Video Liputan

Seniman dan Musisi Tidak Boleh Diam!

By  | 

Festival Guyub Murub merupakan sebuah medium perjuangan untuk menolak pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Kegiatan yang diramu dalam bentuk orasi solidaritas, pentas musik, mural dan aktivitas untuk mendukung perekonomian warga ini akan terus ada.

Ide festival ini berawal dari kegelisahan bersama setelah melihat realita penghancuran ruang hidup secara paksa oleh Angkasa Pura I. Petani sebagai ujung tombak pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari manusia di bumi, diusik dan dirampas haknya demi sebuah ambisi pembangunan infrastruktur nasional.

Ribuan jiwa yang lahir dan besar di tanah Temon, Kulon Progo menghadapi ketidakadilan. Lahan dan rumah mereka sebagai titik kumpul kehidupan akan hilang. Sejarah peradaban manusia berpuluh-puluh tahun lamanya musnah dalam sekejap.

Puing-puing bangunan berserakan tak berbentuk. Kehancuran begitu tampak di tanah yang sangat subur. Apalah arti sebuah pembangunan jika menghancurkan nilai kemanusiaan, apalah arti bandara jika manusia yang hidup dari tanah dibuat sengsara.

Berakar dari keresahan itu, para seniman dan musisi tergerak untuk turun membantu perjuangan warga penolak bandara. Mereka membentuk ekspresi perlawanan sesuai dengan apa yang ada dalam imajinasi mereka. Bagi mereka, musisi dan seniman tidak bisa diam melihat realita warga penolak yang dikoyak-koyak.

Naomi Srikandi seniman yang selalu memperjuangkan hak hidup warga menyerukan agar suara warga yang sampai detik ini masih menolak perlu digaungkan agar manusia di seluruh Indonesia tahu, pembangunan Infrastruktur telah meluluhlantahkan kehidupan manusia.

“Pekerjaan kami ini, seniman-seniman ini bukan untuk menyuarakan apa yang disuarakan oleh ibu-ibu sekalian. Ibu-ibu sudah tahu apa yang harus disuarakan, dan ibu-ibu sudah mampu menyuarakannya. Yang kami lakukan sekarang ini adalah membesarkannya, sehingga kawan-kawan yang lain bisa mendengarkan suara ibu-ibu yang sudah bisa terdengar di sini. Bagaimana suara ini bisa semakin besar itulah yang disebut solidaritas” Kata Naomi.

Sampai detik ini, warga yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) masih konsisten menolak rencana pembangunan bandara tanpa syarat. Mereka tidak ingin menjual sepeserpun tanah mereka. Mereka menyadari ruang hidup yang utama adalah tanah.

“Petani memberikan makan pejabat, siapa saja manusia makan nasi, tapi petani seakan-akan dimusnahkan, kami tidak akan menjual tanah kepada siapapun itu. Marilah semua warga dan solidaritas bersatu menolak bandara” Kata Wagirah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *