Yogyakarta – Dalam rangka menyambut bulan Ramadan sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup, Minggu (5/6) kemarin, setidaknya 600 warga pesisir dari tiga organisasi yang menolak rencana pembangunan bandara Kulon Progo melakukan aksi membagikan hasil bumi di Jalan Daendels, Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulon Progo. Tiga organisasi tersebut adalah Perempuan Pejuang Anti Penindasan (PPAP), Wahana Tri Tunggal (WTT), dan Predator Kulon Progo.

Hasil bumi tersebut dibagikan secara gratis kepada seluruh warga yang melintasi Jalan Daendels dari sejak Minggu pagi. Aksi ini ditujukan sebagai upaya untuk menjelaskan kepada pemerintah Indonesia bahwa lahan seluas 645, 63 hektar yang mereka miliki merupakan kawasan pertanian produktif yang tidak semestinya dialokasikan untuk pembangunan bandara. Menurut warga yang terdampak, pembangunan bandara tersebut dianggap tidak akan memberikan dampak positif apapun, baik secara ekonomi, sosial, dan budaya. Bahkan jika dihitung secara cermat, bukan hanya akan menurunkan pendapatan ekonomi warga, namun juga memicu terjadinya konflik agraria, pemusnahan situs-situs budaya, penghilangan secara paksa sejarah sosial warga, dan berpotensi menimbulkan konflik sosial baru.

Dalam keterangan pers yang diterima selamatkanbumi.com juga dijelaskan bahwa, sedari awal rencana pembangunan bandara Kulon Progo terbukti cacat hukum. Hal ini, salah satunya dapat dilihat dari penerbitan Ijin Penetapan Lokasi (IPL) oleh Gubernur provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tanpa didahului dengan dokumen AMDAL. Menurut pengurus WTT, rencana pembangunan bandara juga tidak sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah DIY, yang mana di dalamnya tidak memuat sedikitpun tentang materi pembangunan bandara baru, serta tidak mengacu pada surat yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dengan Nomor: B4718/MENLH/09/2003 tertanggal 24 September 2003 tentang AMDAL dan izin lokasi yang ditujukan kepada Bupati dan Wali Kota sebagai syarat penerbitan izin.

Dukungan Internasional

Perjuangan warga pesisir Kulon Progo dalam menolak rencana pembangunan bandara mendapatkan dukungan secara luas setidaknya dari 40 negara. Dukungan tersebut mengalir saat pertemuan Konferensi Perempuan Akar Rumput Sedunia, yang dilaksanakan pada 13-18 Maret 2016 lalu di Nepal. Martono, pengurus WTT, mengatakan, “Forum perempuan dari India juga memberikan dukungan terhadap perjuangan kami.” Seperti yang telah diketahui, GVK Power, salah satu investor yang ikut terlibat dalam rencana pembangunan bandara Kulon Progo merupakan perusahaan yang berasal dari India.

wtt 1
Foto Baliho Dukungan Internasional. Sumber: Primer

Untuk menjelaskan kepada publik secara luas terkait dengan dukungan publik internasional terhadap perjuangan warga WTT, PPAP, dan Predator, surat dukungan tersebut dicetak di baliho dan spanduk ukuran besar. Baliho tersebut kini berdiri persis di pinggir Jalan Daendels, pesisir Kulon Progo.

Selain melakukan aksi membagikan hasil bumi, beberapa pengurus WTT, PPAP, dan Predator juga menjelaskan akan tetap menolak tanpa syarat rencana pembangunan bandara Kulon Progo, terkait dengan akan dikeluarkannya hasil taksiran harga lahan yang sebelumnya telah dilakukan pendataan dan pengukuran oleh Tim Appraisal, pada 14 Juni 2016 mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.