Berita

Suara Tani Di Tengah Konflik Pembangunan Bandara NYIA

By  | 

Yogyakarta (20/02). Ia datang dengan senyum lebar, bergiliran menyalami warga dan relawan. Perempuan yang menyatakan diri menolak pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) itu memandangi satu per satu wajah orang-orang di hadapannya. Wagirah (56), nama yang tak asing untuk Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) ini dikenal kukuh memperjuangkan hak atas ruang hidup, bersama warga penolak bandara lainnya.

“Saya tidak ingin menjual lahan saya. Apapun yang terjadi, saya masih tetap tidak mau menjualnya,” tutur perempuan yang tak pernah tergiur janji para pemrakarsa proyek NYIA sejak lima tahun lalu.

Bu Wagirah telah bertekad, sebagai warga yang lahir dan besar di Temon, Ia tak akan membiarkan lingkungannya dirusak. Walaupun ancaman telah begitu dekat sejak akhir November 2017, ketika ia menyaksikan bagaimana pengosongan lahan berarti penghancuran kehidupan yang tidak pro bandara. Haknya atas ruang hidup terang-terangan dirampas. Tanpa memedulikan berkas kepemilikan tanah yang disahkan negara, PT. Angkasa Pura I dan suruhannya meratakan sekitar rumah Bu Wagirah dengan tanah. Hari ini, tak ada pepohonan apalagi tempat bermain untuk anak. Tumpukan puing dari bongkaran rumah bekas tetangganya yang pro bandara adalah bukti sekaligus teror yang harus dihadapinya setiap hari.

Di pembukaan Festival Guyub Murup, Bu Wagirah menyatakan sikapnya di hadapan warga penolak bandara dan relawan solidaritas. Pesannya menyuratkan bagaimana semangat persatuan adalah tantangan untuk kebersamaan hari ini. Kesungguhan kita menentukan nasib kita selanjutnya. Dirusaknya lahan bukan berarti tak perlu terus mengusahakan menanam.

“Marilah semua warga dan relawan yang mendukung perjuangan PWPP-KP, marilah kita bersatu padu menegakkan keadilan!” tegas Bu Wagirah dalam orasinya.

Bu Wagirah menuturkan bagaimana kampung halamannya pernah begitu asri dan subur, sampai ia tidak berpikir lagi hendak memanfaatkan lahannya atau tidak. Ia dan tetangganya sudah sejahtera dengan lahan subur anugerah Tuhan. Hasil bumi yang melimpah harus ia ikhlaskan sejak proyek pembangunan bandara meneror kehidupannya yang tentram.

“Apa yang sekarang terjadi? Semuanya hancur karena adanya bandara ini! Kita tidak pernah menjual tanah ataupun rumah, tapi dipaksa untuk menyerahkan,” ujarnya sembari meresapi keadaan di sekitarnya.

Bagi Wagirah, pemerintah telah bersikap tidak adil pada petani. Semua yang terjadi di kampung halaman ibu dua anak ini adalah bukti pengabdian pemerintah pada korporasi dan bukan rakyat petani.

“Pemerintah tidak adil, berpihak kepada orang berduit, tidak kepada petani. Padahal petani memberi makan para pejabat,” ucap Wagirah.

Bu Wagirah kemudian menyanyikan “Indonesia Tanah Air Beta” bersama artis Melani Subono. Air mata Bu Wagirah menetes saat melafalkan lirik lagu kebangsaan tersebut. Tatapannya yang tegar seolah menegaskan bagaimana ia akan melakukan apapun untuk mengembalikan tanah airnya dari rampasan para pihak yang tak paham makna kehidupan.

Festival Guyub Murup, Mereka Menolak Perampasan Ruang Hidup

Orasi Bu Wagirah nampak membakar semangat para pengisi acara yang sehari-harinya tidak tinggal di Temon. Naomi Srikandi, aktor dan aktivis, menyebutkan bahwa keberadaan bandara malah memperburuk kondisi warga yang mencari nafkah dari bertani. Ia menyerukan agar seniman gencar menyuarakan pilihan hidup para petani pesisir ini.

“Kawan-kawan bisa mendengarkan, suara ibu-ibu, suara ini bisa semakin besar,” kata Naomi.

Melani Soebono, penyanyi dan selebriti yang tinggal di Jakarta menyusul dengan seruannya tentang proses perjuangan yang membutuhkan waktu panjang. Ketika tanah sebagai sumber kehidupan dirampas untuk kepentingan pembangunan yang berorientasi bisnis semata, sangat mungkin pembangunan tersebut mengorbankan bahkan menindas rakyat kecil. Ia menyatakan bahwa proses pembangunan bandara NYIA telah melanggar Hak Asasi Manusia.

“Ini bukan soal menolak pembangunan, tapi berjuang melawan penindasan Hak Asasi Manusia!” tegasnya lagi.

Festival Guyub Murup dirancang menjadi salah satu wadah pendukung perjuangan warga melalui rentetan aksi solidaritas menolak pembangunan bandara NYIA. Kegiatan seni budaya ini berangkat dari kesadaran perlunya terus mendengungkan bagaimana rencana NYIA dengan lahan seluas 637 Ha, yang akan diperluas menjadi 2000 Ha dengan konsep pengembangan Aerotropolis atau Kota Bandara akan mengancam ruang hidup.

“Perjuangan warga akan terus ada (terbang-red), pada prinsipnya kami terus menolak bandara,” kata Sofyan saat ditemui di sela-sela pembukaan Festival yang ditandai dengan penerbangan layang-layang.

Pengisi acara lain, Danto yang lebih dikenal dengan nama panggungnya, “Sisir Tanah”, menyatakan apa yang dilakukannya melalui musik diniatkan sebagai kontribusi dalam perjuangan. Musik mampu menjaga semangat hidup, sedangkan lirik mampu mengabarkan terjadinya penindasan demi pembangunan infrastruktur.

“Penting untuk diketahui oleh orang lain, bahwa warga masih bertahan. Bagiku (musik) ini adalah bentuk solidaritas untuk memperpanjang nafas perjuangan,” tutur Danto.

Sebagai musikus, Danto sadar bahwa proses membuat lirik dan memainkan musik tak mungkin terpisah dari kejelian melihat persoalan yang dihadapi para rakyat pejuang, dalam hal ini para petani lahan pesisir Kulon Progo.

Dukungan juga disampaikan oleh Sick Brain, salah satu kelompok musik beraliran skatepunk asal Yogyakarta. Salah satu hal yang menjadi perhatian mereka adalah kegiatan pembangunan yang tidak melindungi warga dari terjadinya kekerasan.

“Tidak pernah ada yang mengajarkan kekerasan. Prinsip memanusiakan manusia lebih penting daripada membangun dengan membabi buta,” ujar salah satu personil Sick Brain, Tino.

Tak kalah bersemangat memberikan dukungan, Deugalih yang memainkan musik aliran folk turut bersuara. Baginya warga berhak menolak pembangunan NYIA. Mengingat proses pembangunan seringkali abai dengan persetujuan warga, pemenuhan Hak Anak perlu disoroti menyeluruh. Anak-anak perlu hidup di lingkungan yang layak, yakni lingkungan yang telah menghidupi mereka sebelum gencarnya proyek pembangunan NYIA. Baginya kenyataan di Temon hari ini adalah pelanggaran Hak Anak oleh negara.

“Hak Anak itu kan belajar dan bermain. Saat ini mereka belajar saja susah, apalagi kalau mau main dengan tanah rata seperti ini. Negara sudah melanggar hak paling dasar untuk anak,” kata Deugalih.

Kelompok musik asal Kulon Progo, Taring Hitam, melalui personilnya Ade, menuturkan kegelisahan mereka menghadapi suasana di Temon. Ade menjelaskan bahwa mayoritas warga Propinsi DI Yogyakarta dan khususnya di Kabupaten Kulon Progo, adalah petani. Lebih dari itu, mereka adalah manusia yang tak mungkin baik-baik saja jika direnggut dari rumahnya dan dihilangkan sejarahnya.

“Saya sebagai warga Kulon Progo sangat prihatin dengan kejadian ini. Saya sedih sebab sejarah tentang rumah tinggalnya (warga -red.), sejarah tentang masa kecilnya, yang dari lahir sampai sekarang, jadi hilang entah ke mana karena bandara NYIA,” tutur Ade gusar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.