Pernyataan Sikap dan Solidaritas

Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP KP)

Wahana Tri Tunggal (WTT)

Untuk Papua

 

Menanggapi aksi kekerasan aparat keamanan negara dan organisasi kemasyarakatan (ormas) reaksioner terhadap warga Papua di Yogyakarta yang terjadi beberapa hari ini, kami warga PPLP KP dan WTT menyatakan sikap:

  1. Warga dan mahasiswa Papua di Yogyakarta selama ini telah bersolidaritas mendukung perjuangan PPLP KP dan WTT dalam menolak tambang pasir besi dan rencana pembangunan bandara di tempat kami (Kulon Progo), sehingga terkait dengan aksi kekerasan yang menimpa warga Papua di Yogyakarta, kami merasa perlu melakukan solidaritas kepada mereka.
  2. PPLP KP dan WTT mengecam tindakan kekerasan aparat keamanan negara dan ormas-ormas reaksioner terhadap mahasiswa Papua di Yogyakarta. Kami warga (PPLP KP dan WTT) yang juga pernah mengalami kekerasan serupa dan bahkan dikriminalisasi oleh negara karena berjuang mempertahankan ruang hidup sangat bisa merasakan bahwa kekerasan terhadap warga dan mahasiswa Papua tidak bisa dibenarkan demi kemanusiaan.
  3. Bahwa apa yang diperjuangkan oleh mahasiswa Papua, kami menilai ialah kebebasan berpendapat untuk menentukan nasibnya sendiri dalam alam demokrasi. Maka, kami menilai, aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan negara dan ormas-ormas reaksioner terhadap mahasiswa Papua ialah tindakan pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat sekaligus kebebasan untuk menentukan nasib secara merdeka.
  4. Sebagai warga yang sama-sama sedang memperjuangkan kemerdekaan dari kesewenang-wenangan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh negara, kami mendukung perjuangan mahasiswa Papua, sekaligus mengajak semua kelompok warga lain yang sedang memperjuangkan kemerdekaan hidup untuk saling bergandeng tangan melawan kesewenang-wenangan tersebut.

 

Kulon Progo, 17 Juli 2016


Pernyataan sikap ini dibuat oleh PPLP KP (Paguyuban Petani Lahan Pantai – Kulon Progo) dan WTT (WahanTri Tunggal) setelah berbagai informasi dan komunikasi atas kejadian yang dialami sedulur dari Papua mengalami perlakuan kekerasan dari aparat Kepolisian Yogyakarta dan melihat situasi di Indonesia yang semakin tidak baik. (Silahkan lihat kronologis yang telah disiarkan ke publik).

Susunan tulisan sikap ini dituturkan saat Syawalan PPLP KP 1437 H pada hari Minggu pagi hari tanggal 17 Juli 2016 di Desa Karangsewu, Galur, Kulon Progo.

 

Nb: Berita terkait salah satu konteks apa yang terjadi di Papua, redaksi selamatkanbumi merekomendasikan membaca jejaring media di AWASMIFFE.

5 KOMENTAR

  1. Masih ada sodara2 kami warga jogja yg tidak tutup mata atas situasi yg dialami oleh adik2 mahasiswa Papua oleh sikap arogansi polisi dan ormas.Tuhan yg maha adil memberkati kalian. Msh byk cara dan pendekatan yg bisa dilakukan, bukan dgn cara mengepung membatasi hak hidup adik2 kami.
    Tdk ada yg kekal dan abadi dlm hidup ini, jgn hanya krna kekuasaan dan atas nama nkri dan negara lalu kita melakukan tindakan semana2 kpd rakyatmu sendiri. Disanalah titik kebencian akan bertumbuh dan semakin kuat dan sulit untuk dptkan kepercayaan kembali. Paku yg sdh di tancap walaupun dicabut tetap sj ada bekasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.