Video Liputan

Ziarah ke Makam Mbah Drajat dengan Pak Sumardi

By  | 

Tim Selamatkanbumi berziarah ke Makam Mbah Drajat di Dusun Bapangan, Desa Glagah, Temon, Kulonprogo, tiga hari sebelum makam tersebut digali.

Para penggali yang berasal dari desa-desa sekitar 5 desa tergusur proyek Bandara Baru Internasional Yogyakarta (NYIA) direkrut oleh bekas pemilik lahan yang diminta buru-buru mengosongkan lahannya, karena lahan tempat makam tersebut berada telah dijual ke PT. Angkasa Pura I (Persero).

Menurut warga penolak, arwah Mbah Drajat masih menjaga sebidang tanah yang dikitari pepohonan rimbun itu, meskipun para penggali memindahkan beberapa genggam tanah yang dimasukkan dalam peti, untuk dipindahkan ke kawasan relokasi Dusun Bapangan.

Bahkan, Makam Mbah Drajat belakangan disebut juga sebagai tempat pelarian Nyai Kepek yang menolak pergi meskipun makamnya telah dipindahkan pula ke kawasan relokasi Dusun Kepek.

Sebelum Makam Mbah Drajat digali dan secara simbolik dipindahkan ke kawasan relokasi, berulang kali terjadi kecelakaan kerja yang menimpa pekerja proyek dalam proses pengosongan lahan. Korban kecelakaan kerja dikabarkan mendapati banyak ular setiap hendak menggali dengan alat berat.

Sumardi, warga Bapangan yang lahir dan tumbuh dewasa di dekat Makam Mbah Drajat menyaksikan sendiri bagaimana para pekerja proyek ketakutan mengalami kejadian mistis saat bekerja di kawasan Makam. Ia, yang juga sering membersihkan Makam sebagaimana orang tuanya dulu, menganggap bahwa kejadian-kejadian mistis tersebut terjadi karena Mbah Drajat, tamu, dan para pengawalnya selalu menjaga warga, ada maupun tidak ada proyek Bandara.

simak juga:

Perjalanan perjuangan WTT di meja peradilan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *