Prev2 of 8Next
Gunakan ← → (tanda panah) untuk melanjutkan

Nafsu Besar Kapitalisme Pertambangan Semen
Iklim investasi pertambangan semen di Indonesia semakin terus menunjukkan angka yang meningkat, khususnya pada awal abad 21 saat ini. Hal tersebut dipengaruhi oleh perluasan sirkuit kapital (modal) yang tersebar di berbagai daerah, baik dalam industri properti, pariwisata, infrastruktur dan pertambangan. Perluasan itu salah satunya dapat dilihat dari hadirnya mega proyek raksasa Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Mega proyek MP3EI tersebut memiliki 22 kegiatan ekonomi utama, dan ditengarahi telah memicu kebutuhan semen meningkat hingga 10 persen pada tahun 2013. Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Widodo Santoso dalam rapat kerja di Kementrian Perindustrian pada tanggal 12 Februari 2013 menjelaskan bahwa MP3EI menciptakan peningkatan konsumsi semen dari 55 juta ton di tahun 2012 menjadi 60 juta ton pada tahun 2013 (Tempo, 2013).

Di dalam rangka memenuhi kebutuhan semen untuk kepentingan industri tersebut, berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah ataupun pihak swasta. Salah satunya oleh pihak PT Semen Indonesia, sebuah perusahaan BUMN yang memiliki anak perusahaan dan afiliasi dengan PT Semen Gresik, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa dan Thang Long Cement. Perusahaan ini berkomitmen untuk meningkatkan produksinya dengan cara membuka unit-unit baru di berbagai wilayah. PT Semen Tonasa akan mengoperasikan pabrik barunya di Pangkep, Sulawesi Selatan. PT Semen Gresik berencana akan beroperasi di Sorong, Papua Barat dan juga ingin memperluasnya hingga ke Rembang, Jawa Tengah. Terkait dengan pembangunan pabrik barunya di Rembang, bahkan PT Semen Indonesia, mendapatkan fasilitas pinjaman senilai 1,4 Triliun dari Bank Mandiri pada Maret 2014 lalu yang rencananya akan digunakan untuk membeli sejumlah mesin (Merdeka, 2014). Hal senada juga dinyatakan oleh Abdul Rahman, Direktur Institutional Bank Mandiri yang menyatakan bahwa pemberian pinjaman yang dilakukan sebagai bentuk komitmen penuntasan program MP3EI.

Geliat pertumbuhan industri pabrik dan pertambangan semen ini tentunya memberikan kemudahan dan kelancaran bagi sirkuit modal yang di dalamnya terdapat kepentingan korporasi dan kapitalisme raksasa. Namun di sisi lain, pertumbuhan tersebut juga telah memicu lahirnya konflik agraria dan peningkatan krisis sosial-ekologi baru akibat kerugian-kerugian yang ditimbulkannya yang berdampak secara langsung pada ruang hidup komunitas-komunitas akar rumput. Tidak mengherankan jika selanjutnya muncul protes dan perlawanan secara massif dari akar rumput di berbagai daerah akhir-akhir ini. Padahal jika melihat kembali pada abad 20, produksi semen dunia pada tahun 1995 telah menyumbang tujuh persen gas rumah kaca atau sekitar 1,5 miliar ton. Angka ini diprediksi akan terus melaju kencang di abad 21 seiring dengan meluasnya pembangunan infratruktur dalam berbagai bidang serta tiadanya alternatif pengganti industri semen berbahan karst.

Prev2 of 8Next
Gunakan ← → (tanda panah) untuk melanjutkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.