“Menilik Kembali Gagasan Murray Bookchin”

Oleh: Muhammad Afandi

tak hanya sekedar memberikan analisis tajam terhadap krisis sosial-ekologis, ekologi sosial juga menawarkan resep ampuh untuk melakukan penyembuhan

Sekilas Murray Bookchin

Murray Bookchin adalah seorang teoretisi ekologi sosial terkemuka. Ia kerap menyerukan pembangunan masyarakat ekologis dengan prinsip-prinsip libertarian, desentralisasi, bebas, dan mutual.

Pada 1952, sebelum banyak orang di Amerika Serikat menyadari tentang bahaya kimia dalam makanan dan dampak penyakit yang ditimbulkannya, Bookchin telah menuliskannya dalam “The Problem of Chemical in Food” dengan nama samaran Lewis Herber.[i] Dua belas tahun kemudian, artikelnya yang berjudul “Ecology and Revolutionary Thought” di daulat sebagai manifesto pertama ekologi radikal dan mempengaruhi tumbuhnya gerakan ekologi.

Bookchin memiliki sejarah intelektual panjang dan unik. Ia lahir di New York pada 14 Januari 1921 dari keluarga imigran Yahudi-Rusia.

Di usia belasan tahun saat Amerika Serikat dilanda depresi ekonomi (krisis), Bookchin sudah melibatkan diri dalam kegiatan politik sebagai anggota Liga Komunis Muda. Namun, ia mulai kecewa terhadap ide-ide stalinisme mengingat cita-cita revolusi perjuangan kelas yang berkembang di Uni Soviet menunjukkan kebalikkannya: bangkitnya kediktatoran, maraknya pembunuhan terhadap pergerakan revolusioner, dan menguatnya kapitalisme negara.

Bookchin lantas berpaling menjadi pengagum Trotsky. Namun, pasca meletusnya perang sipil Spanyol 1936-1939 Bookchin memilih haluan menjadi anarkis. Sebenarnya, ide-ide anarkis sudah cukup populer dalam dirinya mengingat nenek dari pihak ibunya adalah anggota revolusioner sosialis Rusia.[ii]

Selanjutnya pada era 1940-an, Bookchin terlibat aktif dalam organisasi buruh. Saat itu, ia percaya bahwa serikat buruh merupakan satu-satunya kekuatan paling ampuh untuk menumbangkan kapitalisme. Lagi-lagi, Bookchin menghadapi kenyataan diluar harapannya.

Beberapa alasannya, menurut Biehl adalah: Pertama, kaum proletar (kelas buruh) di barat semakin meninggalkan revolusi perjuangan kelas dan hanyut dalam perang di bawah bendera nasionalisme. Bahkan, kelas buruh Jerman meninggalkan kesadaran kelas yang dibangun dalam tradisi sosialis dan berjuang atas nama Hitler sampai akhir. Atas peristiwa itu, menurutnya gagasan awal perjuangan menuju revolusi di bawah internasionalisme telah runtuh di bawah bendera nasionalisme.

Kedua, menjauhnya kesadaran buruh industri Amerika dari perjuangan melawan sistem kapitalis. Saat peristiwa pemogokan pada 1946 di perusahaan General Motors, di mana Bookchin terlibat aktif di dalamnya, ia melihat banyak anggota serikat buruh dan rekan-rekannya menerima program pensiun perusahaan dan tunjangan pengangguran dengan sikap yang begitu santai.

Menurut Biehl (1999) ketidakrevolusioneran itu mengantarkan Bookchin mempertanyakan kembali proletariat sebagai kekuatan perubahan sosial. Tidak mau mundur dari semangat revolusi, Bookchin menggali lebih jauh beberapa kemungkinan baru untuk mewujudkan sosialisme non otoritarian. Baginya, orang dapat mengelola urusan mereka sendiri tanpa negara dan revolusi juga tidak harus melakukan perebutan kekuasaan negara, sebaliknya melakukan pembubarannya.

Pada 1974, ia mendirikan Institut Ekologi Sosial (ISE) di Vermont, sebuah institusi pendidikan tinggi independen yang didedikasikan untuk studi ekologi sosial yang mencakup bidang teori filsafat, politik, sosial, antropologi, sejarah, ekonomi, ilmu pengetahuan alam, dan feminisme. Selain di ISE, Bookchin juga mengajar di Ramapo College of New Jersey.

Di usia senja, ia menyatakan berpisah dengan gerakan anarkis dan mengembangkan komunalisme (Biehl, 2007: 1).[iii]

Saat ini, tiga belas tahun pasca kematiannya (2006), puluhan karya Bookchin kembali menemukan pembacanya. Walaupun sebagian besar kalangan menganggap karya termasyhurnya berpusat pada The Ecology of Freedom, namun Biehl mengingatkan bahwa Bookchin sendiri pernah mengatakan karya terpentingnya berada dalam buku The Philosophy of Social Ecology, khususnya edisi revisi (1995).

Belakangan, ide dan gagasan Bookchin terus menginspirasi lahirnya gerakan sosial di berbagai wilayah. Salah satunya adalah perjuangan masyarakat Kurdi di Turki yang semula berjuang dengan pengaruh marxis-leninis, dibawah pimpinan Abdullah Ocalan dalam organisasi Partai Pekerja Kurdistan (PKK).[iv]

Dalam perenungan panjang, Ocalan menggagas perjuangan confederalisme demokratik, gerakan yang berorientasi pada desentralisasi sistem politik berdasarkan ideologi sosialis libertarian. Ocalan menyimpulkan (khususnya saat ia menjalani hukuman penjara di bawah pemerintah Turki), bahwa konsep negara-bangsa yang ia cita-citakan bersama komunitasnya dengan pengaruh marxis-leninis hanya akan menciptakan penindasan baru terhadap semua sisi kehidupan ekonomi dan sosial.

Atas dasar itulah kemudian garis perjuangan PKK mereka ubah menjadi lebih otonomis, dan menolak konsep negara. Menurut Leverink, Ocalan benar-benar menyadari bahwa untuk mencapai kebebasan sejati dan keluar dari segala bentuk penindasan dan eksploitasi yang bersumber dari kapitalisme, patriarki, dan kekuasaan negara terpusat, adalah dengan membangun gerakan yang memisahkan semua ikatan dan bentuk-bentuk yang dilembagakan (Leverink, 2015).

Di Asia Tenggara, karya-karya Bookchin juga mulai diminati dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan Thailand.

Beberapa Gagasan Bookchin dalam The Ecology of Freedom

Seiring berkembangnya teknologi pertanian dan praktik urban, manusia telah dihadapkan dengan berbagai persoalan kerusakan lingkungan dan sosial. Namun, kerusakan tersebut jauh lebih bertambah parah dan berdampak secara menyeluruh saat zaman revolusi industri dimulai dan perang dunia kedua. Selain kapitalisme, kerusakan itu juga dipicu oleh kemajuan teknologi.

Lalu, apakah untuk mengurangi kerusakan tersebut kita harus meninggalkan teknologi dan beralih pada gaya hidup primitif, ungkapnya?

Ekologi sosial mencoba menawarkan beberapa jawaban. Diantaranya adalah kita tidak perlu membuang pencapaian teknologi saat ini, dan juga tidak harus menghilangkan keuntungan teori ilmiah-sosial yang sudah ada.

Namun, kita harus melakukan pemeriksaan secara menyeluruh mengapa kemajuan teknologi tersebut malah memperparah krisis, dan mengapa dominasi manusia terhadap alam terus semakin menjadi-jadi (1982: 21).[v] Sehingga krisis sosial-ekologis yang dihadapkan kepada kita sekarang seolah-olah memberikan gambaran bahwa kiamat segera datang.

Lantas, apa yang dimaksud dengan ekologi sosial, dan bagaimana posisinya terhadap krisis sosial-ekologis yang berlangsung hari ini? Untuk menjawab pertanyaan ini “The Ecology of Freedom” karya Murray Bookchin akan mengantarkan kita pada suatu pembacaan yang menarik.

Pertama: Krisis sosial yang terjadi hari ini harus dipandang sebagai akibat langsung dari krisis yang disebabkan oleh adanya eksploitasi manusia terhadap planet ini (Bookchin, 1982: 19).

Untuk mencapai pemahaman ekologi sosial yang ditawarkan oleh Bookchin ini, saya akan memulainya dengan menerangkan beberapa istilah umum yang cukup populer belakangan ini. Yakni, ekologi dan environmentalisme. Selanjutnya saya akan mengenalkan dua konsep penting dalam karya politik Bookchin: hirarki dan dominasi.

Kedua:  Ekologi menurutnya berhubungan dengan keseimbangan alam yang dinamis, di mana  di dalamnya terdapat saling ketergantungan akan hal-hal yang hidup dan yang tidak hidup. Bookchin merujuk pada pengertian ekologi yang telah ditawarkan oleh Ernst Haeckel, yakni hubungan timbal balik antara hewan, tumbuhan dan lingkungan anorganik. Untuk itu, karena keduanya saling berinteraksi melalui fase evolusi yang sangat kompleks, ia menyarankan saat membicarakan ekologi sosial, juga harus membicarakan ekologi alam (Bookchin, 1982: 21).

Selanjutnya, untuk membedakannya dengan enviromentalisme, yang menurutnya seringkali digunakan secara acak oleh banyak orang dengan istilah ekologi secara bersamaan, ia menawarkan cara pandang yang berbeda.

Baginya, enviromentalisme adalah pandangan yang mekanis dan intrumental yang melihat alam sebagai habitat pasif yang terdiri dari hewan, tumbuhan, mineral, dan sejenisnya yang hanya dianggap lebih bermanfaat untuk kepentingan manusia. Dengan pengertian ini, maka seringkali orang-orang yang tergabung dalam aliran enviromentalisme cenderung memposisikan alam sebagai tempat penyimpanan sumber daya alam ataupun bahan mentah lainnya. Dengan pengertian tersebut, Bookchin mengambil posisi tidak mau disebut sebagai bagian dari kubu enviromentalisme. Baginya, pendekatan yang ditawarkan kubu enviromentalisme sangat reformis dan tidak revolusioner. Hanya berkutat pada penyelesaian lingkungan melalui penggunaan teknologi tanpa pernah menyasar pada akar persoalan utamanya yang berpusat pada dominasi dan hirarki dalam masyarakat (Bookchin, 1982: 21-22).

Dengan cara pandang ini, istilah dan pengertian ekologi yang ia tawarkan dalam ekologi sosial menemukan posisinya sebagai bagian dari konsep yang lebih radikal.

Biehl mengatakan: Meskipun beberapa sejarah gerakan ekologi dan lingkungan sekarang menegaskan bahwa filsuf Norwegia Arne Naess adalah orang pertama yang membedakan antara lingkungan hidup dan ekologi (dalam makalah tentang ekologi, disajikan sebagai kuliah di 1972), Bookchin sebenarnya telah membuat perbedaan ini pada bulan November 1971, di artikelnya yang berjudul “Spontanitas dan Organisasi”.[vi]

Bookchin menegaskan bahwa akar krisis sosial-ekologis yang terjadi saat ini adalah berasal dari adanya dominasi manusia terhadap alam yang disebabkan oleh adanya dominasi manusia terhadap manusia lainnya. Dominasi ini di dorong oleh adanya kelas-kelas ekonomi dan hirarki sosial, yang salah satunya diciptakan oleh kapitalisme. Menurutnya ketidakseimbangan yang diproduksi manusia di alam disebabkan oleh ketidakseimbangan yang telah ia produksi di dunia sosial. Inilah yang menjadi pilar utama gagasan ekologi sosial. Dengan demikian, salah satu cara pemulihan yang ia tawarkan adalah memutus rantai dominasi, eksploitasi, dan hirarki dalam struktur masyarakat saat ini.

Terkait hirarki, Bookchin juga menawarkan suatu pembacaan menarik. Menurutnya, hirarki janganlah selalu dipahami hanya sekedar kepatuhan yang dibentuk dalam sistem ekonomi politik. Melainkan juga termasuk sistem kepatuhan, ketaatan, perintah, baik secara tradisonal ataupun psikologis. Sehingga bisa saja, menurutnya, dominasi dan hirarki akan tetap muncul dalam masyarakat tanpa kelas ataupun tanpa negara.

Ketiga:  Dalam ekologi sosial, Bookchin menekankan sebuah prinsip penting, yakni keutuhan ekologi. Namun, keutuhan yang ia maksud bukanlah universalitas ataupun homogenitas yang tidak berubah, sebaliknya merupakan kesatuan keanekaragaman yang dinamis. Artinya, untuk menjaga alam tetap seimbang, selain mendorong pemusnahan dominasi manusia terhadap manusia yang lain, juga harus disokong dengan kapasitas ekosistem yang mampu mempertahankan integritasnya dengan bergantung pada keragaman, bukan pada keseragaman. Baginya, keragaman dan kompleksitas merupakan jantung utama keseimbangan ekologi, baik material yang hidup ataupun mati, keduanya saling bergantung. Ringkasnya, keutuhan adalah kelengkapan (Bookchin, 1982: 24).

Ia mencontohkan hal itu pada pertanian monokultur yang menemui kegagalannya karena telah memutus mata rantai kehidupan di sekitarnya; penggunaan racun telah mengurangi kesuburan tanah, hilangnya binatang pengurai, melenyapnya tanaman pendukung, dan lain sebagainya, yang sejatinya memiliki hubungan dan kontrol alami yang tak terpisahkan untuk menjaga keseimbangan.

Bookchin juga menegaskan bahwa kesatuan dalam keragaman di alam bukanlah sekedar metafora ekologis. Karena keutuhan dan kelengkapan merupakan sebuah proses dialektika yang imanen. Ekosistem alam dan komunitas manusia pada dasarnya saling berinteraksi satu sama lain dengan cara yang sangat eksistensial. Sehingga sifat hewani pada manusia tidak pernah begitu jauh dari sifat sosialnya (Bookchin, 1982: 32-33).

Dengan demikian kita seharusnya tidak lagi melakukan kekerasan terhadap keunikan fenomena ini. Bookchin mengkritik keras para ilmuwan ataupun kelompok yang sering disebut sebagai penjaga masyarakat, yang dengan pengetahuannya sendiri merasa cukup tahu tentang faktor kompleks ini. Padahal pembangunan sosial yang mereka bangun tak lain hanya melayani dirinya sendiri dan kerap berujung pada kegagalan yang berdampak pada peningkatan laju kerusakan krisis sosial-ekologis (Bookchin, 1982: 35).

Keempat: Naturalisme Dialektis. Lahirnya jaman pencerahan atau renaisans telah mendorong manusia menuju pada dunianya sendiri, yakni dunia manusia. Dengan rasionalitasnya sebagai jantung pengetahuan modern, pandangan tersebut malah menjadikan keterkaitan antara manusia dan alam menjadi terpisah-anti naturalistik. Dari sudut pandang ini, proses mental manusia tidak menjalani kehidupan mereka secara otonom. Bagi Bookchin, pandangan ini bukan berarti mengantarkan kita untuk kembali pada hal-hal yang mistis, justru sebaliknya untuk membongkar lebih jauh keragaman kompleksitas yang rasional antara manusia dan alam. Agar tidak terpeleset jauh ke dalam lubang mistis tersebut, ia mengingatkan: saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa alam “mengetahui” hal-hal yang tidak kita ketahui, namun kita adalah “pengetahuan” alam, perwujudan evolusi alam ke dalam intelektual, pikiran dan refleksivitas diri (Bookchin, 1982: 38).

Cara berpikir tersebut menuntut kita untuk tidak berpikir linier, melainkan harus dialektis dan tidak intrumentalis. Sehingga kita dapat memandang dunia alam sebagai proses perkembangan, bukan sekedar pemandangan indah (Bookchin, 2006: 23-24). Lebih jauh, kita juga harus memeriksa kembali pembelahan-pembelahan yang memisahkan manusia dari alam, dan perpecahan di dalam komunitas manusia yang semula menghasilkan pembelahan ini. Baginya, jika konsep keutuhan dapat dipahami dengan cara baru, yakni dalam kaca mata ekologi sosial maka gambaran baru tentang kebebasan kemungkinan akan datang.

Dominasi dan Hirarki

Seperti dijelaskan di atas, dua kata kunci utama dalam ekologi sosial adalah dominasi dan hirarki. Lalu, bagaimana melacak kembali munculnya dominasi dan hirarki ? Apakah keduanya memang telah ada dari sejak jaman pra sejarah?

Bookchin mengatakan bahwa pandangan tentang manusia selalu mendominasi alam bukanlah ciri universal budaya manusia (Bookchin, 1982: 43). Menurutnya dalam budaya komunitas primitif ditemukan sejumlah data yang berlimpah bahwa kebudayaan masyarakat organik benar-benar ada. Dalam masyarakat tradisonal Hopi misalnya, solidaritas kelompok merupakan jantung utama dalam kehidupan mereka. Hampir semua tugas pokok masyarakat, dari penanaman hingga persiapan makanan, dilakukan secara kooperatif, baik antara orang dewasa, ataupun anak-anak. Semua dituntut untuk bertanggung jawab secara penuh untuk komunitas mereka. Solidaritas ini dibangun dari sejak masa kanak-kanak mereka, melalui proses menyusui, yang menekankan saling ketergantungan antar individu Hopi (Bookchin, 1982: 45).

Dan dari sejak dini pula, makanan yang dikunyah oleh anak-anak Hopi berasal dari makanan yang dikunyah terlebih dahulu oleh anggota komunitas mereka. Hal itu membuat mereka terikat secara batin dalam perkembangannya. Dengan demikian, mereka tak perlu jauh-jauh mencari kepuasan yang mereka butuhkan – bandingkan dengan anak-anak di era kapitalisme saat ini (Bookchin, 1982: 46).

Secara psikologis, masyarakat Hopi juga percaya akan besarnya kekuatan alam daripada teknologi sederhana yang mereka punyai. Sehingga rasa ketergantungan terhadap alam tidak akan pernah lenyap dari kehidupan mereka. Kepercayaan itu dibangun melalui ritual dan berbagai macam upacara. Bagi komunitas Hopi, upacara lebih memainkan perannya sebagai fungsi partisipatif, bukan untuk memanipulasi kesadaran. Bagi mereka, upacara merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang kompleks di mana kehidupan dimulai, dari tumbuhnya benih tanaman hingga kedatangan titik balik matahari. Hal itu secara khusus menggambarkan perputaran siklus alami, di mana mereka terlibat di dalamnya sebagai bagian dari siklus tersebut (Bookchin, 1982: 46).

Mengutip pengamatan Dorothy Lee (dalam Bookchin, 1982):

“Setiap aspek alam, tanaman, batu dan binatang, warna dan arah mata angin, jumlah dan perbedaan jenis kelamin, yang mati dan yang hidup, semua memiliki andil dalam kerja sama dalam pemeliharaan tatanan universal. Akhirnya, upaya masing-masing individu, manusia atau tidak, masuk ke dalam keseluruhan besar ini……..”.

Seringkali, menurut Bookchin, retorika ekologis kontemporer cenderung mengaburkan integrasi individu, komunitas, dan lingkungan ke dalam “tatanan universal, seperti yang telah tergambarkan dalam masyarakat Hopi.

Menurut Bookchin, untuk dapat berbicara dalam bahasa masyarakat organik, yang melihat bagaimana darah yang mengalir antara komunitas dan alam menyatu menjadi kerabat – yang disirkulasikan oleh tindakan-tindakan berbeda dari komunitas, kita harus melihatnya dalam berbagai bentuk upacara, tarian, drama, lagu, dekorasi, dan simbol. Baginya, para penari yang meniru binatang dalam gerakan mereka bukanlah sekadar mimesis, namun bentuk dari kesatuan komunal dan paduan suara dengan alam. Oleh karena itu, menurutnya, ekologi sosial memiliki asal-usul dalam kesadaran awal manusia  – tidak hanya sebagai dimensi kognitif epistemologi, tetapi juga sebagai hubungan ontologis dengan dunia alam (Bookchin, 1982: 48).

Lebih jauh, Bookchin juga mengatakan garis keturunan atau ikatan darah pada jaman pra sejarah memang telah membentuk dasar secara organik atas apa yang kita sebut sebagai keluarga, klan ataupun suku. Laki-laki, perempuan dan anak-anak dalam keluarga di era tersebut memiliki kewajiban bersama yang seringkali disucikan lewat berbagai ritual upacara ataupun sumpah perkawinan. Dan untuk menciptakan apa yang disebut sebagai sistem dan nilai moral, yang tertuang dalam bentuk aturan dibentuk melalui serangkaian upacara yang khusus (Bookchin, 2006: 31-32).

Dalam komunitas masyarakat pra sejarah, menurutnya, berbagai fakta dan sifat biologis menjadi sosial. Setidaknya hal itu dapat dicontohkan dalam beberapa hal:

Pertama, dalam urusan perbedaan usia. Tidak adanya bahasa tertulis telah membuat posisi kaum lansia memiliki posisi tinggi. Karena mereka diangap memiliki pengalaman yang berlimpah seperti teknik bertahan hidup, garis kekerabatan, dan nilai kearifan lainnya.

Kedua, perbedaan gender yang terwujud menjadi persaudaraan yang saling melengkapi. Misalnya pembagian peran: “perempuan membentuk kelompok pengumpul makanan dan perawatan mereka sendiri dengan kebiasaan, sistem kepercayaan, dan nilai-nilai mereka sendiri, sementara laki-laki membentuk kelompok berburu dan prajurit sendiri dengan karakteristik perilaku, adat istiadat, dan ideologi mereka sendiri” (Bookchin, 2006: 33-34).

Dalam konteks tersebut tidak ada kecenderungan dominasi satu kelompok terhadap kelompok lainnya, ataupun yang mencoba mengistimewakan dirinya. Namun, saat fakta biologis seperti garis keturunan keluarga, perbedaan gender, dan perbedaan usia perlahan-lahan dilembagakan, dimensi sosial mereka yang awalnya cukup egaliter berkembang menjadi bentuk kelas hirarki yang menindas dan eksploitatif. Salah satu contohnya adalah menguatnya dominasi laki-laki (Bookchin, 2006: 33-34).

Sebagaimana diketahui, pasca lahirnya praktik pertanian yang menggunakan hewan (sapi) dengan metode bajak dalam pertanian menetap, telah menyebabkan posisi perempuan yang sebelumnya memiliki peran khusus sebagai pembudidaya dan pengumpul makanan menjadi terbuang. Sementara, laki-laki yang cukup dekat dengan “dunia binatang” menjadi semakin menguat.

Namun dalam berbagi kasus, munculnya dominasi dan hirarki juga dapat dipicu oleh berbagai hal, misalnya: usia, meningkatnya jumlah penduduk, bencana alam, perubahan teknologi yang mengutamakan kegiatan perburuan dan peternakan di atas tanggung jawab hortikultura, pertumbuhan masyarakat sipil, dan penyebaran peperangan.

Selain itu Bookchin juga menegaskan kembali bahwa dominasi yang hirarkis janganlah semua dianggap sebagai eksploitasi kelas ataupun hubungan ekonomi semata, yang didasarkan pada eksploitasi tenaga kerja. Melainkan juga harus dilihat sebagai hubungan yang dilembagakan. Karena, menurutnya, banyak sebagian dari mereka yang dianggap sebagai pemimpin yang melakukan praktik dominasi tersebut juga melakukannya dengan cara mengobral berbagai hadiah ataupun merelakan barang-barang mereka diberikan kepada orang lain untuk mendapatkan pengakuan penghormatan. Dalam konteks ini, penghormatan yang didapatkannya bukan dilakukan dengan cara menimbun surplus sebagai sumber kekuatan, melainkan justru dengan membuangnya sebagai bukti kedermawanannya (Bookchin, 2006: 35-36).

Dalam perkembangannya, kebudayaan manusia menjadi semakin kompleks dan mulai menanggalkan fakta biologis (ikatan darah, kekerabatan) sebagai basis organisasi sosial mereka. Mereka mulai menerima dan mengakui orang-orang diluar fakta biologis ke dalam komunitasnya, dan terus berkembang menjadi komunitas bersama dalam payung organisasi yang beragam.

Hal itu dalam praktiknya telah mendorong pergeseran “moralitas”, etika, kekuasaan, dan yang paling menonjol adalah lahirnya ide-ide yang disebut sebagai rasionalitas, perkotaan, warga negara, dan lain-lain.

Begitu juga dengan dominasi dan hirarki dalam berbagai rupanya saat ini. Ekologi sosial terus ditantang untuk menjawab dan memecahkan persoalan keduanya dengan membongkar secara keseluruhan dan hati-hati melalui penyelidikan mendalam terkait relasi antara manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan alam.

Ekologi Sosial dan Komunalisme

Dalam sebuah konferensi internasional di Vermont pada 1999, Bookchin menyatakan telah berpisah dengan anarkisme. Ia menegaskan teori ekologi sosial yang ia kembangkan akan diwujudkan dalam bentuk ideologi komunalisme.[vii]

Menurut Eirik Eiglad (2006), Bookchin mengambil sikap tersebut bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa dalam tradisi anarkis tidak menyediakan konsep ataupun gagasan menarik. Akan tetapi menurut Bookchin, para anarkis telah gagal membangun kerangka teori yang koheren untuk aksi sosial radikal dalam perjalanan waktunya.

Selama puluhan tahun, ia menemukan banyak anarkis yang lebih mengutamakan nilai-nilai individualis dengan penekanan pada konsep otonomi yang liberal, daripada berkomitmen terhadap kebebasan dan organisasi sosial, yang kerap kali berujung pada tindakan-tindakan heroik. Bahkan yang paling parah adalah banyak anarkis yang menganggap aksi massa sebagai tindakan yang sia-sia (Bookchin, 2006: 91).

Begitu juga dengan kelangsungan gerakan sindikalisme revolusioner yang mengusung semangat libertarian (nilai-nilai yang di asosiasikan dekat dengan tradisi anarkis) dan terikat dalam kerja-kerja pengorganisasian. Menurut Bookchin, minimnya strategi perubahan sosial di luar urusan pemogokan, seperti dalam kasus pemogokan di Rusia pada 1905 telah membuat perjuangan tersebut bernafas pendek. Sementara dalam kasus kemenangan sindikalis dan anarkis Spanyol pada 1936 melawan Franco juga tak luput dari kekalahan serupa, hanya bertahan 3 tahun dan berakhir dengan sabotase kelompok kiri dan liberal Spanyol (Bookchin, 2006: 92-95).

Kritik itu menurutnya bukan bermaksud untuk membuang pengalaman dan nilai penting yang telah dicapai dalam pemberontakan sosial tersebut. Akan tetapi lebih menekankan pada kritik bagaimana kemenangan tersebut seharusnya dapat menjadi pintu masuk untuk mengelola dunia yang lebih adil menjadi lebih nyata dan bertahan lama.

Baginya kaum anarkis kerap kali keliru dalam memahami politik. Pemusatan kontrol sosial (dalam sindikalisme revolusioner) pada komite-komite pekerja, tanpa melibatkan dan menciptakan lembaga-lembaga di luar isu ekonomi (pertahanan, tata kelola pemerintahan, kesehatan, pendidikan, dlsb) telah membuat perlawanan dan kemenangan yang dicapai menjadi bernafas pendek. Dan yang paling menyedihkan, sebagian besar anarkis juga seringkali beranggapan bahwa setiap pemerintahan adalah sebuah bentuk negara – pandangan yang menurutnya menjadi resep ampuh untuk menghilangkan kehidupan sosial yang terorganisir (Bookchin, 2006: 94-95).

Marxisme juga tak kalah berbeda. Mereka hanya berkutat pada ranah politik yang berpusat pada dunia ekonomi dan kepentingan kelas proletariat, serta membuang isu ekologis (Bookchin, 2006: 89).

Bookchin menyarankan agar anarkis dan marxis mengubah cara pandang mereka tentang politik secara revolusioner. Usulnya adalah politik harus dikembangkan sebagai arena sipil dan lembaga-lembaga di mana orang dapat mengelelola urusan komunitas mereka secara langsung dan demokratis, seperti yang telah dikembangkan dalam sejarah sosial-politik Athena klasik (Bookchin, 2006: 93-94).

Namun terlepas dari kritik itu, ia merasa berhutang banyak dengan marxisme dan anarkisme. Baginya, marxisme telah berhasil merumuskan secara sistematis pengeintegrasian filsafat, sejarah, ekonomi dan politik. Dan secara dialektis, marxisme juga berhasil memadukan teori dan praktik secara radikal untuk tujuan pembebasan umat manusia.

Begitu juga dengan anarkisme yang telah menyumbang gagasan berharga berupa antistatisme, konfederalisme, dan pengakuan bahwa hirarki adalah masalah mendasar yang hanya dapat diatasi oleh masyarakat sosial libertarian (Bookchin, 2006: 98).

Ia mendesak para libertarian untuk melampaui anarkisme, marxisme dan ideologi radikal lainnya untuk menciptakan batang tubuh pemikiran baru berdasarkan pendekatan sosial yang koheren dan revolusioner. Bagi Bookchin, masa depan kehidupan manusia juga akan sejalan dengan masa depan dunia bukan manusia. Oleh karenanya, kita tidak boleh sekalipun mengabaikan bahaya yang ditimbulkan oleh masyarakat kelas dan dampak kerusakan yang telah ditimbulkannya (Bookchin, 2006: 40). Seluruh sistem dominasi, hirarki, dan kelas harus segara diruntuhkan.

Untuk mewujudkannya dalam bentuk gerakan politik, jalan yang harus dipilih adalah dengan melakukan desentralisasi, yang termanifestasikan dalam komunitas-komunitas otonom. Ini pun harus menyesuaikan dengan karakter wilayah/alam tiap-tiap komunitas. Proyek gerakan ini disebut sebagai komune (Bookchin, 2006: 46-47).

Komune menurut Bookchin tidaklah disusun dengan sembarangan. Proyek gerakan ini memiliki landasan filosofis, historis, dan politik dalam semangat dan tradisi sosialisme. Juga dipengaruhi komune Paris 1871 – gerakan yang  berhasil menggantikan kekuasaan negara dan struktur administratifnya dengan pembangunan konfederasi antar gerakan rakyat (Bookchin, 2006: 98).

Baginya, politik dalam ekologi sosial juga harus terwujud dalam bentuk demokrasi langsung. Dalam praktiknya dikelola oleh majelis-majelis atau komune yang secara administratif dapat diganti kembali jika gagal menjalankan mandat yang telah diberikan oleh komunitas.

Bookchin juga menyarankan pembangunan konfederasi untuk memperluas gerakan politik dan menumbuhkan ketergantungan yang sehat, serta saling melengkapi (Bookchin, 2006: 49).

Dalam programnya, proyek komunalisme ini mempunyai visi:

“Menghilangkan struktur kota yang statis dan menggantinya dengan lembaga-lembaga pemerintahan libertarian. Ini berusaha untuk secara radikal merestrukturisasi lembaga pemerintahan menjadi majelis demokrasi populer berdasarkan pada lingkungan, kota, dan desa”, – dikenal dengan nama Libertarian Municipalism (Bookchin, 2006: 101).

Komunalisme juga tidak hanya berusaha mengubah kehidupan politik masyarakat, tetapi juga menyasar ranah ekonomi. Namun, gerakan ini tidak akan mengusulkan nasionalisasi aset-aset ekonomi (sering dilakukan oleh banyak negara beraliran kiri) ataupun mempertahankan kepemilikan swasta atas alat-alat produksi. Melainkan dengan cara  melakukan perpindahan, perombakan, ataupun urbanisasi ekonomi (Bookchin, 2006: 101-102). Artinya, seluruh alat-alat produksi akan dikelola dalam keputusan majelis populer dan difungsikan untuk memenuhi kepentingan masyarakat.

Terkait pemisahan antara kehidupan dan pekerjaan, sebagaimana terjadi dalam kehidupan ekonomi kapitalis juga akan diubah menjadi penciptaan kreatif dalam produksi yang membebaskan. Dengan demikian, komunalisme akan bertumpu pada etika kepedulian kebutuhan manusia dan kehidupan yang lebih baik untuk menggantikan ekonomi konvesional yang kerap berpijak pada harga dan kelangkaan sumberdaya (Bookchin, 2006: 103-104).

Seluruh proses produksi ini juga harus didukung oleh pusat-pusat energi terbarukan dan teknologi daur ulang. Distribusi barang sepenuhnya akan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia berdasarkan norma-norma yang ditetapkan oleh majelis warga-komune (Bookchin, 2006: 51).

Sekali lagi, ekologi sosial bukanlah berarti tragedi kelaparan dan kekurangan materi, ataupun yang menekankan primitivisme dan penghematan. Akan tetapi berorientasi pada terciptanya masyarakat yang rasional, di mana pemborosan, bahkan kelebihan akan dikendalikan oleh sistem nilai baru; dan ketika kekurangan muncul sebagai akibat perilaku irasional, maka majelis rakyat akan menetapkan standar konsumsi yang rasional melalui proses demokrasi langsung (Bookchin, 2006:97-98).

Menuju Masyarakat Ekologis: Sebuah Proposal

Menguatnya kapitalisme swasta dan negara yang difasilitasi oleh berbagai bentuk perjanjian dagang dan aturan regulasi pendukungnya saat ini telah mendorong transformasi perampokan, penjarahan, penghisapan nilai lebih, dan perampasan ruang hidup menjadi semakin brutal.

Konsekuensinya, warga planet bumi baik yang tinggal di perdesaan, perkotaan, pinggiran hutan, pesisir dan pulau-pulau kecil semakin kian terancam.

Namun, jika melihat perkembangan dua dekade terakhir di berbagai sudut kampung (khususnya pasca 1998), perlawanan terhadap perampasan ruang hidup tersebut juga menemukan momennya kembali dalam berbagai bentuk dan istilah. Misalnya, gerakan keadilan agraria, gerakan penyelamatan kampung, gerakan keadilan iklim, dan lain sebagainya.

Yang paling menarik di tengah dinamika perlawanan yang beragam tersebut, terekam kuat adanya kesamaan semangat dan visi antar subjek perlawanan untuk memulihkan kembali kampung dalam semangat yang ekologis.

Lalu, apakah yang menjadi agenda penting untuk mewujudkan “masyarakat ekologis” dari perjuangan yang banyak tersebar di berbagai kampung saat ini?

Apakah mungkin perjuangan yang bermula dari sekedar mengusir perampasan tanah yang dilakukan oleh korporasi perkebunan ataupun pertambangan dapat membuka ruang refleksi mendalam bagi setiap anggota komunitas untuk mengubah berbagai hal penting lainnya, dan mendorongnya menjadi kekuatan untuk terciptanya masyarakat ekologis?

Setidaknya, terdapat beberapa pekerjaan rumah yang harus segera dilakukan pasca berhasil mengusir korporasi dari kampung, yakni:

Pertama; Melakukan perombakan ketimpangan agraria di komunitas. Agenda ini bertumpu untuk mendorong kelas tak bertanah di kampung mempunyai ikatan dengan tanah-alam melalui perombakan kelas.

Sejatinya, masyarakat ekologis bukanlah sekedar masyarakat yang menanam tanaman ramah lingkungan, tidak menggunakan pestisida, ataupun telah menggunakan energi “bersih-terbarukan”. Akan tetapi juga masyarakat yang terbebas dari sistem kelas sosial.

Kedua; Pemulihan infrastruktur ekologi. Gerakan ini ditujukan untuk melakukan perbaikan dan pemulihan seluruh infrastruktur ekologi kampung, seperti; mata air, sungai, gua, bukit, gunung, hutan, kawasan resapan, dlsb.

Ketiga; Menghentikan penggunaan bibit rekayasa genetika, dan mendorong kembali pertanian subsisten dan organik berbasis kebutuhan komunitas.

Keempat; Mendorong penggunaan energi bersih-terbarukan sesuai dengan karakter dan keunikan wilayah. Gerakan ini selain berpusat pada pembebasan masyarakat dari jebakan energi kotor, juga harus mencapai energi non-kapitalistik. Artinya, pengelolaan dan hak milik atas sumber energi tersebut bukanlah berada dalam kuasa korporasi (swasta ataupun negara), melainkan di tangan komunitas.

Kelima; Demokrasi langsung dan desentralisasi. Gerakan ini bertumpu pada pembangunan demokrasi tatap muka yang dikelola oleh komunitas-komunitas otonom.

Keenam; Koperasi kolektif. Pembangunan koperasi ini selain ditujukan untuk mendorong kemandirian komunitas dan ekonomi sosial, juga diharapkan dapat membuka ruang terciptanya berbagai kemungkinan proyek solidaritas antar komunitas.

Surabaya, 17 Agustus 2019

(Sebagian besar artikel ini pernah disajikan dalam putaran Kelas Belajar Ekologi yang diselenggarakan WALHI Jatim, 20 Mei 2017)

 

Referensi:

Buku

  1. Murray Bookchin, The Ecology of Freedom. (Palo Alto, California: Chesire Books, 1982).
  2. ———————, Social Ecology and Communalism. (AK Press, 2006).
  3. Janet Biehl, The Murray Bookchin Reader. (Black Rose Books, 1999).

Artikel

  1. ————–,Bookchin Breaks With Anarchism.(2007). https://theanarchistlibrary.org/library/janet-biehl-bookchin-breaks-with-anarchism.
  2. Joris Leverink, Murray Bookchin and Kurdish Resistance.(2015). https://roarmag.org/essays/bookchin-kurdish-struggle-ocalan-rojava/.

Catatan

[i] Janet Biehl, The Murray Bookchin Reader: Introduction.  http://social-ecology.org/wp/1997/10/introduction-the-murray-bookchin-reader/. Diakses 15 April 2017.

[ii] Diadopsi dari tulisan Janet Biehl, The Murray Bookchin Reader: IntroductionLihat: http://social-ecology.org/wp/1997/10/introduction-the-murray-bookchin-reader/Diakses 15 April 2017.

[iii] Di pihak yang sama, yakni Janet Biehl (mitra Bookchin selama 2 dekade), juga menyatakan telah berpisah dengan ekologi sosial. Untuk lebih jauh memahami mengapa Biehl berpisah dengan ekologi sosial, saya menyarankan membaca pernyataannya di: http://social-ecology.org/wp/2011/04/biehl-breaks-with-social-ecology/.

[iv] Wilayah dan pemukiman masyarakat Kurdi tersebar di beberapa tempat. Namun, pasca perjanjian Sykes-Picot tahun 1916, dibawah pengaruh kolonial Perancis dan Inggris, wilayah dan ruang hidup mereka dipecah-pecah saat terjadi penetapan tapal batas antara Irak, Iran, Suriah dan Turki. Kemudian dengan perjanjian itu komunitas masyarakat Kurdi terjebak dan terpecah dalam batas yang dibuat oleh kolonial tersebut. Mereka menginginkan kemerdekaan dengan mendirikan negara kurdi bersatu, dan memulai perjuangannya dengan mendirikan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), dibawah pimpinan Abdullah Ocalan. Sejak tahun 1984, mereka mulai angkat senjata, khususnya terhadap negara Turki hingga sekarang ini.

[v] Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terkait ini saya menyarankan untuk membaca tulisan Bookchin yang berjudul: Towards a Liberatory Technology dalam buku Post-Scarcity Anarchism. (1986).

[vi] Lihat karyanya dalam artikel Toward an Ecological Society (khususnya hal 74-75).

[vii] Lihat Eirik Eiglad dalam pengantar buku, Social Ecology and Communalism, hal 13. (AK Press, 2006).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.