Lipsus

Warga Sungai Utik Sang Penjaga Hutan dan Penjaga Kehidupan

By  | 

Sungai Utik adalah sebuah kampung yang berada di tepian sungai Utik yang terletak di bagian utara Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Jika kita menempuh perjalanan darat dari Pontianak menuju Putussibau, ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, jaraknya sekitar 654 km, dan memakan waktu perjalanan sekitar 17 jam. Sedangkan dari Putussibau ke Sungai Utik, jaraknya sekitar 71 km dan dapat ditempuh dengan jalur darat selama satu jam 40 menit.

Warga Sungai Utik memiliki rumah adat yang disebut sebagai Rumah Betang (rumah panjang). Panjang Rumah Betang kurang lebih 214 meter yang dibagi menjadi 28 bilik. Masing-masing bilik di isi oleh satu, dua, bahkan sampai tiga kepala keluarga, dengan jumlah keseluruhan 92 Kepala Keluarga. Mereka adalah masyarakat Dayak Iban yang berpegang teguh pada adat dan budaya, yang merupakan salah satu komunitas masyarakat adat Nusantara.

Perjuangan warga menjaga wilayah seluas 9.452,53 hektar agar tidak dieksploitasi oleh perusahaan kayu dan ekspansi perkebunan sawit serta tambang sejak 1980-an, telah membuat permukiman warga Sungai Utik dan sekitarnya terisolasi selama puluhan tahun.

Berkat perjuangan warga Sungai Utik, salah satu kawasan hutan di bagian utara Kapuas Hulu tetap terjaga. Praktik hidup yang tidak terpisahkan dari alam telah menjadikan mereka sebagai penjaga hutan. Tradisi berladang yang dilaksanakan turun temurun membuat warga terikat secara sosial budaya, emosional, dan spiritual dengan tanahnya. Ladang telah membuat makanan tersedia di rumah. Dari hutan segala kebutuhan hidup terpenuhi, ritual adat terjaga, dan kehidupan menjadi harmonis.

“Tanpa hutan, adat kami hilang” tutur Maryetha Samay.

Bagi masyarakat Sungai Utik, berladang tak bisa sembarangan. Ada aturan adat dan kesepakatan bersama antar masyarakat. Salah satunya, berladang hanya boleh dilakukan di lahan yang telah ditentukan, tidak boleh di Tembawang, Tengkawang, kebun karet, rimba, dan hutan adat. Menjalankan aktivitas berladang juga harus melalui rentetan ritual adat, misalnya membakar ladang harus membuat sekat melingkar dan melihat arah angin. Jika angin datang dari barat maka pembakaran akan dimulai dari timur ke barat. Kalau sampai api keluar dari lahan yang dibakar dan menghanguskan tanaman sekitar yang bukan milik si peladang, maka pemilik ladang terkena sanksi adat.

“Tanah to indai kitae” (tanah ini ibu kita) tutur Apai Janggut. Memang bagi orang Iban, tanah adalah Ibu. Ibu yang mengalirkan air susu berupa sungai dan menumbuhkan berbagai jenis tanaman. Ketika saya diajak Apai Janggut menelusuri hutan, saya menyaksikan bawas (bekas ladang) yang ditanami singkong, terong asam, tebu, mentimun dan berbagai jenis bumbu sayur. Hutan di rimba juga begitu lebat dengan diameter pohon yang besar. Sesekali kami berjumpa ayam hutan dan melihat burung enggang yang sedang makan di ranting pohon. Sungai-sungai pun terlihat sangat jernih.

Praktik setempat yang menjaga alam dengan mengambil secukupnya telah membuat ekosistem seimbang. “Panjai anang ditetak, pandak anang ditampung (panjang jangan dipotong, pendek jangan disambung), dan kami hanya meminta hak kami untuk kami miliki dan kelola”, ucap Maryetha Samay.

Tetapi ancaman dan penyerobotan lahan bisa terjadi sewaktu-waktu. Apalagi wilayah Sungai Utik yang luas tidak bisa diawasi setiap hari. Untuk itu, Pemerintah Daerah Kapuas Hulu perlu mengakui keberadaan masyarakat adat Dayak Iban Sungai Utik beserta wilayahnya, sebagai implementasi keputusan Mahkamah Konstitusi melalui putusan Nomor 35/PUU-X/2012 pada 16 Mei 2013 dengan Amar Putusan 1.2 “Hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat”. Bentuk pengakuannya harus berbentuk Peraturan Daerah (Perda) atau sekurang-kurangnya Surat Keputusan (SK) bupati Kapuas Hulu.

Masyarakat adat mampu menjaga alam dari berbagai bentuk eksploitasi dan penghancuran ekosistem. Dalam kebudayaan mereka, tanaman memiliki ruh dan binatang bisa membantu manusia. Untuk itu, siapapun yang hendak mengambil sesuatu dari hutan harus mengadakan ritual meminta izin kepada Panggau (khayangan). Begitupula meminta hewan hanya boleh untuk kebutuhan lauk sehari-hari. Dengan praktik itu, kehidupan masyarakat dengan alam senantiasa harmonis dan keanekaragaman spesies tetap terlindungi.

Penulis: Heronimus Heron

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.