Berita

Petani Simalungun tetap bertahan pada hari ketujuh

By  | 

Simalungun – Petani Bandar Betsy, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, kembali melakukan aksi pembersihan dan pendudukan lahan di areal afdeling 36. Hari ini (25/6) adalah hari ketujuh mereka tetap bertahan di lahan, pasca bentrokan yang terjadi pada hari Jumat (19/6). Aksi pendudukan lahan terus mereka lakukan, setelah PTPN III tidak memiliki itikad baik untuk mengembalikan tanah kepada petani. Padahal menurut salah seorang petani, Samosir, mengatakan bahwa sudah seharusnya tanah tersebut dikembalikan kepada petani. Alasannya bukan hanya karena status hukumnya sudah jelas, melainkan juga secara historis tanah tersebut adalah tanah leluhur mereka yang dirampas paksa oleh rejim Suharto untuk kepentingan PTPN, tambahnya.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dilakukan pada 26 Mei 2015, bertempat di ruang rapat Komisi A DPRD Sumatera Utara (SUMUT), disepakati bahwa lahan seluas 943 hektar yang selama ini dipersengketakan sudah bisa dieksekusi oleh petani Bandar Betsy. Rapat yang dipimpin oleh ketua Komisi A, Toni Toga Torop, yang disaksikan langsung oleh Ketua DPRD SUMUT, Ajib Shah, juga menjelaskan bahwa sembari proses penyerahan surat akan dilaksanakan, petani bisa melakukan penguasaan lahan. Dan di pihak lain, demi terciptanya situasi yang kondusif di lahan, PTPN III harus bersikap pro aktif.

Namun beberapa minggu setelah pertemuan RDP tersebut dilakukan, pihak PTPN III tak kunjung memberikan sikap yang baik. Bahkan mengorganisasi ratusan milisi sipil bayaran untuk memukul mundur petani saat petani melakukan aksi pembersihan lahan (19/6).

Aksi hari ketujuh ini tetap diikuti oleh ratusan anggota petani. Mereka mulai melakukan aktivitas pembersihan dan penanaman berbagai jenis tanaman di beberapa titik lahan. Dari pantauan di lapangan, Samosir menjelaskan bahwa dalam aksi ini, PTPN III tetap menurunkan petugas keamanan untuk mengawasi kegiatan aksi. Terkait dengan pengawasan tersebut, Samosir, selaku peserta aksi mengatakan bahwa mereka tidak akan mundur satu langkah pun apabila petugas keamanan PTPN III kembali menyerang mereka. Ia menambahkan aksi pembersihan dan pendudukan lahan akan terus dilakukan sampai tanah benar-benar dapat kembali kepada mereka. Dan ia berharap agar Presiden Republik Indonesia, Jokowi Widodo, mencopot Dirut PTPN III secepatnya, sekaligus mendesak KPK untuk mengusut dugaan korupsi yang terjadi di institusi PTPN III terkait dengan klaim HGU PTPN III yang selama ini tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Aksi hari ketujuh ini dilakukan dari pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 16.00 WIB. Aksi akan dilanjutkan pada esok (26/6) di waktu dan lokasi yang sama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.