankan demi prestasi para pejabat serta pundi-pundi para saudagar. Kami juga berjuang untuk menemukan harga diri kami akan hidup yang lebih kayak. Dan karenanya kami merasa perjuangan di Rembang adalah perjuangan bersama.

Bapak, Ibu, dan kawan-kawan kami di Rembang. Kami haturkan rasa hormat dan solidaritas kami melalui surat ini, melalui demonstrasi, mengirim SMS kecaman dan tekanan ke para pejabat, menggalang dukungan. Tentu saja ini tidak menggantikan bagaimana rasa lelah dan kantuk, rasa sakit bekas pukulan aparat yang kalian derita, dan waktu yang menguap untuk menghidupi keluarga karena meninggalkan rumah untuk tetap berdiri tegak di lokasi aksi penolakan. Namun setidaknya, kami ingin belajar untuk memperkuat perjuangan. Sebagai sesama warga, kami ingin berbagi.

Kami ingin Bapak, Ibu tahu; kalian tidak sendiri. Ada banyak dukungan, solidaritas di kota-kota lain. Dan kami ingin mendengar serta membagi kabar langsung kalian dari garis depan, tanpa perantara media massa milik pengusaha dan politisi, tanpa perwakilan dari elit-elit, tanpa sekat-sekat wilayah lagi.

Bukan hanya karena kami ingin berbagi kekuatan, tetapi juga sebagai rasa terima kasih kami kepada kalian yang berani mengambil resiko, dan menjadi tauladan untuk bertindak demi masa depan kalian. Dari kalian kami belajar, bagaimana melipatgandakan keberanian dan menegakkan harga diri di depan jajaran direksi, polisi dan tentara. Dari kalian kami ingin belajar bagaimana merapatkan barisan, tanpa harus saling mendikte dan mensubordinasi. Bagaimana melakukan aksi dengan lebih teroganisir dan lebih efektif, meski terpisah pulau. Bagaimana menyebarkan inspirasi dari perjuangan-perjuangan hebat dan berani, seperti yang kalian lakukan, ke tempat-tempat lain.

Karena perjuangan melawan penindasan, penghisapan dan perusakan lingkungan, juga adalah perjuangan kami. Perjuangan kita bersama!

Salam hormat kami,
Solidaritas Warga Makassar Untuk Rembang

TOLAK PABRIK SEMEN
SELAMATKAN PEGUNUNGAN KENDENG
TARIK ALAT BERAT DAN HENTIKAN PEMBANGUNAN PABRIK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.