Berita

Petani Simalungun geruduk kantor Mapolres dan Bupati

By  | 

Simalungun – Pasca tragedi penyerangan dan penganiayaan pasukan keamanan dan milisi bayaran PTPN III terhadap petani Bandar Betsy II, di lahan Afdeling 36, Kecamatan Bandar Huluan, pada hari Jumat, 19 Juni 2015, yang menyebabkan 9 orang petani terluka, petani tetap bersemangat untuk menuntut haknya. Selama berhari-hari, pasca penyerangan tersebut, mereka tetap terlihat bertahan dan melakukan pembersihan lahan. Namun, karena tidak adanya tindakan dari pihak kepolisian atas penyerangan tersebut, hari ini (29/6), petani menggeruduk kantor Mapolres dan Bupati Simalungun.

Aksi ini dilakukan untuk mendesak Kapolres Simalungun agar segera mengusut dan menangkap para pelaku penganiayaan terhadap petani. Dengan jumlah massa tak kurang dari 300 orang, petani juga mendesak Kapolres Simalungun, membongkar konspirasi di tubuh PTPN III yang diduga mendapatkan bantuan dana keamanan dari pihak rekanan, yang tak lain adalah “mafia tanah”. Para mafia ini menurut petani adalah pihak yang juga mendapatkan keuntungan dari bisnis gelap kelapa sawit di lahan-lahan rakyat yang dirampas PTPN. Dengan demikian, konflik-konflik antara rakyat dan PTPN yang terjadi di Simalungun dan daerah sekitarnya terus tumbuh subur karena didukung oleh kelompok-kelompok tersebut.

Setelah menyerahkan berkas tuntutan kepada Kapolres, petani kembali melanjutkan aksinya ke Kantor Bupati Simalungun. Sesampainya di kantor Bupati, Joel Sinaga, selaku kordinator aksi, mendesak Bupati agar turut bekerja secara aktif dalam penyelesaian kasus yang mereka hadapi. Joel mengatakan bahwa berlarut-larutnya kasus konflik agraria yang dihadapi oleh petani Bandar Betsy II dan kelompok tani lain di sekitar mereka yang berkonflik dengan PTPN pada umumnya dipicu oleh beberapa hal. Diantaranya, pertama, tidak adanya itikad baik dari pihak PTPN untuk menyerahkan tanah rakyat kepada petani. Kedua, adanya kelompok mafia yang bermain dengan pihak PTPN yang berperan sebagai donatur lapangan. Donatur itu menurutnya, mendapatkan keuntungan dari bisnis kelapa sawit di lahan sengketa, sekaligus juga dari bisnis keamanan. Hal inilah yang membuat konflik tidak pernah terselesaikan. Ia menambahkan, para mafia tanah ini umumnya berkedok dibawah bendera Organisasi Kepemudaan (OKP) tertentu. Bahkan menurut salah satu peserta aksi lainnya, Samosir, mengatakan bahwa OKP tersebut membawa Pancasila dalam nama organisasinya.

Aksi di kantor Bupati ini digelar hingga pukul 13.00 WIB. Menjelang pukul 13.15 WIB, petani secara berkelompok meninggalkan kantor Bupati dan menuju kembali ke kampung Bandar Betsy II. Mereka akan kembali melakukan persiapan untuk aksi pendudukan lahan yang akan dilakukan pada esok (30/6) seperti biasa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.