Dengan sedikit hati-hati, Karim (nama aslinya sengaja disamarkan), warga desa Sumber Bening, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, siang itu (24/10) menceritakan apa yang ia lihat secara langsung tentang sebuah peristiwa penting yang terjadi di Sumber Bening pada tahun 2013.

Ia menceritakan bahwa pada tahun 2013, ada segerombolan orang yang tak dikenal datang ke kampungnya. Tanpa pernah melakukan pemberitahuan dan sosialisasi kepada warga, orang-orang tersebut naik ke gunung-gunung yang mengelilingi Sumber Bening.

Sumber Bening adalah sebuah desa yang dikelilingi oleh pegunungan Semungklung dan beberapa gunung kecil lainnya. Pegunungan Semungklung ini membentang luas hingga 3 kecamatan, yakni: Dongko, Pule dan Suruh.

Pada mulanya, Karim dan warga desa lainnya menduga bahwa orang-orang tersebut memiliki urusan dengan pihak Perhutani, yang lahannya juga tersebar di beberapa wilayah Sumber Bening, khususnya di kawasan pegunungan Semungklung. Hal tersebut dikuatkan setelah warga melihat orang-orang tersebut memasang beberapa pita berwarna merah dan pink di kawasan Perhutani.

Namun, prediksi tersebut meleset. Warga mendapati bahwa ternyata pita-pita juga dipasang di areal pertanian milik warga. Karim mengatakan, pita-pita tersebut dipasang di 25 titik yang berbeda. Kegiatan ini dilanjutkan dengan pemasangan beberapa kabel di titik-titik yang telah ditandai. “Kabelnya seperti kabel telepon. Kabelnya ditanam sedalam setengah meter di 25 titik, yang mencakup kawasan Perhutani dan warga”, ungkapnya.

Kegiatan itu memancing kecurigaan warga dan mendorong mereka mempertanyakan kegiatan tersebut kepada orang-orang yang melakukan pemasangan pita. Warga mendapatkan keterangan bahwa kegiatan itu terkait dengan rencana pertambangan emas di desa Sumber Bening, yang dalam pelaksanaannya akan dikerjakan oleh PT. Sumber Mineral Nusantara (SMN). Atas informasi itu, seluruh warga menolak segala kegiatan yang sedang dilaksanakan. “Warga takut kalau ada kegiatan pertambangan di Sumber Bening, akan terjadi kehancuran yang dasyat bakal terjadi. Pokoknya kami tidak memperbolehkan adanya pemasangan pita ataupun pengeboran”, ungkap Karim.

Namun, usaha penolakan warga ini tidak direspon baik oleh para gerombolan orang yang menyebut dirinya sebagai surveyor PT SMN. Malah selanjutnya pihak PT SMN meresponnya dengan mendatangkan sejumlah alat berat dan beberapa mesin untuk tujuan eksplorasi. Situasi ini akhirnya berujung pada kemarahan warga yang memuncak berupa pengusiran terhadap seluruh alat berat milik PT SMN pada Juli 2013.

Pasca kejadian itu, aktivitas pemetaan dan kegiatan eksplorasi lainnya di Sumber Bening tidak pernah dilanjutkan. Namun, PT SMN memindahkan kegiatan eksplorasinya di beberapa titik lainnya, seperti Jombok, Jati, Kojan, Dalangturu, Suruh, Gregah, Timahan, Bogoran, Sentul, Jerambah, Singgahan, Dukuh, dan Buluroto. Lokasi titik-titik eksplorasi ini tersebar di beberapa kecamatan.

Dari penelusuran sementara, beberapa kecamatan yang diprediksi memiliki kandungan emas tertinggi berada di kecamatan Dongko, Suruh, Pule, dan Kampak.

iup

 

Siapa Pemain Utama Dibalik Kegiatan Pertambangan Ini?

Pertama, Kegiatan eksplorasi pertambangan di Trenggalek ini bermula dari sejak terbitnya Ijin Usaha Ekslporasi (IUP) yang dikantongi oleh PT SMN. Dalam IUP yang mereka kantongi, PT SMN mendapatkan lahan seluas 30.044 hektar. Luas IUP ini sangat fantastis, karena luas kabupaten Trenggalek secara keseluruhan hanya berjumlah 120.500 hektar. Dengan demikian jika pertambangan ini berjalan, seperempat luas Trenggalek akan berubah menjadi kawasan pertambangan.

Selain di Trenggalek, sebelumnya PT SMN juga melakukan kegiatan pertambangannya di Bima, dengan luas konsesi mencapai 24.980 hektar. Pada tahun 2011, aktivitas kegiatan pertambangan PT SMN di Bima, menyulut protes warga karena dianggap telah menyebabkan kerusakan lahan pertanian dan sumber air minum. Protes ini berujung bentrok dan mengakibatkan 2 orang warga meninggal dunia, dan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.

Namun yang perlu dicatat disini, dari 2 proyek tersebut (Bima dan Trenggalek), 95 persen nilai keseluruhan proyek dikuasai oleh Arc. Eksploration Limited (ARX).

Kedua, Arc. Exploration Limited (ARX).  ARX adalah sebuah perusahaan berbendera Australia yang dibentuk tahun 1983. ARX memiliki fokus kegiatan pertambangan di Indonesia dan Australia. Dalam menjalankan proyek pertambangannya, ARX memiliki 2 kantor yang berada di Australia dan Indonesia. Di Australia, ARX berkantor di ABN 48 002 678 640 Level 8, 65 York Street, Sydney NSW 2000, sementara di Indonesia ia bermarkas di perkantoran CBD/BIDEX, Blok F, No. 5, Jalan Pahlawan Seribu, BSD City, Tangerang.

Dalam dokumen yang berjudul June 2009 Quarter Acitivites Report yang diterbitkan ARX, didapatkan sejumlah keterangan bahwa di Indonesia, ARX melakukan kegiatan pertambangannya di sejumlah tempat, yakni: Pulau Jawa (Cibaliung-Banten, Pongkor-Jawa Barat, Tenggalek-Jawa Timur), Nusa Tenggara Barat (Bima), dan Papua (Aisasjur Procet-Papua Barat).

Dalam proyek Trenggalek, sebagaimana dijelaskan dalam June 2015 Quarter Activities Report yang diterbitkan oleh ARX, ARX disebutkan menguasai 95 persen dari seluruh nilai proyek Trenggalek. Dan dalam proyek Bima, ARX juga menguasai 95 persen dari seluruh nilai proyek (June 2009 Quarter Activities Report).

Untuk proyek Cibaliung, ARX menguasai sekitar 84 persen seluruh nilai proyek. Namun pada tahun 2009, ARX menjual sebagian proyek Cibaliung kepada PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melalui sebuah perjanjian yang dilakukan pada tanggal 6 Februari 2009. Menurut laporan, June 2009 Quarter Acitivites Report, penjualan tersebut dilakukan untuk mengurangi kewajiban ARX dalam pembayaran hutang kepada bank ANZ. Dalam proyek Cibaliung ini, sebenarnya terdapat pemain penting, yakni Austindo Resources, sebuah perusahaan yang menguasai kepemilikan mayoritas di ARX, yang dimiliki oleh keluarga Tahija, pengusaha asal Indonesia. Dalam struktur kepemilikan ARX, PT Austindo menguasai hingga 42 persen, dan sisanya dimiliki oleh Lion Selection Group (LSG), dan Diemar’s.

Dan untuk proyek Papua, dalam dokumen ARX, Annual Consolidated Financial Report 2013, disebutkan bahwa ARX melakukan kegiatan pertambangan di Papua Barat bersama Grup Anglo American dengan konsesi seluas lebih dari 99.400 hektar. Dalam proyek Papua ini, ARX menguasai 20 persen dari seluruh nilai proyek.

Di Australia, pertambangannya terletak di 3 lokasi proyek, yakni Junee Project (NSW), Oberon Project (NSW), Mount Garnet Project (Queensland).[2]

Ketiga, Anglo American Group. Dalam dokumen ARX, Annual Consolidated Financial Report 2013, dijelaskan bahwa pada tanggal 22 Agustus 2013, Anglo American juga mendukung penuh dan turut andil dalam proyek pertambangan di Trenggalek. Bahkan untuk kegiatan eksplorasi mereka mengeluarkan dana hingga 20 juta USD.

Keempat, PT Danusa Tambang Nusantara. Danusa merupakan anak perusahaan PT United Tractors Tbk (UNTR).[3] Dalam dokumen yang dirilis ARX, Update On Drilling At Trenggalek (18 April 2016), disebutkan bahwa pada November 2015, PT Danusa telah bergabung dalam proyek eksplorasi Trenggalek. Dalam dokumen tersebut juga dijelaskan PT Danusa akan mengeluarkan pendanaan mencapai 1,5 juta USD dalam proyek eksplorasi selama 10 bulan pertama.

Dengan melihat peta aktor ini, sebenarnya dapat diketahui bahwa ARX adalah pemain penting utama. Apabila membaca kembali dokumen Annual Consolidated Financial Report yang dirilis oleh ARX pada tahun 2013, akan didapatkan sejumlah nama yang bertengger di jajaran Direktur Non Eksekutif yang penting untuk dilihat secara seksama. Diantara nama-nama tersebut, yang cukup menarik adalah salah satunya berasal dari Indonesia, yakni George S Tahija. Ia tak lain adalah anak dari Julius Tahija, mantan pendiri PT Freeport Indonesia, dan mantan presiden direktur dan presiden komisaris PT Caltex Indonesia.[4]

Hingga saat ini, walaupun perusahaannya dianggap telah beberapa kali menimbulkan kerugian dan kerusakan terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, dua bersaudara ini terus melenggang dengan santai. Mereka tetap mengembangkan sayap bisnisnya dalam berbagai bidang yang bergerak dalam industri perkebunan kelapa sawit, sagu, pertambangan-energi dan tembakau, dalam bendera PT Austindo Nusantara Jaya Group (ANJ Group). Selain bisnis di atas, merujuk laporan tahunan 2015 yang dikeluarkan ANJ, sedikitnya ada 16 lokasi bisnis ANJ yang tersebar di seluruh nusantara, diantaranya yakni:

  1. Provinsi Aceh: PT Aceh Timur Indonesia dan PT Simpang Kiri Plantation (kelapa sawit).
  2. Provinsi Sumatera Utara: PT Austindo Nusantara Jaya Agri, Binanga, 9.935 ha (kelapa sawit), PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siais, Padang Sidempuan, 9.639 ha (kelapa sawit), PT Perusahaan Pertanian, Perkebunan, Perindustrian dan Perdagangan Surya Makmur dan PT Bilah Plantindo. Kota Pinang (kelapa sawit).
  3. Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung: PT Sahabat Mewah dan Makmur, 16.307 ha (kelapa sawit), PT Austindo Aufwind New Energy (energi biogas).
  4. Provinsi Sumatera Selatan: PT Galempa Sejahtera Bersama. Empat Lawang, 12.800 ha (kelapa sawit), PT Evans Lestari, Musi Rawas (kelapa sawit).
  5. Provinsi Jawa Barat: PT Darajat Geothermal Indonesia bekerjasama dengan Chevron dan PT Pertamina (geothermal).
  6. Provinsi Jawa Timur: PT Gading Mas Indonesia Teguh (tembakau).
  7. Provinsi Kalimantan Barat: PT Kayung Agro Lestari, Ketapang, 6.620 (kelapa sawit).
  8. Provinsi Papua Barat: PT Permata Putera Mandiri, Sorong Selatan, 26,571 ha (kelapa sawit), PT Putera Manunggal Perkasa, Sorong Selatan, 22.678 ha (kelapa sawit), PT ANJ Agri Papua. Papua Barat. 40,000 ha (sagu), PT Lestari Sagu Papua (sagu).
  9. PT Austindo Nusantara Jaya Boga, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis makanan berbahan sagu.

Pundi-pundi kekayaan keluarga Tahija ini terus meroket. Hal ini belum ditambahkan dengan bisnis yang dirintis oleh Sjakon G Tahija, yang bergerak dalam bidang industri kesehatan. Pilihan bisnis kesehatan ini didukung oleh latar belakang pendidikannya sebagai alumni kedokteran, Universitas Indonesia. Hingga kini ia juga tercatat duduk sebagai komisaris PT Austindo Nusantara Jaya Husada Cemerlang, presiden komisaris PT ANJ HealthCare, presiden komisaris PT Optik Klinik Mata Nusantara, komisaris PT Elbatama Finance, komisaris PT Aceh Timur, pendiri Klinik Mata Nusantara, dan konsultan penyakit selaput saraf mata di Jakarta Eye Center.[5]

Dengan gurita bisnis tersebut, Globe Asia’s pada Juni 2011 lalu menempatkan George Tahija dan Sjakon Tahija bertengger di posisi 47 dari 150 orang kaya Indonesia. Total kekayaan kakak beradik Tahija itu ditaksir mencapai lebih dari  US$ 560 juta.[6]

anj2Sumber: Laporan Tahunan 2015 ANJ

Yang Bakal Hilang

Jauh sebelum warga Sumber Bening mendapati lahan-lahan pertanian mereka dipatok secara sepihak sebagai kawasan eksplorasi pertambangan oleh PT SMN, sebenarnya cerita tentang adanya kandungan mineral emas di wilayah mereka dan pegunungan Semungklung sudah sempat beredar. Hal itu bermula dari banyaknya orang-orang yang tak dikenal kerap hilir mudik di sekitar pegunungan Semungklung sebelum tahun 2013.

Namun karena orang-orang tersebut tidak pernah melakukan kegiatannya di lahan milik warga, seluruh warga Sumber Bening tidak pernah menaruh curiga. Tapi lambat laun, warga mulai mengerti bahwa dari orang-orang tersebut didapatkan sejumlah informasi bahwa kawasan pegunungan Semungklung memiliki kandungan emas dengan jumlah yang melimpah.

Terkait dengan kegiatan pertambangan yang akan dilaksanakan oleh PT SMN ini, pemerintah desa Sumber Bening juga mengatakan bahwa apabila pertambangan tetap dilakukan maka sejumlah kerusakan ekologis dalam jumlah besar akan terjadi. Karena di Sumber Bening sendiri, terdapat beberapa titik mata air yang cukup penting. Bahkan dianggap suci.

Salah satu mata air yang disucikan tersebut adalah Pelancuran, di mana tak jauh dari tempat ini juga terdapat sebuah petilasan. Konon mata air ini memiliki sejarah yang cukup penting karena sebagian warga meyakini bahwa di tempat itulah pendiri Trenggalek pernah bersemedi. “Mata air di Pelancuran tidak pernah berubah debitnya, walaupun musim kemarau datang. Dan ia selalu jernih sepanjang waktu”, ungkap salah seorang warga.

Selain digunakan untuk menopang kebutuhan pertanian, air yang bersumber dari mata air pegunungan Semungklung juga menjadi sumber utama dalam memenuhi kebutuhan air minum warga. Bahkan untuk sektor pertanian sendiri, mampu mengaliri lahan-lahan pertanian hingga ke beberapa desa. Menurut pengamatan beberapa warga Sumber Bening, seluruh mata air yang terdapat di pegunungan Semungklung telah menopang kebutuhan sedikitnya warga yang hidup di 3 kecamatan yang berbeda. Mereka menegaskan jika pegunungan ini ditambang, ribuan hektar kawasan pertanian dan ribuan warga yang bermukin di 3 kecamatan akan terancam dan berada dalam krisis sosial ekologis yang pasti.

Menurut penuturan perangkat desa Sumber Bening yang berhasil di wawancara pada Senin (24/10), dikatakan bahwa luas puncak pegunungan Semungklung memiliki luas lebih besar dari luas keseluruhan desa Sumber Bening. Luas total desa Sumber bening saat ini adalah 1113 hektar. Mereka menambahkan bahwa di kawasan pegunungan Semungklung juga terdapat beberapa jenis kayu langka, seperti Salam, Pule dan Trembesi. “Kami tidak setuju desa kami dan pegunungan Semungklung ditambang. Banyak kayu langka disini yang nanti bakal hilang. Nanti malah seperti kejadian lumpur Lapindo”, ungkap salah seorang perangkat desa.

Salah Satu Mata Air di Sumber Bening

foto1

Sumber: Primer

Dalam memuluskan proyek pertambangan di Sumber Bening, salah seorang aparat pemerintah desa Sumber Bening mengatakan pernah dilobi beberapa kali oleh pihak PT SMN. Dalam lobi tersebut, PT SMN menjanjikan akan memberikan dukungan perbaikan infrastruktur desa apabila pertambangan berhasil dijalankan. Terkait dengan tawaran tersebut, pihak pemerintah desa mengaku menolaknya.

Lebih jauh lagi, air yang berasal dari Sumber Bening ini, menurut beberapa orang pecinta gua dan lingkungan yang bermukim di kecamatan Panggul dikatakan mengalir hingga ke pesisir selatan melalui 2 sungai utama. Sungai-sungai tersebut, selain berfungsi sebagai penyuplai utama untuk kegiatan pertanian di desa-desa yang dilaluinya juga menjadi sumber protein penting bagi sebagian besar penduduk. “Jumlah ikan yang berkembang biak di sungai-sungai ini masih cukup besar jumlahnya. Karena sungai-sungai ini belum tercemar. Ikan-ikan itu adalah sumber protein penting bagi warga”, ungkap mereka.

Cerita yang terjadi di Sumber Bening ini, juga dialami oleh warga desa Dukuh, Kecamatan Watulimo baru-baru ini. Lahan-lahan pertanian mereka juga dipatok secara sepihak oleh PT SMN pada tahun 2016, dengan cara yang sama seperti yang terjadi di Sumber Bening. “Tanpa pernah ada sosialisasi, lahan pertanian kami diberi pita-pita”, Ungkap salah seorang warga.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan pada Rabu (26/10), warga mengatakan bahwa seluruh penduduk Dukuh menolak sepenuhnya kegiatan pertambangan. Warga menambahkan penduduk sudah cukup sejahtera dan bahagia dengan melakoni pekerjaan sebagai petani.

Seperti yang diketahui, selain diperuntukan untuk lahan pertanian, sebagian besar tanah yang mereka miliki juga dikelola sebagai areal perladangan dan perkebunan. Desa Dukuh juga terkenal sebagai desa penghasil buah durian terbesar di Trenggalek.

Dengan semakin maraknya isu pertambangan di beberapa wilayah kecamatan, kabupaten Trenggalek saat ini, warga Dukuh, Sumber Bening, dan desa-desa lainnya tetap bersemangat untuk melakukan protes secara berkala dan memasang sejumlah poster penolakan di beberapa titik di desa mereka.

 

Catatan:

[1] Ditulis oleh Muhammad Affandi sebagai Kepala Divisi Advokasi dan Kampaye Walhi Jatim.

[2] http://www.arcexploration.com.au/irm/content/mount-garnet.aspx?RID=308. http://industri.bisnis.com/read/20110704/44/35153/emas-di-trenggalek-kembali-terbukti.

[3] ://www.dealstreetasia.com/stories/indonesia-dealbook-arc-exploration-to-develop-trenggalek-mine-sumatra-copper-siemens-bags-1-17b-order-from-hyundai-13991/

[4] Julius Tahija bergabung dengan Caltex pada tahun 1951. Pada tahun 1966-1976 ia menjabat sebagai Presdir PT Caltex Indonesia, berlanjut hingga menjadi Preskom sampai tahun 1994. Ia bergabung dengan PT Freeport Indonesia pada tahun 1970. https://m.tempo.co/read/news/2011/10/08/093360531/dua-buku-tentang-julius-tahija-diluncurkan.

[5] http://www.mitrainvestor.co.id/dr-george-tahija-sjakon-miliader-pemilik-pt-austindo-nusantara-jaya-group/13171/.

[6] http://www.mitrainvestor.co.id/dr-george-tahija-sjakon-miliader-pemilik-pt-austindo-nusantara-jaya-group/13171/.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.