Deli Serdang-Ratusan petani Persil IV, Kecamatan STM Hilir, Deli Serdang, Sumatera Utara, kembali bersitegang dengan PTPN II Kebun Limau Mungkur. Peristiwa ini terjadi pada senin pagi (22/09) di Desa Tadukan Raga, STM Hilir. Petani dikagetkan dengan kedatangan tiba-tiba segerombolan pekerja PTPN II Limau Mungkur bersama aparat TNI dan beberapa alat berat yang hendak mentraktor tanah milik mereka. Menghadapi situasi ini, petani ramai-ramai melakukan penghadangan.

Saat ditanya oleh petani mengapa ingin melakukan pentraktoran, pihak PTPN II yang diwakili Tambunan, Manager Kebun PTPN II Limau Mungkur menyatakan bahwa areal tersebut masuk dalam HGU Afedeling V Kebun Limau Mungkur PTPN II. Tambunan menyatakan luas tanah yang masuk dalam HGU tersebut terdapat 178 Hektar tanah yang berada di Persil IV.

Agus, salah satu perwakilan petani membalas pernyataan Tambunan dengan menyatakan bahwa areal lahan Persil IV yang luas totalnya berjumlah 525 hektar merupakan areal sah milik warga. Bahkan ia menambahkan, jika merunut kasus ini dari sejak awal, konflik lahan Persil IV yang terjadi dari tahun 1972 jelas merupakan rekayasa PTPN II, karena secara historis tanah ini adalah tanah milik warga yang dirampas PTPN II. Hal ini berdasarkan sertifikat HGU Konsesi Limau Mungkur No.02.04.08.05.2.0001, Kepmendagri No. 13/HGU/DA/1975 dan Surat Ukur No. 1450/08/1993 yang menyatakan bahwa luas areal HGU PTN II Limau Mungkur adalah diluar areal Persil IV yang dimiliki warga.

Seperti yang diketahui bahwa konflik di atas lahan Persil IV telah berlangsung sejak tahun 1972. Namun saat tumbangnya Soeharto pada tahun 1998, petani melakukan gugatan terhadap PTPN II di meja peradilan. Putusan Pengadilan menyatakan bahwa lahan Persil IV bukanlah areal milik konsesi PTPN II, dan PTPN II diwajibkan mengembalikan tanah Persil IV kepada petani.

Sejak kekalahannya di pengadilan, PTPN II menggunakan strategi memobilisasi milisi sipil (OKP, Pam Swakarsa) hingga tahun 2013 agar tetap dapat menguasai lahan. Situasi ini terus berdampak pada meningkatnya represifitas terhadap petani. Konflik lahan Persil IV telah menyebabkan jatuhnya beberapa korban di pihak petani, bahkan 1 orang diantaranya meninggal dunia pada tahun 2010.

Setelah perdebatan tersebut, rencana pentraktoran menjadi batal. Perkembangan terakhir hingga saat ini, petani masih terus berjaga-jaga di lahan Persil IV secara bergantian. Mereka khawatir tanaman milik petani Persil IV akan dirusak oleh PTPN II, sebagaimana yang sering mereka alami pada masa-masa sebelumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.