Hari ini, Selasa (23/9/2014), telah terjadi aksi protes di tiga titik berbeda. Aliansi Masyarakat Pandang Raya (Makassar), JMPPK Rembang (Rembang), dan Wahana Tri Tunggal (Kulonprogo) turun ke jalan untuk menggugat pemerintah dan korporasi yang dianggap telah merampas hak rakyat.

JMPPK (Rembang, Jawa Tengah)

Petani Rembang yang didominasi ibu-ibu menggelar aksi damai di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Rembang. Aksi ini dilakukan dalam rangka peringatan 100 hari tenda perjuangan menolak pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng, khususnya di wilayah Kecamatan Gunem dan Bulu. Sejak pagi, ibu-ibu beriringan menuju Kantor Bupati dengan membawa berbagai hasil bumi. Namun, hingga selesai aksi, tak ada satupun perwakilan dari pemerintah yang datang menemui mereka. Alih-alih pejabat, massa malah dihadapkan dengan barisan polisi.

Selain di Rembang, aksi solidaritas juga berlangsung di berbagai kota. Di antaranya, Yogyakarta, Bandung, Kendal, Semarang, Surabaya, dsb.

AMARA (Pandang Raya, Makassar)

Massa yang tergabung dalam AMARA (Aliansi Masyarakat Pandang Raya) berunjuk rasa di depan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Makassar. Warga yang pemukimannya digusur pada 12 September lalu ini menuntut pengembalian hak mereka atas tanah di Pandang Raya. Karena, berdasarkan fakta hukum, warga berhak atas lahan yang sekarang sudah rata dengan tanah. Mereka menuntut pengusutan atas surat putusan eksekusi yang dinilai cacat hukum dan terindikasi adanya mafia dalam kasus tersebut.

Sejak penggusuran, warga masih bertahan di sekitar puing bekas lokasi pemukiman mereka. Warga pun dengan tegas menolak menyerah atas kedzaliman yang dilakukan pemerintah.

WTT (Kulonprogo, Yogyakarta)

Rakyat tani yang terwadahi dalam Wahana Tri Tunggal (WTT) melakukan aksi blokade Jalur Lintas Selatan Jawa (Jalan Daendels). Massa memblokir jalan dengan berbagai benda, mulai dari kayu, bebatuan, sekam yang dibakar, hingga sebuah gajebo. Aksi ini pun dibubarkan oleh aparat gabungan, TNI dan Polri.

Aksi blokade merupakan buntut dari ketidakkonsistenan pemerintah dalam acara sosialisasi pembangunan bandara di Kecamatan Temon, Kulonprogo. Ribuan massa yang hendak menghadiri acara sosialisasi dihadang oleh barisan aparat. Padahal mereka adalah warga yang akan terdampak langsung jika bandara jadi berdiri.

Akibat larangan tersebut, rakyat marah dan memblokir jalan yang menjadi akses strategis tersebut. Sempat terjadi bentrok antara massa aksi dan aparat, bahkan massa disemprot dengan mobil waterkanon. Namun, situasi segera kembali redam. Hingga artikel ini dibuat, rakyat masih bertahan di lokasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.