Kasus penculikan 13 petani Dongi-dongi, Palolo, Sigi, Sulawesi Tengah, oleh aparat ‘kiriman’ Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Senin (27/1) kemarin, mendapat perhatian dari kaum tani di daerah lain. Widodo, salah satu petani Kulonprogo, Yogyakarta yang sedang berjuang menggagalkan proyek penambangan pasir besi di daerahnya, ikut merespon peristiwa penculikan tersebut.

“Itulah yang bisa dilakukan negara dan kaki tangannya, hanya bisa menculik dan menganiaya orang yang tak berdaya,” kecam Widodo.

Aksi penculikan semacam itu sendiri pernah dialami rekan seperjuangannya di Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulonprogo, Tukijo. Pada Mei 2010, Tukijo diculik oleh sekelompok polisi berpakaian ‘preman’. Mereka mendatangi Tukijo, ketika ia sedang mengolah lahannnya. Saat itu Tukijo dituduh telah merampas kemerdekaan pekerja tambang yang melewati dusunnya, Karangwuni. Alhasil, Tukijo pun dibui oleh PN Wates selama 3 tahun, dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang hanya 2 tahun.

Dalam kasus di Dongi-dongi, Widodo, yang juga merupakan partisipan Forum Komunikasi Agraris (FKMA) menambahkan bahwa ia mengutuk penculikan tersebut. “Sikap kami jelas, akan tetap melawan mereka (pemerintah-red),” lanjut Widodo “bagi saudara-saudaraku di Dongi-dongi, jangan takut dan putus asa. Semangat dan keringat kalian ada di antara keringat kami. Tetap melawan, karena hanya itu yang bisa tunjukkan dan buktikan bahwa kita ada.”

Baginya, perlawanan ada di mana-mana. “Solidaritas tanpa batas!” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.