Berita

Tindakan Aparat Sewenang-Wenang, Warga Laporkan ke Polda DIY

By  | 

Dugaan kekerasan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian yang bertugas mengamankan proses pembebasan lahan di lokasi pembangunan bandara NYIA pada Senin 8 Januari 2018 dan Selasa 9 Januari 2018 dilaporkan oleh warga.

Yogyakarta(10/1)-Peristiwa kekerasan terjadi di desa Palihan dan Glagah, pada saat itu warga Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP) mencoba mengamankan lahan yang masih berstatus hak milik dari gerakan backhoe yang mencoba merusak lahan warga.

Pada hari Senin, 8 Januari 2018 pengosongan lahan yang terjadi di desa Palihan telah memakan korban warga dan relawan. Suyadi salah satu warga mengalami luka serius saat kejadian berlangsung ia dipukul di bagian hidung dan mulut hingga mengucurkan darah, ia sempat jatuh dan tak sadarkan diri, warga yang melihat Suyadi tak berdaya langsung membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

Keesokan harinya Selasa, 9 Januari 2018 pengosongan lahan dilakukan di desa Glagah dengan target 16 bidang. Dari pengamatan tim selamatkanbumi.com penjagaan aparat cukup banyak, ada sekitar 200 personel dari unsur polisi, Satpol PP sampai TNI AD dan AU. Mereka diturunkan untuk mengawal proses pengosongan lahan. Mereka bergerak bersama mengikuti dua backhoe menuju lahan warga di dusun Sidorejo, Kepek, dan Bapangan. Sesampainya di lahan warga, alat berat bekerja tidak memperdulikan status tanah hak milik warga, mereka terus menerjang dan merobohkan pohon satu demi satu, sedangkan pihak kepolisian segera membentuk brigade memanjang.

Warga yang melihat tanahnya dirusak langsung menghampiri alat berat, namun tak sampai mendekat. Kepolisian kembali membentuk brigade, sempat terjadi aksi saling dorong antara warga, relawan, dan aparat. Salah satu pihak Kepolisian mengacungkan jari tengah kepada warga dengan kedua tangannya. Merasa tidak terima dengan hal tersebut, warga mencoba bertanya maksud dari tindakan aparat Kepolisian, namun tak digubris, justru aparat kemudian bertindak keras dengan mendorong warga untuk menjauh dari backhoe. Warga diam saja lalu membentuk barisan, mereka berhadap-hadapan. Namun tak berselang lama aksi dorong-mendorong semakin kuat tejadi, Kepolisian kemudian memukul relawan.

Zaki selaku relawan yang berada di lokasi menuturkan bahwa aparat memulai lebih dahulu, warga diam saja, hanya mengamankan lahan. Mereka tidak melakukan tindakan apapun.

“Relawan membantu warga mengamankan hak milik warga, aparat mengacungkan jari tengah, warga terpancing, kemudian bertanya kenapa mengacungkan jari tengah? Yang bilang gitu dikejar polisi, itu awalnya,” tutur Zaki yang sempat dianiaya aparat lalu ditangkap dan dibawa ke Polres Kulonprogo.

Ia menjelaskan bahwa banyak relawan yang dipukul, diseret dan dipiting oleh aparat. Bahkan kata Zaki yang masih berstatus mahasiswa UGM, semua yang dilakukan aparat tidak melalui proses dialog, namun langsung main pukul dan keroyok. Dirinya yang berusaha mengamankan warga ikut dipukul sampai bagian pelipis mata memar hingga membiru.

“Relawan dikeroyok, kita gak tahu siapa yang pukul. Ada 7 orang” Kata Zaki sembari menunjukan luka yang dideritanya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Heronimus, ia mengalami luka di dahi dan lengan kirinya. Ia menceritakan saat peristiwa pengamanan lahan warga, ia hanya diam di hadapan Kepolisian, tidak melakukan tindakan apapun, namun dirinya sempat didorong keras hingga jatuh. Aparat yang mengetahuinya jatuh, langsung main pukul. Ia tak berdaya, tangannya tak kuat menahan pukulan aparat, mata dan bibirnya ditutup dengan tangan polisi, ia sempat berteriak, namun aparat justru makin kencang menggebuknya.

“Ini dipukul (Menunjuk pelipis-red), ketika proses terjadi saya jatuh lalu diinjak lalu dikeroyok. Saya tidak melihat berapa orang yang melakukannya, mata dan bibir saya ditutup,” ucapnya sembari menujukkan luka di kepala dan lengan.

Melihat kejadian tersebut, warga bersama tiga relawan melaporkan tindakan aparat ke Polda DIY. Saat proses pelaporan mereka ditemani Teguh Purnomo selaku kuasa hukum warga.

Saat dimintai keterangan, Teguh mengungkapkan jika tujuan dirinya dan warga datang ke Polda adalah untuk melaporan tindakan aparat yang bekerja di luar batas. Menurutnya, aparat yang harusnya mengamankan kedua belah pihak justru bertindak tidak sesuai dengan prosedur, dengan melakukan pemukulan kepada warga dan relawan.

“Kami melaporkan ini ke Polda DIY, nanti siapa yang akan diproses pihak kepolisian yang mengetahui. Foto dan foto bergerak kami lampirkan,” ujarnya saat memberikan keterangan pasca menyerahkan laporan ke bagian Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SKPT).

Menurut Teguh, aparat telah melakukan provokasi dan bertindak sewenang-wenang. Melihat peristiwa dua hari lalu, ia dengan tegas menyatakan harus tetap menggunakan jalur hukum.

“Laporan ini adalah laporan pelaku, Kita akan melaporkan aparat yang sudah teridentifikasi jelas.” Kata Teguh.

Kapolres Kulonprogo Minta Maaf

Di saat bersamaan sekitar pukul 11.02, Kapolres Kulonprogo Irfan Rifai mendatangi Polda DIY, saat itu ia menghadiri kegiatan. Ia mencoba memberikan keterangan sekaligus memberikan pernyataan atas apa yang terjadi di lokasi pembangunan bandara.

Baginya, warga yang melaporkan adalah hak masyarakat, pihak Kepolisian tidak boleh menolak laporan apapun bentuknya. Terkait bandara ia menjelaskan hanya menjalankan tugas pokok dan fungsi yang diminta oleh pihak Angkasa Pura I selaku pemrakarsa, untuk pengamanan proses land clearing.

Ia juga menjelaskan telah mengingatkan anggotanya untuk melakukan pendekatan persuasif dan menghindari kekerasan. Namun kejadian di lapangan justru terjadi perbedaan, ia sendiri mengaku memang terjadi aksi dorong-mendorong antara warga dan aparat.

“Anggota saya tekankan untuk melakukan kegiatan persuasif, hindari kekerasan dan tidak mudah terprovokasi. Dinamika di lapangan beda lagi, terjadi dorong-dorong,”Kata Irfan.

Terkait anggotanya yang melakukan tindakan di luar prosedur seperti mengacungkan jari tengah, dirinya menjelaskan sudah mengantongi inisial dan telah menindak yang bersangkutan dengan cara tidak melibatkan dalam proses pengosongan lahan.

“Kita sudah dapat inisialnya. Dia anggota Sabhara, inisialnya AN berpangkat Bripda, setelah kejadian itu, ba’da dzuhur, yang bersangkutan tidak boleh ke lapangan, yang bersangkutan langsung standby di pos biar tidak terulang lagi,” tuturnya.

Dari hal itu Irfan Rifai meminta maaf karena tindakan anggotanya memang sudah di luar batas, “Saya selaku Kapolres mohon maaf karena salah satu anggota saya masih ada terprovokasi,” ujarnya.

Proses pelaporan oleh warga dan relawan diterima oleh Komisaris Polisi Tugiman di bagian Reserse kriminal Polda DIY. Saat itu langsung dilakukan BAP.

Saat mengantar warga dan relawan ke Reskrim, Teguh Purnomo menyatakan siapapun aparat yang terlibat tidak boleh dipandang sebelah mata, semua harus ditindak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, pihak kepolisian harus mampu mengusut pelaku kekerasan terhadap warga dan relawan.

“Aparat mana yang terlibat tidak pandang bulu, Kepolisian harus memproses kasus tersebut, kalau ada kemungkinan keterlibatan TNI dan AU saya kira harus menyampaikan itu kepada Polisi Militer,” kata Teguh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *