Solidaritas

Surat Terbuka dari Padarincang

By  | 

SURAT TERBUKA

UNTUK BUPATI DAN WAKIL BUPATI SERANG

TENTANG PENOLAKAN TERHADAP

RENCANA PENAMBANGAN BATU

DI BUKTI BATU RANJANG DESA SUKADANA

KECAMATAN CIOMAS,

DESA CIOMAS KECAMATAN PADARINCANG DAN SEPANJANG

BENTANG ALAM PALIMA-CINANGKA

Berkenaan dengan rencana penambangan batu yang berlokasi di bukit batu ranjang tepatnya di desa Sukadana Kecamatan Ciomas dan desa Ciomas Kecamatan Padarincang, dan atas dasar kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan, inisiasi-inisiasi warga yang berporos pada pembangunan berkeadilan sosial dan lingkungan serta pandangan atas 8 capaian MDGs pada point 7 yang memuat tentang upaya menjaga kelestarian hutan dan lingkungan secara umum di mana Indonesia merupakan salah satu Negara yang turut menandatangani dan terlibat di dalamnya.

Berpijak pada semangat kearifan lokal yang diakomodasi oleh Undang-undang dan kebebasan berserikat untuk menyampaikan pendapat, dengan ini kami warga desa, gabungan entitas masyarakat kecamatan Padarincang, Ciomas, Pabuaran dan sekitarnya menyampaikan nota keberatan atas rencana penambangan tersebut dengan beberapa pandangan, antara lain:

1. Banyaknya aktivitas penambangan yang terjadi di beberapa lokasi di kabupaten Serang atas dasar surat izin Bupati Serang tidak memiliki dampak positif bagi warga baik dari sisi ekonomi maupun sosial, justru hanya meninggalkan catatan kerugian: (a). kerusakan lingkungan dan memperburuk kondisi jalan sebagai sarana publik dan (dapat) menimbulkan penyakit pernafasan oleh karena polusi debu seperti yang terjadi di kecamatan Pabuaran (b). Pencemaran sungai Cibanten yang dikeluhkan warga Tembong kota Serang karena tidak bisa dimanfaatkan untuk aktifitas harian seperti mencuci dan mandi. (c). konflik yang meresahkan hingga kasus penembakan oleh aparat negara yang seharusnya melindungi dan mengayomi warganya seperti yang terjadi di Lontar Pontang kabupaten Serang.

2. Aktivitas penambangan ini hanya akan mengakibatkan penurunan jumlah hutan sebagai penyangga atas keseimbangan dan area ideal bagi penurunan resiko pemanasan global, serta berkurangnya fungsi hutan sebagai area resapan air hujan yang dapat menimbulkan kekeringan bahkan berakibat pada bencana longsor.

3. Bahwa Limbah yang dihasilkan dari aktivitas penambangan ini akan berdampak terhadap penurunan kualitas kesehatan warga, debu yang berbaur bersama udara akan mengganggu pernafasan dan tentu saja dapat menimbulkan penyakit yang dapat merugikan warga sekitar.

4. Sirkulasi arus kendaraan yang keluar masuk dari lokasi penambangan dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan warga sepanjang lintasan jalan Palka, selain kerusakan yang disebabkan oleh overload beban kendaraan, kepadatan moda transportasi di lintasan jalan yang rusak itu akan meningkatkan jumlah kecelakaan lalu lintas.

5. Batu ranjang merupakan area hutan rakyat yang berbatasan langsung dengan hutan Negara yang memiliki luas 450 hektar serta masuk ke dalam komplek area konservasi Rawa Danau yang seharusnya dijaga dan dilestarikan. Penambangan ini hanya akan menimbulkan ketimpangan alam dan merusak ekologi sekitar area konservasi.

6. Sejalan dengan penguasaan atas lahan oleh para pemilik modal yang cepat atau lambat tidak lagi menyisakan lahan bagi warga untuk mencari penghidupan, dan bahwa desa sebagai wilayah administratif terkecil dengan sub-kultur di mana warganya sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya alam termasuk hutan kini berada dalam ancaman mengingat ekspansi industri sebagai penyumbang emisi pemicu pemanasan global mulai melirik lahan di pedesaan mengingat tidak ada lagi lahan di kota-kota.

Atas pandangan tersebut di atas dengan ini kami menyampaikan penolakan secara tegas atas rencana penambangan tersebut dalam bentuk tuntutan antara lain :
1. Batalkan rencana penambangan batu di lokasi bukit batu ranjang serta lokasi-lokasi yang berada dikawasan palka dan sekitarnya.

2. Tetapkan palka sebagai area ekoregion sesuai dengan tata ruang dan tidak boleh merubah atas kehendak sendiri hanya karena dorongan kepentingan pengusaha yang tidak bertanggung jawab, lindungi hak-hak masyarakat desa dari ancaman kepentingan pemilik modal yang hanya akan merusak dan menguasai lahan-lahan di desa.

Bupati Serang yang terhormat, akhirnya kami ingin pengutip satu kalimat Charles Brooke di tahun 1915 yang berbunyi “ku mohon dengarkanlah kata-kata ini dan ingatlah baik baik. Akan tiba saatnya, ketika aku sudah tidak di sini lagi, orang lain akan datang terus menerus dengan senyum dan kelemahlembutan, untuk merampas apa yang sesungguhnya hak mu, yakni tanah di mana kamu tinggal, sumber penghasilanmu bahkan makanan yang ada di mulutmu. Kalian akan kehilangan hak kalian yang turun temurun, dirampas oleh orang-orang asing dan para spekulan yang pada gilirannya akan menjadi para tuan dan pemilik, sedangkan kalian, hai anak-anak negeri ini, akan disingkirkan dan tidak menjadi apapun kecuali menjadi para kuli dan orang buangan di pulau ini.

Pak Bupati beserta Ibu Wakil Bupati Serang yang terhormat berikut jajarannya, yang dengan penuh kesetiaan terhadap pimpinannya, kata-kata ini begitu mencambuk kami, dan membangkitkan ingatan pada puncak amaran penolakan warga terhadap Danone pada tanggal 5 Desember 2010 lalu karena anda selalu merasa benar dan tidak pernah mendengar keluhan dan kegelisahan warga, anda selalu merasa nyaman dengan menerbitkan surat izin usaha kepada siapa pun tanpa mempertimbangkan apa pun.

Hentikanlah kegilaan ini, kegilaan karena merasa benar dalam kobodohan saat memperlakukan alam seakan-akan kita bukan bagian dari-nya, memberikan kemerdekaan terhadap kaum pemodal dengan izin usaha sebebas-bebasnya namun memenjarakan hak atas hidup sehat, hak atas hidup layak, hak atas hidup aman dan nyaman kaum masyarakat lemah.

Tentu saja kita tidak ingin masuk ke dalam golongan Mufasidiin (kaum perusak) sebagai mana kehawatiran Malaikat, kita berharap menjadi Kholifah fil ard sesuai dengan kehendak dan tujuan Allah saat menciptakan kita sebagai manusia.

Demikian surat terbuka ini kami sampaikan, semoga kita masih memiliki nalar sehat.

Selamatkan alam kita dari kepentingan pengusaha rakus dan tak memahami makna keadilan!

Serang, 3 Juni 2013

Gerakan Palka Hijau
Menegakan kedaulatan desa,
Meretas keadilan lingkungan.

1 Comment

  1. ilham

    Senin April 20th, 2015 at 10:16

    Sungguh biadab orang2 yang mengaku pelindung rakyat yang di pilih rakyat tapi akhirnya matiin rakyat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.