Solidaritas

Siaran Pers PWPP-KP Menyikapi Kabar Audiensi Aktivis Mahasiswa

By  | 

Relawan Solidaritas yang Direstui Warga Penolak Bandara
Tidak Pernah Merencanakan dan Terlibat dalam Audiensi dengan Bupati Kulonprogo atau Angkasa Pura

Rencana sekelompok aktivis yang ingin melakukan audiensi dengan Bupati Kulonprogo seperti diberitakan Tribun Jogja Online tanggal 3 Januari 2018, berjudul “Bupati Kulonprogo dan Mahasiswa Aktivis Penolak Bandara Dikabarkan Bakal Lakukan Pertemuan”, menunjukkan adanya upaya pelemahan perjuangan terhadap Paguyuban Warga Penolak Penggusuran (PWPP-KP).

Pemberitaan Tribun online di tanggal yang sama juga menyebut bahwa “Hasto berharap ada perwakilan mahasiswa yang bisa bertemu dengannya untuk berdiskusi terkait pembangunan bandara”.

Setelah menyelidiki asal mula kabar menyesatkan tersebut, saat ini kami telah mengetahui pihak-pihak yang terlibat. Kami telah menyelidiki siapa saja yang dimaksud ‘mahasiswa aktivis penolak bandara’ dalam berita tersebut. Syukurlah, pihak-pihak tersebut bukan relawan solidaritas yang kami restui kerja-kerjanya. Barangkali mereka pernah menyumbang melalui jalur-jalur sumbangan relawan, dan untuk itu kami ucapkan terima kasih.

Menyikapi banyaknya mahasiswa dan pihak-pihak lain yang menawarkan dukungan, solusi, donasi, bantu tenaga, dan lain sebagainya, PWPP-KP menjalankan tahap-tahap yang harus dilalui seseorang atau organisasi sebelum dapat bergabung sebagai relawan solidaritas.

Kami nyatakan bahwa pihak-pihak yang sudah maupun hendak merencanakan beraudiensi dengan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, bukanlah pihak yang didorong atau diminta PWPP-KP untuk mewakili suara warga penolak bandara NYIA.

Arah perjuangan PWPP-KP terletak pada kemandirian warga. Kami menghargai solidaritas dari lembaga seperti LBH Yogyakarta yang pernah menjadi kuasa hukum anggota Wahana Tri Tunggal (WTT). Alasan kami keluar dari WTT adalah karena Kelik Martono ketua WTT mengubah arah perjuangan organisasi dari penolakan tanpa syarat menjadi tuntutan kenaikan ganti rugi.

Karena kami sudah bukan anggota WTT, maka LBH Yogyakarta bukan kuasa hukum kami. Siaran ini juga menegaskan bahwa saat ini satu-satunya kelompok warga yang menolak bandara tanpa syarat adalah PWPP-KP, dan kami sudah memiliki tim kuasa hukum tersendiri. PWPP-KP sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan WTT, termasuk hubungan dengan kuasa hukum WTT, yakni LBH Yogyakarta.

Kemudian, Aliansi Tolak Bandara atau kelompok relawan solidaritas dibentuk untuk mendukung arah perjuangan PWPP-KP, yakni menolak bandara tanpa syarat. PWPP-KP tidak bisa menyertakan tuntutan diskresi (pengukuran tanah ulang) dan negosiasi nilai uang penjualan tanah (ganti rugi), dalam jalur perjuangannya secara hukum maupun aksi lain, karena PWPP-KP menolak bandara tanpa syarat. Perjuangan PWPP-KP berangkat dari kesadaran menjaga dan merawat lahan produktif dan perlindungan hak milik atas tanah bagi petani, maka prinsipnya tanah-tanah kami tidak dijual.

Dari para relawan solidaritas yang tak kalah kritis, kami mengetahui bahwa rencana audiensi dilakukan organisasi mahasiswa bernama BEM FISIPOL dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Sayang sekali kami belum mengenal para mahasiswa BEM FISIPOL UMY, meski mereka dianggap bagian relawan solidaritas tolak bandara.

Menurut para relawan solidaritas yang benar-benar, sekelompok mahasiswa dari Kastrat 2017/2018 BEM FISIPOL UMY membuat acara di kampusnya dan mendatangi PT. Angkasa Pura I (Persero) untuk menunjukkan bahwa mereka adalah mahasiswa yang kritis.

Sangat bagus kalau kalangan muda kritis. Mahasiswa dan orang muda memang wajib mengkritisi pembangunan, pemerintah, dan para penyelenggara proyek-proyek di negeri ini. Kalangan muda adalah harapan Indonesia untuk mendukung perjuangan rakyat yang dirampas haknya. Kalangan muda terdidik mestinya mampu mendorong perubahan Undang Undang untuk membangun infrastruktur kepentingan umum, tapi malah merampas ruang hidup rakyat (konsinyasi). Para mahasiswa dari BEM FISIPOL UMY mestinya mampu memilah dan memilih di mana ia berdiri, dan siapa yang ia bela.

Kami tahu mahasiswa kritis BEM FISIPOL UMY telah menyelenggarakan audiensi tersebut dengan meminjam penderitaan kami, sayangnya tanpa menyertakan semangat perjuangan PWPP-KP. Kami hanya bisa mendoakan agar mereka mendapat pelajaran berharga dari pertemuan dengan PT. Angkasa Pura I (Persero), atau dengan pihak-pihak yang gigih mendorong agar kami segera menjual tanah, demi melancarkan proyek bandara.

Semoga para mahasiswa yang beraudiensi diterangkan pikirannya dan dimantapkan hati kecilnya oleh Allah SWT, agar lambat laun mampu memahami semangat perjuangan kami yang menolak bandara tanpa syarat.

Temon, 4 Januari 2018
Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP)

(081904041718)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.