Berita Terkini

PPM Ajak Bersolidaritas Melalui Panggung Seni

By  | 

Yogyakarta – Selasa, 4 September 2018, PPM (Partai Pergerakan Mahasiswa) mengadakan acara solidaritas Panggung Untuk Keadilan di parkiran utara kampus 1 Universitas Ahmad Dahlam (UAD) Yogyakarta. Acara ini ditujukan sebagai aksi solidaritas untuk warga Temon Kulon Progo, Yogyakarta, yang menjadi korban pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Selain menghadirkan beberapa musisi, kegiatan ini juga turut diramaikan dengan pembacaan pusi dan donasi terbuka.

Menurut penuturan Wahyu Kurniawan Siregar selaku ketua panitia, kegiatan ini ditujukan untuk  membangkitkan kepekaan sosial mahasiswa terhadap lingkungan sosialnya. Wahyu juga menambahkan bahwa yang paling menjadi sorotan penggusuran di Kulon Progo adalah nasib pendidikan anak-anak disana.

“Nah, disini yang paling jadi sorotan itu anak-anak Kulon Progo sekolahnya mau dimana?,” tambah Wahyu.

Musisi yang turut hadir dalam kegiatan tersebut adalah Iksan Skuter, Sisir Tanah, Sombanusa, dan Deugalih. Danto selaku vokalis Sisir Tanah menuturkan bahwa acara ini penting untuk dikerjakan agar dapat mendukung perjuangan warga Temon, Kulon Progo.

“Kalau musisi ya lewat musik, penulis atau jurnalis lewat tulisan, dukungan-dukungan banyak sekali,” tutur Danto.

Sebagai musisi yang cukup sering tampil dalam acara kegiatan sosial, Danto juga turut menegaskan bahwa warga Temon sudah kehilangan ruang hidup dan mereka sangat membutuhkan dukungan.

“Sekarang warga kehilangan ruang hidup. Butuh dukungan, butuh support dari teman-teman yang ada di sini semua,” tegas Danto.

Danto juga menambahkan bahwa peserta yang hadir merupakan sebagian kecil masyarakat yang peduli terhadap penggusuran di Kulon Progo dan menganggap bahwa acara ini merupakan acara yang baik.

“Ini kan sedikit dari banyak orang yang acuh, kita kan cuma sedikit, seujung kukunya pun ngga ada jadi ya ini acara yang baik dan bisa menumbuhkan kepercayaan diri warga bahwa yang mereka pertahankan itu baik,” tegas Danto.

Iksan, vokalis Iksan Skuter menjelaskan bahwa seni bukan hanya sebagai media hiburan semata, tetapi seni dapat digunakan sebagai media penyampai pesan sosial. Selain itu Iksan juga menambahkan tidak menutup kemungkinan apabila terus diam maka di tahun-tahun mendatang, penggusuran yang menimpa warga Kulon Progo juga bisa terjadi di tempat-tempat lainnya, termasuk di kampung sendiri.

“Hari ini mungkin Temon, tapi tidak menutup kemungkinan kalo kita terus diam, tidak menutup kemungkinan tahun depan adalah tanah mu dan susah menjadi mereka,” tambah  Iksan.

Hal serupa juga turut disampaikan Ari selaku vokalis Sombanusa. Ia mengaku  melalui musik pesan jauh lebih mudah tersampaikan daripada aksi turun ke jalan.

“Kebanyakan orang, mungkin ketika kita aksi turun kejalan nggak ada orang yang mau mendengarkan, maka ketika saya dipanggung dan orang bisa menikmati maka secara tidak langsung menerima apa yang saya pesankan,”ujar Ari.

Ari berharap acara ini bisa memperpanjang nafas dan umur perjuangan rakyat yang sedang menghadapi perampasan ruang hidup, khususnya warga Temon, Kulon Progo.

Penulis: Pipit

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.