“ASAL LINGE AWAL SERULE”

GAYO DIAMBANG KEHANCURAN

LMR (Linge Mineral Resource) yang beroperasi di Aceh Tengah merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dengan nilai saham 80%. Sebagaimana kita ketahui bahwa PT. LMR ini akan beroperasi di empat kampung yaitu Linge, Penarun, Owaq, dan Lumut di kecamatan Linge.

Pada tanggal 4 April 2019, PT. LMR menerbitkan pengumuman rencana usaha dan/atau kegiatan dalam rangka studi AMDAL dengan data sebagai berikut.

  1. Jenis rencana usaha: penambangan dan pengolahan Bijih Emas DMP (dan mineral pengikutnya)
  2. Luas: 9.684 hektare
  3. Produksi: maksimal 800.000 ton/tahun

Kawasan Linge sebagaimana diyakini oleh masyarakat Gayo hingga kini adalah sebagai awal mula peradaban rakyat Gayo, dimana tempat tersebut memiliki situs peninggalan sejarah seperti makam Reje Linge dan artefak-artefak peninggalan Kerajaan Linge. Dengan hilangnya situs sejarah tersebut, maka akan mengakibatkan hilangnya pemahaman generasi-generasi selanjutnya tentang peradaban masyarakat Gayo.

Dengan dibukanya tambang ini maka akan menimbulkan dampak dibidang lingkungan. Dampak terhadap lingkungan dapat dilihat dari keberadaan perusahaan diatas kawasan hutan produksi dan area pengguna lain. Pada area pengguna lain, sistem pertambangan akan dilakukan dengan cara terbuka yang artinya semua pohon dalam kawasan tersebut akan ditebang, tanah akan dilubangi dengan kedalaman yang tidak terbatas. Sedangkan pada kawasan hutan produksi akan dilakukan dengan metode bawah tanah (under ground) yang tidak akan ada satu orang pun yang dapat memastikan sejauh mana pertambangan tersebut akan menggali tanah Linge tersebut.

Selain itu, hasil pertambangan yang akan diangkut oleh PT. Linge Mineral Resource tersebut bukan hanya emasnya saja, melainkan mineral-mineral pengikut lainnya (uranium, giok, tembaga, dan batuan mineral lainnya) yang terkandung dalam kawasan pertambangan.

Dengan alasan tersebut, sudah pasti akan terjadi perubahan bentang alam secara brutal, lebih lanjut perubahan bentang alam akan mempengaruhi atmosfer yang dapat menyebabkan perubahan iklim. Perubahan iklim tersebut akan berpengaruh secara langsung dan tidak langsung pada tanaman kopi yang merupakan komoditas unggulan petani di Tanah Gayo dan topografi lahan kopi. Artinya kopi Gayo sebagai komoditas unggulan akan lenyap dengan berkurangnya lahan yang cocok untuk ditanami kopi.

Dampak dari aktivitas pertambangan juga akan menyebabkan kekeringan lahan karena sumber air semakin terganggu pada musim panas dan pada musim hujan dapat terjadi erosi karena berkurangnya areal resapan air. Kemudian, aktivitas tersebut menyebabkan terganggunya habitat satwa liar yang berada di kawasan Linge dimana apabila hal itu terjadi kemungkinan besar dapat mengganggu keselamatan masyarakat setempat.

Bila tambang ini sampai ke tahap produksi, pada tahap pemurnian hasil galian biasanya akan menggunakan merkuri yang akan meresap atau mengalir melaui sungai-sungai yang akan bermuara ke beberapa tempat di sekitarnya, termasuk Aceh Utara karena di daerah Linge terdapat Hulu Daerah Aliran Sungai Jambu Ayer. Sebagaimana diketahui bahwa merkuri  dapat menyebabkan dampak kepada manusia berupa kerusakan pada saluran percernaan, sistem saraf dan ginjal serta mempengaruhi kinerja otak, jantung, paru-paru hingga kekebalan tubuh.

Dengan adanya penggalian tambang dengan metode terbuka, maka akan ada lubang dengan ukuran dua kali lebih luas dari Danau Laut Tawar yang setiap detik dapat mengintai keselamatan anak-anak, orang dewasa atau siapa pun yang mendekati lubang tersebut. Apabila usaha penambangan sudah selesai dan lubang terisi air maka akan tercipta Danau Laut Tawar yang baru.

Bukti nyata dari sekian banyak pertambangan dengan metode terbuka yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar bekas tambang tidak dilakukan reklamasi atau penutupan kembali oleh penanggungjawab pertambangan. Akibatnya, akan terjadi lahan kritis di daerah Linge sehingga lahan tersebut tidak dapat digunakan kembali sebagai lahan produksi pertanian.

Oleh karena itu, tentu kami menolak rencana usaha pertambangan Bijih Emas DMP yang akan beroperasi di Linge, Aceh Tengah yang merupakan Jantung Nate Rakyat Gayo.

Apakah kita rela Bumi Gayo diperkosa oleh kaum korporat dan kapitalis?

Untuk itu, kami mendesak Pemerintah Aceh:

  1. Mendesak untuk tidak memberikan rekomendasi kelayakan lingkungan.
  2. Mendesak untuk tidak menerbitkan Izin Lingkungan.
  3. Mendesak untuk menyatakan sikap secara tegas menolak hadir dan beroprasinya PT. Linge Mineral Resource (LMR).

Senin 2 September 2019

Narahubung: 0822-4619-0140

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.